SAKITKU ADALAH CINTAKU 32
(Tien Kumalasari)
Indras masih memejamkan matanya. Zein duduk di tepi pembaringan, dan menatapnya dengan tatapan sendu.
“Selama ini aku tak pernah melihatmu sakit. Apa yang kamu rasakan?” tanyanya lembut.
Indras mendengarnya, ingin menjawab dengan kesal. Tapi ia hanya membatin.
“Tak penah melihatku sakit? Apa yang aku rasakan? Ya Tuhan, apakah suamiku tak punya perasaan?” kata batinnya, miris.
“Ini bukan sekedar sakit. Bukan ragaku saja yang sakit, tapi jiwaku juga. Sakit dan lelah. Kalau tidak mengingat kebaikan yang aku harapkan akan datang pada saatnya, aku sudah berhenti melangkah. Tak peduli apapun, aku harus berhenti. Tapi tidak. Aku tak boleh berhenti. Ada sebuah janji menanti di sana, yaitu kesembuhanmu. Bukan hanya sembuh dari sakitmu, tapi juga sembuh dari kegemaran menyakiti aku. Janji itu aku yang membuatnya sendiri.” lanjutnya masih dalam hati.
Zein kembali membungkuk, mencium kening istrinya. Ini seperti sebuah ciuman yang tulus. Entahlah, Indras tak berani membuka matanya.
Sekarang Zein memegangi tangannya, meremasnya lembut. Tak terasa panas, justru berkeringat.
“Kamu sudah minum obat?”
Zein mengelus kepalanya, kemudian berdiri.
“Aku suruh bibik membuatkan bubur, nanti aku bawa kemari ya,” tanpa menunggu jawaban Zein keluar dari kamar. Tapi ditengah pintu, ponselnya berbunyi. Bukan panggian telpon, tapi notifikasi sebuah pesan.
Indras mendengarnya, tapi perasaannya datar saja. Ia tak peduli apapun. Siapa tahu dengan membiarkannya maka rasa sakitnya akan berkurang.
***
“Dokter, sedang apa?”
Tapi Zein hanya membacanya, lalu langsung beranjak ke belakang, memerintahkan bibik agar membuatkan bubur untuk nyonya majikan.
“Bagaimana keadaan nyonya,” tanya bibik yang merasa khawatir.
“Sedang tidur, sebaiknya kamu siapkan, nanti aku bawa ke kamarnya.”
“Baik, Tuan,” kata bibik yang segera menyiapkan apa yang menjadi perintah tuan majikan.
***
Ketika Zein mau masuk ke kamarnya, notifikasi pesan itu terdengar lagi. Zein menuju ke teras, dan menjawab pesan itu.
“Istriku sakit.”
“Ya ampuun, sakit apa? Kasihan banget. Dokter kebangganku pasti sedih ya?”
“Ya, sedang prihatin. Ada kabar apa?”
“Kabar buruk, Dokter.”
“Kabar buruk apa?”
“Saya sedih, seharian nggak melihat dokter.”
Zein mengirimkan emotikon tersenyum, kemudian mengakhiri percakapan melalui WA itu.
Ketika ia memasuki kamarnya, Indras masih menutup matanya. Ia tidak tidur, tapi ia memperhatikan polah suaminya.
Zein kembali duduk di tepi pembaringan. Tak urung tersentuh juga hati Indras. Bagaimanapun Indras sangat mencintai suaminya. Kalau tidak, ia tak perlu merasa sakit bukan?
Zein terus memegangi tangan istrinya.
Begitu terus sampai bibik masuk ke dalam sambil membawakan bubur pesanan tuan majikan.
“Itu bubur dengan apa?”
“Saya buatkan sup ayam biar nyonya segera merasa segar.”
“Baik, taruh dulu di meja.”
Bibik meletakkan bubur dan sup, serta segelas minuman hangat. Zein merabanya, masih panas. Dia menatap sang istri lagi.
