Saturday, January 3, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 27

 HANYA BAYANG BAYANG  27

(Tien Kumalasari)

 

Tuan Sanjoyo berhenti melangkah, menoleh kepada sang istri yang terbaring dengan tatapan mata yang sulit dimengerti.

“Mengapa berteriak Sri?”

“Aku kan sudah bilang Mas, bahwa urusan uang biar aku saja yang mengurus, mengapa harus Mas serahkan kepada Puspa?”

“Satu, kakimu sakit dan kamu sendiri bilang kalau tidak mau jalan terpincang-pincang. Dua, Puspa harus belajar untuk menjalankan apa saja dalam kehidupannya, termasuk bersedekah atau membantu orang yang tidak mampu. Jadi bukan hanya kamu yang bisa melakukannya.”

“Tapi ini urusan aku Mas, jadi biar aku saja.”

“Memangnya kenapa kalau Puspa yang melakukannya? Puspa itu bukan orang lain. Apa kamu takut kalau dia membohongi kita, atau bahkan mau menilep uang yang seharusnya kita sumbangkan?”

“Bukan begitu. Puspa sekarang sedang menekuni tugas akhirnya juga kan, jadi tidak seharusnya kita membebaninya hanya untuk menyerahkan sumbangan kepada panti-panti. Biasanya juga aku yang mengurusnya kan? Nanti kalau tiba-tiba yang datang orang lain, pasti akan menimbulkan pertanyaan.”

“Mengapa bisa menimbulkan pertanyaan? Mereka hanya menerima dan semestinya mereka akan mengucapkan terima kasih. Jadi aku kira siapapun yang mengantarkan aku kira sama saja.”

“Maksudku, biasanya sudah aku, jadi biar aku saja.”

“Bukankah ini adalah panti-panti baru yang kamu usulkan? Bukan panti-panti lama yang sudah selalu kita bantu? Yang baru atau yang lama, aku kira tidak masalah siapa yang akan memberikannya.”

“Ah, sudahlah Mas, aku tidak mau berdebat. Pokoknya biar aku saja yang mengurusnya, biarlah Puspa menekuni tugas kuliahnya.”

Tuan Sanjoyo mengerutkan keningnya. Ia bukan orang bodoh. Jawaban Srikantilah yang terkesan bodoh. Mengapa masalah menyumbang harus dia yang melakukannya? Apa bedanya sumbangan dari keluarga Sanjoyo itu diserahkan oleh siapapun, dan bukan hanya oleh dirinya? Yang penting jumlahnya sesuai dengan yang keluarga Sanjoyo inginkan.

Tapi tuan Sanjoyo tak ingin berdebat. Ia harus segera mandi dan bersiap untuk ke kantor. Ia bisa melakukannya sendiri, tak butuh dilayani. Dengan pelan ia masuk ke kamar mandi, meninggalkan sang istri yang tampak kebingungan, tak tahu harus melakukan apa. Keluar dari kamar mandi, tuan Sanjoyo mengambil catatan panti-panti baru usulan Srikanti yang diletakkan di meja samping tempat tidurnya.

“Biar saja dulu Mas, tidak usah buru-buru,” cegah Srikanti yang sudah duduk di tepi pembaringan, tapi tak mampu berjalan karena bengkak di jempol kakinya sudah merambat lebih lebar. Karenanya kertas catatan terlanjur dibawa suaminya dan dia tak sanggup mencegahnya.

***

Sebelum Sekar berangkat bekerja, ia masih sempat sarapan bareng Puspa, setelah Puspa mengantarkan sang ayah berjalan-jalan. Mereka makan nasi pecel yang dibawa Puspa pagi hari itu.

“Jadi pecel ini kamu beli ketika makan bersama bapak di pinggir jalan?”

“Iya, bapak kelihatan senang sekali.”

“Bapak sebenarnya sudah sehat, tapi entah mengapa ibu melarang bapak berlatih jalan.”

“Katanya sih khawatir. Tapi menurut aku alasan itu seperti mengada-ada. Jangan-jangan ibu memang ingin agar bapak tak bisa jalan selamanya.”

“Entahlah, sekarang yang penting kita bisa membantu bapak. Oh ya, apakah aku sudah menceritakan tentang apa yang dikatakan Suroto ketika pulang dari sini?”

“Mbak tidak cerita apa-apa tentang mas Suroto.”

“Ini bukan tentang dia. Ketika mau pulang dan kebetulan lewat di rumah itu, ia melihat mobil bapak siap keluar dari sana. Ia sempat melihat Priyadi yang siap membawa mobilnya.”

“Mas Suroto menegurnya?”

“Tidak, dia pura-pura tidak tahu. Lihat, dia memotret rumahnya, dan bertanya kepada tetangga di sana, rumah siapa itu.”

“Rumah siapa itu sebenarnya? Ngontrak, atau apa?”

“Rumah itu milik Priyadi.”

“Haa? Kaya sekali dia.”

“Apa yang kamu pikirkan?”

“Pasti ibu yang memberinya uang. Siapa lagi?”

“Uang itu … dari ibu … diminta dari bapak?”

