Thursday, February 12, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 07

 BIARKAN AKU MEMILIH  07

(Tien Kumalasari)

 

Dwi menatap Adri tak percaya, wajahnya mendadak berseri-seri.

“Adri … ini benar kan? Aku tidak mimpi?” pekiknya riang.

“Masa iya kamu mimpi, aku sudah memanggil namamu tadi. Tidak menyangka juga, kamu yang dikirim dari pusat. Namamu Dwiyanti? Aku tahunya hanya Dwi, tidak tahu kepanjangannya, jadi tidak mengira itu kamu,” kata Adri dengan wajah berseri.

“Aku baru setahun bekerja, aku dipromosikan menjadi manager pemasaran di kantor ini. Tak tahunya kamulah pimpinanku. Ini sangat menyenangkan,” katanya sambil meletakkan map yang dibawanya ke meja Adri.

“Agak lama kita tidak bertemu. Saat aku menikah kamu juga tidak datang. Kenapa?”

“Itu aku sedang kebingungan mencari pekerjaan setelah menikah. Lagipula kamu juga tidak datang ketika aku menikah.”

“Kamu tidak mengundangku, mana aku tahu?”

“Masa? Aku titipkan undangan pada ibumu.”

“Oh ya? Mungkin waktu itu aku sedang bebenah dalam kepindahanku ke rumah baru.”

“Enak ya, sudah jadi pejabat, bisa punya rumah sendiri. Tapi kan kabarnya kamu punya mertua yang kaya raya?”

“Bukan karena mertua aku, aku masih ngontrak. Tidak ingin bergantung kepada mertua.”

“Benarkah?”

“Banyak yang tidak percaya, tapi memang itulah kenyataannya.”

“Bagus sekali. Memang enak memiliki sesuatu yang didapatkan dari hasil keringat sendiri.”

“Kita harus ngobrol nih, ayo pindah duduk di sofa saja, ini lepas dari pertemuan antar pekerja, ini antara teman lama,” kata Adri sambil berdiri, dan mendahului duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

Mereka mengobrol ke sana kemari dengan wajah riang. Mereka adalah teman masa kecil, dan rumah mereka tidak berjauhan. Mereka berpisah ketika sama-sama kuliah di tempat yang berbeda.

Mereka masih terus mengobrol, yang terkadang diselingi tawa gembira. Adri merasa menjadi remaja yang membuatnya menemukan seseorang yang dulu begitu dekat dengannya. Dwi pintar bicara, dan itu sangat menghibur. Hal yang jarang ditemui saat di rumah, dimana istri sibuk bekerja, lalu sibuk mengurus anak ketika pulang kerja.

Biasanya di kantor Adri juga hanya mengurus pekerjaan, mengontrol staf yang menjadi bawahannya, dan itu membuatnya selalu bersikap sangat serius dan terkadang keras.

***

Sepulang kerja, rumah sangat terasa sepi. Istri dan anaknya belum pulang. Seorang pembantu menyiapkan minum dan menata makan siang untuknya, sendiri saja.

Nirmala menelponnya pagi tadi, menanyakan keadaannya dan mengucapkan selamat pagi serta selamat bekerja. Kemudian selesai.

Malam itu Adri sangat lelah, ia merasa kamarnya sangat dingin dan senyap. Seandainya ada teman mengobrol ….

Adri meraih ponselnya, lalu memutar nomor kontak Dwi dengan berdebar-debar, takut ada suaminya di samping Dwi. Jadi ia hanya coba-coba saja. Tak disangka dengan cepat Dwi mengangkatnya.

“Adri?” sapanya dari seberang.

“Eh, apa kamu sendirian?”

“Iya, aku sendirian, kebetulan kamu menelpon, jadi ada teman ngobrol.”

“Suami kamu?”

“Biasa, hampir setiap malam dia pergi dengan teman-temannya.”

“Dugem?”

“Entahlah, katanya sih hanya ngontrol di pos penjagaan itu. Kalau malam ramai sekali di sana.”

“Owh, untunglah, tadi aku takut kalau-kalau suami kamu yang menerima telpon aku.”

“Tidak mungkin, dia jarang di rumah.”

“Bagus, kalau begitu aku juga senang bisa punya teman ngobrol.”

“Istrimu belum pulang?”

“Belum, mungkin beberapa hari. Dia kan bos kecil,” katanya sambil tertawa.

“Senengnya, suami istri sama-sama bos.”

“Terkadang kedudukan itu tidak terlalu penting.”

“Bukankah semua orang selalu ingin punya kedudukan?”

