Friday, January 16, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 38

 HANYA BAYANG BAYANG  38

(Tien Kumalasari)

 

Srikanti panik. Panti-panti diundang? Bagaimana kalau nanti terbuka semuanya? Aduh, bagaimana cara mencegahnya ya? Pikir Srikanti yang kemudian masuk ke kamarnya.

Karena bingung ia menelpon Priyadi. Hari sudah malam dan Priyadi sedang tidur bersama Nilam. Wajah Nilam cemberut melihat di ponsel Priyadi. 

"Siapa yang menelpon? Dia? Huhh."

“Perempuan ini kenapa ya, malam-malam begini menelpon?” omelnya kesal, apalagi ketika kemudian Priyadi menerima panggilan itu.

“Ada apa?”

“Kamu sudah tidur?”

“Hampir, ini sudah malam. Ada apa?”

“Kamu tahu tidak, besok Sabtu tanggal lima ini, tuan Sanjoyo mau mengadakan pesta ulang tahun.”

“Biarkan saja, kamu senang ada pesta kan?”

“Apa maksudmu? Kamu tahu siapa yang akan diundang?”

“Teman-teman bisnis, atau teman anak-anaknya, atau_”

“Pri! Kalau tidak ada apa-apa, masa aku akan menelpon kamu?”

“Ada apa sebenarnya?”

“Dia juga akan mengundang panti-panti itu.”

“Panti yang mana?”

“Panti yang menurutnya dia selalu diberi sumbangan setiap bulan.”

”Apakah panti-panti juga akan ditanya tentang sumbangan? Kan tidak?”

“Pri, bagaimanapun itu membuat aku khawatir. Bagaimana kalau entah karena apa, lalu rahasia kita terbongkar?”

“Kalau kamu takut, cegah mereka mengundangnya.”

“Mana mungkin aku bisa mencegahnya.”

“Kalau mereka tidak mau membatalkan keinginan mengundang itu, lebih baik kamu minta agar undangannya kamu atau aku yang membawanya.”

“Oh, iya … sebaiknya begitu. Soalnya kalau aku melarang pasti tidak akan digubris, lagian alasan aku menolak mengundang mereka juga apa, susah kan?”

“Ya sudah, begitu saja. Sekarang aku mau tidur, takutnya besok bangun kesiangan.”

Tiba-tiba Nilam bersin, tak bisa dicegahnya, sehingga Priyadi melotot kesal melihatnya.

“Pri, yang bersin itu siapa? Nilam ya?”

“Iya, siapa lagi? Masa aku tidur dengan perempuan lain.”

“Memangnya Nilam tidur di kamar kamu?”

“Tidak, Nilam baru saja mengambil minyak gosok di kamarku, dia memang agak flu.”

“Oh, ya sudah.”

Priyadi menutup ponselnya dan menegur Nilam.

“Mengapa bersin tidak ditahan?”

“Aneh, bagaimana menahan bersin? Apakah dia marah?”

“Tidak, karena aku memberi alasan tepat. Lain kali hati-hati. Belum saatnya ia mengetahui semuanya.”

“Iya, baiklah, aku mau tidur sekarang.”

***

Persiapan pesta itu sudah sempurna. Tidak ada undangan khusus karena tuan Sanjoyo tidak mengundang banyak orang. Yang utama hanyalah anak buah di kantornya, dan anak yatim sebanyak 100 orang, dan tentu saja pengurus panti di mana tuan Sanjoyo merasa menjadi donatur untuk mereka.

Pagi hari sebelum tuan Sanjoyo berangkat, Srikanti mendekatinya.

“Mas, mana undangan untuk panti-panti, biar aku yang mengantarnya.”

“Mengapa harus kamu? Tidak pantas istri seorang pemilik perusahaan bersusah payah mengirimkan undangan.”

“Aku kan sudah mengenal mereka dengan baik.”

“Bukankah kamu sering mengeluh tentang kaki kamu yang masih sering terasa ngilu? Lebih baik tidak kemana-mana dulu.”

“Aku sudah merasa baik. Lagipula kalau Mas tidak mengijinkan aku yang mengirimkan undangan, biar nanti Mas suruhan Priyadi saja. Dia kan lebih tahu.”

“Oh, begitu?”

“Iya Mas, kasihan yang mau disuruh ke sana, kalau Priyadi kan sudah biasa?”

“Kalau begitu bilang saja pada Puspa. Dia yang mengurus undangan untuk panti.”

“Baiklah, aku bilang pada Puspa dulu saja kalau begitu, tapi dia sudah pergi sejak pagi-pagi sekali.”

“Tungguin kalau dia pulang, sebentar lagi dia ujian, pasti dia sibuk mempersiapkannya,” katanya sambil berlalu, karena Parto sudah menjemputnya.

Srikanti tidak mengantarkannya sampai ke depan, dia juga tidak mencium tangannya. Perasaan bingung memikirkan undangan untuk panti itu kembali membuatnya gelisah. Puspa baru saja berangkat, pasti pulangnya akan lama. Karenanya Srikanti segera menelponnya, sebelum semuanya menjadi kacau.

