Thursday, January 15, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 37

 HANYA BAYANG BAYANG  37

(Tien Kumalasari)

 

Priyadi serasa ingin menari-nari sambil berjalan ke arah mobil pickup yang menjadi pegangannya. Ia berpamit kepada manager, bahwa sedang menjalankan tugas atas suruhan tuan Sanjoyo.

Ia harus keluar dari kantor, seakan-akan berangkat menjalankan tugas. Tapi ia mampir ke rumah tuan Sanjoyo.

Ia sudah mendengar dari Srikanti, bahwa sudah beberapa hari ini Sekar tidur di rumah, dan Puspa juga sudah kembali ke rumah. Dan ia juga sudah mendapat informasi bahwa kalau Priyadi ke rumah maka keadaan aman.

Hari itu Puspa sudah menyelesaikan tugasnya. Ia sedang keluar dan memerlukan pergi ke kampus. Ia harus menemui dosen pembimbing untuk menyempurnakan tugasnya.

Priyadi senang karena ia bisa menemui Srikanti di kamarnya, seperti dulu sering dilakukannya, karena tak ada orang lain kecuali bik Supi. 

Bibik menatapnya sekilas, tapi mendiamkannya.

Priyadi langsung memasuki kamar Srikanti, seperti memasuki kamarnya sendiri, dan tentu saja membuat Srikanti senang setengah mati.

“Priyadi?”

Kedua tangannya diangkat, dan Priyadi segera memeluknya.

“Kamu kok bisa datang kemari, apa tuan Sanjoyo memberi kamu ijin untuk datang ke rumah?”

“Tentu saja tidak. Lihat ini,” kata Priyadi setelah melepaskan pelukannya, lalu menunjukkan keresek berisi uang.

“Ini apa?” Kata Srikanti yang kemudian berusaha duduk.

“Ini uang, apa lagi kalau bukan uang?”

“Uang siapa?”

“Tuan Sanjoyo menyuruh aku memberikan sumbangan untuk panti-panti.”

“Apa?” Srikanti berteriak. Eh bukan, dia bersorak.

“Hei, pelankan suara kamu, ada bik Supi di dapur, nanti dia mendengarnya.”

“Benarkah tuan Sanjoyo memberikannya?”

“Ya benar, ini buktinya. Bagaimana sekarang?”

“Biar aku simpan dulu uangnya. Nanti kalau aku sudah bisa berjalan, kita atur semua kebutuhan kita.”

Di dapur, bik Supi geleng-geleng kepala.

“Kakinya sakit, ya masih bisa melakukan hal yang aneh-aneh,” gumamnya sambil pergi ke belakang untuk mengangkat jemuran.

Satu jam berlalu barulah Priyadi keluar. Tanpa pamit pada bik Supi, la langsung pergi membawa mobil pickupnya. Tidak perlu membawa mobil bagus, ia kan sudah membawa uang yang banyak, yang bisa dipergunakan semaunya seperti biasa?

***

Kira-kira dua jam setelah keluar dari kantor, Priyadi kembali ke kantor dan melapor kepada sang tuan majikan.

“Tuan, perintah sudah saya jalankan, dan semuanya beres,” katanya mantab.

“Ah, ternyata kamu memang bisa diandalkan. Mana kwitansinya?”

Priyadi terkejut. Masalah kwitansi tidak terpikirkan olehnya. Itu juga yang dilakukan Srikanti bukan? Tak pernah ada kwitansi dan tuan Sanjoyo juga tidak pernah menanyakannya. Mengapa sekarang ditanyakan? Mati aku! Batin Priyadi sambil mencari-cari alasan.

“Tuan, selamanya nyonya juga tidak pernah meminta kwitansi atau tanda terima. Jadi tadi saya juga hanya memberikannya saja, lalu pergi setelah mereka mengucapkan terima kasih. Apa saya harus kembali untuk memintanya?” katanya sambil berdebar-debar. Bagaimana dia akan membuat tanda terima dari panti yang tidak benar-benar diberinya uang? Tapi jawaban tuan Sanjoyo amat melegakannya.

“Tidak usah, yang penting aku bersedekah,  bukan mereka yang akan memberikan tanda terima, tapi Allah Yang Maha Kuasa.”

Tak urung Priyadi merinding mendengarnya. Bagaimana ada orang baik seperti tuan Sanjoyo yang tak pernah menghitung apa yang sudah dikeluarkannya? Ada rasa sesal, tapi hanya sekilas. Bayangan hidup senang kembali menari-nari di dalam angan-angannya.

“Ya sudah, kembalilah ke tempat kerjamu, barangkali kamu dibutuhkan.”

“Terima kasih Tuan, saya permisi.”

Tuan Sanjoyo memegang lagi satu kartu mematikan untuk Priyadi, dan tentu saja Srikanti. Ia menekan segala rasa yang mengganggunya. Ada senyuman yang entah apa artinya, ketika mengingat bahwa panti-panti sudah menerima sumbangan melalui Puspa, mungkinkah mereka diam saja ketika kembali mendapatkan sumbangan? Tuan Sanjoyo geleng-geleng kepala kemudian melanjutkan pekerjaannya.

