BIARKAN AKU MEMILIH 05
(Tien Kumalasari)
Nirmala menundukkan wajahnya dengan hati yang menciut. Ia merasa lancang karena berani mengatakannya. Tapi dia memang harus berani. Apapun itu adalah kehidupannya. Baik atau buruk nantinya, Nirmala sudah siap menerimanya.
Bu Bondan menatap suaminya dengan khawatir. Ia tahu sang suami marah sekali, tapi ia tak berani mengatakan apapun.
“Kamu sadar apa yang kamu katakan?” akhirnya kata pak Bondan keras.
Nirmala mengangkat wajahnya. Ada air mata mengambang di pelupuknya.
“Nirma sangat mencintai dia,” katanya dengan suara gemetar. Pak Bondan membelalakkan matanya semakin lebar.
“Kamu tahu kalau aku tidak suka pada pilihanmu itu bukan?”
“Ijinkan Nirma memilih jalan hidup Nirma.”
“Apa kamu tahu bahwa orang tua itu hanya menginginkan kebahagiaan dalam hidup anaknya? Apa kamu yakin bahwa kamu akan bahagia hidup di sampingnya?”
Nirmala menatap sang ayah. Sebutir permata bening jatuh dari mata indahnya.
Apakah dia akan bahagia? Apakah sebuah cinta akan selalu membuahkan kebahagiaan? Nirmala tidak tahu. Tentu saja dia tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti apabila dia berpegang teguh pada keinginannya.
“Apa jawabmu?”
Nirmala masih tetap diam, sekarang ia menundukkan wajahnya.
“Nirma, kalau kamu memutuskan sesuatu, bukankah kamu sudah memikirkan baik dan buruknya? Juga akibatnya?” sambung sang ibu.
“Kalau kamu nekat, dan kamu merasa bahwa nanti hidup kamu akan bahagia, lakukanlah,” akhirnya kata sang ayah.
Jawaban itu sesungguhnya tidak membuatnya senang. Ia sedang dinilai oleh ayahnya, apakah dia sanggup menerima apapun yang terjadi kalau ia nekat dalam keinginannya.
Ia mengangkat wajahnya, tapi sang ayah sedang memalingkan muka. Nirmala merasa, sang ayah sedang melepaskan kepalanya tapi memegangi ekornya. Tetap saja dia tak bisa bergerak.
“Apa lagi yang kamu tunggu?” katanya lagi, tanpa menatapnya.
“Ap … pa?” Nirmala menjawab linglung.
“Kelihatannya keinginan kamu tidak bisa dihalangi. Kamu bukan piaraan yang kalau aku tak ingin piaraan itu terlepas, maka aku masukkan saja di dalam kandang agar tidak kabur. Kamu manusia, anakku, yang aku cintai dengan segenap jiwa ragaku. Bagaimana aku bisa menghalangimu?”
Nirmala runtuh ke lantai, mendekati sang ayah lalu merangkul kedua kakinya sambil berurai air mata.
“Apa maksudmu dengan ulah ini? Jangan membuat hatiku luluh karenanya. Hati orang tua sudah luluh tanpa kamu mencium kakinya. Dan satu yang harus kamu ingat, berjanjilah untuk hidup bahagia,” kata sang ayah dengan suara bergetar.
Tangis Nirmala semakin menjadi-jadi. Sang ibu menarik tubuhnya dan merangkulnya.
“Kamu tahu artinya? Ayahmu mengijinkannya," katanya lembut.
Nirmala merangkul ibunya. Tangisnya masih belum reda. Mengijinkannya tapi tak rela, bukankah itu yang terjadi?
Sang ibu mendudukkan Nirmala di sampingnya.
“Kalau Bapak tidak setuju_”
“Tidak, aku setuju. Apapun yang kamu inginkan,” kata sang ayah lebih tenang.
Nirmala tenggelam dalam tangis untuk beberapa saat lamanya.
“Katakan pada dia, kapan saja dia boleh datang menemui aku,” kata sang ayah pada akhirnya.
***
“Bagaimana? Bukankah ayahmu tidak mengijinkan aku melamarmu? Aku tahu aku ini miskin, dan ayahmu memandang rendah diriku,” kata Adri dalam suatu kesempatan bertemu.
“Tidak, bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Bapak tidak menolak, datanglah kapan saja untuk melamar.”
“Aku baru magang di sebuah perusahaan, tapi aku ingin segera punya istri, yang mau hidup sederhana bersamaku. Apa kamu mau?”
Nirmala mengangguk.
“Bapak mempersilakan kamu dan keluarga datang kapan saja.”
