HANYA BAYANG-BAYANG 24
(Tien Kumalasari)
Srikanti terpana. Usulan Priyadi sangat bagus. Bukankah mengumpulkan uang lebih bagus dari rencana semula untuk menguasai perusahaan yang prosesnya lebih lama? Harus menunggu tuan Sanjoyo tak berdaya, atau bahkan meninggal. Kapan, ia harus bekerja lebih keras. Tapi uang sangat mudah didapatkan karena Sanjoyo sangat memanjakannya dalam uang. Ia bisa mengusulkan pemberian dana ke banyak panti-panti yang lain, dan itu akan sangat mudah karena uangnya masuk ke dalam dompetnya sendiri. Per bulan, bukan main, dan tuan Sanjoyo tak pernah memberi sedikit-sedikit. Semuanya pantas dan fantastis.
“Ahaa, terlalu baik hati bisa menjadikannya miskin bukan?” kata Srikanti sambil bersandar di dada lelaki yang digandrunginya dengan membabi buta.
“Bagaimana dengan Puspa? Bukankah dia anak kita? Kelak kita tidak bisa membiarkannya tetap hidup bersama tuan Sanjoyo atau keluarganya yang lain. Jadi bagaimanapun kamu harus bisa membujuknya agar dia bisa berada di fihak kita nantinya.”
“Itu bagus Pri, Puspa selalu ingin berusaha sendiri, tidak mau ikut di dalam perusahaan ‘ayahnya’. Barangkali hati kecilnya sudah merasa bahwa dia bukan anak kandung tuan Sanjoyo, dan itu sangat menguntungkan kita. Kalau uang kita sudah banyak, kita bisa mendukungnya dan membesarkan apapun usaha dia. Dan karena dia anak kita, maka kita juga bisa menguasai dan menikmati kekayaannya bukan?”
“Bagus sekali. Aku setuju pemikiran kamu, segera beri tahu dia bahwa dia sebenarnya bukan anak Sanjoyo.”
“Jangan sekarang. Harus banyak persiapan untuk itu. Tunggu dia lulus dan pasti tuan Sanjoyo akan memberinya bekal. Tuan Sanjoyo selalu bangga kalau anak-anaknya bisa mandiri, dan menjadi pengusaha yang bukan karena dirinya. Bukankah menurutnya Puspa adalah anaknya? Nanti kalau sudah tiba waktunya, barulah kita mengatakan yang sebenarnya. Yang penting kita sudah berdiri dengan kaki yang kuat dulu.”
Priyadi mengangguk senang. Rencana lain sudah terbayang tanpa sepengetahuan Srikanti. Kalau tiba waktunya, Srikanti akan ditendang dari hidupnya, karena ia lebih suka memiliki istri yang sebenar-benarnya istri, yaitu Nilam yang muda dan cantik mempesona.
“Aku tak bisa lama, karena tuan Sanjoyo berpesan bahwa di kantor sedang banyak pekerjaan.”
“Baiklah, kamu kembali saja ke kantor, aku masih ingin tidur di sini, nanti sore baru aku pulang.”
“Nanti pulang sama siapa?”
“Aku kan bisa minta tolong agar kamu menjemput aku? Kalau selesai kantor kan kamu bisa menjemput aku? Aku sangat lelah, masih ingin tiduran. Kamu nanti pulangnya juga ke sini kan? Carikan alasan pada tuanmu, apa saja, pokoknya kamu bisa membawa aku pulang ke rumah."
“Baiklah, soal itu gampang diatur, yang penting aku kembali ke kantor dulu.”
Srikanti hanya mengangguk, tapi kemudian dia kembali tidur meringkuk seperti kerbau gemuk. Tulang tuanya ternyata bisa lelah juga.
***
Puspa sudah sendirian di rumah kakaknya, setelah sang kakak berangkat bekerja. Ia bisa lebih tenang mengerjakan tugasnya, tanpa melihat bayang-bayang ibunya dan Priyadi yang dianggapnya pengkhianat yang sangat kejam.
Tapi saat ia beristirahat, tiba-tiba ia teringat Nugi. Sedang apakah Nugi saat ini? Sedang menulis skripsinya di mana? Di sebuah persewaan komputer atau laptop, atau di kampus yang juga disediakan peralatan untuk itu?
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor itu tak dikenalnya, haruskah diangkat atau dibiarkannya? Jaman sekarang banyak orang menipu melalui ponsel. Puspa harus berhati-hati. Tapi ponsel itu tak berhenti melengking-lengking. Puspa mengangkatnya, menunggu suara dari seberang tanpa menjawabnya.