***

Hari terus berjalan, Srikanti sudah bisa berjalan walau masih harus berhati-hati. Ia mulai mencari celah-celah diantara tugas Priyadi untuk mengadakan pertemuan rahasia. Tentu tidak sesering sebelumnya karena Priyadi sudah bukan menjadi sopir pribadi tuan Sanjoyo.

Siang hari itu ketika Sekar menemani ayahnya makan siang, sang ayah kaget mendengar apa yang dikatakan Sekar.

“Bapak lupa ya, bukankah bulan depan adalah ulang tahun Bapak?”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Kalau Bapak ingin ramai-ramai atau mengadakan perayaan, mengapa tidak di hari ulang tahun Bapak saja?”

“Wah, baru terpikirkan oleh bapak. Bagus sekali. Apakah kamu bisa mengaturnya? Tidak yang sangat mewah, hanya syukuran, tapi bapak ingin mengundang panti-panti yang selalu bapak beri sumbangan, berikut anak yatim piatu asuhan mereka. Kira-kira rumah kita cukup tidak ya? Harus ada konfirmasi tentang berapa banyaknya anak yatim yang akan diundang, atau kita batasi saja, misalnya seratus anak. Kalau yang tidak ikut terdaftar datang, ada hadiah yang dikirimkan ke pantinya. Bagaimana menurutmu?”

“Sebaiknya begitu Pak, mengingat seberapa banyak rumah kita bisa menampung mereka.”

Tuan Sanjoyo mengangguk.

“Waktunya tinggal sebentar. Minggu depan itu sudah termasuk bulan depan, tanggal 5 ulang tahun bapak kan?”

“Atur saja olehmu Sekar. Kalau Puspa sudah selesai suruh dia membantu. Dan pastikan saat itu Suroto dan Wondo bisa menghadirinya, jadi cari hari di mana mereka libur.”

“Tanggal 5 itu tepat hari Sabtu Pak. Jadi kemungkinan besar mas Wondo pulang, demikian juga Roto.”

“Senang mendengarnya. Atur saja oleh kamu semuanya, nanti uangnya aku transfer ke rekening kamu.”

“Baik Pak, akan segera saya kerjakan.”

Tuan Sanjoyo tersenyum. Ada rencana tersembunyi yang tidak harus dikatakannya kepada siapapun, termasuk Sekar yang asyik menggigit sate ayam yang dipesannya.

***

Atas undangan Sekar, hari Sabtu setelah pembicaraannya dengan sang ayah, Suwondo dan Suroto memerlukan pulang untuk berbicara.

Puspa sudah menyelesaikan tugasnya, dan awal bulan depan dia maju untuk ujian skripsi.

“Semoga perayaan ulang tahun bapak ini bersamaan dengan kelulusan kamu, Puspa.”

“Aamiin. Aku juga berharap begitu.”

“Jangan lupa mengundang panti-panti yang kemarin kamu datangi Puspa.”

“Siap Mbak.”

“Tapi apakah kamu tidak menyesal Puspa, dengan terbukanya permasalahan sumbangan itu, ibumu akan dipermalukan,” kata Suroto.

“Benar, tapi nanti kita tidak usah mengumumkan masalah itu di depan para undangan. Yang penting kemudian ibu menyadari kesalahannya, dan hal itu tidak usah dibicarakan di depan para tamu. Kita akan bicara sebagai keluarga, karena aku juga khawatir bapak akan terkena dampaknya juga,” kata Sekar.

Puspa mengangguk. Ada nyeri di hatinya, tapi ia juga ingin agar sang ibu segera menyadari kesalahannya, dan kembali ke jalan yang benar.

“Kamu tidak apa-apa kan Puspa?” tanya Sekar sambil merangkul pundak adiknya.

“Tidak, aku juga berharap permasalahan ini segera selesai. Entah bagaimana nanti akhirnya, kita berserah diri saja,” kata Puspa.

Lalu pembicaraan berlanjut tentang siapa saja yang diundang, tentang catering mana yang akan menerima pesanan mereka, dan masih banyak lagi.

Ada rencana yang masing-masing memilikinya, diantara putra-putri tuan Sanjoyo, dan juga tuan Sanjoyo sendiri, tapi diantara mereka tidak ada yang saling berterus terang, menunggu saat yang tepat.

***

Srikanti terkejut ketika tuan Sanjoyo mengatakan tentang rencana anak-anaknya. Ia sendiri kurang perhatian tentang ulang tahun suaminya, bahkan melupakannya. Tapi ia sempat tersinggung karena tidak diajak bicara.

“Ada rencana pesta, mengapa Mas diam saja?”

“Bukan pesta. Anak-anak hanya ingin merayakan ulang tahunku yang ke tujuh puluh dengan mengadakan sedikit syukuran. Mereka yang mengatur, aku tidak tahu apa-apa.”