“Entahlah. Kamu justru harus menyelidikinya.”

Puspa tampak berpikir.

“Bagaimana cara ibu meminta uangnya?”

Lalu sekilas Puspa ingat tentang sumbangan ke panti yang tidak bisa diserahkan oleh orang lain kecuali dirinya. Apakah ibunya mengurangi jumlah sumbangannya, atau bagaimana?

“Nanti malam Mbak aku ajak menemui bapak.”

“Tapi aku tidak bisa sampai malam, ada yang harus aku kerjakan malam nanti.”

“Sebentar saja. Bapak mau memberikan sumbangan ke panti-panti yang baru, aku minta agar aku diijinkan menyerahkan sumbangan itu.”

Entah mengapa Puspa ingin mengantarkan uang sumbangan itu. Apakah Puspa sudah mencurigai ibunya? Puspa bukan anak kecil. Larangan keras untuk membantu menyerahkan sumbangan menjadi pertanyaan besarnya. Bukan menuduhnya karena ia tak punya bukti, ia hanya bertanya, mengapa.

“Baiklah, tidak apa-apa kalau sebentar saja.”

***

Priyadi segera kembali setelah mengantarkan tuan Sanjoyo ke kantor, atas perintah sang tuan agar Priyadi mengantarkan nyonya besar ke rumah sakit karena jempol kakinya bengkak, bahkan merambat ke sekitar kakinya, sehingga susah untuk menapak.

Begitu sampai di rumah keluarga Sanjoyo, Priyadi langsung masuk ke dalam dan menuju ke kamar sang nyonya majikan.

“Aku disuruh tuan untuk mengantarkan nyonya ke dokter,” kata Priyadi ketika tahu bahwa bik Supi melihatnya mendekati kamar sang nyonya.

Bik Supi menatapnya dengan kesal, ia tak menjawab apapun.

“Seperti di rumahnya sendiri saja, masuk ke kamar majikan tanpa permisi. Tapi kenapa juga aku ngomel, bukankah hal itu sudah biasa?” geram bibik pelan.

Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya, tak peduli apa yang dilakukan mereka di kamar itu.

“Ke dokter sekarang? Memangnya kenapa kaki kamu?”

“Gara-gara aku kesal pada Puspa. Aku tendang mobilnya.”

Dan Priyadi justru terbahak mendengarnya.

“Kok tertawa sih?”

“Kamu itu apa tidak tahu, perangkat mobil hampir semuanya dari bahan keras, lha kakimu beradu dengan besi, tidak aneh kalau bengkak. Bisa jadi ada yang patah tulangnya.”

“Aduh, masa iya.”

“Ayo ke dokter saja sekarang supaya dilihat dokternya, hanya keseleo atau patah.”

“Aku tuh sebenarnya sedang bingung. Tentang usulan aku tentang panti-panti baru. Itu kan fiktif. Bagaimana kalau benar-benar Puspa datang ke alamat-alamat itu setelah diberi uangnya oleh tuan. Tadi tuan malah sudah membawa kertas-kertas catatanku tentang panti-panti fiktif itu.

“Waduh, itu bahaya Sri, bagaimanapun kamu harus mencegahnya.”

“Nanti aku pikirkan, sekarang antarkan aku ke rumah sakit dulu. Sakit sekali ini, jangan sampai aku berjalan dengan terpincang-pincang."

Dan bibik melongo ketika nyonya majikan keluar dari kamar, sudah berganti pakaian dan berjalan sambil dirangkul sopir  kesayangannya.

***

Siang hari itu Puspa mendapat telpon dari sang ayah, yang mengatakan tentang panti-panti yang sudah ditulis Srikanti.

Semua daftar dikirimkan sang ayah sekalian.

“Ada lima panti ini ya Pak?”

“Iya, nanti malam kamu datang ke rumah, uangnya sudah bapak siapkan. Tapi setidaknya kamu sudah tahu mana panti-panti yang akan kamu kunjungi.”

“Baik Pak, Puspa sudah mengerti. Ini ada nama dan alamatnya, sepertinya ini di daerah pinggiran.”

“Tidak apa-apa daerah pinggiran, pastinya ibumu sudah tahu kalau mereka memang membutuhkan bantuan. Bersyukur sekali kalau kita bisa membantu mereka.”

“Benar sekali Pak, Puspa senang bisa mewakili keluarga Sanjoyo untuk memberi bantuan. Baik, nanti malam saya ke rumah dengan mbak Sekar, supaya pulangnya ke rumah mbak Sekar tidak sendiri.”

“Terserah kamu saja. Tapi setelah bapak beri alamatnya kan kamu sudah bisa menggambarkan tempatnya, atau jalannya nanti.”

“Benar, supaya nanti tidak usah mencari-cari.”

“Ya sudah Puspa, bapak lanjutkan pekerjaan bapak dulu,”

“Baik, Pak. Terima kasih informasinya. Puspa akan segera melacak alamat-alamatnya setelah ini.”

“Jangan lupakan tugas kamu.”

“Puspa mengerti. Pokoknya semua beres.”

