Tuan Sanjoyo masih duduk sambil merangkul pundak Puspa yang ada di sampingnya. Wajahnya tampak biasa-biasa saja, bahkan dengan senyuman ketika ia berusaha menenangkan hati Puspa. Tapi entah apa yang dirasakannya. Benarkah manusia bisa setenang itu ketika menerima pukulan bertubi-tubi dalam hidupnya? Sanjoyo bukan Dewa yang konon dalam cerita pewayangan digambarkannya sebagai Prabu Puntadewa yang memiliki darah putih karena hatinya yang bersih, dan bisa menghadapi apapun dengan hati setenang telaga. Ia hanyalah manusia biasa, dan Nugi yang bisa lebih memiliki kedewasaan, merasa bahwa wajah cerah teduh yang digambarkan dalam wajah tuan Sanjoyo hanyalah bayang-bayang yang semu. Jauh di lubuk hatinya pasti ada luka. Luka yang dibalutnya dengan kedamaian yang ditampakkannya. Lalu rasa iba melingkupi hatinya.
“Tuan, dari tadi non Puspa belum makan siang. Bibik sudah memasak dan sudah siap di meja makan. Apakah Tuan juga ingin makan siang di sini?” kata bibik yang tiba-tiba muncul dari arah ruang makan.
“Oh, iya. Tentu. Baiklah, kalau sudah siap ayo kita makan,” katanya sambil menyentuh lengan Puspa.
Puspa mengangkat wajahnya. Ia baru ingat bahwa tadi meminta bibik memasak agar dirinya dan Nugi bisa makan siang di rumah. Sekarang ada ayahnya, dan itu akan membuat acara makan menjadi semakin menyenangkan, pastinya.
Puspa berdiri lalu menggandeng lengan sang ayah, kemudian memberi isyarat kepada Nugi agar mengikutinya. Nugi yang tidak menduga akan diajak makan bareng sang juragan kaya, agak ragu.
“Nugi, ayo makan, tadi kamu sudah berjanji bahwa mau makan siang di rumah kan?” Puspa mulai bisa bicara lancar.
“Aku makan di dapur saja bersama ibu, nanti.”
“Tidak bisa, harus bersama kami.”
“Nugi, jangan sungkan. Puspa sudah mengundang kamu, dan ibumu sudah menyiapkan semua masakannya. Ayolah,” tuan Sanjoyo melambaikan tangannya, dan dengan rasa sungkan ia mengikuti mereka ke ruang makan.
Puspa duduk di samping sang ayah, Nugi duduk di depannya.
“Bibik, ayo kita makan,” ajak Puspa meneriaki bik Supi.
“Tidak Non, tadi bibik sudah makan. Sisa masakan pagi tadi masih ada, lalu bibik baru saja menghabiskannya.”
“Makan lagi saja, biar ramai.”
“Sungguh Non. Bibik sudah kenyang.”
Nugi menatapnya, seakan memberi tahu ibunya bahwa dia akan makan bersama para majikan. Bik Supi menatap Nugi, lalu mengangguk, maksudnya mengijinkan sang anak untuk makan bersama mereka.
“Besok pergilah ke kantor lebih pagi. Tadi kamu tergesa pulang,” tegur sang ayah.
“Maksud Puspa tadi adalah makan di rumah saja, karena Puspa sudah memesan bik Supi agar memasak untuk Puspa dan Nugi. Kalau bapak ijinkan, nanti Puspa kembali ke kantor bersama Nugi. Ya kan Nugi?” Nugi mengangguk mengiyakan.
“Tidak usah, hari ini kita beristirahat saja di rumah. Kamu harus menenangkan hati kamu, supaya besok bisa bekerja lebih baik.”
“Baiklah. Nanti Nugi menemani aku ngobrol di sini, boleh kan? Puspa tidak ingin sendirian, supaya tidak memikirkan hal-hal yang tidak mengenakkan.”
“Terserah kamu. Nanti kalau Nugi pulang, biar bik Supi menemani kamu ngobrol sampai kamu bisa tidur pulas.”
