HANYA BAYANG BAYANG 32
(Tien Kumalasari)
Bik Supi melemparkan sayuran yang tadi dipilih-pilih, ke sembarang arah. Ia berlari ke arah kamar sang nyonya majikan. Ketika membuka pintu dilihatnya sang nyonya tengkurap di lantai, kepalanya terkulai begitu saja.
“Ya ampuun … nyonya … bagaimana ini … ya ampuun… aduh nyonya … ayo bangun nyonya … ayo… aduh … badan nyonya berat sekali … “
Bik Supi ah uh ah uh .. berusaha mengangkat nyonya majikan … sementara sang nyonya terus merintih-rintih. Tapi akhirnya dengan susah payah bik Supi bisa membuat sang nyonya bangkit, kemudian berdiri sambil mempergunakan tubuh bik Supi sebagai penyangga.
“Sebenarnya Nyonya mau ke mana?”
“Pengin keluar, sebel di kamar terus. Aduh ... ini keningku sakit … kaki yang habis dioperasi sakit sekali bagaimana ini, aduuh…”
“Saya ambil obat gosok dulu, nyonya …”
“Tidak, panggil Priyadi saja … telpon ke kantor. Pakai telpon rumah. Cepat, aku tak tahan lagi, sakit sekali ini kakiku …”
“Ya, baiklah … baiklah … saya telpon ke kantor … “ bibik berlari-lari menuju meja telpon rumah, lalu menelpon nomor kantor. Tapi tak lama kemudian bik Supi kembali menemui nyonya majikannya dengan wajah panik.
“Nyonya, kata satpam … eh … yang jaga, yang menerima telpon ini tadi, Priyadi tidak ada, katanya cuti … begitu Nyonya.”
“Aduh, aku lupa … kalau begitu telpon tuan saja. Ini pakai ponselku …”
Tapi panggilan itu tidak digubris oleh tuan Sanjoyo. Barangkali karena dia sudah berpesan kalau tidak sangat perlu sekali, jangan menelponnya.
“Tidak diangkat, Nyonya," kata si bibik yang merasa heran, di latar depan ponsel nyonya majikan adalah foto Priyadi dan Nilam.
“Aduh, bagaimana ini Bik, kalau begitu telpon taksi, antar aku ke rumah sakit.”
“Baiklah … baiklah …”
Dan Srikanti dengan diantar bik Supi pergi ke rumah sakit.
***
Siang hari itu Puspa pergi ke kampus. Ia melihat Nugi sedang asyik menulis. Puspa membiarkannya. Ia merasa sudah lama sekali tidak bertemu Nugi, padahal baru tiga atau dua hari yang lalu ketemu.
Ia berdiri diam di belakang Nugi, lalu ketika Nugi menghentikan pekerjaannya, Puspa baru menyapanya.
“Haah? Puspa? Sudah berapa lama kamu berdiri di belakang aku?” tanya Nugi sambil tersenyum.
“Lumayan. Sudah hampir selesai?”
“Minggu depan insyaaAllah sudah selesai. Kamu bagaimana?”
“Aku juga hampir selesai. Tadi merasa penat, lalu jalan-jalan kemari.”
“Semoga semuanya lancar.”
“Aamiin.”
“Apa rencana kamu setelah lulus?”
“Apa lagi selain mencari pekerjaan? Sudah saatnya aku membalas semua pengorbanan ibuku. Setelah aku punya penghasilan, aku akan minta ibuku agar berhenti bekerja.
”Bagus sekali. Ibumu pasti bangga punya anak yang mengerti tentang pengorbanan orang tua.”
“Ibuku orang kecil. Bisa menyekolahkan aku saja dia juga sudah merasa bangga. Aku juga merasa seperti mimpi, ketika merasa bahwa perjalanan perjuangan aku sudah hampir sampai di ujungnya. Hanya saja, mencari pekerjaan pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku masih harus berjuang nanti.”
Puspa tersenyum. Tiba-tiba terlintas sesuatu di dalam benaknya.
