HANYA BAYANG-BAYANG 25
(Tien Kumalasari)
Puspa masih bengong, segan rasanya kalau harus menjemput ibunya. Habis renang? Dulu ketika dia memergokinya di rumah baru itu, dia juga bilang habis renang. Sejak kapan sang ibu suka renang? Emang bisa?
“Puspa, kamu dengar tidak? Kok diam?”
“Ini Pak, sedang asyik ngomong sama mas Roto, bagaimana kalau ibu dipesankan taksi saja?”
”Ya sudah terserah kamu. Bapak tanyakan dulu ibumu menunggu di mana.”
Wajah Puspa sudah gelap seperti mendung. Siapa yang mau menjemput ibunya, biarkan saja. Walau ibu kandungnya, tapi Puspa sedang sangat kesal dan marah kepada sang ibu.
“Puspa, kata Priyadi ibumu menunggu di Jl. Ternate nomer lima. Tolong pesankan taksinya. Kasihan kalau terlalu lama menunggu.”
Ya ampun, begitu besarnya perhatian ayahnya kepada sang ibu, membuat Puspa ingin menangis saja.
“Baiklah, Puspa pesankan taksi saja.”
“Ya sudah, jadi aku nggak perlu mikir lagi kalau kamu bisa mengurusnya, kasihan dia.”
“Ada apa?" tanya Suroto.
“Bapak minta agar aku menjemput ibu, katanya habis renang dan sekarang ada di rumah temannya. Mbak Sekar tahu kan, jalan Ternate, itu kan rumah di mana kita pernah melihat mereka? Teman siapa, coba?”
“Apa dia tidak bisa pesan taksi sendiri?” tanya Sekar.
“Pasti tadinya minta dijemput Priyadi setelah menjemput bapak, tapi bapak butuh Priyadi untuk mengantarkan ke tempat pertemuan dengan klien, jadi bapak yang heboh meminta aku menjemput.”
“Berarti sekarang ini ibu ada di rumah itu?” tanya Sekar lagi.
“Itu alamat yang diberikan bapak?" tanya Suroto.
“Iya. Sebentar, aku pesankan taksi dulu,” kata Puspa dengan wajah gelap.
Suroto geleng-geleng kepala.
“Yang aku khawatirkan adalah adanya sebuah persekongkolan untuk menjatuhkan bapak dalam usahanya. Ada wanita bernama Nilam yang katanya anak Priyadi, yang oleh ibu dititipkan ke bapak, agar dipekerjakan di kantornya. Tadinya dia digadang jadi anak angkat ibu, dan diharapkan bisa jadi sekretaris bapak.”
“Sekarang ini sudah jadi sekretaris bapak?”
“Kemarin aku usul untuk di tempatkan di bagian lain. Kata bapak sudah dipindahkan ke bagian ekspedisi.”
“Walau begitu harus diawasi terus gerak geriknya.”
“Kalau begitu biar aku saja, setelah lulus membantu bapak di sana,” kata Puspa setelah selesai memesan taksi.
“Benarkah?”
“Tadinya aku ingin berusaha sendiri, tapi dengan keadaan ini, aku pikir bapak harus ada yang mendampingi.”
“Bagus, Puspa. Keputusan kamu sudah benar, cepat selesaikan tugas kuliah kamu, lalu bantu bapak.”
Sekar akhirnya merasa lega, karena Puspa bersedia mendampingi ayahnya.
***
Srikanti agak kesal karena Priyadi tidak menjemputnya. Ia sudah mandi dan rapi, lalu merapikan tempat tidur yang berantakan.
“Nilam itu aku pikir-pikir agak malas dan jorok. Apa dia jarang membersihkan rumah ya? Perabotan berdebu walau tampak berjajar rapi. Menyapu saja tampakya juga malas. Apa karena kecapekan bekerja, atau karena memang dasarnya malas,” gerutu Srikanti sambil mengganti seprei baru di kamar yang dipergunakannya bersama Priyadi.
