Tuesday, December 30, 2025

HANYA BAYANG-BAYANG 23

 HANYA BAYANG-BAYANG  23

(Tien Kumalasari)

 

Puspa dengan telaten menemani tuan Sanjoyo, yang terkadang harus istirahat dan duduk di kursi lipat yang sengaja dibawa Puspa.

“Bapak capek?”

“Sedikit, tidak masalah. Kan sebentar-sebentar istirahat.”

“Kalau capek biar mbak Sekar menjemput kemari.”

“Kenapa Sekar? Kasihan dia kan harus kerja. Priyadi saja.”

“Tidak usah, apa Bapak benar-benar ingin berhenti?”

“Tidak, ayo jalan lagi.”

“Bapak suka bubur?”

“Bubur apa?”

“Di depan itu ada bubur ayam. Ayuk jalan ke sana, masih kuat nggak?”

“Ya kuat, kan barusan duduk beberapa saat lamanya. Tapi bubur yang mana?”

“Itu, yang di depan. Gerobag yang berhenti didepan sekolahan itu.”

“Beli di situ?”

”Memangnya kenapa Pak, orang kaya juga boleh kok makan di pinggir jalan. Bapak malu?”

“Tidak. Baiklah, terserah kamu saja. Ayo jalan.”

Puspa tersenyum senang. Ia juga ingin mengajarkan kepada ayahnya bahwa jajan di pinggir jalan itu bukan hina.

Puspa tidak usah merentangkan lagi kursi lipatnya, karena tukang bubur itu sudah menyediakan beberapa kursi dan meja kecil untuk pembeli.

“Duduk di sini ya Pak?”

“Makan di sini juga?”

“Ya iya, Pak. Enaknya kan dimakan di sini? Kenapa? Bapak malu?”

“Tidak, sedikit aneh, belum pernah sih.”

“Pak, minta dua porsi ya,” kata Puspa kepada penjual bubur.

“Siap Mbak. Minumnya apa?”

“Teh panas saja, manis ya. Dua.”

Tuan Sanjoyo menatap anaknya heran. Puspa seperti sudah biasa jajan di pinggir jalan. Tapi kemudian ia tersenyum melihat Puspa menatapnya senang.

“Enak jajan di pinggir jalan lhoh Pak.”

“Kamu sering jajan beginian?”

“Beberapa kali, dan itu enak.”

Tukang bubur menyajikan dua mangkuk bubur dan teh yang diminta pembelinya.

“Ayo pak, tapi tunggu sebentar, masih panas. Tehnya saja dulu, Bapak pasti haus berjalan cukup jauh.”

Tuan Sanjoyo mengaduk tehnya sebentar, kemudian mencecapnya.

“Enak tehnya, wangi.”

Dan tuan Sanjoyo merasakan sensasi yang berbeda ketika makan di pinggir jalan. Baru sekali, tapi tidak mengecewakan. Ia menikmati bubur ayamnya dengan sangat lahap.

“Enak?”

“Hm..emh, enak. Besok kita jajan lagi di sini ya?”

“Siap Pak, apapun yang Bapak suka, Puspa akan melayani.”

Tapi Puspa tak sampai hati membawa sang ayah pulang dengan masih berjalan kaki. Diam-diam dia mengirim pesan kepada Sekar agar menjemputnya, setelah diberinya ancar-ancar. Ia memang tak mengatakan kepada ayahnya tentang hal itu. Jangan sampai ayahnya memilih dijemput Priyadi, dan dia sungguh enggan melihat tampangnya. Ia sudah merencanakan, ketika sampai di rumah, akan langsung kembali ke rumah Sekar, sebelum Priyadi datang menjemput sang ayah.

“Mau tambah lagi Pak?”

“Sudah, kenyang. Nati di rumah juga nggak perlu sarapan lagi. Perutnya bisa meletus kebanyakan makan.”

Puspa tertawa, lalu melihat ke arah ponselnya, lalu ia melihat jawaban sang kakak di pesan singkatnya. Okey, tungguin.