“Kamu tuh anak seorang pengusaha, tanpa bekerjapun kamu sudah bisa menikmati hidup berkecukupan.”
“Kamu salah Nugi, aku tidak ingin duduk berpangku tangan, lalu tiba-tiba uang jatuh dipangkuanku. Semua keinginan harus disertai pengorbanan. Sebelum ini sebenarnya aku ingin berusaha sendiri, tanpa harus menggantungkan kekayaan orang tua. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Melihat ayahku yang sudah semakin tua masih harus mengemudikan usahanya, aku tak sampai hati membiarkannya.”
“Jadi akhirnya nanti kamu ingin bekerja pada orang tua kamu?”
“Kalau Tuhan mengijinkan.”
“Aku doakan kamu berhasil.”
Mereka berbincang tentang keinginan mereka, sambil menikmati cemilan yang dibawa Puspa. Gara-gara cerita tak habis-habis, jadi lupa menulis. Tapi kan rasa kangen sudah terobati? Puspa menelan senyum bahagianya, dan memarahi dirinya yang memang sesungguhnya merasa kangen.
“Nugi, maukah nanti kamu bekerja di kantor ayahku?”
Nugi menatap Puspa tak percaya. Benarkah ini sebuah tawaran pekerjaan?
“Maukah?”
“Kamu serius?”
“Masa sih, masalah pekerjaan aku bercanda?”
“Puspa, masa juga sih ditawarin pekerjaan aku tak suka?”
“Baiklah, nanti aku bilang pada bapak, kalau akan ada seorang pelamar yang luar biasa.”
“Apa maksudmu luar biasa? Jangan terlalu memuji, nanti ayahmu akan kecewa.”
“Tidak, bapak pasti suka.”
“Dari mana kamu tahu?
“Aku tuh pinter menerawang.”
Dan mereka tertawa terbahak-bahak.
Puspa merasa semua beban duka yang semula membebaninya seperti lebih ringan.
“Sebenarnya aku sedang ingin bertanya sesuatu sama kamu," kata Nugi.
“Tentang apa?”
“Sesungguhnya wajah kamu tidak menggambarkan bahwa kamu sedang senang hati. Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?”
Puspa terkejut. Ia bahkan sudah merasa terhibur dengan pertemuannya bersama Nugi. Bagaimana Nugi bisa membaca arti duka yang disandangnya dari membaca wajahnya?
“Benarkah bahwa kamu sedang memikirkan sesuatu? Dan sesuatu itu bukan sesuatu yang menyenangkan.”
Puspa tersenyum. Ia senang Nugi memperhatikannya.
“Ini hanya masalah keluarga.”
“Masalah panti-panti yang ternyata tidak ada ujudnya itu?”
“Salah satunya iya ….”
“Baiklah, aku tak ingin mengorek sesuatu yang bukan urusan aku, tapi aku akan berdoa semoga semuanya bisa teratasi."
”Aamiin. Terima kasih kamu telah memperhatikan aku.”
“Puspa, kamu sangat baik kepadaku. Kalau ada sesuatu yang membebani pikiran kamu, dan aku bisa membantu, maka aku akan membantumu.”
“Terima kasih Nugi. Tapi ini masalah keluarga, agak rumit sih, doakan saja aku bisa melewati semuanya.”
“Baiklah. Semangat Puspa, ingat tugas kita, jangan sampai terganggu oleh apapun.”
Puspa mengangguk dan tersenyum. Akhirnya ada yang bisa menguatkan hatinya, walau ia yakin Nugi tak akan bisa berbuat apa-apa.
***
Bik Supi kebingungan, ia menunggu di luar ruang IGD dan tak bisa berbuat apa-apa. Priyadi tidak ada, dan sang tuan majikan tidak bisa dihubungi.
Tadi dia mendengar bahwa kaki yang habis dioperasi kembali terluka atau entahlah. Ia heran polah sang nyonya majikan, mengapa ia tidak patuh dan akhirnya harus dirawat lagi.
Ketika ia mendekati sang nyonya majikan, ia mendapat perintah untuk kembali menghubungi tuan Sanjoyo. Tapi bik Supi bingung, ponsel sang nyonya ketinggalan di rumah.
