Friday, January 2, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 26

 HANYA BAYANG BAYANG  26

(Tien Kumalasari)

 

Priyadi berdebar, ia mencari jawaban seandainya Suroto berhenti dan menanyakan ini rumah siapa. Tapi tidak, mobil Suroto melaju, dan tak menoleh lagi ke arahnya. Apakah dia tak melihatnya?

Dalam menjalankan mobilnya, Priyadi menelpon Srikanti.

“Ada apa?”

“Ketika aku mau keluar dengan membawa mobil tuan Sanjoyo, mobil tuan Suroto lewat.”

“Mobil Suroto? Dia berhenti?”

“Tidak, hanya melihat sekilas, kemudian berlalu.”

“Kalau dia tahu bahwa itu kamu, dan sadar bahwa mobilnya adalah mobil ayahnya, pasti dia berhenti dan menanyakannya.”

“Tidak, sepertinya dia melihat hanya sekilas. Barangkali tak yakin karena mobil kan banyak yang sama.”

“Benar. Dan kalaupun dia bertanya nanti, siapkan jawaban yang tepat, jangan sampai membuatnya curiga.”

“Baiklah.”

Priyadi menutup ponselnya dan melanjutkan perjalanannya, sementara Srikanti ditinggalkan di rumah perselingkuhan itu sendirian.

“Paling-paling dia akan tiduran, dan semoga tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan lagi. Nilam juga sudah aku suruh bersih-bersih supaya dia tidak mengomel lagi,” gumam Priyadi.

Tapi Priyadi keliru. Rumah yang dicurigai anak-anak tuan Sanjoyo sangat menarik perhatian Suroto yang dilihatnya dalam perjalanan pulang ke rumahnya di luar kota.

Ketika melihat mobil Priyadi sudah menjauh, Suroto menghentikan mobilnya, ada sebuah warung yang dia dekati, lalu pura-pura membeli sesuatu. Tapi sambil dilayani itu, Suroto menanyakan tentang rumah kecil yang baru dibangun itu.

“O, itu Mas? Itu tadinya rumahnya sudah hampir ambruk, lalu dibeli oleh orang kemudian dibangun menjadi bagus,” jawab pemilik toko itu.

“Sekarang pemiliknya siapa ya?”

“Ketika kebetulan bersama-sama pergi ke kelurahan, saya mendengar pemiliknya bernama Supriyadi. Atau siapa ya, pokoknya Priyadi atau Supriyadi, begitu.”

“Dia tinggal di sana?”

“Ya, tapi entah dia tinggal bersama siapa, mungkin istrinya, yang kelihatannya sudah lebih tua tapi masih cantik. Mereka tak pernah bergaul dengan para tetangga, karenanya jarang ada yang tahu banyak tentang rumah itu.”

Suroto mengangguk-angguk, sambil menerima pengembalian uang dari pemilik warung itu, kemudian dia berpamit dan kembali ke mobilnya. Ia mundur sedikit lalu mengarahkan kamera ponselnya ke rumah mesum itu.

Ia meletakkan sekotak korek api yang dibelinya asal-asalan di jok sebelahnya, hanya karena ingin berkomunikasi dengan pemilik warung itu, lalu menjalankan mobilnya.

***

Sekar berteriak ketika Suroto mengatakan penemuannya, dan mengirimkan gambar rumah yang sudah dipotretnya.

“Iya benar, inilah rumahnya. Jadi kamu diam-diam memotretnya dan menyelidiki siapa pemilik rumah itu?”

“Rumah itu atas nama Priyadi, ditinggali bersama istrinya yang setengah tua tapi masih cantik.”

“Itu Srikanti bukan?”

“Kemungkinan besar begitu.”

“Apa lagi yang dikatakan tukang warung itu?”

Pemilik rumah itu tidak pernah bergaul dengan tetangga sekitar, jadi tak ada yang mengenalnya.

“Atas nama Priyadi. Tidak mungkin Priyadi punya uang sebanyak itu. Membeli rumah di tepi jalan besar, membangunnya, itu memerlukan uang yang tidak sedikit bukan?”

“Pelan-pelan Mbak cari tahu, dari mana sumber dana yang dipergunakan oleh penjahat-penjahat itu. Aku yakin itu uang bapak, yang entah bagaimana dan dengan cara apa Srikanti mendapatkannya,” kata Suroto geram.