“Benar, tapi yang penting adalah kebersamaan setiap saat.”

“Nah, aku juga berpikir begitu.”

“Senang sekali aku bertemu kamu lagi. Kamu sudah punya anak berapa sih, tadi lupa nanya.”

“Aku belum punya anak. Ingin sekali sih, tapi nggak tahu nih, belum juga dapat.”

“Sabar saja. Aku sih, menikah sebulan, istri langsung hamil.”

“Senengnya.”

Mereka ngobrol sampai larut, dan baru berhenti ketika ada ketukan di pintu depan.

“Suamiku sudah pulang. Sudah dulu ya, dilanjut besok, di kantor.”

Adri meletakkan ponselnya dan menguap, ia menahan kantuk karena mengobrol dengan perasaan senang. Ia memeluk guling di sampingnya, lalu terlelap tak lama kemudian.

***

Seperti biasa, pagi sebelum berangkat ke kantor, Nirmala selalu menelpon.

“Adri, sudah sarapan?”

“Sudah mau berangkat nih.”

“Kamu tidak menanyakan keadaan Pratama?”

“Ya, dia baik-baik saja kan?”

“Semalam badannya anget, tapi sudah aku bawa ke dokter.”

“Mengapa semalam tidak menelpon aku?”

“Menelpon, tapi kelihatannya kamu sibuk. Sedang telponan dengan siapa?”

“Oh, hanya rekan kantor,” katanya tanpa merasa berbohong. Bukannya Dwi adalah rekan kantornya?

“Lalu aku tidak menelpon lagi. Pratama sudah tidak apa-apa. Mungkin kangen sama ayahnya.”

“Tentu saja, kapan kamu selesai?”

“Mungkin sehari dua hari ini aku sudah kembali. Sudah dulu ya, aku segera ke kantor, sopir sudah menunggu.”

Adri meletakkan ponselnya. Sedikit menyesal tidak mendengar berita anaknya sakit karena asyik mengobrol. Tapi ia merasa lega karena katanya Pratama sudah baik-baik saja.

Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Dari Dwi? Ada apa pagi-pagi menelpon?

“Ya, Dwi?”

“Aku nanti datang terlambat, sekarang ada di rumah sakit.”

“Kamu sakit?”

“Tidak, suamiku semalam pulang lalu diare sampai pagi. Barusan aku bawa ke rumah sakit.”

“Oh, salah makan, barangkali?”

“Entahlah, dia kalau pergi-pergi begitu suka jajan sembarangan bersama teman-temannya. Ya sudah, kalau sudah beres aku langsung ke kantor.”

“Semoga suami kamu baik-baik saja.”

“Terima kasih Adri.”

Adri berangkat ke kantor. Tidak seperti biasanya selalu kalau datang dia pasti melongok ke ruang kerja Dwi, kali ini ia langsung menuju kantornya karena tahu kalau Dwi belum datang. Diam-diam Adri berharap saat makan siang nanti Dwi sudah datang, sehingga mereka bisa ngobrol sambil makan di kantin, atau makan diluar seperti kemarin.

Adri heran pada dirinya sendiri, mengapa akhir-akhir ini ia selalu lebih bersemangat berada di kantor. Karena ada Dwi yang ceriwis dan sangat menghibur? Atau karena keceriaan bersama Dwi tidak didapatkan di rumah karena Nirmala selalu sibuk dan sibuk? Padahal Nirmala hanya ingin berbuat baik sebagai ibu rumah tangga. Ia bekerja saat siang, tapi sore dan malam harus selalu ada bersama anak semata wayangnya yang sudah mulai bisa bicara lucu. Hanya saat malam ada waktu buat sang suami, itupun sudah kelihatan sama-sama lelah dan kalaupun berbincang seperti sangat dipaksakan.

***

Dua hari kemudian Nirmala pulang saat pagi benar, dan Adri belum berangkat bekerja. Adri langsung menggendong Pratama dan menciumi pipi gembulnya.

“Kamu habis sakit?”

“Akit,” katanya sambil memegangi kepalanya dengan lucu.

“Lain kali nggak boleh sakit lagi ya.”

“Mmh … “ celoteh lucu yang belum jelas membuat Adri sangat senang. Tapi tidak lama, karena ia harus pergi ke kantor.

“Kamu juga mau ngantor? Tanyanya kepada sang istri.”

“Tidak, aku istirahat dulu hari ini.”

“Ya sudah, aku berangkat dulu,” katanya sambil menyerahkan Pratama kepada sang istri.

Nirmala mencium tangan sang suami sebelum keberangkatannya, lalu ia mencium kening Pratama.