***

Srikanti keluar dari kamar, langsung mencari-cari suaminya. Ia melihat kursi roda teronggok di tengah ruangan, dekat sofa di mana biasanya sang suami duduk.

“Biiik!” teriaknya, membuat bik Supi tergopoh mendekat.

“Tuan di mana?”

“Tadi tuan jalan-jalan sama non Puspa.”

“Naik mobil siapa? Itu mobil Sekar bukan?” tanyanya setelah melongok ke halaman.

“Tidak naik mobil, Nyonya.”

“Apa maksudnya? Kursi roda juga ada di sini?”

“Jalan dengan bantuan walker.”

“Apa?” Srikanti berteriak marah.

“Non Puspa mengajaknya jalan dengan walker.”

“Anak itu lama-lama membuat aku semakin kesal. Bapaknya itu kan memang nggak bisa jalan, kalau dipaksa jalan, lalu kenapa-kenapa gimana?” ucapnya masih dengan berteriak, membuat bik Supi mundur beberapa langkah ke belakang

“Mengapa kamu biarkan non Puspa membawa ayahnya jalan?”

“Mana saya berani melarang Nyonya, kan saya hanya pembantu.”

“Keterlaluan. Puspa memang keterlaluan. Kalau bapaknya terjatuh atau tiba-tiba pingsan kelelahan bagaimana?”

Bik Supi ingin menutup telinganya, tapi tidak berani. Ingin ke belakang juga harus berpikir, kalau dia tiba-tiba pergi pasti dibentak pula. Lalu ditemukannya alasan.

“Nyonya, maaf, saya tadi menyalakan kompor, mau saya buat ngrebus air lagi,” katanya sambil berlalu, dan untunglah sang nyonya tidak menghardiknya. Terdengar mobil memasuki halaman, Srikanti beranjak keluar, dan ia melihat mobil Sekarlah yang masuk.

Ia berdiri di teras dengan amarah yang meluap.

Puspa mengeluarkan walkernya, lalu membantu sang ayah turun, yang kemudian berjalan pelan dengan walkernya.

“Bagus ya, kalian berdua mengajak ayahmu jalan, sementara dia memang seharusnya tidak memaksakan diri untuk jalan. Bagaimana kalau sampai ada apa-apa? Bagaimana kalau ayahmu kenapa-kenapa? Nanti ibumu ini juga yang susah, tahu!!” mata Srikanti melotot ke arah Puspa yang tidak menjawab.

Sekar turun dari mobil. Mengikuti ayahnya masuk ke rumah.

“Mengapa diam? Kamu mau bertanggung jawab kalau ayahmu kenapa-kenapa?”

“Sri, jangan marah-marah begitu, aku kan tidak apa-apa?”

“Mas tahu tidak, kalau Mas sampai jatuh atau kenapa-kenapa, aku ini yang susah … sedih.” Ungkapnya lagi, membuat Puspa mencibir dalam hati. Sok cinta, sok sayang, pengkhianat. Kata batinnya.

“Tapi aku suka, aku ternyata kuat jalan agak jauh. Tadi kalau tidak tiba-tiba dijemput Sekar, aku pasti masih sanggup berjalan pulang.”

“Jangan sok gagah. Namanya tulang tua itu memang harusnya begitu, Jangan dipaksakan.”

“Besok Puspa mau datang lagi mengajak aku jalan-jalan. Sekarang aku mau mandi.”

Srikanti dengan lembut kemudian memapah suaminya ke arah kursi roda.

“Ibumu ini, sayangnya pada bapakmu ini sangat kelewatan. Cuma melihat aku jalan saja marah setengah mati. Khawatir sekali dia,” kata sang ayah.

“Bapak, kami langsung pulang ya, mau masuk kerja soalnya.”

“Ya, ya. Puspa juga ikut sekalian?”

“Iya pak, belum mandi juga.”

“Baiklah, hati-hati di jalan,” pesan tuan Sanjoyo sambil melambaikan tangannya di tengah berjalannya kursi roda yang didorong istrinya. Srikanti bahkan lupa dan tak peduli ketika menyadari Puspa dan Sekar berlalu tanpa pamit dan mencium tangan ayah ibunya sebelum pergi.

