Wednesday, December 31, 2025

HANYA BAYANG-BAYANG 24

 HANYA BAYANG-BAYANG  24

(Tien Kumalasari)

 

Srikanti terpana. Usulan Priyadi sangat bagus. Bukankah mengumpulkan uang lebih bagus dari rencana semula untuk menguasai perusahaan yang prosesnya lebih lama? Harus menunggu tuan Sanjoyo tak berdaya, atau bahkan meninggal. Kapan, ia harus bekerja lebih keras. Tapi uang sangat mudah didapatkan karena Sanjoyo sangat memanjakannya dalam uang. Ia bisa mengusulkan pemberian dana ke banyak panti-panti yang lain, dan itu akan sangat mudah karena uangnya masuk ke dalam dompetnya sendiri. Per bulan, bukan main, dan tuan Sanjoyo tak pernah memberi sedikit-sedikit. Semuanya pantas dan fantastis.

“Ahaa, terlalu baik hati bisa menjadikannya miskin bukan?” kata Srikanti sambil bersandar di dada lelaki yang digandrunginya dengan membabi buta.

“Bagaimana dengan Puspa? Bukankah dia anak kita? Kelak kita tidak bisa membiarkannya tetap hidup bersama tuan Sanjoyo atau keluarganya yang lain. Jadi bagaimanapun kamu harus bisa membujuknya agar dia bisa berada di fihak kita nantinya.”

“Itu bagus Pri, Puspa selalu ingin berusaha sendiri, tidak mau ikut di dalam perusahaan ‘ayahnya’. Barangkali hati kecilnya sudah merasa bahwa dia bukan anak kandung tuan Sanjoyo, dan itu sangat menguntungkan kita. Kalau uang kita sudah banyak, kita bisa mendukungnya dan membesarkan apapun usaha dia. Dan karena dia anak kita, maka kita juga bisa menguasai dan menikmati kekayaannya bukan?”

“Bagus sekali. Aku setuju pemikiran kamu, segera beri tahu dia bahwa dia sebenarnya bukan anak Sanjoyo.”

“Jangan sekarang. Harus banyak persiapan untuk itu. Tunggu dia lulus dan pasti tuan Sanjoyo akan memberinya bekal. Tuan Sanjoyo selalu bangga kalau anak-anaknya bisa mandiri, dan menjadi pengusaha yang bukan karena dirinya. Bukankah menurutnya Puspa adalah anaknya? Nanti kalau sudah tiba waktunya, barulah kita mengatakan yang sebenarnya. Yang penting kita sudah berdiri dengan kaki yang kuat dulu.”

Priyadi mengangguk senang. Rencana lain sudah terbayang tanpa sepengetahuan Srikanti. Kalau tiba waktunya, Srikanti akan ditendang dari hidupnya, karena ia lebih suka memiliki istri yang sebenar-benarnya istri, yaitu Nilam yang muda dan cantik mempesona.

“Aku tak bisa lama, karena tuan Sanjoyo berpesan bahwa di kantor sedang banyak pekerjaan.”

“Baiklah, kamu kembali saja ke kantor, aku masih ingin tidur di sini, nanti sore baru aku pulang.”

“Nanti pulang sama siapa?”

“Aku kan bisa minta tolong agar kamu menjemput aku?  Kalau selesai kantor kan kamu bisa menjemput aku? Aku sangat lelah, masih ingin tiduran. Kamu nanti pulangnya juga ke sini kan? Carikan alasan pada tuanmu, apa saja, pokoknya kamu bisa membawa aku pulang ke rumah."

“Baiklah, soal itu gampang diatur, yang penting aku kembali ke kantor dulu.”

Srikanti hanya mengangguk, tapi kemudian dia kembali tidur meringkuk seperti kerbau gemuk. Tulang tuanya ternyata bisa lelah juga.

***

Puspa sudah sendirian di rumah kakaknya, setelah sang kakak berangkat bekerja. Ia bisa lebih tenang mengerjakan tugasnya, tanpa melihat bayang-bayang ibunya dan Priyadi yang dianggapnya pengkhianat yang sangat kejam.

Tapi saat ia beristirahat, tiba-tiba ia teringat Nugi. Sedang apakah Nugi saat ini? Sedang menulis skripsinya di mana? Di sebuah persewaan komputer atau laptop, atau di kampus yang juga disediakan peralatan untuk itu?

