Monday, May 11, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 38

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  38

(Tien Kumalasari)

 

Indras hampir tidak bisa bernapas karena Zein memeluknya erat sekali. Kemana api kemarahan yang membara saat dia menaiki teras? Semuanya hilang? Tapi Indras bukan perempuan bodoh. Ada sesuatu yang membuat kemarahan Zein hilang. Tentang pesanan taart yang dia suruh memberi tulisan seperti permintaannya, pastinya membuat Zein marah, karena bukankah itu taart untuk selingkuhannya? Tapi jawaban yang diberikan, bahwa dirinya mengira bahwa taart itu untuknya, membuat Zein merasa senang. Atau lega? Indras tertawa dalam hati. Tawa yang terasa mengiris jantungnya sendiri. Tapi Indras bersyukur bisa menjawabnya. Jawaban yang membuat Zein urung terbakar amarah gara-gara dia mengira taart itu untuknya,

Indras mendorong tubuh Zein perlahan, agak memaksa karena Zein masih memeluknya erat.

“Semoga sehat, panjang umur, menjadi naungan teduh bagi anak-anak kita,” bisiknya perlahan. Ucapan yang manis, yang diucapkan karena terpaksa, atau terdesak, karena sebelumnya dia kan lupa kapan hari ulang tahunnya?

Walau begitu Indras tetap tersenyum. Senyum yang sejak dulu dikagumi Zein dan membuatnya jatuh cinta.

“Terima kasih, suamiku, bahagia sekali kamu mengingat ulang tahun aku. Suamiku yang baik, sekarang ayo kita lihat taartnya, aku ingin mencicipinya,” kata Indras sambil menarik tangan Zein, seakan-akan ia ingin melihat taart hadiah dari suaminya. Tapi Zein menahannya.

“Tidak jadi aku ambil In.”

“Apa? Tidak jadi diambil? Kenapa?” Indras mengerutkan keningnya, pura-pura kecewa, karena sesungguhnya ia sudah tahu kalau taart itu sudah diberikan kepada selingkuhannya yang cantik dan seronok itu.

“Maaf Indras, aku marah kepada tukang roti itu. Ia lupa pada tulisan yang aku perintahkan, lalu aku tidak jadi mengambilnya,” aduhai sejak kapan Zein pintar berbohong? Kalau dia tidak bisa menjawab sesuatu yang ditanyakan oleh istrinya, biasanya dia hanya diam, pergi atau marah. Sekarang dia menjawabnya dengan manis, dan itu adalah kebohongan. Indras menjadi sedih. Wajahnya benar-benar muram. Bukan karena urung makan taartnya, tapi karena kebohongan suaminya.

“Indras, hanya taart, ayo kita pergi dan makan, kalau perlu aku akan pesan lagi lalu kita habiskan berdua.

Indras menggeleng.

“Tidak usah, aku sudah makan, dan aku sangat lelah.”

“Indras, maaf ya,” Zein masih merayu, mengira Indras kecewa karena ia tak membawa taart itu pulang. Mana Zein tahu bahwa taart itu telah dibuang oleh dokter Tyas ke tempat sampah.

Zein mengikuti langkah istrinya ke arah kamar.

“Ada hadiah yang lebih indah untuk kamu malam ini, jangan marah ya.”

Apakah ucapan suaminya membuat Indras bahagia? Ia tersenyum manis, tapi tak ada bahagia di dalamnya.

Indras sedih, kapan Zein sembuh dari sakitnya? Sakit pada jiwanya, dan sakit karena selalu menyakitinya demi perempuan lain?

***

Pagi itu sikap Zein sangat manis. Ia menemani Indras minum kopi sejak dini hari, sudah rapi wangi jauh sebelum jam untuk masuk bekerja, lalu makan pagi persama sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulut sang istri.

Indras tidak menolak. Ia harus bersyukur ada sikap manis sejak semalam, dan ia berharap seterusnya akan begitu.

