HANYA BAYANG-BAYANG 12
(Tien Kumalasari)
Srikanti masih menatap ponsel itu tanpa menyahut sapaan dari seberang sana. Panggilan Nilam kepada ayahnya, mengapa ‘mas’? Ia membiarkan saja panggilan itu sampai kemudian mati dengan sendirinya. Wajahnya tampak aneh ketika Priyadi sudah datang mendekatinya.
“Sudah pesan?” tanya Priyadi, tanpa dosa.
“Sebenarnya siapa yang kamu tulis namanya dengan ‘sayangku’ di ponsel kamu?” tanya Srikanti tanpa mempedulikan pertanyaan Priyadi.
“Maksudmu apa?”
“Siapa sebenarnya yang bernama ‘sayangku’ di ponsel kamu?”
“Apa?”
“Jangan pura-pura bego. Aku tanya, siapa dia?”
“Bukankah aku sudah bilang kalau itu Nilam, anakku?”
”Anakmu ya? Mengapa dia memanggil kamu ‘mas’?”
“Apa?”
“Dari tadi apa … apa … terus.”
“Itu nomornya Nilam, coba saja kamu telpon kalau tidak percaya.”
“Dia sudah menelpon tadi, aku coba mengangkatnya, tiba-tiba dia langsung memanggil ‘mas’. Apa ada anak memanggil ayahnya ‘mas’?”
“Oh, ya ampun, tadi dia menelpon, memanggil ‘mas’ … gitu? Dasar anak itu.”
Priyadi agak terkejut, tapi ia segera menemukan akal untuk mengecoh Srikanti. Ia tahu di mana kelemahan Srikanti, rupanya nanti ia harus merayunya sampai dia minta tolong.
“Kenapa?”
“Dulu waktu masih bersama ibunya, kalau ketemu aku, ibunya menyuruhnya memanggil aku ‘mas’ begitu.”
“Masa? Kenapa?”
“Karena ibunya tidak ingin Nilam menganggap aku ayahnya. Jadi kadang-kadang dia masih terbiasa dengan panggilan itu?”
“Benarkah?”
“Ya ampun, masa aku tega membohongi perempuan yang aku cintai?”
“Cinta gombal.” Srikanti merengut, tapi Priyadi tahu kalau Srikanti sudah mulai luluh kemarahannya.
“Sri, di dunia ini hanya kamu yang aku cintai. Itu sebabnya aku tidak ingin menikah lagi seperti saran tuan Sanjoyo.”
“Tuan menyuruh kamu menikah lagi?”
“Ya, karena aku katanya masih muda, masih gagah, jadi harus punya istri lagi. Mana bisa aku menjalaninya? Aku sudah punya perempuan yang tak ada duanya di dunia ini.”
“Kamu bilang apa waktu tuan berbicara begitu?”
“Ya aku hanya tertawa saja.”
Senyuman Srikanti merekah. Ia tak ingin kehilangan Priyadi, dan apapun akan dilakukannya untuk Priyadi.
“Nanti setelah makan, kita mampir di tempat biasa. Bagaimana?”
Srikanti tersenyum, ia sudah tahu maksud Priyadi mengatakan itu. Tempat biasa adalah tempat tersembunyi di mana mereka biasa bersenang-senang.
“Mau tidak? Aku sudah kangen sama kamu lho Sri.”
“Terserah kamu saja,” jawab Srikanti sambil tersenyum, dan senyuman itu menyiratkan bahwa kemarahannya sudah hilang, dan ajakan Priyadi itulah yang membuatnya.
“Ayo kita makan saja dulu, pesanan sudah terhidang.”
“Iya, aku juga sudah lapar nih.”
Dan mereka mempercepat acara makan itu, karena ada acara lain yang pasti membuat mereka sangat sibuk dan barangkali melupakan waktu juga.
***
Karena menelpon Priyadi tidak segera direspon, tuan Sanjoyo menelpon istrinya. Tapi sama saja, keduanya tidak mengangkat panggilannya. Karenanya ia menelpon Puspa.
“Ya Pak.”
“Kamu ada di mana?”
“Di rumah, tadi belanja sama bibik, tapi tidak lama. Memangnya kenapa?”
“Ibumu ada?”
“Tidak ada, pergi sama pak Pri pastinya, karena tadi pagi sudah menunggu-nunggu.”
