BIARKAN AKU MEMILIH 33
(Tien Kumalasari)
Anton terkantuk-kantuk di teras. Ia tetap menunggu walau sang ibu sudah pulang terlebih dulu. Bibik membuatkan lagi minum, karena Anton tidak mau makan, walau bibik sudah menyediakannya.
“Kalau begitu Tuan masuk ke dalam saja. Di sini lama-lama dingin. Memang udaranya begini Tuan.”
“Tidak, biar aku di sini saja.”
“Kalau begitu silakan diminum Tuan, mumpung masih hangat.”
“Iya, nanti aku minum.”
“Nyonya itu sebenarnya ke mana ya, seharian belum pulang juga. Saya khawatir karena nyonya tidak membawa obat-obatnya.”
“Obatnya itu obat apa saja Bik?”
“Saya tidak tahu namanya. Kemarin yang mengantarkan ke dokter saya. Kata dokter obat penguat kandungan dan anti mual.”
“Dia sering mual?”
“Sebelum mendapat obatnya, nyonya muntah-muntah terus. Lalu sekarang tinggal mual-mualnya saja.”
“Aku sangat menyesali keputusannya.”
“Saya juga heran, mengapa nyonya berbohong. Pasti tuan marah sekali pada tuan Adri, padahal dia hanya baik, tidak pernah melakukan hal buruk terhadap nyonya.”
“Iya, kami hampir berantem. Walaupun seandainya benar beradu kekuatan, aku pasti kalah, badanku kecil, sementara Adri tinggi besar.”
Bibik tersenyum. Itu benar, seandainya benar-benar berantem pasti tuan Anton hanya akan jadi bulan-bulanan.
“Untung tidak terjadi.”
“Itu karena ketemu kamu, lalu mengatakan semuanya.”
“Iya, Tuan. Untung saya segera datang. Memang kalau berkeluh, nyonya hanya kepada saya, jadi saya sangat tahu apa yang dirasakan nyonya. Setelah mengatakan hal bohong itu, nyonya kelihatan sangat sedih dan menyesal. Semalam tidak mau makan dan tidak tidur. Ee, pagi-pagi malah pergi sebelum sarapan dulu. Saya malah jadi khawatir kalau terjadi apa-apa pada nyonya.”
“Aku juga ingin tahu keadaannya, tapi telponnya mati.”
“Mungkin semalam tidak dicas, jadi mati sehingga tidak bisa dihubungi.”
“Aku juga bingung memikirkannya. Ke mana, kira-kira dia.”
“Pulang kampung, barangkali.”
“Kedua orang tuanya sudah tidak ada. Mana mungkin dia ke sana.”
“Tapi kan ada kerabatnya juga.”
“Memang sih. Tapi aku tidak punya nomor kontak mereka. Hanya saja menurut aku, tidak mungkin dia pulang ke sana.”
“Bagaimana nyonya ini. Membuat orang khwatir saja,” kata bibik sambil berdiri.
“Tuan, kalau capek tiduran saja di kamar. Nanti kalau nyonya pulang kan ya pasti ketemu tuan,” kata bibik sebelum beranjak ke belakang.
“Iya, nanti gampang. Aku minum saja ini, biar badanku anget.”
***
Tapi di perjalanan, mobil Adri mendadak harus berhenti karena jalan yang akan dilewati keterjang banjir.
“Waduh, bagaimana ini Dri?”
“Terpaksa harus muter. Masa harus menunggu banjir surut.”
“Akan lama. Bisa dua atau tiga jam baru sampai rumah.”
“Bagaimana lagi?”
“Padahal di rumah ada tamu menunggu.”
“Mau apa sebenarnya dia?” kata Adri sambil memutar mobilnya.
“Entahlah, mana aku tahu? Mungkin akan meminta maaf pada Adri, sahabat tercintanya ini,” ledek Nirmala.
Mulut Adri cemberut.
“Mana mungkin, kalau harus maaf itu yang dia butuhkan, harusnya dia mencari aku. Tapi dia mencari kamu kan?”
“O, aku tahu. Mungkin ingin minta ijin agar aku merelakan kamu pada dia.”
Sekarang Adri terkekeh.
“Memangnya aku ini barang? Bisa diserah terimakan kepada orang lain begitu saja.”
“Melihat tanda-tandanya, sepertinya dia memang suka pada sahabat masa kecilnya ini.”
“Nggak usah ngomong yang enggak-enggak.”
“Kemungkinan itu ada kan?”
“Kamu kan tahu bahwa aku mencintai kamu?”