“Ada bubur dan sup ayam, In. Mau makan? Kamu dari tadi belum makan, aku suapin? Mau ya?”
Zein sudah banyak bicara, akhirnya Indras membuka matanya, tapi kemudian berbalik memunggungi suaminya. Zein menarik lengannya, sehingga Indras kembali tertelentang.
“Makan dulu ya. Aku suapin ya? Mau duduk, bersandar saja, atau tetap tiduran?” suara Zein sangat lembut. Itu jauh bedanya dengan ketika sedang marah yang matanya sampai merah dan wajahnya beringas seperti singa lapar.
Wajah lembut itu sangat ganteng. Pantas saja ada dokter cantik yang tergila-gila. Bukankah baru saja mereka masih berbincang walau hanya dengan pesan di ponselnya? Tapi Indras tak ingin memikirkannya. Dengan melepaskan semua beban pikiran ia merasa lebih ringan. Lagi pula ia tak ingin memancing kemarahan sang suami. Setiap kali dia menyinggung perempuan itu, pasti langsung marah, dan kemarahan itu bukan marah yang biasa, tapi luar biasa. Kalau saja mampu barangkali dia akan ditelannya.
“Makan ya? Kok diam terus. Nanti nggak sembuh-sembuh. Ibu dokter harus tahu dong, bagaimana cara menyembuhkan diri sendiri?”
“Aku makan sendiri saja.”
“Aku ambilkan ya.”
“Ambil sendiri saja.”
“Baiklah aku bantu duduk?”
“Duduk sendiri saja.”
Zein tidak marah. Ia hanya duduk agak menyisih supaya istrinya bisa bangkit lebih mudah.
Zein mengambilkan piringnya. Indras menerimanya, tapi dia menyendok sendiri buburnya. Ketika badannya lebih nyaman, ia memang merasa lapar. Zein senang melihatnya. Tapi ia hanya menatapnya karena indras tak mau dibantu.
“Mama sakit?” tiba-tiba suara Sinta memasuki ruangan.
“Tidak, mama hanya lelah.”
“Makan yang banyak, biar hilang lelahnya.”
“Kamu baru pulang?”
“Tadi sudah pulang, lalu keluar sebentar.”
“Istirahat sana.”
Sinta keluar, memasuki kamarnya. Zein masih menunggui Indras makan, lalu membawa piring bekas makannya ke belakang. Bibik melihatnya, lalu tergopoh ke kamar untuk mengambil sisa makanannya.
***
Ia membiarkannya sampai sehari penuh, dan Indras belum mau bicara banyak. Tapi malam hari itu Indras ingin mengeluarkan semua yang selama ini dipendamnya. Semua kekesalannya kepada suaminya, sikapnya yang seperti tidak manusiawi karena menyakiti hatinya berkali-kali. Indras ingin mengatakan semuanya, mumpung sikap suaminya sangat manis seharian ini.
“Sudah merasa lebih baik?”
Mereka berbicara sambil duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
Indras mengangguk.
“Mengapa semalam tiba-tiba pergi, hujan-hujan pula.”
“Tiba-tiba bingung harus berbuat apa. Aku tidak mengerti apa kesalahan aku, tapi kamu selalu menyakiti aku.”
Zein diam beberapa saat lamanya, mendengar seluruh apa yang dikatakan istrinya.
“Aku masih merasa sakit hati. Aku ingin membalasnya tapi tak mampu melakukannya.”
“Aku tidak tahu maksudmu, Zein. Sakit hati kepada siapa?”
“Aku ini orang miskin, orang tuaku miskin, dan ayahmu meremehkan aku, merendahkan aku dan menganggap aku tidak sepadan denganmu.”
Indras sangat terkejut.
“Zein, kejadian itu sudah puluhan tahun lalu. Papa sudah menebus semua kesalahannya dengan berbuat baik kepada keluarga kamu.”
“Tapi luka itu tidak juga sembuh. Barangkali aku akan terus begini, sampai ayahmu datang kepadaku dan meminta maaf.”