Semalam Indras berpikir, bahwa kalau menurutkan rasa sakit hati, ia bisa hancur dengan sendirinya, karena tak tahu kapan itu akan berakhir. Ia berharap dirinya kuat untuk bersabar, sambil menunggu lilin kecil yang dinyalakan akan berhasil menerangi seluruh ruang di hatinya.

“Indras, aku jadi ingin minum dawet seperti yang kamu bawa  waktu itu. Nanti siang aku pulang makan di rumah ya, siapkan dawetnya juga,” kata Zein tiba-tiba.

“Nanti aku bawakan saja dawetnya ke rumah sakit tempat kamu berpraktek, karena aku tidak bisa pulang siang ini.”

Zein hampir tersedak. Lalu cepat-cepat meneguk air putih di dekatnya.

“Pelan-pelan Zein. Sudah, makanlah saja, jangan sambil bicara, nanti tersedak lagi,” kata Indras tanpa memberi ruang untuk menjawab bagi Zein, yang pastinya akan menolak kedatangannya ke rumah sakit. Sampai mereka berangkat bekerja, mereka tak membicarakan masalah dawet segar seperti yang diinginkan Zein, yang bukan dibawa ke rumah sakit, tapi ke rumahnya sendiri. Tapi Indras tak peduli. Ia tiba-tiba punya alasan untuk bisa ketemu perempuan itu. Bukan untuk melabraknya atau mencaci makinya, entah mengapa, ingin melihatnya saja, barangkali bisa menyadarkannya bahwa Zein punya istri yang setia dan tak kalah cantik dengan dirinya.

***

Pagi itu Sinta bertelpon dengan kakaknya, yang menanyakan perihal ulang taun ibunya.

“Apakah Mama senang?”

“Mama itu selalu terlihat senang kalau sama anak-anaknya. Tapi mama bilang tidak mau ulang tahunnya dirayakan, jadi kami hanya makan-makan, lalu memesan es krim kesukaan mama.”

“Apakah kamu jadi mengabari papa?”

“Mbak Santi gimana sih, kan semalam aku sudah bilang kalau pergi tanpa papa, karena mama tidak mau aku menelpon papa.”

“Papa tidak pernah ingat ulang tahun mama.”

“Itu benar. Karena itu mama tidak mau aku mengabari papa seperti yang sudah-sudah. Toh papa tidak pernah suka merayakannya. Tapi entah mengapa, ketika aku dan mama sampai di rumah, papa sudah menunggu di teras. Kelihatannya sih marah, tapi kemudian mereka seperti bercanda-canda, ngobrol, bahkan paginya mereka juga baik-baik saja.”

“Syukurlah, senang mendengarnya. Papa itu barangkali butuh perhatian, sedangkan mereka masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.”

“Semoga semuanya baik-baik saja. Kapan Mbak pulang?”

“Minggu depan aku usahakan pulang.”

“Aku berencana mengajak jalan-jalan.”

“Siapa saja?”

“Ya papa, mama, aku, mbak Santi … siapa lagi?”

“Ajak bibik dong, dia kan juga butuh rekreasi.”

“Iya, nanti aku ajak bibik.”

“Rencana mau ke mana?”

“Belum tahu, pokoknya ke tempat yang sejuk, tenang, membuat senang, sehingga semua letih-lelah bisa terobati.”

“Terserah kamu saja kalau begitu. Ya sudah, aku sudah mulai sibuk nih, nanti aku telpon lagi.”

“Aku juga mau ke kampus.”

“Segera selesaikan kuliah kamu.”

“Ya, siap laksanakan.”

***

“Dokter kebanggaanku, ini … yang semalam aku beli. Baguskah?” kata dokter Tyas sambil berlenggak lenggok seperti peragawati.

“Bagus. Apapun yang kamu pakai selalu bagus.”

“Terima kasih, dokter kesayangan.”

“Kenapa kamu malam-malam pergi sendiri.”

“Saya suntuk. Dokter merayakan ulang tahunnya setengah-setengah.”

“Setengah-setengah bagaimana?”

