BIARKAN AKU MEMILIH 06
(Tien Kumalasari)
Hari berjalan begitu cepat. Pernikahan itu sudah terjadi. Dan Adri sudah bekerja di sebuah perusahaan besar atas hadiah dari ayah mertuanya. Semarah-marahnya orang tua, ia tak ingin sang putri semata wayang hidup dalam kekurangan. Nirmala juga sudah selesai dan bekerja di perusahaan lain.
Bima tidak hadir, baik dalam acara lamaran maupun di acara pernikahan. Ia hanya memberikan selamat melalui ponselnya.
“Ikut bersyukur atas pernikahan kamu, Nirma, aku berharap hidup kamu bahagia.”
Ungkapan singkat itu seperti berisi sesuatu, itulah yang dirasakan Adri ketika ikut membacanya.
“Pasti dia patah hati,” gumamnya pelan.
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu dia mencintaimu, dan pasti sakit hatinya mengetahui kalau kamu sudah menjadi istriku.”
“Mengapa kamu berpikir begitu? Sejak dulu dia selalu baik, dan selalu mendukung aku dalam hubungan kita. Hatinya begitu bersih, jangan menuduhnya yang bukan-bukan.”
Adri diam, tapi bukan berarti dia percaya. Entah mengapa dia merasa bahwa sebenarnya dia kalah bersaing dalam mendapatkan cinta Nirmala, walau sekarang Nirmala sudah menjadi istrinya. Nirmala selalu memuji-muji Bima. Apakah Nirmala juga memuji-muji dirinya di depan Bima? Begitu rumit hati Adri untuk dimengerti, tapi dengan seluruh kesabarannya Nirmala selalu berusaha mengerti. Dia mencintai Adri dengan setulus jiwa, mencintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Mereka sudah memiliki rumah sendiri, dan pak Bondan merasa bahwa anaknya sudah hidup berbahagia. Ia sangat bersyukur.
***
Nirmala senang, Bima sering menelpon. Menanyakan keadaannya, dan Nirmala selalu merasa ada kehangatan ketika mendengar suaranya. Tapi Nirmala sadar, Bima hanya sekedar teman baik. Tak ada cinta, karena cinta sepenuhnya ada pada Adri, sang suami.
Tapi ternyata Adri memantau setiap langkah Nirmala, dan memperhatikan saat mereka sedang bertelpon. Memang Nirmala tidak pernah menutupinya, dan merasa biasa saja ketika bertelpon dengan Bima, tanpa takut dituduh selingkuh karena mereka memang tidak berselingkuh.
Namun Adri menerima semua itu sebagai pengkhianatan.
Ketika anak pertama mereka lahir, bahkan Adri dengan diam-diam melakukan tes DNA, apakah Pratama, anak sulungnya benar-benar darah dagingnya atau bukan.
Ia baru bisa menerima ketika tes DNA itu mengatakan bahwa Pratama benar tetesan darahnya.
Nirmala tidak mengetahui masalah itu. Ia senang Adri begitu menyayangi Pratama, padahal saat lahir dia kelihatan sangat acuh.
“Wajah Pratama ini mirip wajahku bukan?” katanya ketika sedang menimang anak pertamanya di suatu sore.
“Tentu saja, kamu kan ayahnya, masak mirip tetangga?” seloroh Nirmala.
“Siapa tau kecipratan wajah tetangga,” jawab Adri seenaknya.
“Memangnya air, bisa nyiprat?”
“Jangan marah, aku kan hanya bercanda?”
“Aku tidak marah, aku juga jawabnya bercanda kan?”
Adri hanya tersenyum, kemudian memberikan Pratama kecil ke pangkuan Nirmala, yang kemudian membawanya masuk ke kamar untuk ditidurkan.
“Oh iya, aku lupa bilang, minggu depan aku ditugaskan ke luar kota,” kata Nirmala setelah kembali.
“Minggu depan?”
“Iya, ada cabang baru yang membutuhkan penanganan, aku dipercaya untuk ke sana.”
“Bagaimana dengan Pratama?”
“Pratama aku ajak saja, bersama mbak Rana, jadi dia akan tetap bisa minum ASI.”
“Lama perginya?”
“Semoga tidak, segera setelah selesai aku pasti pulang.”
“Asal jangan lupa sama aku.”
Nirmala terkekeh.
“Bagaimana aku bisa melupakan suami aku yang ganteng dan baik hati ini?” katanya sambil bersandar di dada sang suami.