“Bapak pergi dulu ya,” katanya lembut.

“Apaaaaak … “ dan Pratama melambaikan tangan kecilnya dengan lucu.

***

“Nirmala sudah pulang?” tanya Dwi ketika mereka makan siang di kantin.

“Sudah, pagi tadi sebelum aku berangkat kerja.”

“Suamiku juga sudah pulang dari rumah sakit kemarin sore.”

“Syukurlah, aku ikut senang.”

“Semoga kebiasaannya makan sembarangan bisa hilang dengan sakitnya kali itu. Entah apa yang dimakannya, dia keracunan.”

“Kalau mau pergi selalu suruh dia makan, biar kenyang.”

“Suka jajan itu tidak selalu karena lapar Adri, memang pengin jajan, begitu saja. Kan senang kalau banyak temannya lalu ngemil sesuatu yang entah apa. Enak atau tidak bukan masalah, karena tertutup rasa senang itu tadi.”

“Itu sebabnya kamu tidak segera punya anak. Suami sering keluar malam.”

“Begitukah?”

“Mungkin,” kata Adri sembarangan.

“Barangkali memang suami aku terlalu lemah.”

“O … “ Adri tak melanjutkannya. Terasa nggak enak melanjutkan perbincangan ‘terlalu lemah’ itu tadi.

Lalu mereka berbincang tentang hal lain, sampai waktu istirahat usai lalu disibukkan oleh tugas masing-masing.

***

Nirmala tidak berlama-lama tiduran karena lelah. Ia bermaksud membersihkan kamar dan membenahi almari pakaian sang suami yang berantakan. Tampaknya ia sembarangan mengambil baju, tanpa peduli akan kerapiannya. Berbeda kalau Nirmala ada di rumah, setiap hari selalu merapikan kembali almarinya setelah mengambilkan baju sang suami.

Karena berantakan, Nirmala mengeluarkan semua baju untuk ditatanya dari bawah, agar tampak rapi kembali.

Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari bawah alas almari, sebuah amplop. Nirmala memungutnya, dari sebuah rumah sakit. Nirmala membukanya dan matanya terbelalak.

Hasil tes DNA Pratama? Gemetar tangan Nirmala ketika membacanya. Untuk apa tes DNA ini? Pikirnya .

***

Besok lagi ya,

 

 

24 comments:

  1. Alhamdulillah.....
    Sdh tayang gasik.
    Tir nueun mBak Tien.
    Lemah teles.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah.
    Matur nuwun bunda . Semoga sehat slalu
    Aduh Nirmala kaget juga lihat hasil tes DNA. Semoga tidak terjadi apa apa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete

  3. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 07* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  4. 🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung BeAaeM_07
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🌷🌿🌷🌿🌷🌿🌷🌿

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~07 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien 🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🤲

    ReplyDelete
  6. Matur suwun bu Tien . Salam sehat selalu.

    ReplyDelete
  7. Mks bun BAM 07 sdh tayang....selamat malam , salam sehat sll

    ReplyDelete
  8. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  9. Terima ksih bundaqu cerbungnya..slmt mlm dan slm seroja unk bunda sekeluarga🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, nwn bu Tien, Salam sehat selalu

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillaah cerbung " Biarkan Aku Memilih- 07" sudah hadir.
    Terima kasih Bunda Tien, semoga sehat dan bahagia selalu
    Aamiin Yaa Robbal' Aalaamiin🤲

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 07 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah BAM 07 dah tayang, hidup didunia pasti ada cobaan /ujian,...boleh juga dikatakan gangguan, smg rumah tangga Adri dan Nirmala tetap teguh/tegar misal ada godaan... Maturnuwun Bu Tien cerbungnya,ceritanya sll menarik para pembaca,sehat dan bahagia sll Bu..🙏

    ReplyDelete
  15. Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga... Aamiin🤲🤲🤲

    ReplyDelete
  16. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 07" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
  18. Adri meragukan cinta dan kesetian Nirmala. Itu pertanda buruk.
    Permisi mau ketemu Mery...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  19. Lhoo...bukannya Dwi baru masuk kerja kemarin ya, bu? Kok Adri sudah punya 'kebiasaan' melongok ruang kerja Dwi tiap pagi datang ke kantor?🤔

    Btw, terima kasih, ibu terus berkarya. Sehat selalu ya, bu Tien.🙏🏻

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 07

  BIARKAN AKU MEMILIH  07 (Tien Kumalasari)   Dwi menatap Adri tak percaya, wajahnya mendadak berseri-seri. “Adri … ini benar kan? Aku tidak...