“Masa rumah sekecil ini, dan mereka juga jarang di rumah, harus disediakan pembantu juga? Supi yang merawat rumah lebih besar, pekerjaan banyak, masih bisa membuat rumah bersih dan rapi. Sebenarnya dia pembantu yang baik," sekarang Srikanti mengakuinya.
Srikanti mengambil sapu untuk menyapu kamar dan merogohnya ke kolong tempat tidur agar bersih sampai ke dalam.
Tiba-tiba Srikanti terkejut, sapunya menyangkut sesuatu, yang ketika ditarik, ada celana dalam wanita nyanthol di situ.
“Haah? Ini punyaku?”
Srikanti mengamatinya dengan cermat. Tapi tidak, dia tidak mengenalinya. Berarti itu bukan milik dia. Bagaimana bisa ada celana dalam perempuan ada di dalam kamarnya?
“Satu-satunya perempuan lain yang ada di rumah itu adalah Nilam. Jadi ini milik Nilam, bagaimana bisa ada di dalam kamarku?”
Srikanti membawa celana dalam itu dengan kedua ujung jarinya, karena celana itu sepertinya bukan barang bersih, tapi habis dipakai.
“Menjijikkan. Nilam suka tidur di sini? Masa anak sudah besar masih minta dikelonin bapaknya?” katanya sambil melemparkan celana itu ke dalam keranjang sampah.
Tapi tiba-tiba Nilam muncul. Tanpa dosa dia menyapa, lalu mencium tangannya.
“Rupanya ibu masih di sini? Tadi bapak mengantarkan tuan menemui klien, jadi saya naik taksi sendiri.”
Wajah Srikanti sangat muram.
“Nilam, kamu itu jorok ya. Seharusnya sesibuk apapun kamu bisa membersihkan rumah. Lihat, perabot berdebu begitu.”
“Iya Bu, maaf sekali, beberapa hari ini Nilam agak capek, sehingga tidak bisa membersihkan rumah. Tapi setelah ini pasti akan Nilam bersihkan.”
“Kamu suka tidur di kamarku?” tuduh Srikanti langsung.
“Aap … apa?”
“Kamu sering tidur di kamarku bukan?”
“Ti … tidak Bu, kan Nilam sudah punya kamar sendiri.”
“Lihat tuh, aku menemukan celana dalam di bawah kolong.”
“Aaaaa … pa?”
“Lihat di kolong sampah itu, aku yang membuangnya. Bagaimana bisa ada di kolong tempat tidur aku?”
Wajah Nilam sudah pucat, ia memungut sesuatu yang tipis kecil itu di tempat sampah.
“Punyamu bukan? Tak mungkin milik Priyadi.”
“Iyy … iya Bu, maaf. Ini … kemarin aku cari-cari … aku kira hilang ke mana, gitu.”
“Yang aku tanyakan, apa kamu tidur di kamarku?”
“Bukan Bu, anu … dua hari yang lalu … air di kamar mandi saya mati … jadi saya numpang mandi di kamar ibu. Ya ampun, rupanya ini terjatuh dan tidak terasa masuk ke kolong,” kata Nilam yang belum hilang rasa terkejutnya.
Srikanti masih ingin mengomel, tapi terdengar klakson mobil dari luar.
Ia sudah tahu kalau Puspa memesankan taksi atas suruhan ayahnya, jadi kemudian ia bergegas keluar, tanpa bicara lagi dengan Nilam. Ia masih kesal dan menganggap Nilam sangat jorok dan malas. Ia akan menegur Priyadi, nanti.
“Ibu naik taksi?” Nilam mengejarnya ke arah depan.
“Ya, tolong bersihkan rumah,” kata Srikanti sambil langsung memasuki taksi, meninggalkan Nilam yang masih berusaha menenangkan debar jantungnya.
***
Tak sabar menunggu, Nilam menelpon Priyadi. Ia nekat menelpon, karena tahu bahwa Priyadi pasti menunggu di luar, tidak ikut pertemuan para pengusaha di sore hari itu.
