HANYA BAYANG BAYANG 28
(Tien Kumalasari)
Puspa benar-benar melongo, Nugi menatapnya heran.
“Ada apa?”
“Benar, di alamat ini tidak ada Panti Asuhan yang bernama Panti Mulya,” kata Puspa sambil membaca kembali tulisan yang dikirimkan ayahnya.
“Kalau alamatnya itu, jelas tidak ada, itu dekat rumahku. Itu sebuah perkebunan yang sangat luas.”
“Apa bapak keliru mencatatnya ya. Sekarang aku masih punya empat alamat panti yang harus aku cari. Apakah kamu punya waktu senggang untuk menemani aku?”
“Boleh, aku sudah hampir selesai. Ayo aku boncengkan. Mau? Atau harus naik mobil?”
Puspa tersenyum. Barangkali nikmat juga naik motor berboncengan. Biar saja mobilnya dititipkan di kampus.
“Ayo aku mau naik motor saja. Sebelumnya terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk aku.”
“Sebenarnya itu alamat panti untuk apa?” tanya Nugi sambil berjalan ke arah motornya.
“Ayahku mencatatnya untuk diberikan sumbangan.”
“Dari mana alamat yang dikirimkan itu? Mungkin ayahmu salah mencatat.”
“Entahlah, sekarang aku ingin mencari keempat alamat yang lainnya.”
“Kamu sudah membawa uangnya?”
“Belum, aku hanya ingin tahu dimana letak panti-panti itu, sehingga besok aku tinggal langsung menuju ke sasaran, tidak usah mencari-cari lagi.”
“Oh, begitu. Baiklah, sekarang ke alamat yang mana lagi.”
Puspa menunjukkan catatan di ponselnya.
“Letak dusunnya juga jauh yang ini, tapi entahlah, ayo kita cari saja.”
***
Nugi dan Puspa berboncengan mencari alamat-alamat panti yang tertera. Ada dua alamat lagi yang mereka cari, dan mereka tak menemukan nama Panti yang di maksud. Yang satu adalah sebuah gudang kosong, yang satunya adalah bekas pabrik plastik yang hanya tinggal puing-puing bekas terbakar entah berapa tahun yang lalu.
Puspa tertegun. Ia masih duduk di boncengan ketika Nugi menunjukkan bekas pabrik itu.
“Sudah tiga alamat, dan itu bukan alamat sebuah panti?” keluhnya.
“Kok aneh, ayahmu mencatat alamat yang salah? Sudah tiga, dan itu bukan alamat sebuah panti apapun.”
“Masih ada dua,” kata Puspa lirih. Sekarang ia tahu bahwa ayahnya tidak salah mencatat. Lalu apa? Ibunya memberikan alamat palsu? Supaya apa? Sumbangan ke panti itu pasti berupa uang, dan dia tahu bahwa ayahnya selalu memberikan uang yang pantas untuk menyumbang. Itu dilakukannya setiap bulan.
Bulu kuduk Puspa merinding. Ibunya berbohong? Jadi dia menipu ayahnya dengan meminta sumbangan untuk beberapa panti? Dan uangnya ditilep untuk membangun rumah untuk Priyadi? Hampir menitik air mata Puspa, kalau tidak ingat bahwa dia sedang bersama Nugi. Air mata itu adalah air mata kesedihan, ketika menyadari betapa jahatnya sang ibu. Ibu kandungnya, ibu yang melahirkannya.
“Puspa, kok malah melamun, kita cari dua alamat berikutnya?”
Puspa mengangguk, ia masih berharap yang dua adalah benar-benar alamat panti, setelah yang tiga adalah alamat palsu.
“Ayuk, mana lagi. Kamu kok kelihatan sedih? Tidak apa-apa kok aku mengantarkan kamu sampai selesai menemukan alamat-alamat itu.”
“Tidak, masa ayahku salah sampai tiga kali ya?”
“Ayo kita cari yang dua lagi. Sama saja, letak dua alamat yang terakhir ini ada di pinggiran kota,” kata Nugi yang kemudian menstarter sepeda motornya.
***
Srikanti masih ada di rumah sakit, ia baru saja menerima hasil rontgen kakinya, yang hasilnya adalah tulang di sambungan jarinya patah, di dua tempat. Jadi harus dioperasi keesokan harinya, karenanya Srikanti tidak boleh pulang.
Srikanti menolak untuk dioperasi, gara-gara mengingat nama dan alamat panti yang dicatat suaminya.
“Sri, kamu harus mau. Kata dokter, kalau tidak dioperasi, pertumbuhan tulangmu akan tidak pas, kamu tidak bisa berjalan tegak, tapi terpincang-pincang terus,” kata Priyadi.
“Bagaimana dengan alamat panti itu? Nanti malam tuan Sanjoyo akan memberikan uangnya kepada Puspa, dan besok Puspa akan menemukan alamat yang tidak pada tempatnya. Aku bingung Pri.”
“Kamu bilang saja pada tuan, kalau pemberian sumbangan harus ditunda dulu.”