***

Srikanti bertambah kesal karena suaminya tak mau makan pagi gara-gara sudah makan bubur ayam di pinggir jalan.

“Apa? Mas diajak makan bubur ayam di pinggir jalan? Keterlaluan sekali anak itu. Apa dikira orang tuanya itu orang kebanyakan? Kalau sampai ketahuan anak buah atau teman bisnis, apa tidak malu Mas?”

“Mengapa kamu ini Sri, apakah orang kaya tidak boleh makan di pinggir jalan?”

“Bukan tidak boleh, tapi tidak pantas dan memalukan.”

“Kata siapa tidak pantas. Yang tidak pantas itu kalau kita melakukan suatu hal yang buruk atau tercela. Kalau hanya makan di pinggir jalan saja, aku kira wajar. Tadinya agak aneh, tapi ternyata nikmat. Kita bisa ngobrol sama penjualnya. Menanyakan asal usulnya, seberapa banyak untungnya kalau berjualan bubur, berapa anaknya, dan masih banyak lagi. Itu asyik lho Sri.”

“Huh, hanya berbincang dengan penjual di pinggir jalan saja, Mas merasa senang.”

“Oh iya Sri, aku belum memberi tahu kamu, Nilam sudah aku pindahkan di bagian lain mulai kemarin.”

“Dipidahkan ke mana?” tanya Srikanti agak terkejut, karena Priyadi belum sempat mengabari Srikanti tentang dipindahkannya Nilam ke bagian lain.

“Aku pindahkan di bagian ekspedisi, sudah aku titipkan sama pak Sugeng agar mengajarinya mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakannya.”

Kekesalan Srikanti bertambah lagi. Nilam yang digadang bisa mengetahui seluk belum perusahaan agar berguna nanti ketika tuan Sanjoyo tak mampu lagi, malah dipindahkan ke bagian ekspedisi.

“Mengapa Mas melakukannya? Kenapa tidak Mas biarkan saja menjadi sekretaris Mas atau pembantu sekretaris dululah, begitu. Malah dipindah kebagian lain. Kasihan Nilam kan? Lagi pula nggak enak sama Priyadi, kita dititipin anaknya, malah aku sudah berjanji akan menganggapnya sebagai anak sendiri, Mas malah begitu,” wajah Srikanti sungguh tak enak dipandang.

“Kita kan sudah menolongnya, memberikan pekerjaan, apa itu masih kurang?”

“Memberi pekerjaan, tapi ya jangan sembarangan begitu.”

“Kok sembarangan bagaimana sih kamu itu? Itu bukan pekerjaan sembarangan. Kalau Nilam aku jadikan OB, atau tukang bersih-bersihan, itu baru kamu bisa bilang kalau aku keterlaluan,” lama-lama tuan Sanjoyo kesal juga pada istrinya. Sepagi ini sudah marah berkali-kali, bahkan menyalahkan kebijakannya.

Begitu Priyadi datang, tuan Sanjaya langsung berdiri, meraih walker dan berjalan keluar.

“Mas mau jalan?” akhirnya Srikanti bertanya.

“Ya. Coba-coba berjalan tidak memakai kursi roda.”

“Nanti kecapekan.”

Tuan Sanjoyo tidak menjawab. Srikanti tahu suaminya marah. Lalu dia meredakan emosinya, bersikap lebih manis.

“Hati-hati kalau berjalan.”

Priyadi yang belum sempat turun dari mobil, segera turun dan membantu tuan Sanjoyo  masuk ke dalam mobil. Walker juga dilipat dan dimasukkan bagasi, tanpa bertanya-tanya, karena Srikanti sudah memberi isyarat dengan matanya agar dia tak berkomentar.

“Tuan ingin jalan sendiri dengan walker Pri, nggak apa-apa, untuk latihan jalan,” kata Srikanti sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Oh, baiklah Nyonya, akan saya suruh orang-orang menjaganya nanti.”

