Monday, December 29, 2025

HANYA BAYANG-BAYANG 22

 HANYA BAYANG-BAYANG  22

(Tien Kumalasari)

 

Sepeninggal Sekar, tuan Sanjoyo termenung. Memang benar, orang baru tidak bisa terlalu masuk ke dalam. Ia hanya terpengaruh permintaan Srikanti yang setengah memaksa agar Nilam anak Priyadi mendapat kedudukan di kantornya. Memang sih, Priyadi sudah lama mengabdi, tapi tuan Sanjoyo belum tahu bagaimana sebenarnya Nilam. Hanya dia rajin dan cekatan, serta bisa melayaninya dengan baik. Tapi tidak berarti dia harus mempercayai sepenuhnya, apalagi tentang perusahaan yang seharusnya hanya orang-orang terpercaya yang boleh mengetahuinya.

“Tuan,” tiba-tiba Nilam masuk begitu saja. Biarpun semua karyawan memanggilnya dengan sebutan ‘pak’, tapi Nilam tetap memanggilnya tuan, agar tetap dianggap mengerti tata krama, seperti juga ayahnya.

“Mengapa tidak mengetuk pintu?” kali ini tiba-tiba tuan Sanjoyo menjadi lebih kritis menanggapi sikap Nilam.

“Oh iya, maaf Tuan, saya tergesa-gesa.”

“Mengapa tergesa-gesa?”

“Harusnya sudah tadi diserahkan kepada Tuan, tapi Tuan pergi tadi bersama ….”

“Itu anak saya, kakaknya Puspa. Namanya Sekar.”

“Oh iya, bersama ibu Sekar.”

“Biarpun tergesa-gesa, tetap kesopanan harus dijaga. Sebelum masuk ruangan mengetuk pintu terlebih dulu. Bukan hanya di ruangan saya, tapi juga kalau kamu mau masuk ke ruangan yang lain.”

“Maaf, baiklah, akan saya perhatikan.”

“Ya sudah, tinggalkan berkasnya di sini.”

“Saya permisi,” katanya sambil mengundurkan diri.

“Hm.” hanya itu jawaban tuan Sanjoyo, sambil meraih map berisi laporan yang pastinya dibuat oleh sekretarisnya.

Setelah dipikir-pikir, memang tak seharusnya Nilam berada di posisi asisten sekretaris. Biasanya semuanya dikerjakan oleh sang sekretaris, dan semuanya begitu sempurna, tak ada yang mengecewakan. Sekarang ini, Nilam hanya disuruh membawa berkas ke hadapannya, atau mengetik sesuatu yang sebenarnya tanpa Nilam juga tetap bisa berjalan.

Tuan Sanjoyo sedang berpikir, apakah seharusnya mengatakan dulu kepada sang istri bahwa Nilam akan dipindahkan ke divisi lain, tapi mengapa harus mengatakan kepada Srikanti? Srikanti hanyalah istri, tak ada hubungannya dengan perusahaan bukan? Kalau masalah membantu, memberinya pekerjaan itu bukankah sudah membantu? Itupun hanya karena Nilam adalah anak Priyadi, sopir setianya.

Tuan Sanjoyo memencet interkom di ruang sekretarisnya.

“Ya, Pak.”

“Kalau tidak ada pekerjaan, suruh Nilam menghadap.”

“Baik, tidak ada yang dikerjakan, jadi akan saya perintahkan sekarang.”

Interkom ditutup.

Tuan Sanjoyo masih berpikir, di mana seharusnya Nilam ditempatkan. Mungkin benar kata Sekar, di bagian ekspedisi saja. Di sana banyak pekerjaan. Pak Sugeng sering mengeluh kalau pekerjaan sedang banyak, terkadang ada keterlambatan pengiriman.

Ketukan pintu terdengar, tuan Sanjoyo memerintahkannya masuk.

Rupanya Nilam sudah mengingat teguran sang majikan tadi, padahal sebelumnya dia sering mengabaikan aturan mengetuk pintu, tapi begitu melihat Nilam, tak ada teguran untuk itu.

Nilam memang begitu santun dan patuh pada perintahnya.

“Duduklah.”

Nilam duduk dengan sopan. Ia selalu menjaga kesopanan itu, agar tuan Sanjoyo mempercayainya dan yang penting menilainya sangat baik. Itu yang disarankan Priyadi untuknya berkali-kali.

“Nilam, begini ya, setelah aku pikir-pikir, kamu tidak sesuai ditempatkan di bagian ini.”

“Apa? Apa maksud Tuan?”

“Kamu akan aku pindahkan ke bagian lain.”