“Biasanya laki-laki memang begitu.”
“Apa maksudnya nih?”
“Didepan salah satu perempuan bilang cinta, lalu di depan perempuan lainnya juga mengobral cinta.”
“Kamu kebanyakan nonton sinetron," kesal Adri.
“Tidak, aku tidak pernah nonton sinetron. Tapi kenyataannya memang begitu kan?”
“Aku bukan begitu, tahu”
“Benarkah?”
“Mau belah dadaku ini?”
Dan mbak Rana yang duduk di belakang menahan tawa sambil menutup mulutnya, sementara Tama tertidur pulas di pangkuannya.
Tapi dari kaca spion, Adri melihatnya.
“Tuh, mbak Rana sampai tertawa.”
“Eh, tidak, Tuan.”
“Tidak apa-apa kalau mbak Rana ingin tertawa. Kami ini memang pasangan lucu kok.”
“Yang lucu itu kamu Dri, masa aku kamu suruh membelah dadamu? Kepercayaan itu bukan di dada, tapi di hati.”
“Itu kan ungkapan yang sudah menyebar ke mana-mana. Kalau tidak percaya, belahlah dadaku.”
Nirmala tersenyum lucu. Tapi ia yakin bahwa Adri memang mencintainya. Hanya saja terkadang ulahnya sering membuatnya kesal.
“Nirma, coba kamu telpon Dwi, yang penting kamu tahu dulu apa maksudnya.”
“Iya, lagian sabar nggak dia kalau menunggunya lebih lama? Kita bisa sampai rumah malam kan?”
“Makanya telpon dia.”
“Hm, perhatian amat sih,” ledek Nirmala.
Adri tidak menjawab, tapi mencubit lengan istrinya karena gemas.
“Auuwww, sakit, tahu. Laki-laki kok mencubit. Genit!!”
“Kamu selalu mengejek aku sih.”
“Ya udah, diam dulu, biar aku telpon dia.”
Nirmala menelpon nomor Dwi, tapi lama dan berkali-kali tidak diangkat.
“Kelihatannya ponselnya mati.”
“Ya sudah, mau bagaimana lagi.”
***
Hari sudah sore ketika Dwi bangkit dari ranjang di kamar rumah Nirmala. Ia melongok keluar, sepi tak ada suara, berarti Nirmala belum pulang. Padahal katanya sedang perjalanan pulang. Memangnya pergi ke mana, lama tidak segera sampai ke rumah?
Dwi melangkah keluar, di ruang tengah ia melihat bibik sedang melihat televisi. Perlahan ia mendekat dan duduk di sana.
“Eh, Nyonya sudah bangun. Sudah saya buatkan minum. Ini Nyonya,” kata bibik sambil menunjuk ke arah gelas yang terletak di meja.
“Belum pada pulang ya?”
“Belum Nyonya, apa terjebak banjir ya? Lihat Nyonya, di mana-mana banjir, padahal hujan baru beberapa hari.”
“Iya, benar. Memangnya mereka pergi ke mana?”
“Saya tidak tahu Nyonya. Silakan diminum dulu susunya.”
“Aku tunggu sebentar lagi, kalau tidak pulang juga, aku mau pulang saja.”
“Lhoh, kan sudah kepalang tanggung. Nyonya sudah menunggu lama, mengapa mau ditinggal pulang?”
“Soalnya besok aku sudah harus bekerja Bik.”
“O, begitu? Nyonya mau naik apa?”
“Aku pesan taksi saja.”
“Minumlah dulu, atau mau makan Nyonya, tadi saya sempat memasak, soalnya tuan dan nyonya saya mau pulang.”
“Tidak usah Bik, saya masih suka mual. Lagian tidak membawa obatnya. Ini juga, bibik kasih susu coklat, mudah-mudahan tidak membuat mual.”
Selesai minum, Dwi mengambil ponselnya, yang dimatikan sejak siang. Ia tak ingin menerima telpon dari siapapun, termasuk suaminya yang pasti masih sangat marah.
Lalu ia menelpon taksi. Sekilas ia melihat beberapa panggilan tak terjawab. Tapi ia mengacuhkannya.
Dwi nekat pulang, walau bibik sudah menyarankan untuk menunggunya. Dwi juga sedang gelisah, jangan-jangan Nirmala memang sengaja tidak segera pulang, atau tidak akan pulang sekalian karena ia pasti tidak suka pada dirinya. Karena itu pergi dari rumah Nirmala adalah lebih baik.
