HANYA BAYANG BAYANG 39
(Tien Kumalasari)
Belum habis kebingungan Srikanti, Sekar dan Roto membawa masuk tiga orang tamu yang kemudian dipersilakan duduk bersama dua yang lainnya. Tuan Sanjoyo menyambutnya dengan ramah.
Srikanti hampir tak bisa menahan tubuhnya ketika berdiri. Ia melangkah ke arah sebuah kursi dan duduk dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia merasa bahwa malam ini akan habislah semuanya. Mengapa mereka datang? Bukankah undangan tidak diberikan? Kepala Srikanti berdenyut. Ia duduk agak ke belakang, sama sekali tidak menyambut para tamu, dan menganggap Sekar adalah sama seperti mereka, tamu yang diundang, bukan nyonya rumah yang seharusnya menerima jabat tangan dari pada yang hadir.
Suasana yang semakin meriah karena terdengar alunan musik gamelan dari sebuah CD yang mengalun lembut, mengiringi canda dan celoteh anak-anak yatim piatu dan tawa renyah para tamu undangan.
Tuan Sanjoyo sangat bahagia melihat kemeriahan itu.
“Saya sangat berterima kasih, Bapak-Bapak mau datang memenuhi undangan saya,” kata tuan Sanjoyo menyapa lima orang yang dianggapnya sebagai tamu istimewa. Bukankah setiap bulan mereka menerima sumbangan dari keluarga Sanjoyo? Ada sebuah perasaan yang masih disimpannya, yaitu ketika Priyadi mengantarkan sumbangan, mengapa mereka mau saja menerima sementara Puspa sudah lebih dulu memberikannya?
Tiba-tiba tuan Sanjoyo terkejut, ketika salah seorang dari mereka mengatakan sesuatu.
“Kami sangat terkejut, ketika beberapa minggu yang lalu kedatangan putri Bapak yang memberikan sumbangan kepada panti kami. Sungguh kami tidak mengira akan mendapat perhatian besar dari Bapak dan keluarga. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih. Pemberian itu sangat membantu meringankan beban kami, dalam mencukupi semua kebutuhan dalam mengasuh panti kami.”
“Itu benar, baru sekali saya menerima kedatangan nona Puspa yang memberikan sumbangan yang sangat membuat kami harus mengucapkan terima kasih.”
“Kami tidak menduga ternyata keluarga tuan Sanjoyo memperhatikan panti kami.”
Kelima orang itu bersahutan, dan begitu mengejutkan tuan Sanjoyo. Baru sekali? Semuanya menyiratkan sebuah terima kasih karena baru sekali mendapat perhatian dari keluarga Sanjoyo. Baru sekali? Berkali-kali perkataan itu melintas di benaknya. Padahal sudah bertahun-tahun tuan Sanjoyo melakukannya. Tiba-tiba ia merasa dadanya hampir meledak dilanda kemarahan yang membakarnya. Ia meraih minuman yang ada di depannya, sambil menawarkan kepada tamu-tamunya untuk meminumnya juga.
“Apa tuan Sanjoyo sakit?”
Ternyata wajah pucat tuan Sanjoyo tertangkap oleh salah satu tamunya. Tuan Sanjoyo menarik napas panjang, berusaha mengendapkan gelegak kemarahan yang membakar. Ia ingin mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun ia melakukannya, tapi diurungkannya. Kalau ia berkata berarti dia membuat nama istrinya tercoreng, dan semarah-marahnya tuan Sanjoyo, ia masih bisa menahan dan menjaga martabat keluarganya.
“Tidak, saya baik-baik saja,” katanya sambil meneguk lagi minuman di gelasnya.
Ia mencari-cari istrinya, yang tiba-tiba tak tampak di sekitar para tamu undangan.
“Tuan Sanjoyo mencari siapa?”
“Istri saya, Bapak-Bapak sudah mengenal istri saya?”
“Belum … belum, dari tadi saya juga bertanya-tanya, mengapa tuan Sanjoyo menerima tamu sendirian.”
“Sebenarnya ingin saya kenalkan, tapi mungkin dia masuk ke dalam. Ia agak sakit, dan sedikit lemah.”
“Kami ikut prihatin, semoga ibu Sanjoyo segera sembuh.”
Dari pengeras suara, terdengar Suwondo mempersilakan para tamu untuk mengambil hidangan makan malam yang sudah tersedia. Anak-anak yatim yang duduk berjajar jajar, mendapat kotak nasi sehingga tidak ikut berjubel bersama para tamu dalam mengambil makanan.
Ketika tuan Sanjoyo masuk ke ruang makan untuk mengambil obat, dari kamarnya ia mendengar suara dari dalam kamar. Itu suara istrinya, dan Priyadi.
Ia mendengar sang istri menangis, dan Priyadi menghiburnya.
“Tenanglah Sri, nanti kita cari jalan untuk membuat alasan agar tuan Sanjoyo mempercayai kamu. Tuan Sanjoyo sangat baik, lebih dulu yang harus kamu lakukan adalah meminta maaf.”
