Tuesday, February 3, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 52

 HANYA BAYANG BAYANG  52

(Tien Kumalasari)

 

Puspa masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika sang ibu dimakamkan. Wajahnya pucat, matanya sembab. Nugi dan tuan Sanjoyo duduk di sampingnya, menatap iba.

“Aku tahu bagaimana perasaan kamu Puspa. Walau kelihatannya kamu seperti tak peduli, tapi dia adalah ibumu. Ada sesal ketika dia meninggalkan kamu. Jangan sedih lagi, memohonkan ampun atas segala dosanya adalah hal terbaik yang harus kamu lakukan.”

Itu benar, ada sesal yang beragam. Sesal atas kelakuan buruk ibunya, sesal karena harus terlahir dari rahimnya, juga sesal mengapa dia meninggal dalam keadaan papa. Meninggal sebagai seorang pesakitan. Dan itu adalah ibu kandungnya. Apakah dia harus membencinya?

“Puspa, perjalanan hidup manusia tak seorang pun mengetahuinya. Kita seperti orang berjalan, pasti ada sandungan, pasti ada onak dan duri menghalang, dan ada lobang yang terkadang bisa menjerumuskan kita. Tak ada yang mulus dalam kehidupan seseorang. Dan kita harus menerimanya dalam syukur dan ikhlas yang sebenar-benarnya,” lanjut tuan Sanjoyo lembut.

Nugi membenarkan dengan mengangguk-angguk.

Agak terhibur hati Puspa karena mendapat dukungan dari orang-orang yang dikasihinya. Tak lama setelah itu Sekar dan suaminya, dan Suroto juga datang memberinya semangat.

***

Hari yang berjalan terasa begitu cepat. Puspa sudah mulai bekerja kembali, dan mulai bisa menguasai semua yang ditugaskan pada dirinya.

Hubungannya dengan Nugi juga semakin baik, dan keluarga bik Supi mulai mempersiapkan lamaran seperti hal nya kalau anak laki-laki ingin memperistri seorang gadis.

Tuan Sanjoyo begitu bahagia. Ia tidak merasa kecewa walau berbesan dengan pembantunya. Baginya, manusia dinilai bukan dari kekayaannya, tapi dari pekerti dan perilakunya, dan itulah yang membuat manusia memiliki derajat.

***

Hari itu, simbahnya Nugi sedang menghitung-hitung tabungannya dari uang bulanan yang diberikan cucunya. Walau sederhana ia ingin memberikan hadiah untuk calon cucu menantunya. Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu rumah. Simbah bergegas keluar, dan melihat seorang gadis berdiri di depan pintu.

“Mau mencari siapa Nak?” tanya simbah yang belum pernah melihat gadis itu.

“Apakah mas Nugi ada?”

“Lhoh, Nugi masih bekerja, pulangnya agak sore. Ini jam berapa toh? O, iya mungkin sebentar lagi dia pulang.”

“Kalau begitu biar saja menunggu ya Bu.”

“Saya simbahnya Nugi. Panggil saya simbah juga.”

“Oh, baiklah, Mbah.”

“Duduklah, saya buatkan minum.”

“Tidak usah Mbah, saya duduk saja di sini, tidak usah repot-repot.”

"Sampeyan itu temannya Nugi?”

“Iya Mbah.”

“Ya sudah, tunggu sebentar, saya buatkan minum,” kata simbah yang langsung berlalu ke belakang.

Gadis itu Wuri. Ia ingin mengembalikan buku Nugi yang masih dipinjam, dan yang katanya mau diambil oleh Nugi, tapi berbulan-bulan kemudian tidak juga diambil.

Tak lama kemudian simbah keluar sambil membawa segelas teh panas.

“Minumlah dulu. Rumah sampeyan jauh ya?”

“Tidak, saya tadi naik ojol.”

“Maaf, ada keperluan apa sampeyan mencari Nugi?” tanya simbah terus terang, tanpa basa basi.

“Ini Mbah, mau mengembalikan buku mas Nugi yang dulu saya pinjam.”

