Monday, February 9, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 04

 BIARKAN AKU MEMILIH  04

(Tien Kumalasari)

 

Pak Bondan mengomel panjang pendek, sambil masuk ke dalam rumah. Sang istri yang keluar dari belakang heran melihat sang suami seperti orang marah-marah.

“Bapak kenapa?”

“Lihatlah anakmu. Tiba-tiba pergi sama pecundang itu.”

“Pecundang siapa?”

“Pagi-pagi begini Adri datang, kemudian Nirmala pergi bersamanya. Siapa yang tidak marah?”


”Bapak tidak melarangnya, malah memilih marah-marah.”

“Bagaimana aku melarangnya? Nirmala sudah menyambutnya dan mengatakan bahwa ada urusan atau apa itu tadi, jadi mau ke kampus pagi-pagi. Lagi pula mereka bukan teman setingkat kan?”

“Mungkin memang ada urusan.”

“Tapi aku tidak suka Nirmala berangkat bersama Adri. Tadi kan Nirmala bilang bahwa akan ke kampus siang, tapi setelah Adri datang tiba-tiba akan ke kampus pagi. Padahal dia belum sarapan juga kan?”

“Ya sudah, pagi-pagi jangan marah-marah, nanti tensinya naik. Kalau dia butuh sarapan pasti juga akan makan di kantin kampus. Dia sering begitu kalau tergesa pergi.”

“Ibu itu memang selalu membela Nirmala. Sudah tahu jalannya salah, harusnya diberi tahu.”

“Mereka kan hanya berteman, bagaimana melarangnya? Biarkan sajalah Pak, Nirmala bukan anak kecil, dia sudah tahu mana yang dilakukannya itu baik atau buruk. Kalau buruk dia pasti juga berhenti dengan sendirinya.”

“Aku merasa bahwa Adri itu bukan laki-laki yang baik. Aku hanya ingin anak kita bahagia.”

“Kita doakan saja agar anak kita baik-baik saja. Ayo sarapan dulu, sebentar lagi mau ke kantor tapi Bapak belum sarapan.”

“Nafsu makanku hilang tiba-tiba.”

“Jangan begitu Pak, kalau tidak makan pagi Bapak tidak konsentrasi saat bekerja.”

Dan akhirnya pak Bondan mengikuti sang istri ke ruang makan.

***

Ternyata Adri mengajak Nirmala memasuki sebuah warung makan.

“Maukah menemani aku sarapan?”

“Aku sudah mengikuti kamu, pastinya aku maulah.”


”Kamu sudah sarapan?”

Nirmala menggelengkan kepalanya. Ia merasa lega wajah Adri tidak lagi sangar seperti kemarin ketika dia datang ke rumahnya.

“Pesanlah apa yang kamu suka.”

“Aku ngikut kamu saja.”

“Aku cuma mau nasi pecel.”

“Kalau begitu aku juga.”

“Minum tehpanas?”

Nirmala mengangguk.

“Maaf kalau tadi bapak mengatakan hal yang membuat kamu tidak senang,” kata Nirmala sementara Adri memesan makan dan minum.

“Aku sudah tahu kalau orang tua kamu tidak suka padaku.”

“Sebenarnya tidak. Mungkin timingnya yang kurang tepat, hari masih pagi.”

“Bukankah terkadang kamu juga kuliah pagi?”

“Ya, tapi aku terlanjur bilang akan ke kampus agak siang. Ya sudahlah, tidak usah dibahas. Tumben kamu datang pagi-pagi ke rumah?”

“Ingin makan bareng kamu,” katanya singkat.

Senyum itu sangat menenangkan hati Nirmala. Barangkali itulah cara Adri meminta maaf atas perlakuannya kemarin. Tak ada kata maaf yang terucap, tapi sikapnya sungguh menawan. Ia juga tak tampak sakit hati ketika Nirmala mengingatkan sikap ayahnya yang tidak menyenangkan.

“Kemarin itu_”

“Jangan bicara tentang kemarin,” kata Adri memotong perkataan Nirmala. 

Menurut Adri apapun yang akan dikatakan Nirmala, ia tak akan peduli. Pasti Nirmala sudah menyiapkan jawaban mengapa kemarin tidak datang pada waktu yang dijanjikan, atau mengapa dia tiba-tiba kedapatan pergi dengan seorang laki-laki ganteng. Dan sebuah alasan hanya diungkapkan karena ia ingin dirinya memaafkan dan mengerti. Tidak, Adri tidak ingin mendengarnya. Sekarang ia hanya ingin tahu, siapa laki-laki itu, yang kemudian ditanyakannya sambil menyuap makanan yang sudah terhidang.

“Namanya Bima Adidarma. Dia anak sahabat ayahku.”

“Ada hubungan istimewa antara kamu dan dia?”