“Benarkah?”
“Masa aku bohong.”
“Tapi wajahmu tidak tampak bahagia.”
“Bukankah aku selalu senyum sejak berbicara denganmu?”
“Senyum itu bukan selalu berarti bahagia. Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Apa sebenarnya yang dikatakan oleh ayahmu?”
“Bapak bilang, kalau aku yakin bahwa aku akan bahagia, bapak mengijinkan aku menjalaninya.”
“Bapakmu ragu, karena aku miskin?”
“Tidak. Bahagia bukan tentang kaya dan miskin. Berjanjilah untuk menjagaku dan melindungi aku.”
“Bukankah kamu tahu bahwa aku sangat mencintai kamu?”
Nirmala tersenyum. Ia tahu Adri mencintainya, dengan caranya, dan Nirmala senang menerimanya. Bukan karena cinta itu buta, tapi karena suara hati mengatakan bahwa dialah jodohmu, dan Nirmala meyakininya. Barangkali dia salah, tapi tampaknya Nirmala siap menerima apapun yang akan menimpanya. Suka, duka, bahagia, apapun.
***
Malam itu Bima menelponnya dengan suara renyah.
“Nirma, aku bahagia mendengar Adri akhirnya melamar kamu.”
“Dari siapa kamu dengar?”
“Dari pak Bondan, kapan itu?”
“Belum, tunggu saja, nanti aku undang kamu sebagai salah satu keluargaku.”
“Kapankah?”
“Dalam waktu dekat. Pastinya bulan ini, kamu siap ya.”
“Sayangnya minggu depan aku berangkat ke luar negri.”
“Minggu depan?”
“Ya, ada pekerjaan di sana.”
“Yaah, Bima, aku kangen dong.”
Bima tertawa.
“Senang dong dikangenin oleh kamu.”
“Itu benar Bima, kamu sahabat terbaikku. Bahkan melebihi saudara bagiku. Aku akan kehilangan kalau kamu jauh dari aku.”
“Aku berjanji akan sering menelpon kamu. Tapi aku ikut berbahagia atas kebahagiaan kamu.”
“Bima, tahukah kamu bahwa bapak sesungguhnya tidak menyetujuinya?”
“Ya, aku tahu. Tapi akhirnya mengijinkan.”
“Aku tahu tidak sepenuh hati.”
“Berbahagialah, maka orang tua juga akan ikut bahagia.”
“Aku akan bahagia. Adri laki-laki baik yang akan bisa melindungi aku.”
“Syukurlah. Senang mendengarnya. Pokoknya aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu.”
“Terima kasih Bima, besok kalau aku menikah kamu datang ya.”
“Aku usahakan, tapi tidak janji. Apakah kalian akan secepatnya menikah?”
“Maunya Adri begitu, tapi belum jelas juga, dia dan keluarganya baru akan datang, kemungkinannya juga sekalian membicarakan masalah hari pernikahan.”
“Pasti meriah, semoga aku bisa datang.”
“Aku ingin yang sederhana saja. Tidak pernikahan mewah seperti yang kamu bayangkan. Yang penting kan resmi.”
“Bapak tidak akan melakukannya. Kamu satu-satunya putri bapak, masa menikah sederhana?”
“Entahlah aku diberi ijin saja sudah senang. Aku hanya berharap kehidupanku nanti tidak membuat ayah ibuku kecewa.”
“Aku akan selalu mendoakanmu.”
“Terima kasih Bima.”
Pembicaraan itu ditutup dengan luka mendalam di hati Bima. Nirmala yang dicintainya akan menikah dengan laki-laki pilihannya. Ternyata janji pak Bondan untuk menjadikannya menantu tidak bisa menjadi kenyataan karena sang putri memilih laki-laki lain.
“Semoga kamu bahagia, seperti keinginan orang tua kamu,” bisik Bima lirih ketika meletakkan ponselnya.
Sementara itu Nirmala merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sambil membisikkan sebuah kata maaf untuk Bima.
“Kamu laki-laki yang baik, tapi aku tidak mencintaimu. Maafkan aku, Bima. Semoga kamu menemukan gadis yang lebih baik dari aku.”
***
Ada kesibukan di rumah Adri. Bagaimanapun sebuah lamaran harus dipersiapkan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan gadis atau keluarga gadis yang dilamar.
Adri tampak biasa-biasa saja walau ibunya sibuk mengatur. Ia sudah bekerja magang di sebuah perusahaan, jadi tidak begitu memperhatikan apa yang dipersiapkan sang ibu. Pastinya menunggu hari libur mereka baru akan ke sana.
