BIARKAN AKU MEMILIH 34
(Tien Kumalasari)
Dwi tiba-tiba merasa badannya gemetar. Katanya tak lagi cinta, tapi berita kecelakaan yang menimpa suaminya membuatnya ketakutan.
“Tabrakan?”
“Tidak. Tampaknya dia mengantuk, atau sedang melamun. Dia menabrak pohon asam besar yang ada di tepi jalan.”
“Bagaimana keadaannya?”
“Luka di kepalanya, tapi sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit. Saya kirimkan alamatnya,” kata si penelpon yang tampaknya sangat tergesa-gesa.
Dwi merasa lemas.
“Ada apa Nyonya?” tanya bibik.
“Mas Anton kecelakaan.”
“Astaghfirullah. Tabrakan dengan apa Nyonya?”
“Tidak tabrakan, mungkin dia mengantuk, atau mungkin sedang melamun, lalu menabrak pohon asam di pinggir jalan.”
“Hadduh, bagaimana keadaannya?”
“Ayo kita ke sana.”
“Tapi Nyonya kelihatan pucat begitu?”
“Tidak apa-apa Bik, aku ingin melihat keadaannya, mudah-mudahan lukanya tidak parah. Ayo, sama Bibik ya.”
“Baik, tapi Nyonya kan baru pulang, trus kelihatannya mual-mual. Sepertinya Nyonya juga kelihatan lemas.”
“Tidak apa-apa Bik, aku sudah minum obat dan sudah lebih baik.”
“Nyonya tidak ganti baju dulu? Bukankah itu baju yang tadi pagi Nyonya pakai?”
“Tidak usah, kelamaan. Kamu saja cepat ganti, aku mau memanggil taksi.”
“Baik.”
Bibik bergegas ke belakang, sambil tersenyum dalam hati. Katanya tidak cinta, baru mendengar kecelakaan saja sudah ribut, bahkan melupakan keadaannya sendiri yang sedang tidak sehat. Kata batin bibik.
Dwi tampak gelisah karena taksi yang dipanggil tidak segera datang. Diluar tiba-tiba hujan sangat deras, hawa dingin menggigit tulang.
Bibik yang sudah selesai berganti baju kembali masuk dan mengambilkan baju hangat untuk sang nyonya majikan.
“Nyonya pakai ini, hawanya dingin sekali.”
“Kok ya tiba-tiba hujan. Padahal seharian panas.”
“Hujan tidak menentu Nyonya, kita harus benar-benar menjaga kesehatan.”
“Benar.”
“Nyonya kelihatan sangat khawatir,” bibik nyeletuk perlahan.
“Tentu saja aku khawatir Bik, namanya kecelakaan pasti mengkhawatirkan.”
“Berarti Nyonya masih menyayangi tuan Anton.”
“Apa?”
Dwi terkejut sendiri atas sikap yang tampak oleh bibik. Memang benar dia sangat khawatir, tapi apakah itu karena dia masih sayang? Dwi membantahnya.
“Tidak, hanya khawatir, siapa bilang sayang? Bukankah dia telah menduakan aku? Tidak, aku tidak sayang.”
Ketika taksi datang, mereka bergegas pergi.
***
Bibik terpontang panting mengejar langkah Dwi yang begitu tergesa-gesa memasuki rumah sakit. Bibik geleng-geleng kepala.
“Bukankah itu kekhawatiran yang tampak dan itu menunjukkan perhatian nyonyaku kepada suaminya? Mengapa membantahnya?” gumamnya sambil terengah-engah.
Badan bibik yang gemuk tidak begitu kuat untuk berjalan cepat, apalagi berlari. Begitu terkejar dan sang nyonya majikan sedang berbincang dengan petugas, bibik segera duduk di kursi sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan telapak tangan.
Dwi mendekati bibik setelah berbicara dengan petugas. Ia duduk di samping bibik, wajahnya tampak tidak tenang.