“Dipindahkan? Apakah saya membuat kesalahan?”

“Tidak, bukan karena kamu membuat kesalahan. Tapi memang di sini, sudah ada sekretaris yang bisa menangani semuanya. Dan sekarang ini, bagian ekspedisi sedang membutuhkan seseorang. Jadi kamu akan aku pindahkan ke sana.”

“Saya dijadikan kepala ekspedisi?”

“Bukan kepala, ada kepalanya sendiri, pak Sugeng. Kamu  bekerja di bawah pak Sugeng.”

Nilam tak menjawab. Ia seperti terjatuh dari sebuah ketinggian. Menurutnya, tuan Sanjoyo pasti akan mempercayainya, lalu setelah belajar beberapa saat dia akan jadi sekretaris pribadinya. Atau menjadi seseorang yang penting, karena nyonya Srikanti sangat berpengaruh bagi suaminya. Tapi sekarang dia dipindahkan ke bagian ekspedisi, dan menjadi bawahan pula?

Tuan Sanjoyo memencet interkom di ruangan ekspedisi.

“Ya Pak.”

“Pak Sugeng, ke ruanganku sekarang ya.”

“Baik.”

“Apakah saya melakukan kesalahan? Gara-gara lupa mengetuk pintu tadi?” tiba-tiba Nilam bertanya lagi.

“Tidak. Mengapa kamu berpikir begitu? Lupa mengetuk pintu bukan kesalahan fatal, dan aku sudah mengingatkannya. Kelak kalau masuk ke ruangan lainpun kamu juga harus mengetuk pintu. Tapi bukan itu yang membuat kamu dianggap bersalah. Bagian ekspedisi membutuhkan seseorang, dan kamu adalah orang yang tepat.”

Ketukan pintu terdengar, dan pak Sugeng masuk setelah mendapat perintah ‘masuk’ dari sang majikan.

Tuan Sanjoyo mempersilakannya duduk dengan isyarat tangan, dan pak Sugeng duduk di depan majikannya, di samping Nilam.

“Pak Sugeng, saya dengar pak Sugeng sering repot ketika pengiriman meluap dan barang belum disiapkan.”

“Ya, seringnya begitu Pak, saya minta maaf kalau terkadang ada keterlambatan.”

“Saya beri pak Sugeng seorang pembantu yang cekatan. Saya tahu dia cekatan karena saya sudah melihat kinerjanya. Dia, ini Nilam.”

“O, Nilam, yang katanya anak pak Priyadi?”

“Benar. Karena itu aku titipkan Nilam agar pak Sugeng mengajarinya tentang seluk beluk pekerjaan di bagian sana.”

“Baiklah, terima kasih banyak. Sedikit banyak saya juga sudah mengenal Nilam, karena seringkali terlihat makan bareng pak Priyadi.”

“Ya, tentu saja, kan dia anaknya.”

“Baiklah, siap pak.”

“Nilam, sekarang ikutlah pak Sugeng manager kamu sekarang.”

Nilam mengangguk dengan berat, tapi ia tak berani berkutik, karena itu adalah perintah majikan. Ia berdiri dan berjalan mengikuti pak Sugeng ke ruangannya.

***

Nilam mempelajari hal lain, tentang barang-barang yang sudah disiapkan, tentang barang yang kurang. Ada rasa kecewa, tapi dia harus bertahan. Pasti ada sesuatu yang akan membuatnya berhasil. Kata 'ayahnya', tuan Sanjoyo sudah tua dan sakit-sakitan, dan satu-satunya yang bisa diharapkan Srikanti adalah Puspa, tapi Puspa yang sebenarnya adalah anaknya sendiri, menolaknya. Karenanya harapannya adalah Nilam.

Ia bekerja sangat cermat, dan juga cekatan. Pak Sugeng membenarkan apa yang dikatakan pak Sanjoyo, Nilam memang cekatan. Karenanya ia merasa senang. Apalagi Nilam pintar bergaul dan dikenal baik oleh rekan sekerjanya.

Tapi ketika pulang dari rumah tuan Sanjoyo, begitu memasuki rumah mewah yang dibangun untuk rumah perselingkuhan, Nilam mengeluh tentang perpindahan tempatnya bekerja.

“Makanya, aku heran mengapa kamu keluar masuk di ruangan pak Sugeng. Jadi kamu sekarang kamu bekerja di bawah pak Sugeng?”

“Iya, sebenarnya aku kurang suka.”

“Mengapa tiba-tiba kamu dipindahkan? Apakah kamu membuat kesalahan?”