“O, barangkali ke panti-panti itu. Tapi ini sudah sore, belum pulang juga?”
“Belum Pak. Bapak masih di kantor? Berarti belum dijemput ya Pak?”
“Belum, apa kamu bisa menjemput bapak?"
“Tentu bisa Pak, tunggu sebentar, Puspa jemput ya.”
Puspa segera bergegas ke kamarnya, mengambil kunci mobil.
“Bik aku pergi dulu.”
“Ke mana Non?”
“Ke kantor bapak, bapak belum dijemput. Ini aku mau menjemputnya,” katanya sambil berlalu.
Bibik geleng-geleng kepala.
“Sampai lupa menjemput majikannya?” gumamnya pelan.
***
Di kantor sang ayah, Puspa ketemu gadis bernama Nilam yang katanya anak Priyadi.
“Ini yang namanya Nilam?”
“Iya Mbak.”
“Ini Puspa, anak bungsuku,” kata tuan Sanjoyo.
Mereka bersalaman. Puspa baru pertama kali ketemu Nilam, kecuali hanya mendengar namanya saja, sebelum ini.
“Ayo kita pulang,” ajak Puspa sambil mendorong kursi roda sang ayah, menuju mobil.
Ia memapah ayahnya untuk masuk ke dalam mobil, lalu menyimpan kursi roda di bagasi.
Nilam duduk di samping kemudi.
“Tadi bekerja apa saja?” tanya Puspa berusaha ramah.
“Akan bapak coba untuk menjadi sekretaris bapak. Lumayan dia bisa komputer. Tapi tentang pekerjaan yang nanti dia kerjakan masih harus banyak belajar," kata sang ayah.
“Saya selalu mohon bimbingan Bapak," kata Nilam.
“Nanti akan ada yang mengajari kamu. Aku punya sekretaris yang lain, tapi hari ini sedang tidak masuk kerja. Tidak apa-apa, kamu nanti menjadi pembantu sekretaris.”
“Terima kasih, Pak.”
Puspa hanya diam. Sekretaris untuk sang ayah sudah ada, tapi sekarang sang ayah mengangkat Nilam menjadi pembantu sekretaris. Seperti dipaksakan, barangkali karena mengingat Priyadi yang sudah lama mengabdi di perusahaan.
“Aku heran, hari ini Priyadi terlambat lagi. Ke mana dia?”
“Tadi pagi sih pergi sama ibu.”
“Barangkali ke panti-panti itu yang agak lama,” kata tuan Sanjoyo.
Wajah Nilam menjadi muram. Ia tahu bagaimana hubungan Priyadi dengan sang nyonya.
“Pasti ia mencari kesempatan untuk bersenang-senang. Awas saja nanti kalau sudah pulang,” geram Nilam dalam hati.
“Kamu ngantuk ya Nilam?” tanya Puspa ketika melihat wajah Nilam tampak suram.
Nilam mencoba tersenyum.
“Sedikit mbak. Maklum, sudah lama tidak bekerja.”
“Nanti sesampai di tempat kost langsung tidur saja.”
“Kata ibumu, Nilam disuruh pindah ke rumah saja,” sambung tuan Sanjoyo.
“Tidak usah Pak, saya pulang ke tempat kost bapak saya saja,” kata Nilam yang tentu saja memilih tidur bersama Priyadi daripada di rumah tuan Sanjoyo yang besar dan bagus, tapi tidur sendiri.
“Itu keinginan istriku. Malah dia pengin ngangkat kamu jadi anak.”
Puspa terkejut. Apa-apaan ibunya ini. Mengangkat Nilam jadi anak? Mengapa? Nilam sudah diberi pekerjaan, apa belum cukup?
“Terima kasih, tapi saya tinggalnya sama ayah saya saja.”
“Ya sudah terserah kamu, atau nanti apa kata istriku. Kalau aku sih terserah dia mau apa, karena semua-semua itu yang mengatur dia.”
“Mm … bagus sekali kalau semua-semua terserah istrinya, akan lebih gampang mas Priyadi mengerjainya,” kata batin Nilam. Walau begitu rasa geram karena mereka belum kembali membuat hatinya semakin panas. Karenanya diam-diam dia menuliskan pesan untuk Priyadi.