“Bagaimana Nyonya? Apa kata petugas tadi?”
“Mas Anton belum sadar. Masih ditangani,” katanya pelan.
“Jadi Nyonya tidak bisa menemui?”
“Belum bisa, harus menunggu.”
Bibik yang kebetulan membawa dua botol minuman segera memberikan yang sebotol untuk nyonya majikannya, yang sebotol diminumnya sendiri. Walau hujan sudah berhenti, dan udara dingin disekitarnya, tapi bibik kehausan karena setengah berlari dari halaman rumah sakit.
“Untunglah masih di kota ini, sehingga aku bisa segera menjenguknya,” gumam Dwi.
“Apa Nyonya tidak mengabari ibunya?”
“Aku tidak punya nomor kontaknya. Tidak pernah mencatatnya,” kata Dwi dengan wajah muram.
Dwi memang tak pernah menyimpan nomor kontak mertuanya, karena ia tidak ingin berhubungan dengannya, bahkan sejak awal Dwi dan Anton menikah. Sang ibu mertua tidak menyukai dirinya dengan alasan yang dibuat-buat, bahkan yang terakhir menganggap dirinya tidak akan bisa mengandung.
“Nanti kalau disalahkan bagaimana?”
“Siapa yang akan menyalahkan, memang aku tidak punya.”
Bibik terdiam. Wajah Dwi masih tampak pucat, tapi tidak mengeluh mual, dan bibik bersyukur karena itu.
Ketika perawat membuka pintu, ia memberi tahu Dwi bahwa Anton sudah siuman.
Setengah berlari Dwi masuk ke ruang IGD.
“Tapi hanya sebentar ya Bu,” pesan perawat itu. Dwi hanya mengangguk.
Hati Dwi seperti diremas-remas melihat kepala Anton yang terbalut perban, dan bercak merah darah masih tampak.
“Mas,” panggilnya lirih.
Anton membuka matanya. Bibirnya yang terkatup kemudian terbuka dan menyebut nama sang istri setengah berbisik.
“Dwi ….”
“Mengapa menjadi seperti ini?” kata Dwi sambil memegang tangan Anton yang terasa panas.
“Aku lelah. Lahir batin,” bisiknya lagi.
Dwi tidak menjawab. Tak tega melihat keadaan suaminya yang tampak lemah, bahkan berbicarapun sangat pelan, nyaris berbisik.
“Terima kasih telah datang.”
“Polisi menelpon ketika aku baru saja datang.”
“Apa kamu khawatir?”
“Tentu saja aku khawatir. Keadaanmu sangat mengkhawatirkan.”
“Kamu mengabari ibu?”
“Tidak. Aku tidak tahu nomor kontaknya,” kata Dwi datar.
“Ya sudah, tidak usah.”
“Bagaimana rasanya? Sakit semua?”
“Tidak, sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir.”
Perawat jaga mengingatkan kalau sebaiknya Dwi menunggu diluar, karena pasien tidak bisa diganggu terlalu lama.
“Kamu pulang saja.”
“Aku akan menunggu di luar.”
“Pulanglah, nanti kamu kecapekan, kamu kan sedang hamil?”
Dwi menepuk-nepuk tangan Anton, lalu menciumnya sebelum dia kemudian beranjak keluar.
Ternyata bibik menunggunya di depan pintu sambil berdiri saja.
“Bibik tidak duduk saja di sana?”
“Barangkali saya juga diperbolehkan menjenguk tuan.”
“Aku saja hanya bisa bertemu sebentar, lalu diusir,” gerutu Dwi sambil berjalan ke arah bangku tempat dia menunggu sebelumnya.
“Apakah lukanya parah?”
"Kepalanya dibalut perban. Tadi ketika aku baru datang diberi tahu, bahwa ada perdarahan otak."
“Ya ampun Nyonya, apakah itu parah?”