Adri mengelus kepala Nirmala. Sesungguhnya ia bahagia memiliki Nirmala, gadis yang sudah lama dicintainya. Tapi ia seorang pencemburu berat. Hanya saja dia selalu menyembunyikan kecemburuan itu karena ada rasa tinggi hati, dan karenanya ia malu mengakuinya.
“Aku akan menelpon kamu setiap hari selama di sana nanti.”
“Awas ya, jangan sampai tidak.”
“Aku janji.”
Adri hanya mengangguk sambil mempermainkan anak rambut Nirmala yang tergerai di dahinya.
“Besok ke rumah bapak ya?”
“Mengapa ke sana?”
“Aku harus pamit dong, sama bapak sama ibu. Nanti kalau tidak pamit, mereka mencari Pratama, bagaimana?”
“Ya sudah, pergilah sendiri, aku sedang ada pekerjaan, mungkin harus pulang malam.”
“Ya sudah, aku sendiri saja sama mbak Rana. Paling juga nggak lama, sekedar bapak sama ibu tahu.”
“Baiklah, terserah kamu saja”
***
“Apakah kamu bahagia?” itu adalah kata pertama yang dilontarkan sang ayah ketika Nirmala datang bersama anaknya.
“Seperti janji Nirmala, kami bahagia.”
Pak Bondan tersenyum, sementara bu Bondan menggendong Pratama yang sudah bisa mengoceh lucu.
“Syukurlah. Senang bapak mendengarnya.”
Nirmala menatap sang ayah yang semakin tua, tapi tampak masih sehat dan bersemangat.
“Aku tahu kamu akan bertugas keluar kota minggu depan.”
“Iya, Nirmala yakin Bapak sudah tahu, karena semua perusahaan di mana kami bekerja adalah dibawah kendali Bapak.”
“Kelak kamu yang bisa menggantikannya.”
“Nirmala masih selalu mohon bimbingan Bapak.”
“Kamu sudah pintar, suami kamu juga tidak mengecewakan. Bapak senang kalian bekerja dengan baik.”
“Nirmala tetap masih harus banyak belajar,” kata Nirmala merendah.
“Bapak percaya kamu bisa.”
“Karena ada Bapak kan?”
“Kenapa kamu tidak datang bersama suami kamu?”
“Adri bekerja sampai malam, Nirma tidak mau membawa Pratama bepergian terlalu malam.”
“Nirmala, ayo makan dulu, sudah saatnya bapak makan juga,” kata bu Bondan dari arah belakang.
“Pratama mana?”
“Itu, digendong Rana, kelihatannya mengantuk.”
“Baiklah, ayo kita makan Pak,” kata Nirmala yang langsung menggandeng tangan ayahnya menuju ruang makan.
***
Sore itu sebenarnya Adri sudah ada di rumah. Dia hanya segan sering-sering pergi ke rumah mertuanya, karena selalu merasa rendah di hadapannya. Ia tahu bahwa yang memberi pekerjaan dan kedudukan yang mapan di perusahaan adalah ayah mertuanya, dan karena itu ia merasa sungkan. Ia selalu rendah diri, dan merasa menjadi beban, padahal sang mertua selalu menyambutnya dengan baik di setiap kedatangannya.
Tiba-tiba ia mendengar ponsel berdering. Itu dering ponsel milik Nirmala. Rupanya Nirmala lupa membawa ponselnya.
Adri mendekat, dan melihat siapa yang menelpon. Ada foto Bima terpampang di layar ponsel itu.
Adri mengangkatnya.
“Apa kabar Nirmala,” sapanya dari seberang.
“Nirmala sedang pergi.”
“Oh, Adri ya? Apa kabar Adri?”
“Baik, Nirmala juga baik. Ada perlu apa?” tanyanya dingin, dan Bima merasakannya. Tapi nada suara Bima tidak berubah, tetap ringan dan ramah.
“Aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku akan bertunangan Minggu depan.”
“Oh, baiklah, nanti akan aku sampaikan kalau Nirma sudah pulang.”
“Aku harap kalian datang.”
“Semoga aku bisa, tapi aku tidak janji.”
“Baiklah, aku hanya ingin mengabarkan berita itu, nanti hari dan jamnya serta tempatnya akan aku kirimkan lewat WA.”
”Akan aku sampaikan.”
“Terima kasih Adri, datang ya,” kata Bima sebelum menutup ponselnya, dan Adri tidak menjawabnya.
