Friday, May 8, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 36

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  36

(Tien Kumalasari)

 

Indras menenangkan hatinya agak lama, kemarahan telah membakarnya. Kemarahan itu harus ditumpahkannya kepada siapa? Suaminya tak ada didekatnya, yang ada adalah petugas toko roti yang pastinya menunggu apa yang akan dikatakannya, dan kata-kata itu lebih pantas berupa tumpahan kemarahannya.

“Bagaimana, Dokter?”

“Anda itu bagaimana? Sebuah toko roti ternama yang harusnya melayani pelanggan dengan sebaik-baiknya. Catatan dari pelanggan bisa hilang, lalu setelah hampir selesai Anda kebingungan seperti cacing kepanasan.”

“Maaf Dokter, ini kesalahan kami, tolonglah, sebentar lagi dokter Zein akan mengambilnya.”

“Kalau begitu tulis saja ‘SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK ISTRIKU’.

“Begitu ya Dok?”

“Tidak ada waktu, aku sedang enggan berpikir.”

“Baik Dokter, akan saya tulis begitu. Terima kasih Dokter, sekali lagi saya mohon maaf.”

Indras meletakkan ponselnya masih dengan kemarahan, tapi ia tersenyum. Kalau benar tulisannya begitu, biar saja perempuan itu heboh, Zein juga akan kelimpungan.

“Mama, kita jadi pergi kan?”

Sinta mendekat, sudah wangi. Ia baru saja selesai mandi.

“Ya, ayo kita segera berangkat.”

“Sinta telpon papa dulu ya.”

“Tidak usah. Kita berdua saja.”

“Berdua saja? Nanti papa marah, bagaimana?”

“Papamu tidak akan marah. Mama ganti baju dulu.”

“Benar nih, hanya berdua saja?”

“Mama harus mengulang berapa kali sih Sinta?” kata Indras, sedikit kesal.

“Baiklah, baiklah.”

“Papamu akan pulang malam, kita keburu lapar,” kata Indras kemudian, tak ingin Sinta sedih karena kata-katanya yang agak kasar.

“Baik Mama, jangan marah dong. Sedang ulang tahun nggak boleh marah. Nanti hilang cantiknya, bagaimana?” canda Sinta, yang membuat sang mama tersenyum, sebelum masuk ke dalam kamarnya.

***

Dokter Tyas dandan sangat cantik. Ia memakai baju baru yang kemarin dibelikan oleh dokter kesayangannya, menyemprotkan minyak wangi hampir ke seluruh tubuhnya. Ia berputar di depan cermin, seperti remaja tujuh belasan tahun yang sedang menunggu cinta pertamanya. Kali ini bajunya bukan baju seperti yang dikenakan saat kerja. Yang rapi dan sopan, atas permintaan dokter Zein. Di awal malam ini bajunya agak ketat dan lebih terbuka. Dokter Tyas berputar sekali lagi, tersenyum seperti kekasihnya ada di depannya, kemudian melenggang keluar kamar, karena kebetulan ia mendengar suara mobil masuk ke halaman.

Ia berjalan seperti peragawati melangkah di atas cat walk, berdiri di tangga teras, menunggu kesayangannya datang mendekat.

Zein membawa kotak roti pesanannya, dan tersenyum melihat dokter Tyas sudah menunggu.

“Selamat ulang tahun, cantik,” katanya sambil mengulurkan kotak berisi taart yang dipesannya sejak kemarin.

“Terima kasih, Dokter kebanggaanku. Hanya ini hadiahnya?” katanya sambil menepuk pipinya, tapi dokter Zein hanya tersenyum, kemudian langsung masuk dan duduk di teras.

“Ayo masuk, di sini tidak ada CCTV,” katanya mengingatkan penolakan dokter Zein setiap dia mendekatinya di ruang kerja.

“Pasti ada CCTV lain yang kita tidak melihatnya,” kata dokter Zein sambil tetap tersenyum.

Dokter Tyas meletakkan kotak taart itu di meja.

“Duduk di sini? Tidak masuk ke dalam?”

“Di sini saja, udaranya lebih segar.”

“Saya ambilkan minum dulu.”

Dokter Tyas melenggang masuk ke dalam. Ia heran dokter Zein selalu menolak didekati.

“Kurang cantik apa sih aku? Kurang menarik apa? Masa dia tidak tergoda dengan penampilanku?” gumamnya sambil menuangkan coklat susu ke dalam gelas.