“Istimewa sih tidak, dia hanya sahabat baik. Hanya sahabat, tak lebih.”

Adri mengangguk.

“Kamu sampai melupakan janji kamu,” gumamnya seakan tak memerlukan jawaban.

“Aku sudah mau berangkat ketika dia datang. Bagaimana lagi, aku kan harus menemuinya, karena ada ayahku juga yang menyambutnya di teras. Aku juga bingung waktu itu. Aku mengirim pesan untuk kamu, tapi ponsel kamu mati. Dan saat ada di rumah makan itu, kamu keluar tanpa mendengar panggilanku.”

“Kamu memanggilku? Aku rasa tidak.”

“Ya, aku sadar ketika kamu sudah di depan pintu, ketika aku ingin berteriak, kamu sudah menghilang.”

“Hanya ingin, tapi belum memanggilku.”

“Maaf, entah ada apa waktu itu, aku sungguh bingung. Tapi aku mengatakan pada Bima bahwa sebenarnya aku sedang kencan sama kamu. Ketika Bima tahu bahwa kamu memintaku memilih hadiah untuk ibu kamu, Bima mengusulkan agar aku beli saja hadiahnya, yang kemudian aku antarkan ke rumah kamu. Bima yangmengusulkan hal itu.”

Adri tampak mengerti. Pandangan matanya melembut. Nirmala bisa mengerti mengapa Adri kesal dan marah. Nirmala selalu bisa mengerti, bahkan ketika Adri sedang marah-marah entah karena apa.

Cinta adalah memaafkan. Betulkah? Dan akhirnya Nirmala mengakui bahwa sesungguhnya dia memang mencintai Adri.

***

Sore itu ketika sedang ada di kamarnya, Bima menelponnya. Ia menanyakan tentang kemarahan Adri yang tampaknya membuat Nirmala gelisah saat keluar dari rumahnya. Bima begitu perhatian. Ia mencintai Nirmala, tapi bukan ingin memiliki. Ia tahu Nirmala mencintai laki-laki lain, dan dia hanya berharap agar Nirmala bahagia.

“Ya Bim, dia sudah tidak marah. Aku ceritakan bahwa kamu sangat baik. Aku katakan juga bahwa kamu yang mengusulkan beli hadiah untuk ibunya. Aku tidak ingin merahasiakan sesuatu, atau menyimpan sesuatu yang hanya akan membebani pikiran saja.”

“Gadis yang baik. Semoga kelak aku menemukan gadis sepertimu,” jawab Bima ketika Nirmala bercerita panjang lebar.

Nirmala terkekeh. 

"Bima, kamu anak muda yang baik, ganteng, mapan, gadis yang manapun yang kamu inginkan pasti terlaksana.”

“Aamiin,” jawab Bima yang sesungguhnya memang Nirmala yang diinginkannya. Walau begitu dia sangat prihatin tentang hubungan Nirmala dan Adri, karena ia tahu bahwa pak Bondan tidak menyukai Adri. Ia juga tahu bahwa dirinyalah yang diharapkan pak Bondan untuk menjadi suami Nirmala.

Ia bukannya kecewa, kecuali hanya prihatin.

“Bima, kamu masih ada di situ?”

“Ya, aku masih ada di sini.”

“Kok diam agak lama?”

“Kan kamu mendoakan aku, jadi aku juga mengucapkan doa untuk mengaminkan doa kamu.”

“Oh, begitu? Mudah-mudahan kita semua menemukan kebahagiaan dalam kehidupan kita ya Bim, karena sesungguhnya aku masih harus prihatin karena bapak tidak menyukai Adri.”

“Aamiin. Kalian belum siap akan melangkah ke pelaminan bukan? Ada proses yang harus kalian lalui, yaitu rasa prihatin itu. Semoga untuk selanjutnya segalanya akan lancar dan sesuai dengan keinginan kamu.”

“Aamiin.”

Keduanya berbincang lama, karena sesungguhnya mereka adalah pasangan yang cocok, saling mengerti dan saling melindungi. Hanya saja masalah cinta tidak bisa mempersatukan mereka. Hati Nirmala sudah terpaut pada laki-laki lain yang menurutnya baik, tapi tersembunyi oleh sifatnya yang keras.

***

Di kampus, Adri selalu mendekati Nirmala, mengajaknya berbincang dan bercanda, walau hanya sedikit. Karena Adri tidak begitu suka bercanda. Ia sangat serius dan kelihatan bahwa dia sangat keras. Walau begitu Nirmala menyukainya. Tak ada yang buruk pada Adri di mata Nirmala. Di depan sang ayah Nirmala seperti seorang anak yang patuh, yang selalu diam ketika sang ayah mengomelinya, tapi sesungguhnya Nirmala tetap saja masih berhubungan dengan Adri.

“Mengapa kamu masih saja mau berdekatan dengan aku, sementara ayahmu tidak menyukai aku?”