Ada perasaan tak senang ketika Adri meletakkan ponselnya. Ia selalu merasa kalah dibanding Bima. Entah mengapa, biarpun dia sudah memiliki Nirmala, tapi perasaan tak sukanya pada Bima masih belum terhapus dari hatinya.
Bahkan ketika Bima mengatakan bahwa dia akan bertunangan.
Wajahnya muram ketika tak lama kemudian Nirmala pulang. Ia tak menyapa Pratama yang tertidur dalam gendongan Rana.
“Ternyata kamu sudah pulang?”
“Nggak jadi lembur, aku capek.”
“Adri, ponselku ketinggalan ya?”
“Tuh, di meja.”
“Syukurlah, aku kira jatuh di mana … gitu.”
“Tadi ada yang menelpon.”
“Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan dia.”
“Dia siapa sih?”
“Bima.”
“Kamu mengangkatnya? Dia bilang apa, biasanya hanya menanyakan kabar.”
“Dia mau bertunangan.”
“Oh ya?” wajah Nirmala berseri.
“Tapi belum jelas hari dan jamnya, nanti akan mengabari lagi. Telpon saja kalau kamu mau menelpon.”
“Nggak usah, kalau perlu mengabari pasti dia mengirim chat atau menelpon lagi. Aku capek. Kamu sudah makan?”
“Sudah. Kelamaan menunggu kamu.”
“Maaf ya, tadi ibu juga menyuruh aku makan, tapi akan aku temani kalau kamu belum makan.”
“Aku sudah makan.”
“Ya sudah, aku ganti baju dulu,” kata Nirmala yang sesungguhnya tahu bahwa Adri tak suka pada Bima.
***
Sudah dua hari Nirmala pergi ke kantor cabang ayahnya, dan menepati janjinya untuk menelpon sang suami setiap hari.
Pagi hari itu Adri kedatangan seorang pegawai baru, yang katanya dikirim dari kantor pusat. Ia mengetuk pintu dan masuk ketika dipersilakan, dan Adri terkejut ketika tahu siapa pegawai baru itu.
“Dwi?”
“Ternyata Adri?” pekik Dwiyani, pegawai baru itu.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteMatur suwun Bu Tien.
ReplyDeleteSami2 Yang tie
DeleteSuwun mb Tien
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteSlmt mlm bunda..trima ksih cerbungnya..slm sht sll unk bunda sekeluarga ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salam sehat juga
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 06* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteAlhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 06" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng dalu
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun pak Bam's
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteMatur nuwun mBak Tien, RDBW epusode 6 sudah dihadirkan. Critane semakin gayeng diikuti. Sehat terus dan terus sehat nggih mBak Tien, ugi kagem mas Tom.
ReplyDeleteTetap ADUHAI
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek. Doa sama kagem mas Kakrk n jeng Ning
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 06 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri.
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
Deleteπͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung BeAaeM_06
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·πͺ»πͺ·
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteWaah...Adri cintanya posesif ya...gawat deh! Mana sudah muncul tokoh baru si kawan lama...bakalan gonjang-ganjing rumah tangga Nirmala nih...π
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...semoga sehat & sukses selalu.ππ»ππ»ππ»
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Nana
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~06 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah. Aduhai hai hai
DeleteAlhamdulillah BAM telah hadir, maturnuwun Bu Tien, tetap sehat dan bahagia bersama Kel tercinta.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteMks bun BAM 06 sdh tayang....selamat mlm smg bunda beserta kelrg sll sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Supriyati
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 06 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Sifat Adri yang cemburu berat belum berubah nih, padahal Nirma sdh menjadi isterinya.
Nirma yang ramah tamah dan tidak sombong, tetapi Adri terkesan sombong dan ingin mengatur semuanya.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 06 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteTerima kasih Ibu Tien epsd 6 telah muncul, semoga Ibu Tuen sehat sehat dan tetap berkarya
ReplyDeleteApa nama penyakit Adri yang selalu merasa rendah diri dan mengira orang lain akan mengambil miliknya?
ReplyDeleteSikap seperti ini bisa berbuah selingkuh. Apa lagi sudah ada peluang, ada Dwi yang datang...
Terimakasih Mbak Tien, mau nengok Mery, semoga Rahman tak cemburu ke saya. Emangnya Rahman seperti Adri?
Apa perlu Adri di-Guntur-kan?
ReplyDelete