“Mas, hati-hati ya. Trus … nanti kalau boleh, pinjam Priyadi sebentar ya, akan aku suruh mengantar belanja, aku sedang malas mengendarai mobil sendiri.

“Biar dia pulang setelah mengantar aku,” katanya sambil menutup mobil dan memberi isyarat kepada Priyadi agar segera menjalankan mobilnya.

***

“Apa kamu sudah mendengar dari tuan Sanjoyo kalau Nilam dipindahkan?” Tanya Priyadi ketika mereka sudah berada di rumah perselingkuhan mereka.

“Sudah, baru tadi. Kesal aku. Padahal sebelumnya aku juga kesal, ketika tiba-tiba dia diajak jalan-jalan sama Puspa dengan walker.”

“O, itu sebabnya tuan tidak mau membawa kursi roda dan malah membawa walker?”

“Itulah. Harusnya biarkan saja dia selamanya di kursi roda, aku sudah capek begini terus, ingin bebas dan leluasa.”

“Terus kamu nggak protes pada tuan Sanjoyo tentang dipindahkannya Nilam itu?”

“Aku protes, malah kelihatannya dia tidak suka. Aku khawatir kalau dia keterusan marahnya sama aku. Bagaimanapun kan aku harus menjaga agar dia selalu baik kepadaku dan menuruti permintaanku. Lhah kalau marah, aku yang rugi dong.”

“Iya benar, kalau begitu kita harus merencanakan sesuatu yang lain.”

“Apa kamu sudah memikirkannya?”

“Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, entah bagaimana caramu. Nanti kita akan membuka usaha sendiri. Nilam akan mencari pasarnya. Dia kan di bagian pengiriman? Pasti ini lebih bagus. Tidak usah menunggu tuan Sanjoyo tak mampu melakukannya."

***

Besok lagi ya.

33 comments:

  1. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu utk keluarga di Surakarta.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah Cerbung HBB 23 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐Ÿ™๐Ÿฉท๐ŸŒน๐ŸŒน

    ReplyDelete
  3. ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ
    Alhamdulillah ๐Ÿ™๐Ÿฆ‹
    Cerbung HaBeBe_23
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin๐Ÿคฒ.Salam seroja ๐Ÿ˜
    ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ๐ŸŽŠ๐Ÿฎ

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Matur nuwun Bunda
    Sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah .... Hanya Bayang - Bayang 23 sdh tayang.
    Semoga ibu Tien sehat2 slalu.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluargasehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Semoga bunda Tien dan pak Tom selalu sehat

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 23 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....

    ReplyDelete

  11. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 23* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  12. Semoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat.

    ReplyDelete
  13. Trimakasih Bu Tien smg sll diberikan kesehatan aamiin

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~23 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien ๐Ÿ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..๐Ÿคฒ

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah, matur nuwun Bunda Tien.
    Semoga Bunda dan keluarga selalu sehat wal'afiat dan bahagia, aamiin YRA ๐Ÿคฒ๐Ÿผ๐Ÿ˜˜

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 23 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Sekar, Puspa...waspadalah ibumu mau merampok uang ayahmu lho...๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 23 " ๐Ÿ‘๐ŸŒน
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah ceritanya semakin menarik, maturnuwun Bu Tien tetap sehat nggih Bu, selalu bahagia dan semangat....

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah "Hanya Bayang Bayang 23" sudah tayang. Matur nuwun & sugeng dalu Bu Tien ๐Ÿ™

    ReplyDelete
  20. matur nuwun Bunda Tien, semoga selalu sehat, barokalloh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robal'alamiin. Matur nuwun ibu Yulian

      Delete
  21. Replies
    1. Aamiin Yaa Robal'alamiin. Matur nuwun bapak Subagyo

      Delete
  22. Hmm...mobil Puspa maksudnya yang dilongok Srikanti, karena Sekar belum datang, dan waktu Puspa mengajak jalan-jalan tuan Sanjoyo menanyakan naik mobil Puspa atau mobil bapaknya?๐Ÿ˜…

    Terima kasih, ibu Tien...sehat2 ya...๐Ÿ™๐Ÿป

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...