“Assalamu’alaikum … “
Penjahat yang sopan dan agamis. Tapi tunggu dulu. Suara itu seperti dikenalnya. Apa dia bermimpi?
“Wa’alaikumussalam.”
“Puspa ya?”
“Haa? Kamu Nugi?” kali ini Puspa berteriak. Entah teriakan karena terkejut, atau teriakan saking gembiranya.
“Iya. Ini aku.”
“Ponsel baru ya? Selamat ya.”
“Waktu ibuku memberi uang, aku belikan yang bekas dan kebetulan agak murah. Soalnya aku merasa bahwa benda ini penting aku miliki, untuk banyak hal. Salah satunya adalah untuk menghubungi kamu.”
Ya ampuun, gembiranya Puspa, Nugi ingin menghubungi dirinya.
“Dari mana kamu dapat nomor aku?”
“Dari buku yang pernah aku pinjam, ada nomor ponselmu di sana.”
“Alhamdulillah, senang mendengarnya.”
“Puspa, aku butuh buku seperti yang aku tulis di pesan singkat aku, apakah kamu punya?”
“Oh, kamu juga mengirim pesan, keasyikan menulis jadi tak sempat buka ponsel. Sebentar aku lihat.”
“Ada Nug, kebetulan aku bawa. Aku sedang di rumah kakak aku. Kamu di mana?”
“Aku di kampus, pinjam laptop kampus.”
“Aku antar ke sana sekarang?”
“Jangan, aku ambil saja di rumah kamu.”
“Aku kan sudah bilang bahwa aku di rumah kakak aku.”
“Oh iya, alamatnya di mana?”
“Jangan ke sini, aku sendirian, kalau kamu datang, nanti kita bisa ditangkap hansip,” lalu keduanya tertawa ngakak.
“Aku ke situ saja, aku bawain makanan ya, ini sudah siang, pasti kamu belum makan.”
“Tidak usah, keasyikan makan malah lupa tugas.”
“Masa orang bekerja nggak boleh berhenti makan, kalau pingsan karena kelaparan bagaimana? Pokoknya aku bawa, soalnya aku juga belum makan.”
“Terserah kamu saja.”
Dan Puspa tiba-tiba seperti mendapatkan semangat baru. Ia bergegas menyiapkan buku yang dibutuhkan Nugi. Ia juga membawa laptopnya barangkali bisa menuliskan sesuatu setelah sampai di sana. Entahlah, pokoknya Puspa seneng banget.
***
Sesampai di kampus, Puspa langsung membuka bungkusan makanan dan makan bersama Nugi di tempat seperti biasa.
Nugi merasa senang bisa bertemu Puspa. Ia bahkan merasa bahwa akal warasnya sudah hilang. Mengapa tiba-tiba merasa menyukai gadis kaya raya ini? Bukankah ia pungguk dan Puspa adalah rembulan? Tidak, ini harus dilenyapkan. Kata batin Nugi. Tapi matanya masih menatap Puspa yang makan nasi rendangnya dengan lahap.
“Hei, mengapa menatap aku seperti itu? Aku seperti orang kelaparan yang sudah seminggu tidak makan ya?” kata Puspa sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
Nugi tersipu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Masa dia harus berterus terang bahwa dia mengagumi gadis kaya itu?
“Aku aneh?”
“Tidak, kamu cantik,” kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Puspa ingin menari karena kegirangan. Dia tahu bahwa dirinya cantik, tapi diucapkan oleh seseorang yang dikaguminya, rasanya sangat luar biasa. Ia mengelus pipinya sendiri sambil tersenyum manis.
“Terima kasih sudah bilang aku cantik.”
“Maaf.”
“Mengapa meminta maaf? Aku senang dipuji cantik oleh kamu.”
“Baiklah, lanjutkan makannya, lalu aku akan melanjutkan tugasku. Ayo ke perpus."
“Akan aku temani. Aku juga membawa bahan-bahan yang akan aku tulis.”
“Nanti aku malah tidak konsentrasi ditemani oleh kamu.”
“Bisa, ayo kita coba, Duduk berjauhan dan saling memunggungi, sehingga tidak saling mengganggu,” kata Puspa dengan sangat bersemangat.
Akhirnya mereka mengerjakan tugas mereka dengan saling membisu, hanya kadang-kadang saja membuka suara kalau bisa saling bertanya. Rupanya asyik juga bekerja bersama orang yang disukainya.
Hari sudah menjelang sore ketika tiba-tiba ponsel Puspa berdering.
“Puspa?”
“Ya Mbak, aku di kampus. Ada apa?”