“Ada apa? Kamu sudah di rumah kan? Srikanti sudah pulang?”
“Sudah. Celaka Mas, aku kena marah sama kekasihmu itu.”
“Kena marah, kenapa?”
Lalu Nilam menceritakan semua yang di alaminya saat bertemu Srikanti. Dicela rumah berdebu, dianggap malas, dan ceroboh karena meninggalkan celana dalam di kolong.
“Kamu sih, sembarangan. Lain kali jangan masuk ke kamar aku, kan kamu sudah punya kamar sendiri?”
“Waktu itu lampu di kamar aku mati, aku takut kan?”
“Ya sudah, nanti saja bicaranya, ini aku sedang duduk-duduk bersama sopir-sopir lain di luar.”
Nilam menutup ponselnya dan merasa lega sudah berbagi tentang kegelisahannya.
***
“Aku senang akhirnya kamu menemui bapakmu ini, Roto. Lama sekali kamu tidak datang, bapak kangen,” kata tuan Sanjoyo ketika Roto datang dan merangkulnya.
“Pekerjaan sedang banyak, ini tadi memerlukan kemari karena sudah bisa Roto tinggalkan."
“Syukurlah, berarti perusahaan kamu maju pesat bukan?”
“Atas doa Bapak. Sekarang Bapak kelihatan sehat.”
“Syukurlah. Aku juga sudah latihan berjalan dengan walker yang kamu belikan itu. Ternyata aku bisa, pelan dan tertatih, tapi lumayan bisa agak jauh.”
“Senang mendengarnya. Harusnya dari dulu Bapak sudah mulai berlatih jalan.”
“Ibumu itu yang merasa khawatir. Takut aku jatuh atau kenapa-kenapa, jadi selalu melarang aku jalan dengan walker.”
“Ternyata bisa kan?”
“Iya, dan itu menyenangkan. Adikmu membawa aku jalan-jalan, makan bubur ayam di pinggir jalan,” kata tuan Sanjoyo riang, membuat Roto tertawa.
“Syukurlah, semoga Bapak segera bisa berjalan tanpa bantuan walker lagi.”
“Aamiin. Puspa janji, setiap pagi akan datang kemari mengajak aku jalan-jalan. Selama mengerjakan tugas itu, dia tidur di rumah Sekar, katanya kalau siang rumahnya kosong, sepi, jadi dia bisa lebih konsentrasi.”
“Semoga segera selesai kuliahnya, dan bisa membantu Bapak di kantor.”
“Aku dengar adikmu tidak mau, katanya pengin usaha sendiri.”
“Siapa tahu dia berubah pikiran, mengingat ayahnya kan juga butuh bantuan.”
“Bapak masih kuat, Roto, jadi kalian tidak usah mengkhawatirkan bapak. Hanya kaki bapak ini yang masih lemah, tapi keseluruhannya bapak sehat kok.”
“Syukurlah, Bapak memang harus sehat. Kata Sekar dan Wondo, mereka berencana akan mengajak Bapak jalan-jalan bersama.”
“Nanti saja kalau Puspa sudah selesai, jadi dia bisa ikut dan merasa santai.”
“Baiklah, terserah Bapak saja.”
“Kamu menginap di sini kan, malam ini?”
“Iya, mumpung agak senggang, jadi bisa ngobrol lama dengan bapak.”
“Bagus sekali. Anak laki-laki aku kan hanya kamu, ada baiknya saling berbagi dalam banyak hal. Ya usaha, ya pengalaman hidup, ya kan.”
“Iya, benar.”
“Ibumu kelihatannya masih capek, seharian renang dengan teman-temannya, jadi belum ikut ngobrol. Nanti saat makan malam pasti bisa ikut ngobrol.”
***
Ketika siang itu sedang bersama Priyadi, Srikanti mengeluhkan Nilam yang kurang menjaga kebersihan, dan terkesan sangat ceroboh.