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor itu tak dikenalnya, haruskah diangkat atau dibiarkannya? Jaman sekarang banyak orang menipu melalui ponsel. Puspa harus berhati-hati. Tapi ponsel itu tak berhenti melengking-lengking. Puspa mengangkatnya, menunggu suara dari seberang tanpa menjawabnya.

“Assalamu’alaikum … “

Penjahat yang sopan dan agamis. Tapi tunggu dulu. Suara itu seperti dikenalnya. Apa dia bermimpi?

“Wa’alaikumussalam.”

“Puspa ya?”

“Haa? Kamu Nugi?” kali ini Puspa berteriak. Entah teriakan karena terkejut, atau teriakan saking gembiranya.

“Iya. Ini aku.”

“Ponsel baru ya? Selamat ya.”

“Waktu ibuku memberi uang, aku belikan yang bekas dan kebetulan agak murah. Soalnya aku merasa bahwa benda ini penting aku miliki, untuk banyak hal. Salah satunya adalah untuk menghubungi kamu.”

Ya ampuun, gembiranya Puspa, Nugi ingin menghubungi dirinya.

“Dari mana kamu dapat nomor aku?”

“Dari buku yang pernah aku pinjam, ada nomor ponselmu di sana.”

“Alhamdulillah, senang mendengarnya.”

“Puspa, aku butuh buku seperti yang aku tulis di pesan singkat aku, apakah kamu punya?”

“Oh, kamu juga mengirim pesan, keasyikan menulis jadi tak sempat buka ponsel. Sebentar aku lihat.”

“Ada Nug, kebetulan aku bawa. Aku sedang di rumah kakak aku. Kamu di mana?”

“Aku di kampus, pinjam laptop kampus.”

“Aku antar ke sana sekarang?”

“Jangan, aku ambil saja di rumah kamu.”

“Aku kan sudah bilang bahwa aku di rumah kakak aku.”

“Oh iya, alamatnya di mana?”

“Jangan ke sini, aku sendirian, kalau kamu datang, nanti kita bisa ditangkap hansip,” lalu keduanya tertawa ngakak.

“Aku ke situ saja, aku bawain makanan ya, ini sudah siang, pasti kamu belum makan.”

“Tidak usah, keasyikan makan malah lupa tugas.”

“Masa orang bekerja nggak boleh berhenti makan, kalau pingsan karena kelaparan bagaimana? Pokoknya aku bawa, soalnya aku juga belum makan.”

“Terserah kamu saja.”

Dan Puspa tiba-tiba seperti mendapatkan semangat baru. Ia bergegas menyiapkan buku yang dibutuhkan Nugi. Ia juga membawa laptopnya barangkali bisa menuliskan sesuatu setelah sampai di sana. Entahlah, pokoknya Puspa seneng banget.

***

Sesampai di kampus, Puspa langsung membuka bungkusan makanan dan makan bersama Nugi di tempat seperti biasa.

Nugi merasa senang bisa bertemu Puspa. Ia bahkan merasa bahwa akal warasnya sudah hilang. Mengapa tiba-tiba merasa menyukai gadis kaya raya ini? Bukankah ia pungguk dan Puspa adalah rembulan? Tidak, ini harus dilenyapkan. Kata batin Nugi. Tapi matanya masih menatap Puspa yang makan nasi rendangnya dengan lahap.

“Hei, mengapa menatap aku seperti itu? Aku seperti orang kelaparan yang sudah seminggu tidak makan ya?” kata Puspa sambil mengelap mulutnya dengan tissue.

Nugi tersipu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Masa dia harus berterus terang bahwa dia mengagumi gadis kaya itu?

“Aku aneh?”

“Tidak, kamu cantik,” kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Puspa ingin menari karena kegirangan. Dia tahu bahwa dirinya cantik, tapi diucapkan oleh seseorang yang dikaguminya, rasanya sangat luar biasa. Ia mengelus pipinya sendiri sambil tersenyum manis.

“Terima kasih sudah bilang aku cantik.”

“Maaf.”

“Mengapa meminta maaf? Aku senang dipuji cantik oleh kamu.”

“Baiklah, lanjutkan makannya, lalu aku akan melanjutkan tugasku. Ayo ke perpus."

“Akan aku temani. Aku juga membawa bahan-bahan yang akan aku tulis.”

“Nanti aku malah tidak konsentrasi ditemani oleh kamu.”