Puspa mengangguk. Tidak seperti orang yang sedang tertimpa masalah, lalu ingin menyendiri, tidak demikian dengan Puspa. Ia ingin ditemani, karena kesendirian akan membuatnya semakin tenggelam dalam kesedihan.
***
Walau begitu, ketika sang ayah kembali ke kantor, dan Puspa ada di rumah dengan ditemani Nugi, setiap candaan yang dilontarkan Nugi tidak begitu saja bisa menghiburnya. Bayangan bahwa dirinya adalah anak Priyadi membuatnya merasa hina dan kotor. Ia juga merasa jijik pada darah yang mengaliri tubuhnya.
“Bukankah di darahku ini ada darah Priyadi, si penjahat itu?” keluhnya.
“Puspa, tuan Sanjoyo sudah mengatakan bahwa kamu adalah putrinya, mengapa kamu masih memikirkan hal itu? Bisa jadi Priyadi hanya ingin berlindung di rumah ini dengan mengakui dirinya sebagai ayahmu.”
“Kemungkinan besar, dia benar. Hubungan yang tidak wajar antara ibuku dan Priyadi sudah terlihat sejak lama. Bik Supipun mengetahuinya. Ayahku sangat mempercayainya, dan menganggap ibuku sangat mencintainya. Kasihan ayah Sanjoyo. Dia sudah tua, punya penyakit yang harus dijaga agar jangan merusak tubuhnya, bukannya dibuat bahagia tadi dibuatnya menderita.”
“Tuan Sanjoyo sangat kuat. Dia tak akan jatuh dengan adanya peristiwa-peristiwa yang menimpanya.”
“Semoga saja begitu.”
“Jadi … sekarang kamu tidak usah terlalu bersedih. Kamu berada di dalam keluarga bahagia, jangan terusik oleh apapun. Kalaupun benar apa yang dia katakan, tuan Sanjoyo tak akan melepaskanmu. Kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga Sanjoyo.”
Puspa mengangguk, tapi gurat kesedihan belum lenyap dari wajahnya.
Hari sudah sore, tak enak bagi Nugi kalau ia berlama-lama di rumah itu, sementara ayahnya tak ada. Oleh karena itu walau dengan berat hati, Puspa melepaskan Nugi untuk pulang, dengan janji besok pagi akan kembali lagi ke kantor, seperti saran tuan Sanjoyo.
***
Hari terus berjalan, dan putra-putri tuan Sanjoyo sudah mengetahui semuanya. Tapi tak ada yang kemudian mengesampingkan Puspa. Mereka tetap mencintai mereka seperti saudara kandung, dan itu diperlihatkan oleh mereka ketika pulang bersama-sama dan kemudian pergi berekreasi ke tempat-tempat yang sejuk dan tenang, seperti dulu pernah dijanjikan Sekar dan Suwondo.
Mereka juga merasa lega, karena tuan Sanjoyo tampak tidak terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang harusnya melukai perasaannya.
Proses hukum tetap berjalan. Keluarga Sanjoyo menyerahkan semuanya kepada yang berwajib, dan tak sedikitpun membicarakan mengenai apa yang pernah mereka lakukan.
***
Nugi sudah mulai bekerja, tapi bik Supi keberatan meletakkan tugasnya di keluarga Sanjoyo, yang sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Ketika hari Minggu, bik Supi diijinkan pulang ke rumah, agar bisa bercengkerama dengan orang tuanya dan juga ibunya.
Malam itu, Nugi sedang duduk santai bersama nenek dan ibunya. Sang ibu protes, karena setelah Nugi bekerja, janjinya mau pulang kampung dan tidak usah bekerja lagi. Tapi bik Supi mengatakan kalau dia tak tega meninggalkan keluarga Sanjoyo.
“Mereka itu sangat baik sama aku, Mbok, aku dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Tadinya memang inginnya begitu, Nugi juga minta agar aku berhenti bekerja, tapi bagaimana lagi, aku tidak tega meninggalkan mereka.”
”Mereka orang kaya dan tidak kekurangan, masa akan merasa kehilangan kalau kamu meninggalkan mereka.”
“Barangkali mereka tidak akan merasa kehilangan, tapi aku ini lho Mbok, yang tidak tega meninggalkan. Kalau aku pergi, siapa yang melayani mereka?”