Air mata Indras menitik. Sang ayah harus datang kepadanya dan meminta maaf? Indras merasa sakitnya Zein sangat luar biasa, sampai ingin merendahkan orang tuanya sedemikian rupa. Padahal walau tidak terucap, tapi sikap papanya sudah menunjukkan bahwa dia menyesali sikapnya yang telah lalu. Tapi ternyata Zein merasa bahwa itu tidak cukup.
***
Hari itu Indras sudah merasa sehat, dan Zein sudah kembali bekerja. Begitu dia datang, dokter Tyas menyambutnya dengan suka cita.
“Syukurlah, dokter kebanggaanku, kesayanganku, sudah datang,” katanya kemayu. Walau pakaian tidak lagi seronok seperti sebelumnya, tapi gaya dia bicara, apalagi kalau berjalan, masih tampak seperti berusaha memikat.
Zein menyadari hal itu, walau tak terlalu hanyut, tapi siapa yang tidak suka pada pemandangan yang mempesona?
“Kangen ya?”
“Kangen dok Dok, tanpa ada Dokter, semuanya terasa hambar.”
“Benarkah?”
“Masa saya berbohong Dok? Oh ya, bagaimana keadaan dokter Indras?”
“Baik.”
“Sakit apa sebenarnya? Semoga tidak sakit hati,” kata dokter Tyas sambil tersenyum manis.
“Hanya lelah.”
“Namanya suami, pasti Dokter kesayangan saya ini sangat khawatir ya?”
Zein hanya mengangguk.
“Saya jadi ngiri, mengapa bukan saya yang menjadi istri dokter, supaya mendapat perhatian penuh dari Dokter.”
“Apa aku kurang perhatian? Bukankah aku selalu memperhatikan kamu?”
“Iya sih, tapi kan Dokter tidak pernah ada ketika saya kesepian malam-malam. Beda dengan dokter Indras yang selalu Dokter tungguin,” kata dokter Tyas sambil mengerucutkan mulutnya.
Zein tak menjawab. Ia melihat arloji tangannya.
“Saatnya bertugas, pasien Dokter cantik menunggu.”
“Iya, baiklah, nanti ketemu lagi ya,” katanya sambil melenggang pergi.
***
Indras belum masuk kerja. Ia datang ke rumah orang tuanya. Tak urung ia harus mengatakan kepada orang tuanya tentang apa yang sebenarnya dialaminya.
Sambil terisak dia mengatakan keinginan suaminya agar sang papa datang kepadanya dan meminta maaf.
Tentu saja mereka terkejut.
***
Besok lagi ya.
☔⛈️☔⛈️☔⛈️☔⛈️
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eSAaCe_32
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
☔⛈️☔⛈️☔⛈️☔⛈️
Alhamdulillah....
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~32 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 32 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteMatur suwin bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah yg ditunggu sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (32)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteTerima kasih Bu Tien.
ReplyDeleteSemoga Bu Tien sekeluarga sehat selalu
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah.. cerbungnya sdh terbit. Suwun Bu Tien. Salam Seroja..
ReplyDeleteAlhamdulilah cerbung sakitku adalah cintaku 32, sampun tayang ..maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga sll.sehat dan dlm lindungan Allah SWT, salam sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️❤️
ReplyDeleteWeleeh...si Zein kok jadi ngelunjak gitu sih? Masa pak Narya disuruh minta maaf langsung? Padahal peristiwanya sudah berlalu puluhan tahun...apa itu pengaruh penyakitnya ya?π€
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...sehat selalu ya... ππ»πΉ
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Terimakasih bunda Tien. Apakah orang tua Indras bersedia minta maaf kepada Zein? Keinginan yg tidak terduga untuk Indras. Penasaran masih tunggu besok .
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 32 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Zein selain kepribadiannya terbelah, hati nya juga sakit. Penyakit hati ini yang susah obatnya krn sdh bertahun tahun dendam nya tidak surut. Jadi gendheng dia..π