“Besok akan aku cari waktu untuk menemuinya. Aku tetap harus menemui dia karena aku sungguh merasa menyesal dan sangat bersalah,” kata batin Dwi dalam perjalanan pulang.
***
Tapi tak selang berapa lama, ternyata Adri dan Nirmala sudah pulang. Nirmala kecewa karena Dwi nekat pulang. Barangkali karena kelamaan pulangnya gara-gara menghindari banjir.
“Tadi juga tidur di kamar tamu Nyonya, saya siapkan makan, tapi makan hanya sedikit, katanya perutnya mual. Bawaan orang hamil kan sering begitu.”
“Bibik tidak menahannya?”
“Sudah Nyonya, dengan segala cara. Tadi dia bersikukuh pulang. Katanya besok harus bekerja, jadi tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Padahal saya tahu dia tidak begitu sehat.”
“Naik apa dia?”
“Tadi pesan taksi.”
“Gimana sih,” gerutu Nirmala yang pastinya kesal karena tidak segera bisa mengetahui maksud kedatangan Dwi.
“Ya sudah, besok saja kamu hubungi dia, tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Adri.
***
Sudah jam sembilan malam ketika Dwi sampai di rumah. Ia segera berteriak kepada bibik untuk meminta obat mual, karena sudah ditahannya sejak tadi, dan perutnya terasa tidak enak, ditambah kepalanya terasa sangat pusing.
Bibik bergegas menyiapkan obatnya dan segelas air putih.
“Nyonya ke mana saja? Membuat saya khawatir.”
“Aku sangat gelisah Bik, aku ke rumah bu Nirmala untuk meminta maaf, tapi tadi tidak ketemu.”
“Tuan belum lama pulang.”
“Tuan? Tuan siapa Bik?”
“Tuan Anton. Tadi pagi agak siang bersama ibunya, nyonya yang galak itu, tapi menjelang sore dia pulang lebih dulu. Tuan Anton menunggu, lama. Saya tawarkan makan tidak mau. Hanya minum. Lalu tiba-tiba ingin pulang. Katanya besok sore mau kemari lagi.”
“Mau apa dia sama ibunya?”
“Paginya ada tuan Adri juga, Nyonya.”
“Adri? Katanya Adri pergi sama anak istrinya.?
“Saya melihat ada yang menunggu di mobil. Mungkin anak dan istri tuan Adri. Entahlah.”
“Bicara apa tuanmu sama Adri?”
“Tadinya ya bicara tidak enak, sedikit keras begitu Nyonya, saya mendengar sedikit ketika saya memasuki halaman sepulang saya dari warung, lalu saya jelaskan semuanya.”
“Semua yang mana?”
“Ya tentang Nyonya yang berbohong. Habis kalau mereka berantem beneran kan saya jadi takut.”
Tiba-tiba ponsel Dwi berdering. Nomor tak dikenal, tapi Dwi mengangkatnya.
“Hallo, apa saya bicara dengan Ibu Dwiyanti?”
“Benar. Ini dari mana?”
“Dari kantor polisi. Suami Ibu kecelakaan.”
“Apa?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah BeAaeM_33
ReplyDeletesudah tayang.
Matur nuwun mBak Tien....
Rak meksa ta, dawuhe isih 'kesel awakku'
Matur nuwun mBak Tien sampun tayang.
ReplyDeleteWis sehat ya Mbak???
Selamat berbuka puasa...
ReplyDeleteAlhamdulillah pun mantun le kesel bu Tien, Barokallah
ReplyDeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 33" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng dalu π
Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~33 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulilah BAM 33 sampun tayang, maturnuwun bu Tien... selamat berbuka puasa ..smg ibu sll sehat dan bahagia serta sll dlm lindungan Allah SWT aamiin yra π€²... salam hangat dan aduhai hai hai bun ππ❤️❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteMks bun.....selamat berbuka puasa......salam sehat
ReplyDeleteSuwun mb Tien π
ReplyDeleteπ°ππ°ππ°ππ°π
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung BeAaeM_33
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π°ππ°ππ°ππ°π
Hatur nuhun bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda sekeluarga ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah,matur nuwun Bunda Tien,mugi tsbsah pinaringan kesehatan yg prima
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 33 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteDikira Minggu ga terbit.
Terimakasih bunda. Sehat slalu
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 33 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.
Hari Ahad selamat santai di rmh bersama amancu nggeh Bunda.
Dwi..Anton butuh perhatianmu ya, tungguin dia di rumah sakit.