“Katanya sih tidak, hanya karena bagian ekspedisi butuh orang saja. Nggak tahu kenapa, sikap tuan Sanjoyo tadi kelihatan berubah. Aku lupa nggak ketuk pintu, ditegur dengan wajah nggak enak dipandang. Padahal sebelumnya aku tuh sering nggak pake ngetuk pintu kalau mau masuk. Apa karena tadi habis makan siang diluar sama anaknya ya, lalu ada gosokan-gosokan gitu dari anaknya?”

“Tadi pergi sama Sekar kan?”

“Na itu, kok setelah pulang semuanya jadi berubah.”

“Mungkinkah Sekar mempengaruhi ayahnya?”

“Ya nggak tahu aku hanya menduga-duga. Tiba-tiba saja aku kena teguran gara-gara nggak ketuk pintu, lalu tiba-tiba juga aku dipindahkan ke bagian lain.”

 “Apa kamu yakin itu karena Sekar?”

“Tidak yakin juga, tapi kejadian itu kan setelah tuan Sanjoyo bepergian bersama anaknya itu.”

“Bagaimanapun kamu harus menerimanya, dan jangan kelihatan kalau kamu membangkang, supaya tidak kelihatan bahwa kamu sedang mempelajari sesuatu.”

“Iya, tentu saja. Aku akan bersikap sangat baik, seperti seorang yang patuh.”

“Anak pintar.”

“Dan untunglah mereka menganggap bahwa aku ini anakmu, jadi mereka pastinya tidak akan mencurigai sesuatu.”

“Bagaimanapun kamu harus berhati-hati. Kalau sampai Sekar turut campur, berarti dia mencium sesuatu yang menurutnya tidak baik-baik saja dengan keberadaanmu.”

“Iya Mas, aku akan berhati-hati.”

“Sepertinya Srikanti juga belum mengetahui hal itu, karena kalau dia sudah tahu sebelumnya, pasti dia akan mengatakannya padaku.”

“Tapi kalau sekarang pasti dia sudah mengatakannya kepada istrinya yang kekasihmu itu Mas,” kata Nilam dengan mulut cemberut.

Priyadi tertawa. Ia bangga karena memiliki dua orang kekasih yang sama-sama menyenangkan, tak pernah kecewa dan menyesal atas semua yang dilaluinya. Ia hanya merasa sangat beruntung. Yang satu bisa diperas hartanya, yang satu masih muda dan menggiurkan walau juga doyan mencecap kenikmatan dari harta ‘saingannya’. Apa yang kurang dalam hidup ini?

”Tapi aku peringatkan kamu Nilam, sudah sekian lama, kamu masih saja terbiasa memanggilku ‘mas’. Biasakanlah dengan Pak, apakah itu sulit?”

“Aku ingin, tapi lidahku sering susah dikendalikan.”

“Kalau kamu nekat, nanti lama-lama akan dicurigai, karena aku selalu memberikan alasan yang agak aneh.”

“Iya, akan aku ingat, ayo sekarang mandi, aku ingin jalan-jalan malam ini.”

“Jalan-jalan? Apa tidak capek? Bukankah lebih baik kita tidur saja supaya badan lebih segar.”

“Tapi aku ingin makan enak, perutku lapar.”

“Baiklah, kalau begitu kita mandi, lalu pergi makan sebentar.”

***

Hari masih pagi, tuan Sanjoyo baru saja bangun, ketika tiba-tiba melihat Puspa datang.

“Mengapa pagi-pagi sekali kamu sudah datang Puspa?”

“Puspa kan selalu bangun pagi Pak. Habis shalat lalu jalan kemari.”

“Kangen sama bapak rupanya?” kata tuan Sanjoyo sambil tersenyum.

“Iya dong Pak, mau mengajak jalan-jalan Bapak.”

“Bapak belum mandi.”

“Mandi nanti saja kalau sudah pulang dari jalan-jalan.”

Tuan Sanjoyo tertawa.

“Tumben, biasanya kalau belum rapi kamu tidak pernah keluar rumah.”

“Iya, ternyata setelah bersama mbak Sekar, Puspa selalu dibangunkan pagi-pagi sekali, beribadah subuh lalu jalan-jalan, udara segar sangat menyehatkan.”

“Bagus sekali. Ayo menghirup udara pagi. Mau naik mobil kamu atau mobilnya bapak?”

“Kita jalan Pak, namanya jalan pagi, masa pakai mobil?”

Tiba-tiba Puspa langsung pergi ke belakang, bertemu bibik. Tidak kelihatan Srikanti, yang rupanya belum bangun. Puspa senang tidak harus menyapa ibunya. Ia segera menghampiri bibik, dan meminta bibik mengambilkan walker yang selama ini disimpan di belakang.