***

Ketika Puspa menutup pembicaraan dengan sang ayah, ia bersiap untuk mencari alamat-alamat panti yang dikirimkan ayahnya, tapi kemudian ponselnya berdering. Puspa hampir bersorak, itu telpon dari Nugi.

“Ya Nugi,” secepat kilat Puspa menjawabnya.

“Kamu nggak ke kampus? Masih di rumah kakak kamu?”

“Masih, apa aku harus ke kampus?”

“Bukan harus, aku akan mengembalikan buku kamu, apa boleh aku kirimkan ke rumah kakak kamu? Berikan alamatnya dong.”

“Aku sedang ada perlu mau keluar, kamu di kampus?”

“Iya, aku setiap hari di kampus. Nebeng laptop, maksudnya,” kata Nugi sambil tertawa pelan.

Puspa merasa kasihan, kalau saja pantas, pasti ia akan meminta Nugi menulis di rumah kakaknya. Ada laptop yang bisa dipergunakan oleh dia. Tapi ia sungkan mengajak Nugi ke rumah, sementara dia sendirian.

“Aku ke kampus saja menemui kamu, sama mau tanya alamat-alamat, barangkali kamu tahu di mana letaknya.”

“Alamat apa?”

“Beberapa alamat, nanti aku tunjukkan sama kamu.”

“Baik, aku tunggu di kampus ya.”

***

Puspa sudah berada di kampus, tidak lupa membawa makanan untuk dimakan berdua, membuat Nugi merasa sungkan.

“Puspa, jangan lagi seperti ini. Aku biasanya sudah makan dari rumah.”

“Tapi aku belum, jadi aku minta kamu menemani aku,” kata Puspa ngeyel.

“Dan tentang buku, kamu tidak usah tergesa-gesa mengembalikannya, aku sudah selesai memakainya.” lanjutnya.

“Tidak tergesa, memang aku juga sudah selesai.”

***

“Alamat apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Nugi setelah mereka selesai makan.

“Ini, ada beberapa panti, yang ayahku ingin memberi bantuan, tapi aku tidak tahu di mana tempatnya."

Nugi mengamati nama panti dan alamat yang tertera. Ia baru membaca salah satu alamat.

“Salah satu nama pantinya aku tidak tahu, tapi alamatnya ini di daerah dekat kampung aku.”

“Jadi kamu tahu dong persisnya di mana?” kata Puspa senang.

“Tapi di sekitar tempat itu tidak ada bangunan panti. Itu tempat perkebunan yang saat ini ditanami jagung.”

“Barangkali di situ ada bangunan yang dipergunakan untuk panti asuhan?”

“Tidak ada. Itu perkebunan jagung yang sangat luas.”

Puspa melongo.

***

Besok lagi ya.

 

37 comments:

  1. 🚴🀝🚴🌟🚴🌟

    Alhamdulillah HaBeBe_27 malam ini sudah tayang.... Matur nuwun.

    Konangan kik, Puspa kolaborasi dengan Nugi mencari alamat panti fiktif.....

    ReplyDelete
  2. πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€
    Alhamdulillah πŸ™πŸ¦‹
    Cerbung HaBeBe_27
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah...matur nueun sanget bu Tien. Ep.27 sampun terbit. Semoga bu Tien tansah pinaringan sehat afiat. Aamiin

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 27" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu πŸ™

    ReplyDelete
  5. Terima kasih bu Tien. Semoga sehat selalu....ditunggu keseruan cerita berikutnya

    ReplyDelete
  6. Alhamdulilah
    Terimakasih bunda. Selamat beristirahat besok Minggu. Supaya Fress tuk hari Senin.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 27 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Perihal alamat Panti Asuhan...satu demi satu...di cek & ricek oleh Nugi dan Puspa...ternyata semua alamat nya fiktif.

    Kanti...kamu ketahuan...pacaran lagi...eh salah Kanti kamu ketahuan..
    akan menggelapkan uang sumbangan yang nilainya tidak sedikit..😁

    ReplyDelete
  8. Matur suwun bu Tien salam sehat utk keluarga.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  10. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 27 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Uchu

      Delete
  11. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sll diberikan kesehatan aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Ida

      Delete
  12. Hatur nuhun bunda HBBnya..slm sht sll unk bunda πŸ™πŸ₯°πŸŒΉπŸ«’

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah, matur nuwun bunda TienπŸ™
    Semoga Bunda dan keluarga selalu sehat wal'afiat, bahagia bersama keluarga tersayang, barokah dan
    dlm lindungan Allah SWT. Aamiin🀲
    Salam seroja 😍πŸ₯°πŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Ermi

      Delete

  14. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 27* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Wedeye

      Delete
  15. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  16. Alhamdulilah Cerbung HBB 27 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  17. Matur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta.

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~27 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Wedeye

      Delete
  19. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 27 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak.Herry

      Delete
  20. Puspa sudah yakin bahwa ibunya bohong karena alamat panti itu fiktif.
    Permisi, mau memeriksa jantung Rahman, apakah masih dag dig dug...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih prof. Alat periksa jantung sudah.dibawa? Ada stetoskop nih

      Delete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...