SAKITKU ADALAH CINTAKU 37
(Tien Kumalasari)
Zein kesal sekali. Ia berganti pakaian rumah lalu duduk di teras. Ia menolak ketika bibik menawarkan makan malam. Ia lapar, tapi tak berselera makan. Ia menyesali toko roti mengapa menelpon Indras, dan menyesali mengapa Indras menyuruh menuliskan ucapan ulang tahun untuk istrinya. Padahal ia sama sekali tak ingat bahwa hari ini juga ulang tahun sang istri. Tapi suasana itu sungguh tak mengenakkan. Ia ingin memberikan dokter Tyas kesenangan, yang terjadi adalah kekesalan. Walau tak mengatakan apa-apa, tapi ia tahu bahwa pasti hal itu membuatnya kecewa, membuyarkan kesenangan yang akan mereka bangun. Bukan apa-apa. Zein hanya ingin bergembira.
“Tuan, saya buatkan kopi, ditaruh di sini atau di dalam?” kata bibik sambil membawa nampan berisi segelas kopi.
“Taruh saja di situ.”
“Makan malam masih saya siapkan, kalau sewaktu-waktu Tuan ingin makan, tolong beritahu saya, sayurnya akan saya panasi lagi.”
“Ya, gampang, tidak untuk sekarang,” jawab Zein tak acuh, seperti berharap bibik segera pergi dan tidak banyak bicara.
Bibikpun berlalu. Ia tahu sang tuan sedang kesal. Barangkali kekesalan itu akan ditumpahkannya setelah sang nyonya majikan pulang. Bibik sedih sekali. Dihari-hari terakhir ini rumah tangga sang majikan seperti diterpa hawa panas yang tak henti-hentinya, dan permasalahan apa sebenarnya yang memicu, tentu saja bibik tidak tahu. Ia hanya berharap semoga semuanya segera berakhir.
***
“Ma, kita jarang makan di sini, perasaan masakan di sini selalu enak ya,” kata Sinta saat makan bersama sang mama.
“Kamu benar, terasa sangat enak. Barangkali karena kita sedang lapar.”
“Ah, benar Ma, kita sedang lapar. Sekarang papa sudah pulang belum ya?”
“Mengapa memikirkan papa kamu lagi, nanti selera makan kita hilang.”
“Harusnya papa diberi tahu kalau hari ini ulang tahun Mama.”
“Mama tidak pernah ingin dirayakan. Itu kan akal-akalan kamu sama kakakmu saja.”
“Supaya Mama bahagia.”
“Kebahagiaan itu bukan karena ulang tahunnya dirayakan. Diingat saja sudah cukup.”
“Sinta selalu mengingatnya lhoh Ma. Papa mungkin harus diingatkan karena selalu sibuk, banyak pikiran.”
Indras tersenyum dalam hati. Senyum yang sangat pahit. Sibuk, banyak pikiran sampai tidak ingat ulang tahun istri, tapi ulang tahun perempuan lain sangat diingatnya.
“Mama mau nambah?”
“Tidak Sin, ini sudah lebih dari cukup. Kenyang banget, bisa-bisa pulangnya nanti nggak bisa jalan karena kekenyangan.”
“Padahal Sinta masih pesen es krim. Bukankah Mama suka es krim?”
“Kalau es krim mama mau, kan tidak membuat kenyang?”
“Benar Ma.”
Sinta senang, mamanya tampak bahagia. Walau tidak penting, tapi bukankah diingat ulang tahunnya saja sudah cukup? Dan anak-anaknya tidak pernah melupakannya, sedangkan untuk sang papa bisa dimaklumi, karena sibuk.
Ketika es krim dihidangkan, mereka menikmatinya dengan nikmat. Ingin sekali Sinta menelpon sang papa, tapi ia sudah dilarang, jadi tak berani melakukannya. Yang dia heran, mengapa papanya juga tidak menanyakan sedang pergi ke mana mereka, padahal ponsel dalam keadaan on semua.
“Apa papa belum pulang ya?”
“Kamu masih mengingat papa kamu?”
“Sinta heran, papa tidak menelpon kita juga. Apa papa tidak merasa kehilangan ya?” kata Sinta setengah bercanda.