“Baik Roto, aku akan mencari tahu tentang hal itu. Puspa sering menemani bapak kalau pagi, dan aku punya alasan menemui bapak di kantor, yaitu untuk mengajak  bapak makan  siang. Lambat laun aku pasti bisa membuka tabir hitam yang menyelimuti keluarga orang tua kita.”

“Semoga Mbak berhasil, aku doakan dari jauh.”

“Kamu sudah sampai rumah?”

“Hampir. Jalanan macet, mungkin karena habis liburan.”

“Baiklah, salam untuk istri dan anakmu. Kamu hati-hati di jalan.”

“Terima kasih Mbak, nanti aku sampaikan.”

Sekar termenung dan merasa geram mendengar apa yang  dikatakan sang adik. Sudah lama, bertahun-tahun, jadi berapa banyak uang ayahnya dihamburkan hanya untuk sebuah perselingkuhan istrinya? Bukan main. Sekar geleng-geleng kepala.

***

Pagi itu Srikanti bangun lebih pagi dari biasanya, maksudnya akan mencegah tuan Sanjoyo berjalan-jalan dengan Puspa seperti kemarin-kemarin. Tapi begitu dia keluar dari kamar, bayangan sang tuan sudah tak kelihatan lagi. Ia melihat mobil Puspa di parkir dihalaman, dan kursi roda tak tampak lagi di tempatnya.

Srikanti keluar .. di halaman dia mendekati mobil Puspa, lalu menendangnya sekuat tenaga, sehingga dia berteriak kesakitan karena kakinya justru bengkak melepuh akibat benturan dengan benda keras yang ditendang dengan sepenuh kekuatannya.

“Aaaauuuuwww!”

Jeritan itu menyerupai lolongan yang merobek ketenangan pagi, membuat bibik yang sedang ada di dapur  berlari tergopoh ke depan. Bibik melihat sang nyonya meringkuk di tanah sambil memegangi sebelah kakinya.

“Nyonya, ada apa?”

“Ada apa … apa apa … bangunkan aku, lalu ambilkan obat gosok,” titahnya kasar.

Dengan ah-uh-ah-uh … bik Supi membangunkan nyonya majikannya, yang badannya sudah sebesar kerbau bunting yang kekenyangan. Ketika akhirnya bisa membangunkannya, bik Supi kemudian menuntunnya ke dalam rumah, lalu membantunya duduk di sofa.

“Saya bawa kemari minuman untuk Nyonya,” kata bibik yang kemudian membuat sang nyonya membentaknya.

“Ambil minyak gosok. Pijit kakiku dulu!”

“Oh, iya … iya, Nyonya,” jawaban bibik yang  kebingungan karena dibentak-bentak.

Ia kembali dengan membawa obat gosok. Jari jempol sang nyonya dan sekitarnya membengkak kebiruan. Bibik segera melumurinya dengan minyak gosok, sambil ditekan sedikit-sedikit.

“Sakit! Jangan ditekan, gosok saja!”

“Oh, iya. Baik Nyonya.”

“Ya ampuun, gara-gara kesal sama Puspa.”

“Memangnya Nyonya tadi kenapa? Jatuh?”

“Nggak usah nanya. Pokoknya jempol kakiku bengkak dan sangat sakit. Jangan keras-keras menekannya,” omelnya tak henti-henti diantara suara keluhan kesakitan.

Bik Supi menutup mulutnya dan berjanji tak akan bertanya apapun. Ia terus menggosok kaki nyonya majikan pelan-pelan.

“Pasti nyonya tadi tersandung sesuatu,” tak urung bik Supi tak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengucapkan sesuatu.

Srikanti terdiam. Tentu saja dia malu kalau harus mengatakan bahwa jempol kakinya bengkak karena menendang mobil Puspa.

***

“Bapak sudah bisa berjalan lebih tegak dan cepat. Tapi jangan dipaksakan, pelan-pelan saja,” kata Puspa yang mendampingi sang ayah berjalan pagi beberapa hari ini.

“Iya, ini juga pelan. Di kantor, aku tidak pernah lagi berdiam diri dan menunggu orang-orang datang menemui aku. Aku berjalan-jalan berkeliling kantor dengan sekretarisku.”