“O, begitu. Tapi diminum dulu itu, mumpung masih anget. Keburu dingin jadi nggak enak.”

“Terima kasih Mbah.”

Wuri meneguk minumannya.

Tiba-tiba terdengar sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah.

“Itu pasti Nugi.”

“Syukurlah," kata Wuri senang.

 Lama sekali tak ketemu Nugi, ia merasa kangen. Sesungguhnya sejak masih kuliah dan sering bertemu Nugi, Wuri sudah tertarik pada Nugi. Dengan alasan bertanya-tanya tentang mata kuliah, ia bisa mendekati Nugi. Tapi bertahun kemudian ia tak lagi pernah bertemu, sampai kemudian bertemu lagi ketika dia sedang mencari rumah dosennya untuk berkonsultasi, lalu Nugi mengantarkannya. Waktu itu Nugi tampak gembira, dan Wuri merasa bahwa Nugi sangat perhatian padanya. Tapi kemudian entah mengapa, Nugi tidak menepati janjinya untuk datang ke rumahnya, untuk mengambil buku yang dia pinjam. Karena itulah kemudian Wuri datang kerumahnya.

“Assalamu’alaikum,” sebuah sapa dengan suara merdu terdengar. Wuri terkejut. Itu bukan suara Nugi.

“Wa’alaikumussalam, bersama non Puspa?” kata simbah dengan wajah berseri.

Wuri berdebar. Tentu saja ia mengenal nama itu. Puspa, gadis kaya yang sangat cantik, dan dekat dengan Nugi. Dulu ia menganggap tak ada apa-apa diantara mereka, karena ketika pada suatu hari Wuri menggodanya tentang hubungan Nugi dan Puspa, Nugi menjawab bahwa mereka bukan apa-apa karena Nugi anak orang kebanyakan, sedangkan Puspa anak pengusaha kaya. Itulah yang membuat Wuri masih terus berharap.

Ketika Puspa muncul bersama Nugi, hati Wuri menjadi sangat kecil. Mereka datang bersama dengan wajah berseri, dan wajah itu seperti wajah-wajah yang saling mencintai. Sesuatu terasa terbang dari hati Wuri. Harapannya pastilah pupus.

“Ada Wuri?” teriak Nugi dan Puspa hampir bersamaan.

Wuri segera berdiri dan menyalami keduanya.

“Aku hanya akan mengembalikan buku itu Mas, katamu mau mengambilnya, ternyata sampai berbulan-bulan belum kamu ambil juga,” tegur Wuri kepada Nugi.

“Iya, maaf. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi lupa tentang buku-buku itu. Sebenarnya kan tidak apa-apa, aku juga sudah tidak memakainya.”

“Namanya juga dulu aku pinjam, jadi harus aku kembalikan.”

“Baiklah, terima kasih Wuri.”

“Aku akan langsung pulang,” lalu Wuri menyalami simbah, kemudian juga menyalami Puspa.

“Kamu naik apa?” tanya Puspa ramah.

“Naik ojol. Permisi,” katanya sambil pergi dengan cepat.

“Biar diantar Nugi, Wuri,” teriak Puspa.

“Tidak, terima kasih,” teriaknya dari jauh sambil bergegas pergi.

“Nugi, mengapa tidak kamu antar dia? Antarkan saja, kasihan.”

“Dia tidak mau, nanti di jalan malah seperti orang kejar-kejaran. Lagipula dijalan situ ada pangkalan ojol.”

“Kalian dari mana?” tanya simbah sambil menyajikan dua gelas minuman hangat.

“Belanja untuk simbah, besok ketika acara lamaran,” jawab Nugi.

“Apa saja ini?”

“Ada kain dan baju, Puspa tadi yang memilih, semoga simbah suka,” kata Puspa sambil membuka bungkusan.

“Waduuh, ini bagus sekali. Kalau memakai kain ini simbah bisa kelihatan muda,” kata simbah sambil tertawa.

“Itu kembaran sama ibu,” sambung Nugi.

“Coba simbah periksa, apa ada yang kurang, atau ada yang simbah tidak suka.”