“Anak-anak juga tidak bicara sama aku.”

“Barangkali mereka ingin memberikan kejutan bagi kedua orang tuanya. Itu saja. Mengapa kamu tersinggung?”

“Bukan tersinggung. Aku hanya merasa menjadi orang luar.”

“Apakah kamu mampu melakukannya? Memikir tempat, memikir undangan memikir suguhan apa yang pantas. Hanya masalah begitu saja tersinggung.”

“Baiklah, aku akan diam saja. Terserah mereka mau bagaimana.”

“Itu lebih baik. Anak-anak sudah dewasa dan bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Sepantasnya orang tua menyerahkan semuanya kepada anak-anak.”

Srikanti diam. Saat ini dia sedang memikirkan untuk meminta lagi sumbangan untuk panti di bulan yang akan datang. Kalau bisa sebelum ulang tahun tuan Sanjoyo.

“Mas, aku punya pemikiran yang baik.”

“Hm …” jawaban singkat tuan Sanjoyo.

“Bagaimana kalau untuk merayakan ulang tahun mas itu, kita memberikan sumbangan yang lebih kepada panti-panti?”

“Kita akan memberikan hadiah untuk anak-anak yatim piatu. Semuanya sudah dirancang oleh anak-anak, karena mereka juga akan mengundang anak-anak itu.”

“Mengundang mereka kemari?”

“Mereka harus ikut berbahagia, jadi tidak usah menambah sumbangan lagi.”

“Kalau begitu sumbangan harus diberikan sebelum perayaan ulang tahun Mas.”

“Tidak, nanti saja, sesudahnya. Sekarang aku sudah mengeluarkan uang untuk acara itu, aku sudah memberikan uangnya kepada anak-anak yang mengurus keramaian itu.”

“Nanti terlambat kalau sesudahnya.”

“Memangnya kenapa kalau terlambat? Ada aturannya akan mendapat sangsi kalau terlambat memberikan sumbangan? Itu kan sumbangan suka rela.”

“Tapi kan sudah biasa di awal bulan kita memberikannya.”

“Tidak apa-apa. Kalau perlu undang mereka pada perayaan itu, dan sumbangan bisa kamu berikan ketika mereka datang.”

“Apa? Untuk apa mereka diundang?” Srikanti hampir berteriak.

“Bukankah dengan begitu akan lebih memeriahkan suasana?” kata tuan Sanjoyo yang kemudian meninggalkan istrinya, masuk ke ruang kerja.

***

Besok lagi ya.


 

49 comments:

  1. Alhamdulilah Cerbung HBB 37 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  2. 🌻🌾🌻🌾🌻🌾🌻🌾
    Alhamdulillah 🙏🦋
    Cerbung HaBeBe_37
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja 😍
    🌻🌾🌻🌾🌻🌾🌻🌾

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari

      Delete
  3. Alhamdulilah.
    Matur nuwun bunda
    Semoga sehat slalu beserta keluarga
    Wow srikanti gundah. Alasan apa lagi ya. Tuan Sanjoyo memang lihai siasatnys

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Endang

      Delete

  4. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 37* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Wedeye

      Delete
  5. Alhamdullilah terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm danslm sht sll unk bunda sekeluarga🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 37" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah dah tayang, memang pinter sutradaranya membuat cerita, maturnuwun Bu Tien,semoga tetap sehat bahagia dan semangat berkarya cerbung yg menarik...🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik

      Delete
  8. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 37 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Uchu

      Delete
  9. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 37 " 👍🌹
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry

      Delete
  11. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bu Tien dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  13. Mks bun...saya jadi penasaran lo, gimana nanti Srikqnti menghadapi suasana ulang tahun pak Sanjoyo....wah bakal rame deh, saya tunggu besok .....selamat malam bun, smg sehat" sll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Supriyati

      Delete
  14. yang heran sampai dengan episode ini, kebusukan srikanti dan priayadi masih dimanjakan, diharapkan, episode berikut Sudah terjerat sanksi karena kelakuan bejadnya (*hukum tabur-tuai, ngunduh wohing pakarti*) tidak cukup hanya permintaan MAAF, terus masalah SELESAI...

    ReplyDelete
  15. Matur nuwun Bu Tien....ceritanya tambah aduhai...aduhai...
    Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Reni

      Delete
  16. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~37 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien 🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Djodhi

      Delete
  17. Terima kasih Bunda Tien... wow semakin seru ceritanya dan semakin dinanti nanti kelanjutannya . Sehat selalu ya Bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Yulian

      Delete
  18. Waw .... tambah seru, terima kasih Bu Tien semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Yati

      Delete
  19. Alhamdulillah sudah tayang cerbung kesayangan, HBB eps~ 37, besok bakal seru, Terima kasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu

      Delete
  20. Srikanti ternganga...
    Permisi ke tempat Mery, mudah-mudahan Mery ada...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...