“Bisa, ayo kita coba, Duduk berjauhan dan saling memunggungi, sehingga tidak saling mengganggu,” kata Puspa dengan sangat bersemangat.

Akhirnya mereka mengerjakan tugas mereka dengan saling membisu, hanya kadang-kadang saja membuka suara kalau bisa saling bertanya. Rupanya asyik juga bekerja bersama orang yang disukainya.

Hari sudah menjelang sore ketika tiba-tiba ponsel Puspa berdering.

“Puspa?”

“Ya Mbak, aku di kampus. Ada apa?”

“Kunci rumah kamu taruh di mana? Aku sudah di rumah nih, rumah ternyata terkunci.”

“Ya ampuuun, maaf Mbak, kebawa oleh aku. Tungguin, aku segera ke situ,” kata Puspa sambil berkemas.

“Mau pulang?”

“Kunci rumah kakakku terbawa, dia pulang dan nggak bisa masuk. Lupa aku.”

“Kamu sekarang tinggal bersama kakak kamu?”

“Hanya selama mengerjakan skripsi ini, di sana kosong kalau kakakku bekerja, jadi aku sendirian. Maaf ya, aku pulang dulu. Hubungi aku kalau memerlukan sesuatu.”

Nugi mengangguk, ada kecewa menggigit pelan, tapi kemudian ia memarahi dirinya sendiri, dan mengatainya ‘lancang’.

***

Tertawa tapi dengan wajah menyesal ketika Puspa turun dari mobil, lalu tergopoh mendekati kakaknya. Ternyata Sekar tidak sendiri. Ada mas Roto bersamanya. Karena tergesa tadi ia tak memperhatikan ada mobil lain di halaman.

“Maaf ….” teriaknya sambil memberikan kunci rumah kepada kakaknya, kemudian dia menghampiri kakak satunya dan merangkulnya erat.

“Mas Roto jarang kemari sih?”

“Pekerjaan sedang banyak. Atas doa kalian usaha aku maju, dan lebih berkembang,” kata Suroto yang kemudian diajaknya masuk ke rumah oleh Sekar.

“Syukurlah, senang aku mendengarnya. Kelak ajari aku berbisnis ya?”

“Kamu tidak mau menggantikan bapak di perusahaan bapak?”

“Aku ingin berusaha sendiri. Nantilah, sekarang aku sibuk mengerjakan tugas akhir aku.”

“Ya sudah, terserah kamu saja.”

“Ayo makan, aku pulang setelah Roto nyamperin ke kantor. Katanya belum makan, lalu aku ajak saja pulang tapi beli makan dulu, supaya kamu juga ikut makan,” kata Sekar.

“Waduh,” kata Puspa sambil mengelus perutnya.

“Kenapa? Nggak suka? Ini nasi ayam kesukaan kamu.”

“Aku tadi di kampus sudah makan.”

“Apa? Ke kampus mengerjakan tugas atau untuk makan?”

“Makan dulu, baru ngerjain tugas. Mas Roto dan mbak Sekar saja yang makan, aku yang menata makanannya di meja, juga membuatkan minum untuk kalian.”

“Ya sudah, bagian kamu bisa dimakan nanti malam.”

***

“Aku sudah mendengar semuanya tentang ibu dan Priyadi,” kata Suroto ketika mereka duduk bersantai.

Puspa menunduk sedih. Bagaimanapun yang disebut ibu itu adalah ibu kandungnya.

“Itu sudah berlangsung lama Mas, maaf untuk ibuku. Tapi aku juga kecewa atas perbuatannya.”

“Apakah kita harus mengingatkan bapak mulai sekarang?”

“Jangan sekarang Mas, kita harus ingat akan kesehatan bapak. Nanti pelan-pelan kita pikirkan bersama cara menyampaikannya,” kata Puspa yang wajahnya berubah sendu.

“Baiklah, kamu harus sabar ya, jangan sampai kejadian ini mengganggu konsentrasi kamu dalam mengerjakan tugas akhir ini.”

Puspa mengangguk.

“Aku senang akhirnya walker yang aku belikan untuk bapak sudah dipakai.”

“Bapak juga senang bisa jalan tertatih,” kata Puspa yang mendadak wajahnya berseri.

“Bisa jalan?”

“Ya pelan-pelan mas, namanya baru berlatih, aku sampai membawakan kursi lipat, berjaga-jaga kalau bapak kelelahan.”

“Kalau saja dipakai dari kemarin-kemarin.”