“Kita belum ngapa-ngapain, tapi dokter sudah buru-buru pulang.”

“Yang penting sudah mengucapkan selamat ulang tahun, itu kan yang kamu inginkan?”

“Mana taart ultahnya untuk istriku pula, bukan untuk aku," omelnya cemberut.

“Maaf, mereka yang salah. Ayolah, jangan cemberut begitu. Aku khawatir kamu keluar malam sendirian.”

“Saya bingung mau ngapain, lalu keluar, jalan-jalan, sampai di butik langganan Dokter, aku masuk, lalu beli ini. Terima kasih telah membayarnya dengan mentransfer.”

“Lain kali jangan pergi malam-malam sendirian.”

“Dokter mengkhawatirkan saya?”

“Sebaiknya perempuan tidak keluar sendirian diwaktu malam. Bukan hanya kamu, tapi untuk perempuan lainnya.”

“Kirain untuk saya saja.”

“Ya sudah, sana … nanti mau ada tamu, nggak enak kalau kamu ada di sini.”

“Memangnya tamunya siapa?”

“Kecuali itu aku mau pulang sebentar.”

“Selamat siang.”

Zein dan dokter Tyas terkejut. Yang datang adalah Indras, membawa gelas-gelas plastik berisi minuman yang dipesan Zein. Tyas tersenyum genit, lalu melangkah keluar tanpa pamitan pada Zein, tapi mengangguk ramah pada Indras.

“Ini pesanan kamu Zein.”

“Aku pikir aku mau pulang ke rumah.”

Indras tak peduli apapun, ia juga tak menanyakan siapa perempuan genit itu karena dia sudah tahu. Kalau dia membicarakannya, nanti Zein malah marah, padahal Indras sedang ingin berdamai dengan bersikap manis kepada sang suami.

***

Besok lagi ya.

 

 

41 comments:

  1. 🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eSAaCe_38
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah.
    Terimakasih Bunda udah tayang cerbungnya. Semoga sehat selalu beserta keluarga. Nah gitu lah Indras terus maju . Pantang mundur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  4. Alhamdulilah indras sampun tayang... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bajagia aamiin yra .. salam hangat dan aduhai hai hai bun ❤️❤️❤️❤️❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  5. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete

  6. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 38* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  7. Alhamdullilah..terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm dan slmt istrht..slm seroja unk bunda n bpk πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  9. Alhamdulillah,matur nuwun Bunda Tien.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~38 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  11. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (38)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu

      Delete
  12. Assalamu'alaikum
    Trimakasih Bunda Tien SAC sudah hadir malam ini, sehat sll bunda samangat untuk berkarya terus .
    Malam ini saya suka dg Indras yg datang ke ruangan dr Zein. Sering aja dr Indras ...jadi dr centil gak bisa menggoda dr ganteng 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam ibu Etty.
      Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun ibu Etty

      Delete
  13. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™,semoga Zein dan indras bisa damai dan bahagia bersama putri2 tercinta, seperti Bu Tien selalu bahagia ditengah2 keluarga tercinta..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik.
      Hehee

      Delete
  14. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 38 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  15. Indras itu seperti saudaranya, Isti, memang luar biasa menguasai keadaan meskipun tidak mengenakkan.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillaah, semakin membaik & sehat wal'afiat ya Bu Tien, Matur nuwun πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸ’–

    Bagaimana rasa dawetnya dr Zein langsung diantar istri tercintanya ?,,,yg jelas ada rasa kanget bercampur bingung ya

    ReplyDelete
  17. Benang kusut sudah terutama sedikit demi sedikit.... Apakah Indras berhasil menyingkirkan perhatian Zein pada Tyas? Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu....

    ReplyDelete
  18. Benang kusut sudah terutama sedikit demi sedikit.... Apakah Indras berhasil menyingkirkan perhatian Zein pada Tyas? Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robnal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah

      Delete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 38

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  38 (Tien Kumalasari)   Indras hampir tidak bisa bernapas karena Zein memeluknya erat sekali. Kemana api kemarahan ...