SAKITKU ADALAH CINTAKU 33
(Tien Kumalasari)
Indras bersimpuh dihadapan sang ayah, yang menatapnya tak berkedip. Ia sudah mendengar cerita panjang lebar yang diutarakan Indras, dan hati kedua orang tua itu benar-benar seperti dipukul dengan ribuan palu. Derita yang disembunyikan Indras akhirnya harus dibuka di hadapan kedua orang tuanya. Tapi keluarga Narya adalah orang yang kuat dan bijaksana. Ia boleh keras dalam berkeinginan, tapi ia tak malu mengakui kesalahannya. Hal itu pernah dilakukannya. Ketika mereka merendahkan Zein yang anak orang biasa dan tidak sederajat dengan keluarga Narya Kusuma, lalu pada suatu ketika mereka menyadari kesalahannya, dan menebusnya dengan berbuat baik kepada keluarga yang pernah direndahkannya. Sekarang mereka tahu, Zein adalah jiwa yang sakit. Mereka tidak menduga putri mereka dibuatnya menderita.
Indras masih terisak, air matanya mengalir seperti anak sungai di sepanjang pipinya. Bu Narya merengkuh sang putri, memintanya berdiri.
“Kalau apa yang kamu minta itu bisa membuat badai rumah tangga kamu mereda, baiklah. Bapak akan melakukannya.”
Indras menatap sang ayah dengan mata yang masih basah. Seakan tak percaya pada apa yang didengarnya. Datang kepada Zein dan meminta maaf?
“Indras, bapak akan melakukannya. Besok bapak dan ibumu akan datang ke rumah kamu, menemui Zein dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah bapak lakukan.”
Indras kembali merosot turun, bersimpuh di hadapan sang ayah dan menjatuhkan kepalanya di pangkuannya. Pak Narya mengelus kepala putrinya dengan lembut. Mata tuanya yang teduh juga digenangi air mata.
“Dalam hidup ini, keinginan orang-orang tua adalah melihat anak-anaknya berbahagia. Derita yang kamu rasakan juga menyakiti hati bapak, dan pastinya juga ibumu. Karena itulah mana yang akan membuat kehidupan kamu tenang, maka apapun akan bapak lakukan,” kata pak Narya dengan suara bergetar.
Indras tak menjawab apapun. Ia hanya menangis dan menangis terus. Sang ayah yang adalah orang terpandang di kota itu, harus merendahkan dirinya menemui sang menantu hanya karena harus meminta maaf.
“Jangan sedih, bapak akan melakukannya.”
“Sudahlah Indras, bapak sudah berjanji, kamu tenanglah. Kami berharap hidup kamu akan bahagia setelahnya. Karena kebahagiaan kamu adalah impian kamu,” kata sang ibu lembut.
“Berdirilah. Hanya saja aku menyesal, karena kamu tak pernah mengatakan apa yang terjadi pada kehidupan kamu. Kami mengira kalian baik-baik saja.”
“Zein sakit, dan Indras berharap suatu ketika bisa sembuh.”
“Ya, itu penyakit langka. Bukan gila, tapi kalau kumat … bisa melebihi kumatnya orang gila. Kamu harus sabar. Dan jangan lagi menyembunyikan apapun dari bapak dan ibumu.”
Indras berdiri lalu merangkul kedua orang tuanya erat sekali.
“Maafkan Indras, Bapak, Ibu. Maafkan Indras,” bisiknya tanpa bisa menahan lagi air matanya.
***
Kembali memasuki rumahnya, bukannya Indras senang karena sang ayah sudah bersedia memenuhi permintaan Zein. Ia merasa suaminya sangat merendahkan orang tuanya. Sama sekali tidak menghargainya sebagai orang tua, padahal bukankah mertua adalah sama saja dengan orang tua sendiri, yang harus dihargai, dihormati dan bukannya diremehkan dan direndahkan seperti ini. Kalau saja menuruti kata hatinya, Indras enggan melakukannya. Tapi ini demi ketenangan dalam kehidupannya maka ia mau melakukannya, walau dengan segala sesal dan kesedihannya.