Ia membawanya ke teras dengan berbagai akal yang ingin dilakukannya, agar dokter Zein memenuhi keinginannya.

“Minumlah, dokter.”

“Terima kasih. Aku tidak akan lama.”

“Kenapa? Padahal saya ingin merayakannya sepanjang malam bersama dokter kebanggaan saya ini.”

“Besok kita harus bekerja, tidak baik tidur terlampau malam. Buka saja taartnya, dan nyalakan lilinnya.”

Dokter Tyas ke belakang lagi, sambil berlenggak lenggok, berusaha memikat, tapi Zein tidak melihatnya. Ia bersandar di kursi teras, tampak lelah. Seharian ia bekerja keras, memeriksa alat-alat kedokteran baru yang datang siang tadi. Sore hari baru selesai, lalu cepat-cepat ke toko roti langganan untuk mengambil pesanan.

“Ini koreknya, Dokter.”

Zein menerima korek itu dan dokter Tyas membuka kotak taartnya setelah meletakkan dua piring kecil dan garpu di dekatnya.

“Woouww… coklat kesukaan aku,” pekiknya riang sambil menata lilin yang sudah ada di dalam kotaknya.

Zein menyalakan koreknya, lalu keduanya terbelalak membaca tulisan indah berbunga-bunga, yang menuliskan ucapan ulang tahun.

Zein berhenti sampai nyala dari korek itu padam tertiup angin malam yang tiba-tiba menyambar.

Tulisan itu begitu indah, diantara warna warni bunga. SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK ISTRIKU.

Mereka saling pandang.

“Dokter salah mengambilnya? Apakah istri Dokter juga ulang tahun hari ini?” tanya dokter Tyas, tampak kecewa.

"Istriku ulang tahun? Aku malah tidak mengingatnya. Tapi mengapa tulisannya menjadi begitu? Bukankah aku ingin mereka menuliskan SELAMAT ULANG TAHUN, DOKTER CANTIK’?” pikir Zein.

“Tidak apa-apa, bawa saja lagi taart ini pulang, tidak apa-apa kita merayakannya tanpa taart. Ini sebenarnya bukan kebiasaan kita kan?” kata dokter Tyas sambil tersenyum, tak menampakkan rasa marah.

“Tidak, aku hanya memesan satu kotak,” katanya sambil mengambil ponselnya.

“Aku akan menanyakannya kepada petugas toko roti itu,” gumam dokter Zein.

Dokter Tyas hanya menunggu, diam dengan perasaan tak menentu.

“Sebenarnya tidak apa-apa tanpa taart, kita bisa merayakannya dengan lebih meriah, saya akan menunjukkan caranya,” kata dokter Tyas dengan senyuman memikat. Tapi lagi-lagi Zein tidak sedang memandanginya. Ia sedang menunggu panggilannya ke petugas toko roti itu diangkat.

“Hallo, dokter Zein ya?” suara dari seberang sana.

“Mengapa kamu membuat tulisan yang berbeda dengan apa yang pernah aku tuliskan?” sentak Zein.

“Oh, maaf Dokter. Sesungguhnya catatan yang dokter tuliskan itu hilang, entah ke mana, tapi saya sudah menelpon dokter Indras.”

“Maksudmu menelpon dia tuh apa?”

“Saya bilang lupa tulisannya, lalu dokter Indras meminta agar kami menulisnya seperti itu. Apa kurang bagus?”

Zein menutup panggilan itu dengan wajah keruh. Rupanya petugas itu mengira Indras mengetahui tentang pesanan itu, dan Indras sedang mencari gara-gara.

“Dokter, tidak usah marah. Tidak apa-apa tulisannya begini. Bukankah saya harusnya senang karena berarti Dokter menganggap saya istri Dokter?”

“Ya sudah tidak apa-apa. Potong saja kuenya lalu kita makan,” kata Zein, dingin.

"Lilinnya belum dinyalakan, lalu kita menyanyi happy birthday.”

“Tidak usah. Kamu bilang ini bukan kebiasaan kita bukan? Langsung dimakan saja,” kata dokter Zein sambil memberikan pisau rotinya kepada dokter Tyas.

Dokter Tyas tersenyum, lalu menyanyi sendiri sambil mengiris rotinya.

“Happy birthday … to me,” pungkasnya, lalu memotong taartnya seiris, diberikannya kepada Zein.

Zein menerimanya, tanpa mengucapkan apa-apa. Ia makan kuenya sambil menatap dokter Tyas yang sedang menjilati krem coklat yang menjadi toping taart itu.