“Bagaimana seorang gadis bisa kehilangan pakaian dalam dan tidak terasa ketika tercecer di mana-mana?”
“Iya, Nilam sudah mengatakannya, dan aku juga sudah memarahinya. Memang, waktu itu air di kamar mandinya mati, sehingga dia mandi di kamar kita. Barangkali ada yang tercecer jatuh ketika dia keluar, dan tidak terasa masuk ke kolong,” kata Priyadi dengan jawaban yang sudah disamakan dengan jawaban Nilam, sehingga perasaan aneh Srikanti teredamkan.
“Tapi tolong suruh dia juga menyapu dan bersih-bersih perabotan. Aku tuh biasanya tidak memperhatikan, kebetulan kemarin itu sambil menunggu taksi aku melihat semuanya.”
“Badannya agak kurang enak beberapa hari ini, mungkin karena pekerjaan di bagian ekspedisi agak berat, sehingga dia kecapekan.”
“Sebenarnya terpikir olehku untuk mencari pembantu, tapi kan tidak mudah. Lagi pula rumah sekecil ini, dan jarang ada kegiatan rumah tangga, misalnya masak … kan tidak ada, jadi hanya menyapu dan bersih-bersih debu, aku kira untuk sementara Nilam pasti bisa.”
“Nanti akan aku peringatkan.”
Ponsel Priyadi berdering. Dari tuan Sanjoyo?
“Pri, kamu di mana? Aku butuh segera, yang kemarin masih berlanjut. Aku kira sudah selesai, makanya aku suruh kamu pulang dulu, barangkali nyonya butuh kamu."
“Oh, baik Tuan, saya segera ke kantor.”
Ketika Priyadi membawa mobilnya keluar, dan meninggalkan Srikanti di dalam, tiba-tiba mobil Suroto melintas, dan kebetulan melihatnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah juga
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 25" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu π
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng dalu
Alhamdulillah, trmksh mb Tienπ
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteBecik ketitik ala ketara.
ReplyDeleteMbak Tien sdh mulai buka-bukaan.
CD Nilam di kanar Srintil... Eh salah dikanar Srikanti. Puspa sdh bersedia nenemani bapaknya selepas kuliah.
Surito mergoki Supriyadi, kebo nusu gudel...
Matur nuwun Mbak Tien.
Salam seger waras dan tetap ADUHAI & berkarya...π€π€ππΉ
Sami2. Matur nuwun mas Kakek
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 25* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Wedeye
Alhamdulilah
ReplyDeleteGa libur. HBB tayang mlm ini
Terimakasih Bunda. Salam seroja
Sami2 bapak Endang. Salam seroja juga
Deleteππͺππͺππͺππͺ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_25
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππͺππͺππͺππͺ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun jeng Sari
Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteTerima ksih bunda slmt mlm slmt thn baru 2026..sht sll y bunda betsm bpk ππ€²πΉ❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Farida. Slmt Tahun Baru juga
Matur nuwun Bunda Tien, barokalloh aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Yulian
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 ibu Susi
DeleteMatur Suwun Bu Tien salam sehat selalu.
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulilah Cerbung HBB 25 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Sri
Aduhai aduhai
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 25 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Uchu
Maturnuwun Bu Tien,tetap sehat Bu...ππͺ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Tatik
Terima kasih bunda Tien
ReplyDeleteSemoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Endah
Aduhai hai hai
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 25 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Herry
Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~25 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Djodhi
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Reni
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 25 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Ayo anak2 bersatu menyadarkan ayahmu,...beritahu cinta nya ibumu thd ayahmu itu palsu..π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Munthoni
Oh bisa ketahuan...
ReplyDeleteTerimkasih Mbak Tien...
Aku yang kasih tahu prof.. π
DeleteJadiii...yg mati di kamar Nilam itu lampunya atau airnya ya? Beda ceritanya ke Priyadi dan Srikanti, tapi Priyadi nyampainya ke Srikanti kok sama?π
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...sehat selalu.ππ»ππ»ππ»