“Nyonya dari mana, bukannya Nyonya sedang sakit?” sapa bibik ketika ia memasuki rumah.
“Kangen sama bapak, sama ibu juga,” jawab Indras pelan.
“Apa Nyonya masih mau makan bubur? Tadi tuan berpesan, agar saya membuatkan bubur lagi untuk Nyonya.”
“Bibik sudah membuatnya?”
“Sudah, masih hangat Nyonya. Ada sup ayam atau semur kentang, mana yang Nyonya suka. Sudah saya tata di meja. Atau, Nyonya mau buburnya saya bawa saja ke kamar supaya Nyonya bisa makan di kamar?”
“Tidak Bik, aku makan di ruang makan saja.”
“Ya sudah, saya hangatkan dulu supnya, sudah agak dingin.”
“Baik Bik, terima kasih. Aku ganti baju dulu,” kata Indras sambil langsung masuk ke dalam kamarnya.
Bibik menatap punggungnya dengan rasa iba. Ia tahu sang nyonya majikan tidak sedang baik-baik saja. Ia pulang dengan wajah pucat dan mata sembab. Itu bukan air mata bahagia. Tapi apa yang bisa diperbuatnya? Ia hanya seorang pembantu.
***
“Kalau dipikir-pikir, kelakuan Zein itu bukankah sangat kurangajar ya Pak?” celetuk bu Narya ketika Indras sudah pulang.
“Aku kasihan pada anakmu. Kalau tidak dituruti kemauannya, Indras bisa terus-terusan ditindas.”
“Bagaimana orang bisa berubah seperti itu? Dulu dia bilang sangat mencintai Indras, tapi lama-lama Indras disiksa.”
“Menurut Indras, suaminya sakit.”
“Sakit kalau di rumah. Tapi bukankah diluaran dia punya selingkuhan?”
“Susah mencegahnya, karena bertindak semaunya adalah bagian dari penyakitnya. Kata Indras kalau diingatkan tentang perempuan selingkuhannya itu, maka Zein bisa ngamuk seperti singa lapar.”
“Kasihan Indras.”
“Besok aku akan kesana untuk memenuhi permintaannya.”
“Sesungguhnya ibu sangat tidak rela Bapak melakukannya. Masa orang tua disuruh datang untuk meminta maaf? Barangkali Zein sudah benar-benar gila,” geram bu Narya.
“Yang sakit jiwanya Bu, biarlah kita mengalah, demi ketenangan hidup anak kita.”
“Ya sudah, terserah Bapak saja.”
“Ibu ikut kan?”
“Ibu harus ikut, kalau bisa akan ibu omelin dia.”
“Jangan Bu, biarkan saja. Kita hanya akan datang dan memenuhi permintaannya, lalu pulang. Ibu tidak usah marah apalagi mengomeli dia. Nanti bisa memperburuk keadaan.”
Bu Narya diam, tapi dalam hati ia merasa sangat kesal dan tidak terima.
***
Ketika Zein pulang, dilihatnya Indras sudah rapi cantik wangi, dan duduk di ruang tengah, sendirian. Zein menghampiri lalu mencium keningnya.
Indras mencoba tersenyum, senyum yang tidak ikhlas karena masih kesal pada permintaan suaminya. Entah kapan ayahnya akan datang seperti janji yang dikatakannya tadi.
“Kamu sudah merasa lebih sehat?”
“Ya.”
“Tadi bibik aku suruh membuatkan bubur lagi. Kamu memakannya?”
“Sudah.”
“Makan yang banyak supaya sehat.”
Indras hanya mengangguk, lalu membiarkan Zein masuk ke kamarnya.
Ketika itu bibik datang sambil membawa kopi kesukaan tuan majikan. Tapi setelah meletakkan gelas kopi itu, bibik memberikan beberapa lembar catatan.
“Nyonya, ini catatan pengeluaran.”
Indras mengambilnya, tapi tidak sepenuhnya membaca, karena ia percaya kepada bibik pembantu itu sepenuhnya.