“Tidak usah terlalu repot Bu, mereka orang kaya, tidak butuh semua itu,” katanya enteng.
“Ya jangan begitu, biar kita miskin, kita bawakan yang bagus. Hanya buah-buahan yang ditata seperti parsel, tapi ibu pilihkan yang mahal. Biar pantas.”
“Mereka tidak butuh semua itu, sudah pada sering makan.”
“Adri, diamlah. Kamu selalu usul yang sangat membuat ibu kesal. Kamu diam dan tinggal ngikut ibu dan keluarga yang akan datang ke sana,” kata sang ibu kesal.
***
Dan hari yang sudah ditentukan itu akhirnya datang juga. Acara lamaran yang sukses membuat Adri senang. Tapi hati kecilnya mengatakan bahwa senyum pak Bondan dibuat-buat, terlihat kaku dan hambar. Adri tetap mengira bahwa pak Bondan tidak sepenuhnya menyukai dirinya menjadi menantu.
Rasa kecewa itu terus disimpannya di dalam hati. Bahkan ketika tiba-tiba pak Bondan menyerahkan sesuatu yang berbentuk seperti sebuah kotak.
“Ini untuk kamu,” kata pak Bondan singkat.
Adri heran, mengapa dalam lamaran justru calon mertuanya memberikan hadiah. Walau begitu dia mengucapkan terima kasih.
***
Adri membuka kotak kecil pemberian pak Bondan, sang ibu menungguinya karena dia juga penasaran.
“Apa ya isinya? Mengapa dia justru memberikan hadiah untuk kamu?”
“Paling isinya uang. Dia kan mengira kita miskin, jadi diberinya kita uang biar senang.”
“Adri, kamu jangan sinis seperti itu. Apapun yang diberikan, harus kamu terima dengan senang hati.”
Tapi kemudian Adri heran. Isinya sebuah surat panggilan kerja di sebuah perusahaan besar.
“Apa itu?”
“Surat panggilan kerja dari perusahaan besar. Ini luar biasa,” gumam Adri dengan wajah datar.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 05" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu๐
ReplyDeleteSami2 pak Sis. Sugeng dalu
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 05 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐๐ฉท๐น๐น
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah....
ReplyDeletePa Sis Gunarro paling cepat larinya jemput Nirmala.
Matur nuwun mBak Tien, dalam SEROJA dan...
Tetap Semangat tetap sehat serta tetap ADUHAI ๐ช๐ค๐๐น
Sami2 mas KKek. ADUHAI
DeleteAlhamdulillah ๐,๐ฆ๐
ReplyDelete๐๐๐๐๐๐๐๐
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐
Cerbung BeAaeM_05
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ๐๐ฆ
๐๐๐๐๐๐๐๐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~05 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..๐คฒ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun pak Djodhi
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun bunda. Sehat slalu
Sami2 bapak Endang
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteTerimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien bersama keluarga tercinta....
ReplyDeleteSami2 ibu Komariah. Salam sehat juga
DeleteMatur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni. Salam sehat juga
DeleteTerima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll dri skbmi unk bunda๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salam sehat juga
DeleteAlhamdulillah,BAM telah tayang, ..
ReplyDeleteBagaimanapun ortu tetap sayang dan perhatian thd anaknya dng caranya sendiri, semoga Adri tetap setia,cinta dan tanggung jawab selamanya pd Nirmala,, Maturnuwun Bu Tien,salam sehat dan bahagia bersama Kel tercinta
Sami2 ibu Tatik Salam sehst bahagia
DeleteAlhamdulillah, suwun mb Tien ๐
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillaah " Biarkan Aku Memilih - 05" sudah hadir.
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, semoga sehat dan bahagia selalu.
Aamiin๐คฒ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun ibu Ting
DeleteAlhamdulillah, tr nwn bu Tien
ReplyDeleteSami2 pak Bam's
DeleteAlhamdulillah...
ReplyDeleteNuwun ibu Swissti
DeleteImajinasi Mbak Tien memang luar biasa...
ReplyDeleteMbak Tien punya otak dua dan hati dua...
Terimakasih Mbak Tien mau jenguk Mery di Rumah Sakit...
Hahaa.. bisanya itu lho prof
DeleteAlhamdulillah....mks bun BAM 05 sdh tayang...smg bunda dan kelrg sll sehat....selamat malam
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun ibu Supriyati
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 05 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat berakhir pekan nggeh Bunda Tien
Pak Bondan...saiki jamane Kebo nusu Gudel...lho....he...he.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Mstur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU KEMILIH 05 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐คฒ๐⚘๐ท
ReplyDelete