Lama sekali dia menelpon, Puspa baru menjawabnya. Dia sedang ada di kampus, berbincang dengan Nugi yang sama-sama akan menghadapi ujian.

“Ada apa bu?”

“Ya ampun, kamu itu sama orang tua, bagaimana kalau jawabannya lebih manis begitu, tidak kaku seperti orang yang tidak pernah kenal.”

“Puspa sedang ada di kampus Bu, ada apa, waktunya tidak banyak.”

“Kamu sudah membuat undangan untuk panti-panti?”

“Sudah, bapak yang menyuruh. Memamgnya kenapa?”

“Undangan itu tidak usah kamu yang mengantarkan.”

“Maksud Ibu apa?”

“Berikan saja undangannya pada ibu, nanti biar Priyadi yang mengantarkan undangan itu.”

“Ini juga mengundang anak-anak yatim piatu.”

“Iya, aku tahu. Berikan saja undangannya. Sudah kamu bawa? Kalau sudah kamu bawa, jangan dikirimkan dulu, biar ibu atau Priyadi yang mengantarkannya.”

“Mengapa harus Ibu atau Priyadi?”

“Hei, kamu itu kalau sama Priyadi jangan memanggil namanya saja. Biarpun sopir, dia itu juga termasuk orang tua. Panggil pak Priyadi.”

“Baiklah, mengapa harus Ibu atau dia?” tanya Puspa yang enggan memanggil Priyadi sepenti anjuran sang ibu.

“Soalnya kami yang sudah biasa, daripada kamu repot. Aku juga sudah bilang pada ayahmu dan diijinkan.”

“Baiklah, nanti undangannya Puspa berikan pada ibu, tunggu Puspa pulang dulu.”

Srikanti merasa sedikit lega. Ia sama sekali tak tahu apa yang dipikirkan Puspa, yang kemudian menelpon sang kakak.

***

Sekar sedang di kantornya pagi itu, agak heran Puspa menelponnya, dan mengatakan bahwa undangan untuk panti-panti akan diminta oleh ibunya.

“Ah … iya, apa kamu tidak tahu apa maksudnya?”

“Paling undangannya tidak akan diberikan, karena kalau mereka datang maka semua yang disembunyikan akan terbongkar.”

“Jadi kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?”

“Aku mau membuat dua undangan, satu aku berikan ke ibu, satunya lagi aku yang mengirimkan. Tetap harus dikirimkan bukan?”

“Bagus, anak pintar.”

“Ya sudah Mbak, aku hanya ingin memastikan kalau Mbak menyetujui rencanaku ini.”

“Aku tentu saja setuju. Sudah dulu, aku akan rapat sebentar lagi.”

Puspa mengakhiri pembicaraan itu, lalu menyesali keadaan yang sangat rumit di keluarganya.

“Ada apa? Setelah menelpon kok wajahmu murung begitu?”

Puspa tersenyum, rupanya Nugi memperhatikannya.

“Tidak apa-apa. Hanya urusan keluarga. Oh ya Nugi, nanti datang ke rumah ya, tanggal 5 bulan depan.”

“Ada apa nih, kamu tunangan? Atau malah menikah?” canda Nugi.

Puspa terkekeh.

“Enak aja, aku tuh belum ada yang mau, tahu. Ini acara ulang tahun ayahku. Datang ya.”

“Waduh, aku kan nggak kenal ayahmu? Sungkan aku.”

“Nugi, yang mengundang itu aku. Kalau nggak kenal, nanti aku kenalin. Aku sudah bilang pada bapak kalau kamu akan melamar di perusahaan bapakku.”

“Benarkah? Belum tentu diterima kan?”

“Bapak kan belum pernah bertemu kamu, jadi ya sabar dululah. Pokoknya kamu harus datang ya? Ada kejutan untuk kamu.”

“Kejutan apa nih?”

“Namanya kejutan ya tidak boleh dikatakan lebih dulu. Pokoknya datang dan ikutlah bergembira bersama keluarga aku.”

***

Sesampai di rumah, Puspa segera memberikan lima buah undangan untuk panti-panti yang katanya akan diundang. Srikanti menerimanya dengan riang. Ia merasa akan selamat dari rasa malu, dan juga selamat dari kemarahan suaminya, karena sudah bertahun-tahun dia berbohong. Sementara itu tuan Sanjoyo dan anak-anaknya sudah menyiapkan jebakan yang akan membuatnya tak berkutik.

Dengan gembira pula ia kemudian mengabarkannya kepada Priyadi, bahwa undangan sudah ada di tangannya.

Pagi harinya, sebelum sang suami berangkat ke kantor, tanpa merasa berdosa, Srikanti meminta kepada suaminya agar Priyadi mengantarkannya mengirim undangan ke panti-panti.

“Mengapa harus kamu? Kalau memang Priyadi bisa, biarkan saja Priyadi melakukannya sendiri.”

“Maksudku, biar mereka senang, kalau aku sendiri yang datang.”

“Sesungguhnya malah tidak pantas kalau kamu mengaku sebagai istriku lalu kamu berangkat sendiri mengirimkan undangan.”