“Sisanya tinggal ini?”
“Iya, Nyonya.”
“Baik, nanti aku bilang pada tuan.”
Bibik beranjak ke belakang sambil membawa nampan. Indras meletakkan catatan bibik begitu saja di atas meja, agar suaminya langsung membaca dan dia tak perlu banyak bicara.
Ketika kemudian selesai mandi dan berganti pakaian rumahan, ia lalu duduk di depan istrinya.
“Ini kopi untuk aku?”
“Ya.”
“Kamu tidak minum kopi?”
“Tidak, untuk hari ini. Sedang pengin minum teh.”
“Baiklah, tidak apa-apa. Lakukan yang terbaik dan yang kamu inginkan.”
“Tentu saja, kamu bisa melakukan sesuka hati kamu, masa hanya masalah makan atau minum saja aku harus bicara sama kamu,” kata Indras, dalam hati.
Ia hanya menatap suaminya yang meraih gelas kopinya, dan menyeruputnya dengan nikmat.
“Kalau masih belum enakan, besok tidak usah kerja dulu. Istirahat di rumah saja.”
Indras hanya mengangguk, lalu meraih lembaran-lembaran kertas yang diletakkan bibik, diberikannya kepada sang suami.
“Catatan dari bibik. Uangnya sudah menipis.”
“Tulisan apa ini? Aku tidak bisa membacanya.”
“Catatan belanjaan, agar kamu tahu.”
“Tulisannya lebih buruk dari tulisan dokter,” kali ini Zein tersenyum. Tidak mengatakan boros, menghambur-hamburkan uang, dan lain-lain. Indras merasa lega.
Setelah menghabiskan kopinya, Zein masuk ke kamarnya. Ketika keluar ia memberikan sesuatu kepada Indras.
“Apa ini?”
“Masa tidak tahu ini apa? Dua kartu ATM aku ini, peganglah oleh kamu, kelola untuk semua kebutuhan.”
Indras menatap dua kartu itu tak percaya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteπ₯π₯ͺπ₯π₯ͺπ₯π₯ͺπ₯π₯ͺ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eSAaCe_33 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π₯π₯ͺπ₯π₯ͺπ₯π₯ͺπ₯π₯ͺ
Alhamdulillah episode 33 Sakitku Adalah Cintaku sdh tayang.
ReplyDeleteSelamat malam dan terimakasih.
Salam SEROJA dan tetap ADUHAI tetap semangat berkarya.
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *SAKITKU ADALA
H CINTAKU 33* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 33 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah indras telah hadir, maturnuwun Bu Tien π semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta, semoga ceritanya happy ending ( akhir cerita yg bahagia)
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Semoga Zein segera sembuh dr sakitnya.....
ReplyDeleteMatur Nuwun mbak Tien yg piawai membuat hatiku gregeten dan mangkel lihat polahnya Zein....
Jd mantuku gt udh tak kremus dr kemarin2 πππ
Salam aduhai dr Surabaya
Sehat2 ya Mbaak kesayangan ππ♥️
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (33)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteApakah dr. Zein tetap baik kalau Indras sehat? Jangan- jangan kambuh.... Terimakasih bunda Tien, salam sehat dan bahagia selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~33 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 33 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Zein lagi bombong atine....Indras merasa tersanjung krn mendapat hadiah kartu ATM dari Zein.
Moga-moga Zein baik hati, tidak hanya Indras dlm kondisi sakit. Waras terus lah...π
Mtr nwn bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat semua ya π€π₯°πΏπ
ReplyDeleteWah,,, ada apa nih kok dr Zein mberikan kartu ATM nya,,,sdh sadarkah
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteZein sudah mulai siuman..
ReplyDeleteApakah Sari sudah siuman juga? Saya ke sana dulu ya Mbak?
Alhamdullulah terima ksih bundaqu..slm seroja dan aduhai unk bundaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Salam sehat semuanya.
Zein sudah mulai berubah....
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteSuwun Bunda Tien, cerbung semakin mantap.