“Mereka itu kan tidak kekurangan apapun. Kalau kamu pergi, bisa saja mereka mencari pengganti yang seperti kamu, atau bahkan lebih baik dari kamu.”
“Gimana ya Mbok, namanya rasa sayang itu kok jadi menjadi tidak tega.”
“Iya, simbok sudah terlanjur sayang kepada keluarga itu. Sekarang aku bisa mengerti, kalau kita menyayangi seseorang, maka kita tidak akan bisa menjauh darinya,” sambung Nugi.
“Kamu bisa bilang begitu, apa kamu pernah menyukai seseorang? Dengar ya Nug, kamu sudah dewasa, sudah bekerja, segera cari istri, yang cantik, yang setia. Kalau tidak bisa mencari sendiri, nanti simbah akan mencarikannya.”
Nugi hanya tertawa.
“Tidak usah tergesa-gesa, kalau sudah saatnya nanti pasti Nugi akan menemukannya,” jawab Nugi.
“Apa sampai sekarang kamu belum menemukannya?” kata sang nenek.
“Ada sih, tapi Nugi takut.”
“Ada? Berarti kamu sudah punya calon?”
“Kok calon sih Mbok, baru suka, tapi masih takut.”
“Kamu itu ganteng, gagah, pintar, sudah bekerja pula, apa yang kamu takutkan?”
“Dia anak orang kaya Mbah.”
Bik Supi mendekat dan berbisik di telinga Nugi.
“Apa maksudmu non Puspa?”
Nugi hanya tertawa, lalu pergi menjauh, tapi sikapnya itu meyakinkan bik Supi atas dugaannya.
“Pi, benarkah sudah ada yang disukai Nugi? Sepertinya kamu sudah tahu.”
“Baru kira-kira Mbok, tapi aku sendiri juga takut. Apa ya bisa terlaksana, dia anak orang kaya, majikannya pula.”
“Majikannya?”
“Ibu jangan mengada-ada,” teriak Nugi dari dalam kamarnya.
Bik Supi menutup mulutnya sambil menahan senyuman.
***
Malam itu juga, tuan Sanjoyo sedang duduk di teras rumah, berbincang tentang banyak hal, termasuk kehadiran Nugi di kantor perusahaannya. Sepertinya tuan Sanjoyo menyukai pekerjaan yang dilakukan Nugi. Ia cerdas, cepat mengerti dan juga sangat rapi dan rajin.
“Apakah Bapak akan mengangkatnya setelah ia bekerja tiga bulan nanti?”
“Kemungkinannya iya.”
Tapi tiba-tiba mereka melihat seseorang berjalan tersaruk mendekati rumah. Tuan Sanjoyo terkejut, melihat Priyadi yang tiba-tiba muncul. Bukankah dia dipenjara?
Puspa mendekati sang ayah. Ketakutan. Ia melihat darah membasahi kedua kaki Priyadi.
“Pri! Kamu lari dari penjara?”
“Tu … tuan …”
Priyadi ngelesot di depan tangga teras. Seperti menahan sakit, tapi ia ingin mengatakan sesuatu.
“Mengapa kamu datang kemari? Jangan melibatkan kami atas pelarian kamu ini.” tegur tuan Sanjoyo tak senang.
“Ssa … ya, hanya ingin mengatakan, bahwa Puspa … benar-benar anak saya …”
Puspa memegang erat lengan sang ayah.
“Ssaya .. tidak mau mati dengan membawa rahasia ini … karena … itu, saya mengatakan … dengan sejujur-jujurnya. Ssaya … dan Srikanti … telah … melakukan hal terkutuk itu … sebelum dia … menikah dengan Tuan. Dia … sudah hamil ketika menikah … lallu… dia meminta kepada Tu … Tuan, agar saya bekerja menjadi … sopir, agar saya bisa menyaksikan .. anak saya tumbuh menjadi dewasa … Saat itu, Puspa baru berumur sepuluhan tahun … atau … lebih… Mohon … maaf… Tuan. Dan … dan … rumah … itu … yang atas nama saya … akan saya … kembalikan … kepada Tuan … atas … hasil kejahatan saya … bersama Sri … kanti … “
Tiba-tiba raung mobil polisi terdengar … Priyadi sudah terkapar di lantai … membuat lantai itu berdarah-darah.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah sudah tayang, terimakasih Bunda Tien,sehat selalu
ReplyDeleteTrmksh mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteAlhamdulilah. Ymatur nuwun bunda. Semoga sehat selalu beserta keluarga.