Bergegas bibik mengambilnya.

“Tuan mau diajak jalan-jalan dengan ini?” kata bibik yang sudah membersihkan walkernya.

“Iya, ayo Bibik ikut?”

“Non ini bagaimana, kalau pagi pekerjaan bibik banyak, nanti bisa kena marah kalau ikut jalan-jalan. Sudah sana, memang melatih tuan agar bisa berjalan sendiri itu penting, tidak harus tergantung kursi roda.

“Iya Bik, ayo, aku pergi dulu.”

“Hati-hati Non. Jangan jauh-jauh dulu jalannya.”

“Siap, Bik,” kata Puspa sambil tertawa.

***

Tertatih dan sangat pelan, tuan Sanjoyo berjalan didampingi Puspa. Udara pagi memang sangat segar, semilir angin memandikan tubuh dan membuat badan terasa nyaman.

Puspa senang melihat sang ayah tampak gembira.

“Kalau capek, Bapak bilang saja, Puspa membawa kursi lipat yang bisa dibuat duduk kalau Bapak merasa capek.”

“Kamu hebat Puspa, bapak benar-benar merasa ini sangat berbeda. Masih berat, tapi kalau begini terus, bapak akan terbiasa.”

“Besok Puspa akan kemari lagi, berjalan-jalan bersama Bapak.”

“Kamu selalu tidur di rumah kakakmu?”

“Iya, Puspa merasa tenang mengerjakan tugas Puspa di sana. Tapi setiap pagi, mulai hari ini, Puspa akan selalu mengajak Bapak jalan-jalan.”

***

Besok lagi ya.

 

32 comments:

  1. Alhamdulillah....m
    Setelah absen beberapa hari Srinthil sdh hadir.....

    ReplyDelete
  2. Matur sembah nuwun Mbak Tien
    Semoga sehat selalu, tetap semangat

    ReplyDelete
  3. Sehat ya mBak Tien ....
    Kami semua mendoakan, semoga panjenengan saha mas Tom tansah pinaringan rahayu widodo basuki tinebihna ing rubeda lan kalis ing sambikala.
    Aamiin Yaa Robbal'alamiin 🀲

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, suwun mb Tien πŸ™

    ReplyDelete
  5. πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung HaBeBe_22
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA.πŸ’πŸ¦‹
    πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚πŸπŸ‚

    ReplyDelete
  6. Alhamdulilah maturnuwun bu Tien.. semoha bu Tien selalu sehat ... jangsn capek capek ya bun ... salam hormat dan aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~22 akhirnya hadir juga.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 22 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 22 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah
    Tayang HBB ke 22.
    Terimakasih Bunda. Setia slalu menyapa yg hoby cerbung. Sehat slalu

    ReplyDelete
  12. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk.....

    ReplyDelete
  13. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu.

    ReplyDelete
  14. Terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah...tulisan mbak Yien sudah muncul kembali. Semoga sehat selalu mbakku sayang...
    Puspa pinter ya...
    Ayo pak Sanjoyo...rajin berlatih supaya sehat dan cepat pulih...

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah bun sdh sehat, sdh bisa mengetik lagi, mks bun, jaga kesehatan, ....selamat mlm, salam sehatπŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  17. Semoga bunda Tien fan pak Tom selalu sehat

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 22" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu πŸ™

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah HBB dah hadir lagi, maturnuwun Bu Tien,tetap sehat semangat,bahagia, masih berkarya cerbung..πŸ‘πŸ™

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sll diberikan kesehatan

    ReplyDelete
  21. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete

  22. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 22* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  23. Alhamdulillah, semoga Bu Tien sehat selalu

    ReplyDelete
  24. Terima kasih Bunda ...sudah hadir

    Semoga Bunda Tien ,Bapak Tom Sehat selalu n tetap semangat

    ReplyDelete
  25. Terima kasih Bunda Tien , semoga selalu sehat , barokalloh

    ReplyDelete
  26. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 22 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Sip....Sekar ikut membenahi perusahaan ayahnya.
    Puspa ikut membenahi kesehatan ayahnya, agar dapat berjalan normal.

    Sedangkan Kanti pasti mencak mencak, krn Nilam di pindahan ke Div yang tdk membahayakan rahasia perusahaan. 😁

    ReplyDelete
  27. Alhamdulillah, bunda Tien sudah sehat.
    Matur nuwun njih . . . Semoga bunda Tien dan keluarga selalu sehat dan bahagia . . Salam seroja πŸ₯°πŸ’

    ReplyDelete
  28. Cerita yang menarik...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...