“Waduh, bagaimana ini? Pasti nyonya akan sangat marah kalau aku bilang bahwa ponselnya ketinggalan."
Bodohnya bibik, setelah memesan taksi tadi ia meletakkannya di meja begitu saja, dan karena sang nyonya terus merintih kesakitan jadi ponselnya tidak terbawa.
Srikanti masih ada di ruang IGD, menunggu keluarga yang akan menangani masalah pembayaran dan lain-lain.
Karena ketakutan, bibik pulang ke rumah untuk mengambil ponsel. Ia tak peduli sang nyonya mencarinya. Ia benar-benar takut karena ponsel itu kan untuk menghubungi tuan Sanjoyo juga. Kalau saja bik Supi bilang terus terang, pasti ia akan meminta perawat agar menghubungi suaminya melalui telpon rumah sakit. Mana tahu dia bahwa bik Supi justru kebingungan karena ponselnya ketinggalan.
Bik Supi mencari becak karena tidak bisa memesan taksi.
***
Hari itu di kantor sedang banyak urusan. Tuan Sanjoyo sama sekali tidak mempedulikan panggilan telpon sejak pagi. Ia kesal karena Srikanti tidak mematuhi perintahnya untuk tidak sering menelpon saat hari kerja, ditambah lagi rasa kesalnya karena Srikanti terus menerus meminta uang sumbangan untuk panti, sementara kakinya sedang sakit. Apalagi ia terus menerus meminta agar Priyadi yang mengantarkan sumbangan itu.
Sudah sore ketika ia kemudian membuka ponselnya, lalu membaca panggilan tak terjawab dari ponsel istrinya yang bertubi-tubi.
Lama-lama ia kesal juga kepada sang istri. Banyak hal tidak bisa diterimanya. Tentang sumbangan yang harus Priyadi yang mengantarkan, dan melarang Puspa melakukannya. Itu terasa aneh.
Hari sudah sore ketika kemudian tuan Sanjoyo memanggil sopir untuk mengantarkannya pulang.
Ia menunggu dan membuka-buka pesan yang masuk, dan sangat terkejut melihat pesan singkat yang tampaknya salah kamar.
“Pri, sebenarnya kamu ke mana? Sepi rasanya tak ada kamu.”
Tuan Sanjoyo terbelalak. Ini pesan dari istrinya, untuk Priyadikah? Pri yang dimaksud pastilah Priyadi. Bagaimana mungkin dia menulis pesan kepada sopirnya dengan ucapan yang begitu aneh?
Ada api memercik di dada tuan Sanjoyo. Itu bukan ucapan biasa. Itu ucapan untuk seseorang yang sangat akrab dan lebih dari ucapan biasa.
Ia menutup ponselnya ketika sopir yang dipanggil menjemputnya ke ruang kerjanya.
Tanpa berkata-kata tuan Sanjoyo melangkah ke arah mobil, dibantu sang sopir.
***
Sesampai di rumah tuan Sanjoyo melihat bik Supi turun dari becak.
“Kamu dari mana?”
“Tuan, untunglah Tuan sudah pulang. Saya dari rumah sakit.”
“Siapa yang sakit?”
“Nyonya terjatuh, bekas operasinya nggak tahu kenapa, tadi harus dijahit lagi. Wajahnya kebiruan terantuk lantai.”
Wajah tuan Sanjoyo tak menampakkan rasa prihatin. Kemarahan telah membakar semuanya, bahkan perhatiannya kepada sang istri.
“Mengapa kamu pulang?”
“Nyonya menyuruh saya menelpon Tuan, tapi ponsel nyonya ketinggalan di rumah. Saya takut dimarahi, lalu saya pulang dulu untuk mengambil,” kata bik Supi sambil membuka pintu. Ia heran sang majikan tak bereaksi mendengar istrinya ada di rumah sakit.
“Tuan ditunggu di rumah sakit.”
Tuan Sanjoyo duduk di sofa, bibik berlari ke dapur untuk membuatkan minuman.