“Mas lagi ngapain? Tuan Sanjoyo menunggu, sampai yang jemput anaknya yang bernama Puspa.” begitu kata pesannya, dan itu memang membuat Priyadi kemudian terkejut karena saat itu ia ketiduran, demikian juga Srikanti yang tergolek di sebelahnya.
“Sri … Sri, bangun, sudah sore. Tuan Sanjoyo dijemput Puspa.”
Srikanti juga terkejut. Ia buru-buru bangun dan setengah berlari menuju ke kamar mandi.
“Pri, coba cari alasan yang tepat, mengapa kita datang terlambat,” katanya sambil menutup pintu kamar mandi.
Priyadi mengenakan pakaiannya lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba serasa digerayangi ribuan semut.
“Alasan apa lagi … alasan apa lagi … ya ampuuuun, mengapa sampai ketiduran semua. Srikanti juga kebangetan, kalau sudah ngorok lupa waktu. Harusnya dia bisa mengingatkan aku. Sial benar hari ini.”
“Bagaimana Pri, kita harus bilang apa? Lihat ponselmu, pasti juga seperti ponselku, banyak panggilan tak terjawab,” kata Srikanti yang sudah selesai merapikan baju dan dandanannya.
“Bilang apa? Kamu juga mikir dong.”
“Bilang mobilnya mogok lagi saja Pri.”
“Ya sudah kalau itu satu-satunya jalan. Ayo cepat, hari sudah gelap.”
***
Sesampai di rumah, tuan Sanjoyo tidak melihat mobil istrinya, berarti ia belum pulang. Ia meraih ponselnya dan menelpon. Kali ini langsung dijawab.
“Ya Mas, ya ampuun Mas, mobilnya rewel lagi. Dari siang tadi nungguin di bengkel,” jawab Srikanti.
“Kalian di mana?”
“ Anu .. di … itu … di dekat panti Welas Asih …,” jawabnya sekenanya. Panti Welas Asih adalah salah satu panti yang harusnya mendapat sumbangan dari keluarga Sanjoyo.
“Kalau memang rusaknya parah, mengapa ditungguin? Kalian bisa langsung pulang atau mengabari Puspa untuk menjemput.”
“Saya kira hanya sebentar. Nggak kepikiran minta jemput juga.”
“Ini sudah selesai?”
“Sudah Mas, ini dalam perjalanan pulang, hampir sampai.”
“Ya sudah.”
“Rusak apanya Pak? Mobil bagus begitu … Mobil Bapak kan yang dipakai?“ kata Puspa.
“Iya, mobil bapak … Mungkin Pri kurang hati-hati merawatnya. Pagi tadi juga baik-baik saja.”
“Ini sudah selesai? Kalau jam segini apa bengkel masih buka?”
“Katanya sudah hampir sampai rumah.”
“Oh, ya sudah, kalau masih harus menunggu mau Puspa jemput saja.”
“Tidak, katanya sudah hampir selesai.”
Puspa melangkah ke belakang. Di meja dapur, Nilam sedang menikmati teh panas buatan bibik.
“Ayahmu sebentar lagi sampai,” kata Puspa kepada Nilam.
“Oh, iya … syukurlah.”
“Katanya mobilnya rusak, nggak tahu apanya.”
Nilam mengangguk, lalu melanjutkan menyeruput kembali minumannya.
***
“Apa yang rusak Pri?”
“Tadi … itu Tuan, remnya blong tiba-tiba, pokoknya bahaya kalau diteruskan, makanya langsung saya bawa ke bengkel. Tadi banyak yang harus dibenahi seperti karburator atau apa. Semuanya sudah beres, tuan.”
“Tadi pagi sepertinya tidak apa-apa. Kamu sudah lama menjadi sopir, juga harus tahu tentang mesin, jangan sampai terjadi dalam perjalanan lalu terhalang karena mobilnya rewel. Kalau rem bisa blong, barangkali kampas atau booster atau minyak rem habis. Kamu tidak cermat, asal mancal. Harusnya, karena kesehatan aku kurang memadai, kamu lebih teliti mengamati semua perangkat. Sehingga tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
“Iya Tuan, mohon maaf, saya kurang mengerti tentang mobil, tapi tadi saya sudah belajar sedikit dari tukang bengkel tentang mesin. Tapi maaf Tuan, saya akan langsung pulang. Kasihan Nilam belum istirahat juga.”