Indras tak menjawab. Masalah taart yang dipesan diam-diam masih membuatnya kesal. Yang Indras heran, mengapa petugas toko menelpon dirinya tentang tulisan yang harus ditulis di toping taart itu. Ya iyalah, petugas itu mana tahu kalau taart dipesan diam-diam, jadi mereka tidak merasa berdosa. Sekarang Indras sedang membayangkan, bagaimana reaksi mereka setelah membaca tulisan itu.
***
Mereka tidak langsung pulang. Sinta mengajak sang ibu mampir di sebuah toko, lalu memberikan sebuah kerudung cantik untuk sang ibu.
“Ini hadiah ulang tahun untuk Mama. Tidak apa-apa kan, tidak usah dibungkus cantik?”
“Tidak apa-apa, yang penting mama suka warnanya. Kamu masih punya uang banyak ya, tadi mentraktir mama makan, sekarang membelikan mama kerudung cantik.”
“Sinta malah masih ingin membeli baju cantik untuk Mama. Yang itu hadiah dari mbak Santi.”
“Jangan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu. Baju mama masih banyak, bingung mau dipakai kapan, sedangkan kita jarang bepergian.”
“Bagaimana kalau besok liburan mengajak papa jalan-jalan? Mbak Santi pasti bisa pulang kalau liburan.”
“Tidak usah. Istirahat di rumah saja.”
“Ma, rekreasi itu penting lhoh, untuk mengurai ketegangan setelah berhari-hari bekerja dan berpikir.”
“Harusnya kamu juga jadi dokter.”
“Untuk mengetahui tentang hidup sehat kan tidak harus menjadi dokter?”
“Kamu benar. Sekarang lebih baik kita pulang.”
“Kita belum beli baju, mampir ke butik langganan sebentar ya.”
“Nggak usah Sinta.”
“Nanti mbak Santi kecewa, ini kan pesan dari mbak Santi.”
“Kalian itu ada-ada saja.”
“Ini hari spesial, Mama tidak boleh menolak,” kata Sinta yang nekat membawa mamanya ke butik langganan.
“Beli yang biasa saja, tidak usah yang mahal.”
“Kita lihat mana yang Mama suka.”
Mereka sudah memasuki butik langganan dan disambut ramah oleh petugasnya, karena Indras dan Zein adalah pelanggan tetap mereka.
Sinta sibuk memilih-milih, sedangkan Indras hanya melihat-lihat. Ia sedang tak banyak keinginan. Para wanita menyukai baju-baju bagus, tapi tidak bagi Indras, setidaknya untuk saat ini.
Tiba-tiba Indras melihat seseorang. Wanita cantik dengan pakaian ketat dan dandanan yang menyolok. Indras mengingat-ingat, dia seperti pernah melihat wanita itu, tapi di mana.
Ia mendekat, wanita itu tidak melihatnya, ia sibuk memilih, lalu tangannya merogoh tas tangannya, untuk mengambil ponsel.
“Dokter kebanggaanku sedang apa? … ya ampuun, kasihan deh, tadi kenapa tidak mau berlama-lama di rumah saya? Saya sedang di butik langganan Dokter, karena suntuk akibat Dokter tinggalkan, saya jalan-jalan sendiri. Saya sedang memilih baju untuk dinas, yang kata Dokter harus sopan tapi menawan … baiklah, ditransfer sekarang? Terima kasih, Dokter kesayanganku.”
Indras berdebar. Ia baru ingat. Itu kan dokter cantik yang pakaiannya seronok walau sedang bertugas waktu itu? Yang masuk ke ruang kerja Zein tanpa mengetuk pintu? Yang membawa makanan untuk Zein juga? Itu dokter cantik selingkuhan Zein bukan? Ia pergi sendirian karena suntuk ditinggalkan, berarti Zein sudah pulang. Tapi perempuan itu memesan sebuah baju dan meminta Zein mentransfer uang untuk membayarnya. Ingin sekali ia mendekati perempuan itu dan mendampratnya, tapi Indras merasa bahwa hal itu hanya akan merendahkannya.
Tiba-tiba Sinta menarik lengannya.
“Ma, yang tadi … Mama suka kan?”
Indras tak perlu melihat baju pilihan Sinta, ia hanya mengangguk sambil mengulaskan senyum, agar Sinta merasa senang, padahal hatinya tidak sedang tersenyum.
“Sudah kan, habis ini kita pulang?”
“Iya Ma, Sinta bayar dulu ya.”