“Silakan diminum, Tuan.” kata bibik sambil meletakkan segelas kopi kesukaan sang tuan majikan.
“Bawa uang ini ke rumah sakit untuk membayar semuanya. Kamu yang membayarnya, kembalikan kalau sisa, kabari aku kalau kurang,” katanya sambil menyerahkan setumpuk uang. Bagaimanapun Srikanti membawa nama Sanjoyo, jadi masalah administrasi harus dibereskannya.
“Tuan tidak ke rumah sakit?”
“Aku sangat lelah, kamu saja pergilah,” katanya sambil meraih minuman yang disajikan bibik.
Tiba-tiba ia melihat ponsel istrinya tergeletak di meja. Ia mengambilnya, lalu ia melihat foto Priyadi dan Nilam ada di layar depan ponsel itu.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah.....
ReplyDeleteSdh tayang HaBeBe_32 malam ini.
Yuk kita baca bareng².
Matur nuwun mBak Tien, salam SEROJA.
Dan.....
Tetap ADUHAI.🍁🌹💝
Alhamdulillah
ReplyDeleteSuwun mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDelete🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung HaBeBe_32
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien
ReplyDeleteKapokmu kapan Srinthil?
ReplyDeleteMaturnuwjn mbak Tien, sudah membesut cerita demikian serunya...
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun bunda
Semoga sehat slalu
Duh Priyadi ma Nilam nikah kali pulang ke kampung.
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 32" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang, matur nuwun Bunda Tien, barokalloh
ReplyDeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 32" sdh tayang. Matur nuwun mbakyu Tienkumalasari sayang, sugeng dalu salam hangat dari Tanggamus, Lampung 🙏
ReplyDeleteReply
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 32* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Matur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu nggih
ReplyDeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~32 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Wah makin seru nih.. gak sabar nunggu kelanjutannya ..
ReplyDeleteSelamat malam bunda Tien.. terimakasih cerbungnya.. semoga bunda Tien & kelg selalu sehat.. aamiin
Alhamdulilah Cerbung HBB 32 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 32 " 👍🌹
DeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm salam sht sll unk bunda bersm bpk 🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteSuwun Bu Tien. Smg sehat selalu. Aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah.... semakin seru, terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.
ReplyDeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 32 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 32 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Melalui hp nya yang ketinggalan. Tuan Sanjoyo jadi tahu hubungan gelap nya Kanti dengan Yadi.
Asyik...Nugi mulai membuka diri untuk Puspa. Sumringah nih yee..💐💐😁
Walaupun hati Sardjono sempat menjadi gundah meraba ulah Sri, yang terasa aneh bin nggak masuk nalar, masak masak apa hayo..
ReplyDeleteAsh mbuh
Lha karo anaké waé ora pêrcaya ngeteraké dana, lha tau mêruhi alesané lagi belajar renang, bocahé dadi simpatiné kurang, kapan maknya seneng renang.
Bijak banget Sêkar memberi saran ke Puspa, nanti kalau tepat, pas waktunya baru dijlèntrèhkan, apa iku, aja aja si Nug keceplosan, bubar ..
Wis diati-ati jéw;
Salahé dolanan ati, kadang kan kepingin tantangan, polahé.
Terus nantang nantang, ora perduli sêtu legi ngono..
Sembrono; mulané mlayu disik ngicipi omah anyar..
Sama yang tersayang.
Terima kasih
Bu Tien; Hanya Bayang Bayang yang ke tiga puluh dua sudah tayang
Sehat sehat selalu doaku
Sedjahtera dan bahagia bersama keluarga tercinta.
Srikanti sudah berada di kerak neraka rumah tangga...
ReplyDeletePermisi dulu mau ketemu Mery...
Terimakasih Mbak Tien...
Wah, keren nih nantinya...Nugi kerja di kantor tuan Sanjoyo, perselingkuhan Sikanti terbongkar gara2 ponsel ketinggalan, salahnya ga dikunci, wkwk...😅
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien. Sehat selalu.🙏🏻