“Ya sudah, pulanglah.”
Tapi ketika Priyadi pulang, tuan Sanjoyo geleng-geleng kepala. Ia heran Pri tidak cermat dalam memelihara mobil yang setiap hari dipegangnya.
“Ada apa?” tanya Srikanti. Ia sudah selesai mandi, tapi tadi mendengar sedikit ketika suaminya menegur Priyadi. Memang Priyadi asal bilang rusaknya mobil, karena semua memang hanya rekayasa, jadi tidak bisa cermat mengatakan apa rusaknya.
“Aku heran sama Priyadi, berpuluh tahun jadi sopir, kok tidak bisa memahami, mobil yang selalu dibawanya itu harus bagaimana, pastinya kan begitu.”
“Mobil Mas itu sudah bisa dibilang tua, harusnya ganti yang baru. Jangan karena rewel lalu Priyadi yang disalahkan.”
“Sebagai sopir harusnya dia mengerti tentang mesin mobil.”
“Itu karena mobil Mas selalu keluaran terbaru, kemungkinan rusak hampir tidak ada. Yang itu sudah lama Mas tidak ganti mobil kan?”
“Sebenarnya masih bagus. Aku tidak suka lagi ganti-ganti mobil.”
“Seperti tidak punya uang saja,” omel Srikanti.
“Bagaimana tadi, urusan sumbangan ke panti-panti sudah beres?”
“Beres semua Mas, mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih karena selalu mendapat sumbangan dari keluarga kita.”
“Syukurlah. Bahagia rasanya bisa berbagi.”
“Bagaimana Nilam? Mas beri tugas apa dia?”
“Tadi masih belajar sedikit, besok kalau seketarisku masuk biar belajar pada dia. Nanti dia akan menjadi asisten sekretaris."
“Mengapa tidak jadi sekretaris saja sekalian? Hanya asisten ….”
“Sekretarisku itu kerjanya bagus. Tidak bisa digantikan. Nilam belum pernah bekerja di perusahaan besar seperti milik kita, jadi dia harus banyak belajar.”
***
Pagi hari itu Puspa pergi ke kampus, begitu memarkir mobilnya, ia melihat ke parkiran motor, dan merasa lega ketika melihat sepeda motor butut yang dikenalnya. Itu milik Nugi. Dada Puspa tiba-tiba berdebar lebih keras. Ia heran ada apa. Ia tak tahu bahwa cinta sedang mengetuk-ngetuk jantungnya agar berpacu lebih cepat. Lalu Puspa mencari-cari, di mana dia kira-kira?
Tapi walaupun motornya ada, Puspa tidak menemukan Nugi di mana-mana. Apakah di perpustakaan? Dia amat suka berada di sana saat senggang. Setengah berlari Puspa pergi ke sana, dan apa yang dilihatnya, Nugi sedang berbincang dengan seorang gadis, adik kelasnya.
Perasaan tak enak segera merayapi aliran darahnya. Apakah Puspa cemburu?
***
Besok lagi ya.
π·☘️π·☘️π·☘️π·☘️
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung HaBeBe_12
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT. Aamiin YRA.
π·☘️π·☘️π·☘️π·☘️
Trmksh mb Tien
ReplyDeleteπππ²πͺ΄π²ππ
ReplyDeleteAlhamdulillahi Robbil'alamiin....
HaBeBe_12 sudah tayang.
Matur nuwun mBak Tien, salam sehat penuh semangat.
Puspa cemburu nich ye.....
π€π€π
πππ²πͺ΄π²ππ
Selamat mlm bunda..terima kasih HBB nya..slm shr sll unk bundaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteApakah cinta selalu ada saingan?
ReplyDeleteApakah cinta tanpa saingan terasa ada yang kurang ya?
Terimakasih Mbak Tien...
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu nggih
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 12 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien
ReplyDeleteSemoga bunda Tien dan pak Tom selalu sehat
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien salam sehat utk kekuarga di Solo
ReplyDeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 12 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~12 telah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 12* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 12" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu π
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 12 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat ber akhir pekan Bunda.
Kanti..Yadi...ingat ya...secerdik apapun menyembunyikan keburukan, suatu saat pasti akan di ketahui orang lain..ya
Mks bun....selamat malam salam sehat
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta.
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat selalu
ReplyDelete