“Bagus sekali Pak tapi sekali lagi jangan terlalu dipaksakan. Sudah lama Bapak tidak berlatih jalan, jadi mulainya harus perlahan-lahan.”

“Iya, Puspa. Kamu baik sekali."

"Itu orang jual apa?” lanjut sang ayah.

“Itu nasi pecel.”

“Aku pengin nasi pecel.”

“Dibawa pulang?”

“Apa tidak boleh makan di situ?”

Puspa tertawa. Rupanya sang ayah ketagihan makan dipinggir jalan yang ternyata enak dan nyaman. Tidak banyak peraturan, tidak harus mengatur di mana sendoknya dimana garpunya. Pokoknya makan saja.

“Baiklah, kita ke sana ya.”

***

Ketika duduk sambil menikmati nasi pecel dan kerupuk gendar yang gurih, mereka berbincang.

“Bapak dengar, kata Suroto kakakmu, nanti kamu mau membantu bapak di kantor. Benarkah?”

“Pengin sih.”

“Dulu kamu ingin punya usaha sendiri.”

“Melihat Bapak yang sudah harus didampingi, sepertinya Puspa berubah pikiran.”

“Bagus sekali Puspa, senang bapak mendengarnya.”

“Tapi Bapak jangan mengatakannya kepada siapapun dulu, terutama ibu. Puspa juga masih harus berpikir banyak sebelum melangkah.”

“Tentu saja. Setiap orang, sebelum melangkah harus memikirkan baik buruknya, untung ruginya. Baiklah, bapak belum akan mengatakannya kepada siapapun. Walau begitu bapak akan senang kalau kamu ada di samping bapak. Kelak kalau bapak sudah tak ada, kamu yang bisa meneruskan usaha ini. Tapi kamu harus ingat, perusahaan itu milik kalian bertiga. Sekar, Suroto, dan kamu. Jadi walaupun nanti kamu menjalankannya, tetap saja namanya masih milik kalian bertiga.”

“Iya, Puspa mengerti.”

“Kemarin ibumu mengusulkan untuk menambah dana bantuan ke beberapa panti yang lain, yang letaknya agak di pinggiran.”

Puspa menatap ayahnya tak berkedip. Dulu ia pernah ingin membantu menyalurkan sumbangan ke beberapa panti, tapi ibunya menolak sangat keras. Ada rasa curiga setelah ia mengetahui langkah demi langkah yang dilakukan sang ibu tentang uang yang diberikan ayahnya. Benarkah diberikan ke panti-panti, atau dibuat untuk membangun rumah bersama Priyadi? Pemikiran itu tiba-tiba melintas dalam benaknya.

“Mengapa melamun?” kata sang ayah mengejutkannya.

“Bagaimana kalau Puspa membantu menyalurkan bantuan itu?”

“Apa kamu punya waktu?”

“Hanya pergi ke panti-panti, apakah akan menyita waktu?”

“Terserah kamu saja. Bapak senang, kamu memang harus ikut merasakan bagaimana nikmatnya bersedekah untuk orang-orang yang membutuhkan.”

“Terima kasih Pak.”

“Nanti sore datanglah ke rumah sebentar. Ibumu sudah membuat daftar untuk panti-panti yang akan diberi sumbangan. Nanti biar kamu yang menanganinya.”

“Nanti malam saya akan ke rumah bersama mbak Sekar,” kata Puspa mantab.

***

Begitu mengantar sang ayah pulang, Puspa langsung kembali ke rumah sang kakak. Ia enggan bertemu ibunya, apalagi Priyadi. Itulah sebabnya setelah selesai mengantarkan ayahnya pulang, ia selalu langsung pergi. Pagi itu Puspa beruntung karena tidak mendengar sang ibu mengomelinya. Srikanti yang kesakitan sudah berbaring di ranjang. Tuan Sanjoyo terkejut.

“Ada apa Sri?” tanyanya khawatir.

“Sakit Mas. Tersandung batu di halaman.”

“Memangnya di halaman ada batu?” tanya tuan Sanjoyo heran.

“Nggak tahu Mas, tiba-tiba tersandung dan jempol kakiku bengkak.”

“Bawa ke dokter saja.”

“Nanti setelah Priyadi mengantar Mas, langsung suruh kembali untuk mengantarkan aku ke dokter.”