“Kunci rumah kamu taruh di mana? Aku sudah di rumah nih, rumah ternyata terkunci.”
“Ya ampuuun, maaf Mbak, kebawa oleh aku. Tungguin, aku segera ke situ,” kata Puspa sambil berkemas.
“Mau pulang?”
“Kunci rumah kakakku terbawa, dia pulang dan nggak bisa masuk. Lupa aku.”
“Kamu sekarang tinggal bersama kakak kamu?”
“Hanya selama mengerjakan skripsi ini, di sana kosong kalau kakakku bekerja, jadi aku sendirian. Maaf ya, aku pulang dulu. Hubungi aku kalau memerlukan sesuatu.”
Nugi mengangguk, ada kecewa menggigit pelan, tapi kemudian ia memarahi dirinya sendiri, dan mengatainya ‘lancang’.
***
Tertawa tapi dengan wajah menyesal ketika Puspa turun dari mobil, lalu tergopoh mendekati kakaknya. Ternyata Sekar tidak sendiri. Ada mas Roto bersamanya. Karena tergesa tadi ia tak memperhatikan ada mobil lain di halaman.
“Maaf ….” teriaknya sambil memberikan kunci rumah kepada kakaknya, kemudian dia menghampiri kakak satunya dan merangkulnya erat.
“Mas Roto jarang kemari sih?”
“Pekerjaan sedang banyak. Atas doa kalian usaha aku maju, dan lebih berkembang,” kata Suroto yang kemudian diajaknya masuk ke rumah oleh Sekar.
“Syukurlah, senang aku mendengarnya. Kelak ajari aku berbisnis ya?”
“Kamu tidak mau menggantikan bapak di perusahaan bapak?”
“Aku ingin berusaha sendiri. Nantilah, sekarang aku sibuk mengerjakan tugas akhir aku.”
“Ya sudah, terserah kamu saja.”
“Ayo makan, aku pulang setelah Roto nyamperin ke kantor. Katanya belum makan, lalu aku ajak saja pulang tapi beli makan dulu, supaya kamu juga ikut makan,” kata Sekar.
“Waduh,” kata Puspa sambil mengelus perutnya.
“Kenapa? Nggak suka? Ini nasi ayam kesukaan kamu.”
“Aku tadi di kampus sudah makan.”
“Apa? Ke kampus mengerjakan tugas atau untuk makan?”
“Makan dulu, baru ngerjain tugas. Mas Roto dan mbak Sekar saja yang makan, aku yang menata makanannya di meja, juga membuatkan minum untuk kalian.”
“Ya sudah, bagian kamu bisa dimakan nanti malam.”
***
“Aku sudah mendengar semuanya tentang ibu dan Priyadi,” kata Suroto ketika mereka duduk bersantai.
Puspa menunduk sedih. Bagaimanapun yang disebut ibu itu adalah ibu kandungnya.
“Itu sudah berlangsung lama Mas, maaf untuk ibuku. Tapi aku juga kecewa atas perbuatannya.”
“Apakah kita harus mengingatkan bapak mulai sekarang?”
“Jangan sekarang Mas, kita harus ingat akan kesehatan bapak. Nanti pelan-pelan kita pikirkan bersama cara menyampaikannya,” kata Puspa yang wajahnya berubah sendu.
“Baiklah, kamu harus sabar ya, jangan sampai kejadian ini mengganggu konsentrasi kamu dalam mengerjakan tugas akhir ini.”
Puspa mengangguk.
“Aku senang akhirnya walker yang aku belikan untuk bapak sudah dipakai.”
“Bapak juga senang bisa jalan tertatih,” kata Puspa yang mendadak wajahnya berseri.
“Bisa jalan?”
“Ya pelan-pelan mas, namanya baru berlatih, aku sampai membawakan kursi lipat, berjaga-jaga kalau bapak kelelahan.”
“Kalau saja dipakai dari kemarin-kemarin.”
Ponsel Puspa berdering, dari ayahnya.
“Ya, Pak?”
“Kamu di mana?”
“Di rumah mbak Sekar, ada mas Roto juga di sini.”
“Oh ya, nanti suruh ke rumah, aku kangen lama tidak ketemu.”
“Baik. Bapak menelpon ada apa?”
“Tolong jemput ibumu, karena Priyadi masih harus mengantarkan bapak ke tempat pertemuan dengan klien, bisanya sore ini, jadi tidak usah pulang.”
Wajah Puspa muram seketika.
“Bisa, Puspa?” ulang sang ayah.
“Jemput di mana? Apa tidak bisa panggil taksi?”
“Katanya habis berenang, sekarang ada di rumah temannya.”
***
Besok lagi ya.