“Dengan alasan apa? Puspa sudah siap mengantarkan uang itu. Pasti ketahuan kalau nama-nama Panti itu fiktif.”
Walau menahan nyeri, Srikanti tak bisa menahan keinginannya untuk membatalkan pemberian sumbangan itu, gara-gara alamat yang diberikannya adalah alamat yang dikarangnya sendiri.
Tuan Sanjoyo terkejut ketika mendapat telpon dari Srikanti.
“Ada apa Sri, kamu sudah ke dokter? Apa kata dokter?”
“Aku masih di rumah sakit Mas, tapi aku ingin bicara tentang sumbangan ke panti itu.”
”Ada apa Sri? Kamu sedang butuh penanganan, bagaimana kamu masih memikirkan tentang sumbangan? Masalah sumbangan itu biar Puspa yang menanganinya. Kamu tidak usah khawatir.”
“Bukan begitu Mas, baru saja mereka telpon, kalau ingin memberikan sumbangan jangan sekarang, karena pimpinan panti sedang umroh, dan mereka harus yang menanganinya sendiri, jadi sebaiknya ditunda saja dulu.”
“Panti itu jumlahnya lima. Semua pimpinan dari kelima-limanya umroh? Lalu sama-sama mengabari ke kamu?”
“Itu anu Mas … mereka itu dibawah satu pimpinan … mm … jadi ada orang yang membuat panti sampai lima, yang tersebar di lima alamat yang berbeda.”
Tuan Sanjoyo mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa bahwa Srikanti seperti sedang menghalangi dirinya mempercayakan uang sumbangan kepada Puspa.
“Ya sudah, sekarang bagaimana kakimu? Jangan bicarakan tentang panti itu dulu.”
“Aku harus dioperasi Mas.”
“Dioperasi?”
“Ada yang patah, pantesan aku tidak bisa menapakkan kakiku. Aku belum boleh pulang, operasinya besok.”
“Besok? Separah itu, hanya karena tersandung?”
“Entah bagaimana ini. Tapi benar ya Mas, sumbangan-sumbangan itu ditunda dulu, takutnya jatuh di tangan orang yang kurang bertanggung jawab. Pimpinan mereka sepertinya tidak mempercayai anak buahnya.”
Tuan Sanjoyo menutup pembicaraan itu, agak kesal juga, ketika di saat sakit, sang istri terus membicarakan tentang harus dibatalkannya rencana menyumbang itu.
Yang terpikir oleh tuan Sanjoyo adalah istrinya tidak mengijinkan Puspa yang memberikan sumbangan itu. Ia ingat, beberapa bulan yang lalu Srikanti juga menolak ketika Puspa ingin membantu memberikan sumbangan. Masa iya, Srikanti tidak mempercayai anaknya sendiri?
Sama sekali tuan Sanjoyo tidak menduga bahwa sumbangan-sumbangan itu hanya dijadikan alasan untuk meminta uang demi kepentingannya sendiri, jadi tidak mungkin orang lain diijinkan membayarkannya, walau itu adalah anak kandungnya sendiri.
Karena pemikiran tentang sikap Srikanti itulah, tuan Sanjoyo seperti tidak tampak khawatir tentang operasi yang akan dijalani Srikanti. Ia hanya memberi tahu lewat pesan singkat kepada Priyadi, agar segera menjemputnya dan membawanya ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang istri.
***
Srikanti masih terbaring di ruang rawat, ditungguin Priyadi. Mereka bukan membicarakan masalah operasi kaki Srikanti, tapi masalah panti-panti fiktif yang diciptakannya dan gagal dijadikan alat untuk meraup harta sang suami.
“Sabar dulu untuk kali ini Sri, yang penting kamu sudah menghentikan niat tuan Sanjoyo untuk memberikan sumbangan,” kata Priyadi.
Sama sekali keduanya tidak mengira bahwa kelima alamat yang diberikan sudah ketahuan kalau hanya alamat fiktif.
“Ya sudah Sri, kamu di sini saja dulu, aku mau menjemput tuan Sanjoyo.”
“Kamu tinggalkan aku sendiri?”
“Tuan Sanjoyo sudah mengirimkan pesan. Sepertinya ia mau datang kemari.”
“Ya sudah, jemputlah sekarang, jangan sampai dia kelamaan menunggu.”
“Jangan lupa, kalau tuan datang, kamu ulang lagi permintaan kamu untuk menunda sumbangan-sumbangan itu,” kata Priyadi sebelum pergi.
“Iya, aku sedang memikirkan lagi apa yang akan aku katakan nanti untuk meyakinkan dia.”
***
Puspa pulang ke rumah Sekar dengan perasaan yang sulit digambarkan. Marah, kecewa, tapi juga sedih. Kelima alamat itu benar-benar fiktif, hanya dibuat-buat, dan sudah jelas dipergunakan untuk menipu ayahnya agar mau mengucurkan uang lagi. Bukan untuk kegiatan bakti sosial, tapi untuk kebutuhannya sendiri yang sudah jelas tidak pantas dan termasuk perbuatan jahat dan nista.