“Sebenarnya di kantor sedang banyak pekerjaan, tapi tidak apa-apa, nanti biar Sugeng mengaturnya. Aku mandi dulu.”

“Biar nanti bibik melayani Mas sarapan.”

“Aku tidak sarapan, sudah makan nasi pecel tadi, enak sekali.”

“Apa? Makan di pinggir jalan lagi?” sentaknya.

“Tidak apa-apa, aku senang,” katanya sambil berjalan ke arah kamar mandi, tentu saja dengan walkernya.

Tapi sebelum masuk ke kamar mandi, ia menoleh lagi kepada istrinya.

“O iya Sri, daftar usulan kamu tentang sumbangan ke panti lain mana? Biar aku catat dan pastikan jumlahnya, supaya nanti aku bisa membawa pulang uangnya sekalian.”

“Itu, di meja Mas.”

“Baiklah.”

“Tapi aku entah sudah bisa mengantarkan sumbangan itu atau belum, aku tidak mau berjalan sambil terpincang-pincang.”

“Jangan khawatir, aku sudah menyuruh Puspa mengantarkannya.”

“Apa?” Srikanti terbelalak sampai biji matanya hampir melompat keluar.

***

Besok lagi ya.

29 comments:

  1. πŸ’πŸ¦‹πŸ’πŸ¦‹πŸ’πŸ¦‹πŸ’πŸ¦‹
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung HaBeBe_26
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA.🌹❤️
    πŸ’πŸ¦‹πŸ’πŸ¦‹πŸ’πŸ¦‹πŸ’πŸ¦‹

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah matur nuwun mbakyu Tienkumalasari sayang, salam sehat dan tetep semangat di thn 2026, dari Tanggamus, Lampung

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah Cerbung HBB 26 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah HaBeBe _ 26.sdh tayang

    Sehat2 selalu Mbak Tien

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga selalu sehat mbak Tien dan keluarga.

      Delete
  6. Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~26 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  7. Matur suwun Bu Tien ...Salam sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 26" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu πŸ™

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 26 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  12. Waduh.... kari umet, tibake jam 19:35 sdh tayang.... Matur nuwun mBak Tien.
    Tiwas pamitan, tibake ditinggal.
    Sugeng ndalu.... Sugeng aso salira.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah HBB dah tayang, semoga impian Srikanti dan Priyadi hanya bayang2 saja, Krn hmpir terkuak dan anak2nya bisa mmbantu ayahnya...tetap sehat semangat Bu TienπŸ‘πŸ’ͺ

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 26 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  15. Alhamdullulah terima ksih bunda HBBnya..slmt mlm dan slmt isyrht..slm sht sll unk bunda dan pak TomπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete

  16. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 26* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah, Matur nuwun bunda Tien πŸ™
    Semoga selalu sehat wal'afiat dan bahagia bersama keluarga tersayang, aamiin 🀲🏼😘

    ReplyDelete
  18. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu 2 sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  20. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 26 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Anak anak tuan Sanjoyo sdh menaruh curiga ke ibu nya.

    Perihal uang sumbangan ke panti asuhan biarlah Puspa yang gantian ngirim ya Kanti, biar Puspa mengetahui kegemaran mu menghisap harta kekayaan tuan Sanjoyo 😁

    ReplyDelete
  21. Alhamdulillaah cerbung Hanya Bayang Bsyang eps 26 sdh hadir
    Terima kasih Bunda Tien, semoga srhat dsn bahagia selalu.
    Aamiin Yaa Robal' Aalaamiin🀲

    ReplyDelete
  22. Dialogonya bagus, dan ceritanya enak..
    Saya ke tempat Merry dulu ya Mbak...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  23. Alhamdulilah.
    Sehat sehat slalu Bu Tien. Semoga pak Tom juga sehat.
    Semoga Puspa bisa menjalankan tugas pa sanjoyo ke panti asuhan mungkin dibantu ma Sekar.
    Srikanti mungkin agak lama bengkak kakinya. Ga bisa jalan normal

    ReplyDelete
  24. Hmm...heran ya si pemilik warung tidak melihat Nilam tinggal bersama Priyadi...malah Srikanti ketahuan.πŸ˜…

    Terima kasih, ibu Tien...salam sehat.πŸ™πŸ»

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...