“Mereka sudah seperti saudara, mengapa Mas mengatakan begitu? Aku tidak pernah menyombongkan diri sebagai istri direktur utama sebuah perusahaan besar.”

“Sebetulnya mengapa kamu bersikeras mengantarkannya sendiri? Lagipula kakimu belum sembuh benar, berjalanpun masih tertatih-tatih.”

Srikanti tak bisa menjawabnya. Lalu menjawab sekenanya.

“Untuk menghormati mereka.”

“Mereka orang-orang alim dan tidak gila hormat. Barangkali dia juga sudah merasa terhormat dengan undangan yang kita berikan,” kata tuan Sanjoyo sambil terus menuju ke arah mobilnya, bersama Parto yang menjemputnya. Srikanti mengikutinya.

“Mas, baiklah, berikan undangan ini kepada Priyadi, biar dia mengantarkannya sendiri,” kata Srikanti sambil membawa setumpuk undangan untuk panti-panti.

Tuan Sanjoyo menerimanya tanpa menjawab sepatah katapun, lalu menutup pintu mobilnya.

Srikanti menatap kepergiannya sambil tersenyum.

“Nanti kalau sudah membawa undangan itu, Priyadi sudah pasti akan mampir kemari. Masa iya tidak?” gumamnya sambil tertatih masuk ke rumah.

***

Hari perayaan itu tiba, rumah tuan Sanjoyo sudah dihias dan ditata rapi. Memang hanya perayaan sederhana yang tidak harus diadakan di sebuah gedung mewah, tapi anak dan menantu tuan Sanjoyo mengatur semuanya dengan indah. Tuan Sanjoyo meminta sebuah tempat khusus, karena ia ingin menjamu para pimpinan panti di situ, sementara untuk anak-anak yatim digelar sebuah karpet indah di halaman yang sudah diberi tenda-tenda dan terhias rapi.

Srikanti berdandan secantik mungkin. Ia tersenyum bahagia di samping suaminya yang juga sudah berpakaian rapi. Srikanti sudah merasa aman karena undangan untuk panti tidak diberikan, jadi tak akan ada yang dikhawatirkannya.

"Tak mungkin mereka datang," pikirnya senang.

Putra putri dan menantu tuan Sanjoyo berdiri di depan, menjadi penyambut tamu.

Tamu-tamu itu adalah anak buah tuan Sanjoyo di kantor. Priyadi juga ada diantara mereka.

Tiba-tiba Puspa mengantarkan dua orang laki-laki asing yang kemudian dibawanya untuk duduk di tempat khusus. Ia adalah dua orang pengasuh pesantren yang baru bulan kemarin mendapat sumbangan dari keluarga Sanjoyo.

Puspa mendekati sang ayah.

“Pak, ini dari Panti Asih Asuh, dan ini dari panti Restu Ibunda,” kata Puspa memperkenalkan tamunya.

Tuan Sanjoyo menyambutnya ramah, kemudian duduk bersama mereka, sementara wajah Srikanti tampak pucat pasi.

***

Besok lagi ya.

33 comments:

  1. πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung HaBeBe_38
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah HaBeBe_38 sudah tayang.
    Matur nuwun mBak Tien.. 🌹
    Salam SEROJA

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

      Delete
  5. Alhamdullilah terima ksih bunda cerbung HBB nya..slmt mlm dan salam sehat sll unk bunda bersama bpkπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  6. Mks bun HBB nya sdh tayang....selamat malam selamat istirahat bun jaga kesehatan

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah. Udah tayang
    Terimakasih bunda Tien. Sehat slalu.
    Seru... Seru ... Jd greget.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~38 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah dah tayang lebih awal, maturnuwun Bu Tien, makin seru dan menarik, segera ingin tahu bgaimana sikap Priyadi dan Srikanti yg telah dibongkar anak2 p Sanjoyo,.......ditunggu selalu epsd selanjutnya.smg Bu Tien sehat dan bahagia bersama Kel tercinta..

    ReplyDelete
  10. Aljamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah Cerbung HBB 38 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 38 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  13. Matur nuwun Bu Tien πŸ™
    Sugeng dalu.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 38 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  15. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 38 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Perlahan - lahan tapi pasti Kanti terkena ..jebakan Batman...😁

    Tuan Sanjoyo beserta anak2 nya ingin menampar Ibu nya tapi secara halus.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah sdh tatang HBB eps~38.
    Terima kasih bunda Tie, sehat dan bahagia selalu...

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah.... terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillaah, Terima kasih Bunda Tien Kumalasari, semoga sehat dan bahagia selalu.
    Aamiin Yaa Robbal' Aalaamiin🀲

    ReplyDelete
  19. Terimakasih Mbak...
    Saya permisi mau melihat Mery dulu...

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  21. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wala'fiat....

    ReplyDelete

  22. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 38* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  23. Matur nuwun Bunda Tien, semakin seru nih, ditunggu kelanjutannya...sehat2 ya Bunda, barokalloh

    ReplyDelete
  24. Terima kasih bu tien
    Makin seru nih....srikanti dag dig dug ...
    Der

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...