Rupanya dalam kegelisahan dan ketakutannya, Srikanti masuk ke dalam dan memanggil Priyadi. Ia mengira suaminya masih sibuk melayani tamu, dan tak mungkin melihat Priyadi masuk ke rumah, bahkan ke dalam kamarnya.
Tuan Sanjoyo langsung ke ruang makan, mengambil obat dan meminumnya, sambil duduk sejenak di sana.
Tiba-tiba Puspa masuk dengan membawa seorang laki-laki tampan. Ia terkejut melihat sang ayah duduk di ruang makan.
“Bapak kok di sini?”
“Minum obat. Itu siapa?”
Puspa membisikkan sesuatu ke telinga sang ayah, lalu tuan Sanjoyo menatap teman Puspa tak berkedip.
“Kamu, anak bik Supi?”
Laki-laki itu adalah Nugi. Ia tak tahu mengapa Puspa membawanya masuk ke rumah, langsung ke arah belakang. Ia terkejut ketika tuan Sanjoyo menyebut nama ibunya.
“Bapak mengenalnya?”
“Kamu tidak tahu ya? Bibiiiiik,” tuan Sanjoyo berteriak, lalu bibik muncul dari belakang. Matanya terbelalak melihat Nugi ada di sana, bersama nona dan tuan majikannya.
“Nu … Nugi?”
“Ibu?”
Dua-duanya terkejut, lalu berangkulan sambil menangis. Puspa melihatnya terharu. Lalu Puspa mendekati ayahnya dan berbisik.
“Itu yang dulu saya minta kepada Bapak agar menerimanya bekerja di kantor Bapak.”
“Dia?”
Sejenak ia melupakan masalah yang menghimpitnya. Ia senang pembantunya memiliki anak begitu tampan dan pintar menurut Puspa.
“Besok ajak dia ke kantor,” kata tuan Sanjoyo pelan, sementara bik Supi sudah berhenti menangis dan sedang diusap pipinya oleh sang anak.
Nugi tersenyum menatap Puspa, kejutan yang dijanjikan adalah pertemuannya dengan sang ibu, yang ternyata pembantu keluarga teman kuliahnya.
***
Perayaan itu usai. Tapi tuan Sanjoyo mengajak anak dan menantunya berkumpul di ruangan tengah rumah itu. Ia menyuruh bik Supi untuk memanggil istrinya, tapi kemudian bik Supi mengatakan bahwa sang nyonya sakit, tidak bisa keluar dari kamar.
“Kalau begitu kita masuk ke kamar saja semuanya,” kata tuan Sanjoyo.
Dan anak menantu tuan Sanjoyo memasuki kamar di mana Srikanti terbaring. Priyadi tentu saja sudah keluar, entah kapan, dan mungkin juga sudah pulang bersama Nilam.
Untunglah kamar tuan Sanjoyo lumayan luas, ada meja kursi di dalam kamar itu untuk duduk ramai-ramai.
“Sri, aku tidak akan basa basi. Langsung saja aku katakan bahwa aku sudah tahu semua kebusukan yang kamu lakukan, dan aku tinggal menunggu waktu yang baik untuk membuka tabir hitam yang menyelimuti keluarga ini.”
“Mas, aku mengaku salah, maafkan aku,” Srikanti menangis mengharu biru.
“Mohon ampunlah kepada Tuhan. Aku juga memaafkan kamu.”
“Terima kasih Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Kamu tidak akan bisa mengulanginya lagi, karena malam ini adalah malam terakhir kamu tinggal di rumah ini.”
“Mas, maaf Mas, aku minta maaf. Jangan mengusirku.”
“Aku mengusirmu dan menceraikan kamu. Besok akan ada orang yang mengurusnya.”
“Maaaas,” Srikanti menangis menggerung-gerung.
Tuan Sanjoyo keluar, dan mengajak anak menantunya keluar pula dari kamar itu, meninggalkan Srikanti yang mungkin juga sudah bergulung-gulung di lantai karena malu dan putus asa.
***
Di ruang keluarga, tuan Sanjoyo mengutarakan semua yang dipikirkannya. Ia terkejut ketika ternyata anak-anaknya sudah tahu tentang kebusukan itu sejak lama, tapi tidak mau mengatakan kepada dirinya.
“Kalau kalian tahu, mengapa tidak segera mengatakannya kepada bapak?” tegurnya.
“Maaf Pak, kami sedang menunggu waktu yang baik untuk mengatakannya kepada Bapak.”
“Soalnya kami harus menjaga perasaan Bapak.”
“Terutama kesehatan Bapak.”
Tuan Sanjoyo tersenyum.
“Bapak sudah memendamnya lama, dan sama seperti kalian, belum ingin mengutarakannya untuk menunggu waktu yang baik. Dan waktu yang baik itu adalah sekarang, karena aku sudah tahu sejelas-jelasnya. Dari tindakan perselingkuhan dan kebohongan yang dilakukan Srikanti tentang uang sumbangan untuk panti. Dan Puspa saat memberikan sumbangan itu pasti sudah tahu kalau panti-panti tidak pernah menerima sumbangan sebelumnya.”