Ponsel Puspa berdering, dari ayahnya.

“Ya, Pak?”

“Kamu di mana?”

“Di rumah mbak Sekar, ada mas Roto juga di sini.”

“Oh ya, nanti suruh ke rumah, aku kangen lama tidak ketemu.”

“Baik. Bapak menelpon ada apa?”

“Tolong jemput ibumu, karena Priyadi masih harus mengantarkan bapak ke tempat pertemuan dengan klien, bisanya sore ini, jadi tidak usah pulang.”

Wajah Puspa muram seketika.

“Bisa, Puspa?” ulang sang ayah.

“Jemput di mana? Apa tidak bisa panggil taksi?”

“Katanya habis berenang, sekarang ada di rumah temannya.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, December 30, 2025

HANYA BAYANG-BAYANG 23

 HANYA BAYANG-BAYANG  23

(Tien Kumalasari)

 

Puspa dengan telaten menemani tuan Sanjoyo, yang terkadang harus istirahat dan duduk di kursi lipat yang sengaja dibawa Puspa.

“Bapak capek?”

“Sedikit, tidak masalah. Kan sebentar-sebentar istirahat.”

“Kalau capek biar mbak Sekar menjemput kemari.”

“Kenapa Sekar? Kasihan dia kan harus kerja. Priyadi saja.”

“Tidak usah, apa Bapak benar-benar ingin berhenti?”

“Tidak, ayo jalan lagi.”

“Bapak suka bubur?”

“Bubur apa?”

“Di depan itu ada bubur ayam. Ayuk jalan ke sana, masih kuat nggak?”

“Ya kuat, kan barusan duduk beberapa saat lamanya. Tapi bubur yang mana?”

“Itu, yang di depan. Gerobag yang berhenti didepan sekolahan itu.”

“Beli di situ?”

”Memangnya kenapa Pak, orang kaya juga boleh kok makan di pinggir jalan. Bapak malu?”

“Tidak. Baiklah, terserah kamu saja. Ayo jalan.”

Puspa tersenyum senang. Ia juga ingin mengajarkan kepada ayahnya bahwa jajan di pinggir jalan itu bukan hina.

Puspa tidak usah merentangkan lagi kursi lipatnya, karena tukang bubur itu sudah menyediakan beberapa kursi dan meja kecil untuk pembeli.

“Duduk di sini ya Pak?”

“Makan di sini juga?”

“Ya iya, Pak. Enaknya kan dimakan di sini? Kenapa? Bapak malu?”

“Tidak, sedikit aneh, belum pernah sih.”

“Pak, minta dua porsi ya,” kata Puspa kepada penjual bubur.

“Siap Mbak. Minumnya apa?”

“Teh panas saja, manis ya. Dua.”

Tuan Sanjoyo menatap anaknya heran. Puspa seperti sudah biasa jajan di pinggir jalan. Tapi kemudian ia tersenyum melihat Puspa menatapnya senang.

“Enak jajan di pinggir jalan lhoh Pak.”

“Kamu sering jajan beginian?”

“Beberapa kali, dan itu enak.”

Tukang bubur menyajikan dua mangkuk bubur dan teh yang diminta pembelinya.

“Ayo pak, tapi tunggu sebentar, masih panas. Tehnya saja dulu, Bapak pasti haus berjalan cukup jauh.”

Tuan Sanjoyo mengaduk tehnya sebentar, kemudian mencecapnya.

“Enak tehnya, wangi.”

Dan tuan Sanjoyo merasakan sensasi yang berbeda ketika makan di pinggir jalan. Baru sekali, tapi tidak mengecewakan. Ia menikmati bubur ayamnya dengan sangat lahap.

“Enak?”

“Hm..emh, enak. Besok kita jajan lagi di sini ya?”

“Siap Pak, apapun yang Bapak suka, Puspa akan melayani.”

Tapi Puspa tak sampai hati membawa sang ayah pulang dengan masih berjalan kaki. Diam-diam dia mengirim pesan kepada Sekar agar menjemputnya, setelah diberinya ancar-ancar. Ia memang tak mengatakan kepada ayahnya tentang hal itu. Jangan sampai ayahnya memilih dijemput Priyadi, dan dia sungguh enggan melihat tampangnya. Ia sudah merencanakan, ketika sampai di rumah, akan langsung kembali ke rumah Sekar, sebelum Priyadi datang menjemput sang ayah.

“Mau tambah lagi Pak?”