Ketika ia memasuki kamarnya, ia mendengar mobil sang kakak memasuki halaman. Puspa membalikkan tubuhnya dan menyambut sang kakak dengan wajah kuyup oleh duka.
Sekar melihat wajah sang adik dan merasa khawatir.
“Kamu sakit?”
Puspa menggeleng. Ia menggandeng lengan sang kakak dan mengajaknya masuk ke rumah.
“Wajahmu pucat sekali. Benar tidak sakit?”
“Hatiku yang sakit Mbak?”
“Lhoh, kenapa? Pacarmu berselingkuh?” goda sang kakak.
“Mbak kan tahu kalau ibu mengusulkan lima panti untuk dimintakan sumbangan pada bapak?”
“Sudah kamu jalankan?”
“Tadi aku sudah mencari alamat-alamat itu.”
“Ketemu, sehingga besok bisa lancar menjalankan tugas kamu?”
”Alamat palsu semua.”
“Apa? Palsu?”
“Tidak ada nama Panti yang tertera di alamat yang dikirimkan bapak.”
“Jadi ….?”
“Mbak kan harus sudah menemukan jawabannya. Itu hanya alat untuk memaksa bapak agar mengeluarkan uang lagi.”
“Ya Tuhan.”
“Aku sedih Mbak, yang aku bicarakan ini adalah ibuku. Perempuan yang melahirkan aku,” lalu pecahlah tangis Puspa di pelukan sang kakak.
Sekar mengelus punggung sang adik dengan lembut. Ia bisa mengerti dan merasakan, apa yang dirasakan Puspa.
“Apa yang harus aku lakukan Mbak? Langsung melaporkannya pada bapak?”
Tiba-tiba ponsel Puspa berdering, dari sang ayah.
Puspa menelan tangisnya, berusaha bersikap wajar.
“Ya, Pak. Bapak sudah pulang?”
”Bapak di rumah sakit.”
“Bapak sakit?” Puspa khawatir.
“Ibumu yang sakit. Besok harus operasi.”
“Operasi apa?” tak urung Puspa juga terkejut.
“Tadi pagi entah tersandung apa, ada tulang di kakinya yang patah, besok harus operasi. Bapak sudah melihatnya, tidak apa-apa, jangan khawatir. Tapi yang harus kamu ketahui, soal sumbangan untuk panti itu ditunda saja dulu ya, kata ibumu, para pimpinan panti sedang umroh bersama-sama.”
Puspa meletakkan ponselnya. Wajahnya tetap saja sendu, bukan karena sakit yang diderita sang ibu tapi karena kebohongannya kepada sang ayah.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah....
ReplyDeleteYang ditunggu sejak tadi sore sdh hadir, *HaBeBe_28*
Yuk kita baca bareng-bareng.....
Nuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~28 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget pak Djodhi
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteTrmksh mb Tien, smg sht sll🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget Yangtie
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 28 " 👍🌹
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget pak Herry
🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung HaBeBe_28
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🐞🌻🐞🌻🐞🌻🐞🌻
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget jeng Sari
Terima ksih bunda HBB nya..slmt mpm dan slm sht sll uno bunda sekeluarga 🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSalam sehat juga
Terima kasih Bunda Tien, semoga selalul sehat aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Yulian
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 28" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu 🙏
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng dalu
Alhamdulillah terima kasih bunda Tien
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Endah
Aduhai hai hai
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 28 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Uchu
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 28* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget pak Wedeye
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 28 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Sri
Aduhai aduhai
Alhamdulillah, nwn bu Tien
ReplyDeleteSami2 pak Bam's
DeleteAlhamdulillah Puspa telah hadir,...ceritanya makin menarik.. Maturnuwun Bu Tien cerbung HBB telah siap dibaca pecinta cerbung,semoga ibu sehat semangat dan bahagia bersama Kel tercinta..
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Tatik
Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulilah, di inceng ber kali² sampun tayang, matur nuwun inggih mbakyuku Tienkumalasari sayang, salam sehat sll dan tetep semangat beserta kelg tercinta, doa dari Tanggamus,Lampung
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget jeng Sis
Matur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Anik
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 28 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Puspa wajib mengatakan ke ayahnya klu Panti Asuhan tsb adalah fiktif, hanyalah rekayasa ibu nya untuk menggelapkan uang yang nominalnya tidak sedikit.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget pak Munthoni
Alhamdulillah, matur nuwun bunda Tien.
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga selalu sehat wal'afiat, bahagia dan dalam lindungan Allah, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Ermi
Alhamdulillah.....mks bun....selamat malam, salam sehat
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati
DeleteSalam sehat juga
Terima kasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Komariyah
Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni
DeleteSalam sehat aduhai
Terima kasih bu tien..semoga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun sanget ibu Anik
Kok ada orang sekonsisten Srikanti. Dari dulu jahatnya tak pernah berubah...
ReplyDeleteOPermisi dulu melihat Rahman...
Terimakasih Mbak Tien..
Matur nuwun Bu Tien cerbungnya,ditunggu lanjutan cebungnya.
ReplyDelete