“Baiklah, nanti simbah lihat. Sekarang minum dulu tuh, kalian pasti haus," kata simbah.

“Sebentar lagi Nugi harus mengantarkan Puspa pulang, soalnya tadi Nugi yang mengajak Puspa belanja. Selera perempuan tentu berbeda. Nugi tidak bisa memilih.”

“Iya, jadi merepotkan non Puspa,” kata simbah.

“Tidak Mbah, Puspa senang. Nanti kalau ada yang simbah tidak suka, bilang saja, biar Nugi menukarnya.”

***

Hari berjalan dengan sangat cepatnya, setelah lamaran, dua bulan berikutnya tuan Sanjoyo mengadakan pesta yang sangat meriah. Rekan-rekan bisnis, kerabat dan teman dari tuan Sanjoyo serta teman-teman kuliah Puspa dan Nugi juga diundang.

Sepasang pengantin dengan adat Jawa itu tampak bersinar seperti raden Arjuna dan Dewi Lara Ireng. Tampan dan cantik, membuat semua yang hadir terpesona.

Diantara yang hadir, tampak seorang gadis dengan dandanan sederhana menyalami pengantin dengan ucapan selamat. Ada kecewa, tapi bukankah cinta yang tulus akan merelakan orang yang dicintainya untuk hidup bahagia?

“Ada sebuah kenangan manis, ketika kita berdiskusi tentang kuliah aku. Ada harapan saat itu, tapi kita tidak berjodoh. Semoga bahagia,” bisik batin Wuri saat turun dari panggung pelaminan.

Gemuruh tawa dan rona-rona bahagia memenuhi arena perhelatan itu. Ada luka, tapi ada syukur atas kebahagiaan mereka.

***

T A M A T

 

 

Seorang wanita cantik menuding suaminya ketika ketahuan selingkuh.

“Kalau kamu memilih dia, biarlah kita berpisah saja,” katanya kemudian sambil melangkah pergi.

“Aku mencintai kamu, tapi aku juga membencimu!” teriak laki-laki gagah yang kemudian melangkah sempoyongan mengejarnya.

Apa lagi tuh, tungguin ceritanya di “BIARKAN AKU MEMILIH”.

Sampai jumpa.

 

 ***

20 comments:

  1. πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung HaBeBe_52
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘

    ReplyDelete

  2. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 52* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 52 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah HaBeBe_52 sudah tayang.
    Matur nuwun mBak Tien.
    Salam sehat selalu dan selalu sehat, nggih Dhe. Jaga kesehatan. Tetap semangat menghibur para penyemangat.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 52" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu, mugi Ibu & kelg.tansah pinaringan sehatπŸ™

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah Cerbung HBB 52 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
  8. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~52 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah...terima kasih Bu Tien
    Sudah tamat...

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah ....mks bun selamat malam....smg sehat sll

    ReplyDelete
  12. Alhamdulilah..
    Tamat sudah Hanya Bayang Bayang. Cerita yg penuh petuah dan cermin kehidupan . Terimakasih Bu Tien Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta.
    Selamat datang cerbung baru semoga semakin seru.

    ReplyDelete
  13. Mtsw mbakyu, alhamdulillah tamat, sehat selalu agar bisa terus berkarya πŸ₯°

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah.... HBB sdh tayang dan happy endin. Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah.... HBB sdh tayang dan happy endin. Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu.

    ReplyDelete
  16. Matur nuwun Bu Tien atas Hanya Bayang-Bayang-nya. Sabar menanti Biarkan Aku Memilih. Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  17. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 52 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat berakhir pekan nggeh Bunda dengan Amancu.

    Kaciaaan deh Wuri....mengharapkan cinta dari Nugi..ternyata hanya dapat pepeson kosong..😁😁

    Matur nuwun nggeh Bunda Tien...cerbung nya..menghibur kita semua.
    Rahayu...Rahayu Sagung Dumadi.

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 52

  HANYA BAYANG BAYANG  52 (Tien Kumalasari)   Puspa masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika sang ibu dimakamkan. Wajahnya pucat, matan...