“Harus ada alasan mengapa orang tidak menyukai sesuatu. Aku tidak punya alasan untuk membenci kamu.”

“Kalau begitu ayahmu pasti punya alasan.”

“Sesungguhnya aku dijodohkan dengan Bima”

Adri menatap Nirmala. Cara memandangnya sungguh tenang, tapi rahangnya tampak menegang. Itu cara Adri marah, atau tidak senang,

“Tapi Bima sangat baik. Dia tidak ikut memaksa aku. Dia justru mendukung aku ketika aku mengatakan bahwa aku dekat sama kamu.”

“Benarkah ada laki-laki sebaik itu?”

“Itu benar, Bima sungguh baik. Bukankah ada cara menyukai seseorang? Suka dan harus memilikinya, dan suka untuk membiarkan dia bahagia. Dia adalah Bima. Itu sebabnya kami dekat, dekat dalam arti pemikiran yang bersih. Kamu tahu maksudku? Apakah kamu masih akan cemburu pada dia?”

“Aku justru cemburu.”

“Adri?”

“Karena aku tak bisa melakukannya seperti dia. Terkadang aku bisa kasar ketika marah.”

Nirmala mengangguk. Hal itu tak menyurutkan hatinya untuk tidak menyukainya.

Apakah benar cinta itu buta, ataukah ada perjalanan hidup yang mungkin berliku ataukah nyaman untuk dilalui, entahlah.

***

Hari terus berjalan, demikian juga hubungan antara Adri dan Nirmala.

Hari itu Adri sudah lulus dan wisuda, ia harus mencari pekerjaan, kemudian melamar Nirmala. Ia adalah gadis pilihannya, yang bisa mengerti hatinya. Hal itu sudah diutarakan oleh Adri kepada Nirmala.

Sore hari ketika sang ayah sedang duduk bersama ibunya, Nirmala mendekatinya dengan hati berdebar. Ia akan mengutarakan isi hatinya, ia akan menempuh jalan yang pastilah akan dihalangi oleh orang tuanya, terutama sang ayah.

“Pak, Nirma mau bicara,” katanya hati-hati.

Sang ayah tidak menjawab, ia mengangkat wajahnya menatap Nirmala dengan alis berkerut. Tak biasanya Nirmala mengajaknya bicara dengan nada takut-takut seperti itu.

“Ada apa?” tanya sang ayah ketika Nirmala tidak segera mengatakan sesuatu.

“Kalau sudah bekerja, Adri akan melamar Nirmala.”

Mata sang ayah terbelalak dan memerah. Kemarahan sedang menguasai hatinya.

***

Besok lagi ya.


45 comments:

  1. πŸ’πŸ‡πŸ’πŸ‡πŸ’πŸ‡πŸ’πŸ‡
    Alhamdulillah πŸ™πŸ¦‹
    Cerbung BeAaeM_04
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ’πŸ‡πŸ’πŸ‡πŸ’πŸ‡πŸ’πŸ‡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  2. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH (BAM) 04 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien ❤️❤️🌹🌹🌹❤️

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 04 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  6. Matur suwun Bu Tien semoga bu Tien selalu sehat ..πŸ™πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Indriyanto

      Delete
  7. Alhamdulilah Cerbung "BAM 04 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  8. Alhamdulillah BAM telah hadir, perjalan cinta Nirmala masih panjang,Krn masih episode awal, semoga bahagia,walaupun lewat jln yg berliku.. Maturnuwun Bu Tien, tetap sehat dan bahagia bersama Kel tercinta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  9. Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien πŸ™

    ReplyDelete
  10. Alhamdulilah
    Terimakasih bunda Tien.
    Semoga sehat slalu beserta keluarga.
    Salam sukses.

    Aduh pa Bondan marah besar nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  11. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  12. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete

  13. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 04
    * sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  14. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~04 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  15. Terima kasih, ibu Tien...sehat selalu.πŸ™πŸ»

    Btw, orang tua kalau memanggil anaknya di rumah biasanya dengan nama panggilan (Nirma), bukan nama lengkap (Nirmala) kan? πŸ˜…

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 04 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat berakhir pekan nggeh Bunda Tien

    Nirma nekat...menjalin cinta segita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  17. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 04" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  19. Mungkin Pak Bondan itu ayah ideologis Adri, karena sama-sama suka marah...
    Permisi, mau menengok Mery, khawatir disambar Erik...
    Terimakasih Mbak Tien..

    ReplyDelete
  20. Sugeng dalu bu Tien
    Cerbung yg ditunggu koknbelum nongol yaaa

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 07

  BIARKAN AKU MEMILIH  07 (Tien Kumalasari)   Dwi menatap Adri tak percaya, wajahnya mendadak berseri-seri. “Adri … ini benar kan? Aku tidak...