ReplyDeleteAduuh Priyadi nekad juga
Matur suwun bu Tien salam sehat selalu.🙏🙏🙏
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 45 tetap tayang di acara ultah pctk dan jf 6... maturnuwun bu Tien, masyaa Allah mendengar lanrunan lagu in my heart sueneeeeeng banget ...semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang,.... Maturnuwun Bu Tien,🙏 salam sehat,bahagia dan semangat berkarya cerbung yg selalu menarik..
ReplyDeleteMjs bun HBB sdh tayang, tpi maaf bun itu HBB 45 apa HBB 44 ya bun....maaf se blm nya ......selamat mlm bun salam sehat
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKoreksi, malam ini adalah episode ke 44 diulangi ke 44, bukan ke 45.
DeleteAlhamdulillah HaBeBe_44, sudah hadir malam ini. Terima kasih bu Tien dalam kesibukannya merayakan HUT-5 PCTK & Jumpa Fans ke 6 di Solo.
DeleteSelamat ulang Tahun PCTK dan selamat bersukaria berjumpa dengan ibu Tien Kumalasari
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~45 sudah hadir.. (yg benar episode 44 apa 45 yaa? karena yg kemarin baru episode 43)
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat selalu bahagia
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 44" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu & mugi tansah sehat🙏
ReplyDeleteNyuwun ngapunten Bu, kala wingi Eps 43, bilih sak mangke eps 44.
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 44* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Luo kok 45
ReplyDelete44 nya mana kapan
Terima kasih, ibu Tien...maaf, ini seharusnya eps.44 ya, bu...salam sehat.🙏🏻🥰
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteKakek habi minta infonya kapan jumpa fans di solo n di mana,mksh
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima ksih bunda HBB nya..slmr mlm dan slmt istrhat..slm seroja dri sukabumi🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDelete🌿☘️🌿☘️🌿☘️🌿☘️
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung HaBeBe_44
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🌿☘️🌿☘️🌿☘️🌿☘️
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 45 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Waduh...Yadi...setelah kabur
dari rumah Prodeo...memberikan informasi rahasia negara perihal Puspa kpd tuan Sanjoyo...😁
Terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.
ReplyDeleteAlhamdulillaah,matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat ya 🙏🤗🥰💖🌿
ReplyDeleteTambah bingung ya pak Sanjoyo, bgm dg Puspa, apakah akan meninggalkan rumah Pak Sanjoyo dan menikah dg Nugi
Terima kasih Bunda Tien ..
ReplyDeleteSehat selalu...
Ditengah" kesibukan tetap jalan ..
Tetap semangat Bunda
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 44 " 👍🌹
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Terimakasih Mbak Tien...
ReplyDeletePriyadi akhirnya masuk penjara lagi ? Kok belum nongol episode 45.Semoga mbak Tien sehat2 selalu.Salam seroja dr Tegal
ReplyDeleteMenunggu lanjutan Hanya Bayang Bayang,
ReplyDeleteSemoga bunda Tien sehat selalu 🙏
Sabar menanti
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, barokalloh... Episode 45 semoga segera tayang ... sdh dinanti penggemar
ReplyDeleteIkut setia menunggu
ReplyDeleteHallooo Puspa ditunggu penggemarmu.....
ReplyDeleteSi cantik puspa tindak pundhi nggih....
ReplyDeleteKok belum muncul...
Matur nuwun Bu Tien....
Semoga Bu Tien sekeluarga sehat selalu....
Aamiin...
Setia menunggu...
ReplyDeleteIbu Tien sedang acara Jumpa Fans, belum sempat update ya...sabar menanti...nampaknya sudah hampir tamat deh.😀
ReplyDeleteCerita semakin seru..
ReplyDelete