“Mama juga bawa uang.”
“Jangan Ma, ini kan dari mbak Santi. Tadi Sinta sudah VC call mbak Santi untuk memperlihat bajunya, mbak Santi suka.”
Indras hanya tersenyum, kemudian segera mengajaknya pulang dengan alasan sangat lelah.
***
Ketika sampai di rumah, dia melihat sang suami duduk di teras. Ia tak berdiri walau melihat istri dan anaknya pulang dari bepergian.
“Pa, Papa sudah lama pulangnya?” tanya Sinta dengan riang.
“Dari mana kalian?”
“Jalan-jalan sama Mama, apa Papa_”
Sinta menghentikan perkataannya karena sang mama mencubit lengannya. Ia hampir lupa kalau sang mama tak ingin ia mengingatkan masalah ulang tahun itu kepada papanya.
Ia berlalu dan meninggalkan sang mama di belakangnya.
“Kamu mengatakan apa kepada petugas toko roti tadi?” kata Zein sengit.
“Dia bertanya tentang tulisan yang harus ditulis di hiasan taart, apa aku salah?”
“Kamu mengarang tulisan itu, dan ingin membuat aku marah?”
“Mengapa harus membuat kamu marah? Bukankah kamu memesan taart untuk hadiah ulang tahunku? Mereka lupa tulisannya apa, jadi aku tuliskan saja selamat ulang tahun untuk istriku. Salah ya?”
TIba-tiba rona marah di wajah Zein menurun. Jadi Indras mengira dia sedang memesan taart untuk dirinya dan karenanya tulisannya seperti itu?
Zein berdiri, lalu tiba-tiba memeluk istrinya.
“Selamat ulang tahun, istriku,” katanya lembut, membuat Indras terpana.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien,
ReplyDeleteSehat terus nggih
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Salam aduhai
Zein memeluk istrinya dgn mesra. Selamat Indras kemesraan didapatkan kembali..
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur sembah nuwun Mbak Tien
Salam sehat dari Antapani
Matur nuwun bu Tien Sakitku adalah cintaku no.37 sampun tayang.
ReplyDeleteSemoga bu Tien sekluarga dalam Lindungan Allah SWT. Aamiin YRS π€²π
Alhamdulilah , maturnuwun sampun tayang bu Tien.... salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️❤️
ReplyDeleteMatur nwn bu Tien
ReplyDeleteAlhamdullilah sdh tayang cerbungnya..slmt mlm dan slmt weekand bunda..slm sehat dan tetap aduhai unk bunda sekelππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eSAaCe_37 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππππππππ
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~37 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Hamdalah sampun tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah semoga dokter zein sembuh dari sakitnya rasa sayang dan cinta pada istrinya tumbuh kembali
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteAlhamdulillah, teman adi malming sdh tayang trimakasih Bunda Tien hasil karya tulisan malam ini mbuat dek degan juga..
Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 37 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (37)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 37* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Sakitku adalah cintaku telah tayang
ReplyDeleteZein itu pasien RSJ yang lepas...
ReplyDeleteLukman sudah muncul belum ya?
Saya mau cek dulu ah...
Alhamdulillah SAC dah tayang, maturnuwun Bu Tien π, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ,Akhirnya Zein bisa meredam amarahnya KPD indras, semoga selanjutnya sadar dan tetap mncintai keluarganya...
ReplyDeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat semua ya ππ€π₯°πΏπ
ReplyDeletePada dasarnya dr Zein itu baik, hany perlu pujian dan perhatian karena latar belakang kehidupan yg serba pas-pasan terus merasa diremehkan..
Wah penasaran...π
Matur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta...
ReplyDeleteZein benar2 sdh agak gila kayak nya..hehe
ReplyDeleteSehat² bunda Tien.
Selalu bikin penasaran..
Matur nuwun Bunda Tien.... NPD mengerikan ya Bun
ReplyDeleteAlhamdulillah matur nuwun mBak Tien.
ReplyDeleteDalam keadaan sdg kurang sehat masih menulis untuk penggemar cerbung di blogspot.
Mohon maaf intuk pembaca SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA _70, yang biasanya tayang di FB, malam ini tidak dapat hadir.
InsyaaAllah besok malam doakan semoga bisa tayang. π€π€π
Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu, selamat berlibur....
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu, selamat berlibur....
ReplyDelete