“Kalau bisa diobati ya diobati, kalau parah harus dioperasi juga.”
“Nyonya kelihatan sangat pucat. Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu? Bukankah besok pagi-pagi kita bisa kembali kemari?”
“Rasanya tidak tega meninggalkannya.”
“Tapi kan kita juga tidak diperbolehkan masuk? Daripada kita duduk di sini, lebih baik pulang saja, besok kemari lagi. Ingat keadaan Nyonya sendiri, kalau Nyonya kemudian jatuh sakit, maka nanti malah tidak bisa kembali kemari.”
Dwi berdiri, menghampiri petugas IGD dan minta agar mencatat nomor kontaknya serta mengabari kalau ada yang diperlukan.
Setelah itu dia memesan taksi dan mengajak bibik pulang.
***
Sesampai di rumah, bibik memintanya agar Dwi makan, lalu meminum obat yang lain, karena tadi yang diminum hanya anti mualnya saja.
“Setelah itu Nyonya harus tidur, karena kemarin Nyonya juga hampir tidak tidur semalaman,” kata bibik.
“Baiklah, sedikit saja, tapi aku ganti baju dulu.”
“Nyonya tidak usah mandi walau dengan air hangat. Segera makan dan istirahat, agar besok bisa bangun dengan keadaan lebih segar.”
Dwi menurut. Ia melupakan masalahnya dengan keluarga Adri, karena keadaan Anton ternyata menyita seluruh rasa di dalam hatinya. Tapi Dwi membantah kalau dikatakan masih menyayanginya. Tidak … tidak, kata batinnya menentang rasa yang sebetulnya ada.
***
Pagi hari itu ketika Adri berangkat ke kantor, Nirmala harus kembali ke kantor cabang karena tugasnya belum selesai. Masih ada yang harus diurusnya. Tapi kali itu Adri meminta agar Tama tidak usah diajak. Nirmala meminta sopir kantor agar mengantarkannya atas saran Adri, karena takut sang istri kecapekan.
Di perjalanan, Nirmala menelpon ke kantor di mana Dwi bertugas. Ia menanyakan apakah Dwi sudah ada di kantornya.
“Belum Bu, sepertinya ada masalah.”
“Ada masalah apa?”
“Sejak dua hari yang lalu beliau tidak masuk ke kantor. Terakhir datang hanya sebentar lalu minta ijin pulang.”
“Sekarang belum datang?”
“Belum Bu.”
Nirmala meminta sopir agar melewati kantor Nirmala, karena sesungguhnya kelewatan, hanya agak berputar sedikit.
Nirmala langsung menuju ke rumah tinggal Dwi karena setelah menelpon katanya Dwi belum datang ke kantor
Ketika Nirmala berhenti di halaman, dilihatnya bibik pembantu keluar dari rumah dan mengunci pintu.
“Mana ibu Dwiyanti?” tanya Nirmala kepada bibik yang terkejut melihat kedatangan tamu pagi-pagi. Ia juga belum pernah melihat Nirmala.
“Nyonya semalam muntah-muntah, lalu saya membawanya ke rumah sakit.”
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien π
ReplyDeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 34" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng sontenπ
Alhamdulillah.....
ReplyDeletePangapunten mBak Tien cerbunge wis tayang.
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 34 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteπ π«π π«π π«π π«
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung BeAaeM_34
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π π«π π«π π«π π«
Alhamdulillah, matur nwn bu Tien, salam sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 34" sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 34 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.
Semoga mendung kelabu yang menyelimuti Anton dan Dwi segera berakhir
Matur suwun bu Tien.
ReplyDeleteTerima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda sekel ππ₯°❤️πΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~34 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulilah
ReplyDeleteSemoga Bu Tien dan keluarga sehat slalu.
Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
ReplyDeleteMks bun ....selamat menunaikan ibadah shalat subuh, dan selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan
ReplyDelete