“Dokter tidak mengucapkan apa-apa untuk saya?”

“Semoga sehat, bahagia, tetap cantik dan bersemangat,” kata Zein sambil melahap taartnya, seperti tidak sambil menikmati enaknya taart yang dipesannya mahal.

“Terima kasih Dokter kebanggaanku. Apapun … saya bahagia mendapat doa dari Dokter yang tiada duanya dalam semua kebaikan dan perhatiannya terhadap saya.”

Zein menghabiskan taartnya, lalu meletakkan piring kecil itu di atas meja.

"Tadi saya memasak enak, kita makan sebentar lagi ya.”

“Tidak usah.”

“Tidak usah? Apa maksud Dokter?”

“Sebenarnya aku sangat lelah, jadi lebih baik aku pulang saja.”

“Serius, Dokter mau pulang?”

Zein meneguk coklat susunya, lalu mengangguk.

Mulut tipis itu mengerucut, seperti ingin menangis, tapi Zein sudah berdiri.

“Maaf ya. Sungguh aku sangat lelah.”

Tiba-tiba dokter Tyas menubruknya dan memeluknya erat. Zein sangat terkejut. Ia mendorong tubuh seksi itu agar menjauh.

“Jangan begini.”

“Di sini tidak ada CCTV,” rengek dokter Tyas.

“Kan aku sudah bilang, ada CCTV yang lain?” kata Zein sambil turun dari teras dan bergegas ke arah mobilnya.

Ketika deru mobil dokter Zein terdengar menjauh, deru kekecewaan dokter Tyas sedang memenuhi dadanya.

Ia menuju meja, mengambil taart yang baru dimakan dua potong, lalu membuangnya di tempat sampah.

***

Zein memasuki halaman rumahnya, memarkir mobilnya, lalu turun. Ia melihat pintu rumah terkunci. Ia ingin membukanya ketika bibik sudah lebih dulu menyambutnya.

“Kok sepi?”

“Nyonya dan non Sinta pergi.”

“Kemana?” sentak Zein.

“Saya tidak tahu, Tuan. Mereka hanya mengatakan akan keluar sebentar, begitu.”

Zein membanting pintu kamarnya ketika ia memasukinya, membuat dada bibik seperti ditempa palu godam.

***

Besok lagi ya.

 

42 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun Bu Tien.
    Mugi - Mugi Bu Tien sakulawarga sehat selalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sukardi

      Delete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih sudah tayang. Semoga sehat slalu Bunda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  5. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  6. Alhamdulillah eSAaCe-36 sdh tayang, semoga ceritanya semakin seru, Zein bisa berubah menjadi suami yang bertanggungjawab lahir batin dan sembuh dari sakitnya.

    Terima kasih mBak Tien tetap sehat, tetap semangat, tetap ADUHAI dalam berkarya menulis cerita bersambung.

    Aamiin ya Robbal'alamiin 🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek

      Delete
  7. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~36 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  8. Alhamdulilah , maturnuwun bu Tienku sayang... salam hormatku utk ibu dan aduhai hai hai bun ❤️❤️❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta,πŸ™πŸ™❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  10. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (36)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu

      Delete
  11. Alhamdulillah
    Syukron nggih mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete

  12. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 36* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  13. Hatir nuhun bunda cerbungnya..slmt mlm slmt istrahat..slm sht sll unk bunda bersm bpk πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  14. 🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eSAaCe_36
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  15. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 36 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  16. Alhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien salam sehat wal'afiat semua ya πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸ’–

    Dr Zein ternyata sakit ya,. Sayang seorang dokter blm bisa menymbuhkan penyakit kejiwaannya,,,
    Indras tetap sabar ya , ada waktunya

    ReplyDelete
  17. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni

      Delete
  18. Sepertinya Mbak Tien senang memperhatikan perang Ai orang gila ya? Buktinya Zein jadi gila. πŸ˜€

    ReplyDelete
  19. Assalamu'alaikum
    Selamat malam Bunda Tien, Bunda kenapa Dr Indras tidak datang ke dr tempat berobat dr Zein, kan bisa tau cara penyembuhan dr Zein πŸ™πŸ˜Š maaf penasaran cerita selanjut nya. Gemes dg DrZein ultah istri kok ya lupa.
    Sehat sll Bunda Tien. πŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam ibu Etty
      Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun

      Delete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 36

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  36 (Tien Kumalasari)   Indras menenangkan hatinya agak lama, kemarahan telah membakarnya. Kemarahan itu harus ditu...