“Ya Pak, sudah tahu. Dan panti-panti baru sejumlah lima itu ternyata tidak ada. Alamatnya palsu semua.”
“Rupanya kurang banyak uang sumbangan yang diembat. Baiklah. Banyak hal yang membuat aku kecewa, tapi jangan kalian kira kalau aku sedih atau sakit hati. Malam ini aku justru merasa seperti keluar dari sebuah lobang gelap yang melingkupi kehidupanku. Semuanya tampak terang, dan aku bahagia memiliki kalian.”
Satu persatu anak dan menantu tuan Sanjoyo merangkul sang ayah dengan linangan air mata.
“Selamat ulang tahun Pak. Selalu sehat, bahagia dan dikaruniai sisa usia yang penuh berkah,” kata mereka sambil merangkul satu persatu.
“Terima kasih, aku bangga memiliki kalian. Aku mencintai kalian.”
Diantara mereka, Puspa menangis paling lama. Tuan Sanjoyo dan yang lain mengerti, karena Srikanti adalah ibu kandung Puspa.
Tuan Sanjoyo memeluk Puspa, mengelus kepalanya lembut.
“Yang harus kamu lakukan adalah mendoakan ibumu, mohonkan ampun atas semua kesalahannya, dan mohon tuntunan agar kembali ke jalan yang benar.”
Puspa terisak dipelukan sang ayah.
***
Tidak bisa tidak, pagi harinya Srikanti sudah berkemas. Palu sudah diketuk, keputusan tuan Sanjoyo adalah menceraikannya dan menyuruhnya pergi dari rumah.
Dengan wajah murung dia naik taksi, pergi ke rumah mesum yang dibangun dengan limbahan dosa bersama Priyadi.
Hari itu Priyadi dan Nilam masih masuk bekerja. Belum jelas apa nanti keputusan tuan Sanjoyo.
Srikanti langsung memasuki rumah dan masuk ke dalam kamar yang selalu dipakainya bersama Priyadi.
Agak kesal juga Srikanti ketika melihat kamar masih berantakan, dan berbau tak enak. Srikanti melepas semua seprei dan sarung bantal, dilemparkannya ke lantai begitu saja. Ia membuka almari untuk mengambil seprei pengganti, tapi betapa terkejutnya dia, ketika menemukan sebuah buku. Bukan sembarang buku, tapi buku nikah. Srikanti terbelalak melihat foto yang tertera. Priyadi dan Nilam menikah?
Srikanti terjatuh di lantai, pingsan.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun wuk
DeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Anik
DeleteπΈπΉπΈπΉπΈπΉπΈπΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_39
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
πΈπΉπΈπΉπΈπΉπΈπΉ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien.
Salam SEROJA, tetap semangat berbagi kebaikkan dan sehat selalu.
Aamiinπ€²π€²π€²π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mss Kakek
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteHBB dah tayang... Terimakasih bunda. Sehat slalu.
Srikanti ..
Srikanti.. belum tobat jugs
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 39 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 39" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSegeng dalu
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 39 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 39* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteHamdallah sampun tayang
ReplyDeleteHatur nuhun bunda cerbungnya..slmt mlm dan salam sht sllππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSalam sehat juga
Matur nuwun Bunda Tien... ceritanya semakin aduhai .. Bunda Tien keren, barokalloh
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yulian
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
DeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah.... semakin seru, terima kasih Bu Tien semoga sehat selalu.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yati
DeleteMatur suwun bu Tien semoga ibu selalu dlm keadaan sehat & tetap semangat.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Indriyanto
DeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,tetap sehat walafiat,bahagia,semangat tetap berkarya cerbung,......membaca HBB 39 dg hati dag Dig dug , bgmana tentang rumah baru itu ya, apa tetap jadi milik Priyadi, Krn atas nama Priyadi. Sri Kanti gulung tikar...
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Mks bun smg bunda dan pak Tom selalu sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Supriyati
DeleteTerima kasih Bunda Tien...sehat selalu
ReplyDeleteAamiin. Terima kasih ibu Sriati
DeleteTerima kasih bu Tien, semoga sehat selalu ,bahagia bersama keluarga tercinta
ReplyDeleteMakin seru nih ye.....bagaimana nasib srikanti?
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 39 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAkhirnya Srikanti menuai apa yang ditanamnya selama ini. Srikanti bagaikan orang jatuh kemudian terhempas ke lantai dan pingsan...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Permisi dulu mau melihat Mery...
Silakan. Hati2 di jalan..
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 39 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat berakhir pekan Bunda.
Tamat lah sudah riwayat Kanti di Kel tuan Sanjoyo. Ngundhuh wohing pakarti...ne...dhewek
π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 ibu
DeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~39 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta, semoga semuanya sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteAlhamdulillaah Matur nuwun Bu Tien salam sehat wal'afiat ya π€π₯°ππΏπΉ
ReplyDeleteSemakin seru , srikanti semaput
Waah...banyak kejutannya ya episode ini.π
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien. Sehat srlalu.ππ»
Matur nuwun.
ReplyDelete