“Sudah, kenyang. Nati di rumah juga nggak perlu sarapan lagi. Perutnya bisa meletus kebanyakan makan.”

Puspa tertawa, lalu melihat ke arah ponselnya, lalu ia melihat jawaban sang kakak di pesan singkatnya. Okey, tungguin.

***

Srikanti keluar dari kamar, langsung mencari-cari suaminya. Ia melihat kursi roda teronggok di tengah ruangan, dekat sofa di mana biasanya sang suami duduk.

“Biiik!” teriaknya, membuat bik Supi tergopoh mendekat.

“Tuan di mana?”

“Tadi tuan jalan-jalan sama non Puspa.”

“Naik mobil siapa? Itu mobil Sekar bukan?” tanyanya setelah melongok ke halaman.

“Tidak naik mobil, Nyonya.”

“Apa maksudnya? Kursi roda juga ada di sini?”

“Jalan dengan bantuan walker.”

“Apa?” Srikanti berteriak marah.

“Non Puspa mengajaknya jalan dengan walker.”

“Anak itu lama-lama membuat aku semakin kesal. Bapaknya itu kan memang nggak bisa jalan, kalau dipaksa jalan, lalu kenapa-kenapa gimana?” ucapnya masih dengan berteriak, membuat bik Supi mundur beberapa langkah ke belakang

“Mengapa kamu biarkan non Puspa membawa ayahnya jalan?”

“Mana saya berani melarang Nyonya, kan saya hanya pembantu.”

“Keterlaluan. Puspa memang keterlaluan. Kalau bapaknya terjatuh atau tiba-tiba pingsan kelelahan bagaimana?”

Bik Supi ingin menutup telinganya, tapi tidak berani. Ingin ke belakang juga harus berpikir, kalau dia tiba-tiba pergi pasti dibentak pula. Lalu ditemukannya alasan.

“Nyonya, maaf, saya tadi menyalakan kompor, mau saya buat ngrebus air lagi,” katanya sambil berlalu, dan untunglah sang nyonya tidak menghardiknya. Terdengar mobil memasuki halaman, Srikanti beranjak keluar, dan ia melihat mobil Sekarlah yang masuk.

Ia berdiri di teras dengan amarah yang meluap.

Puspa mengeluarkan walkernya, lalu membantu sang ayah turun, yang kemudian berjalan pelan dengan walkernya.

“Bagus ya, kalian berdua mengajak ayahmu jalan, sementara dia memang seharusnya tidak memaksakan diri untuk jalan. Bagaimana kalau sampai ada apa-apa? Bagaimana kalau ayahmu kenapa-kenapa? Nanti ibumu ini juga yang susah, tahu!!” mata Srikanti melotot ke arah Puspa yang tidak menjawab.

Sekar turun dari mobil. Mengikuti ayahnya masuk ke rumah.

“Mengapa diam? Kamu mau bertanggung jawab kalau ayahmu kenapa-kenapa?”

“Sri, jangan marah-marah begitu, aku kan tidak apa-apa?”

“Mas tahu tidak, kalau Mas sampai jatuh atau kenapa-kenapa, aku ini yang susah … sedih.” Ungkapnya lagi, membuat Puspa mencibir dalam hati. Sok cinta, sok sayang, pengkhianat. Kata batinnya.

“Tapi aku suka, aku ternyata kuat jalan agak jauh. Tadi kalau tidak tiba-tiba dijemput Sekar, aku pasti masih sanggup berjalan pulang.”

“Jangan sok gagah. Namanya tulang tua itu memang harusnya begitu, Jangan dipaksakan.”

“Besok Puspa mau datang lagi mengajak aku jalan-jalan. Sekarang aku mau mandi.”

Srikanti dengan lembut kemudian memapah suaminya ke arah kursi roda.

“Ibumu ini, sayangnya pada bapakmu ini sangat kelewatan. Cuma melihat aku jalan saja marah setengah mati. Khawatir sekali dia,” kata sang ayah.

“Bapak, kami langsung pulang ya, mau masuk kerja soalnya.”

“Ya, ya. Puspa juga ikut sekalian?”

“Iya pak, belum mandi juga.”

“Baiklah, hati-hati di jalan,” pesan tuan Sanjoyo sambil melambaikan tangannya di tengah berjalannya kursi roda yang didorong istrinya. Srikanti bahkan lupa dan tak peduli ketika menyadari Puspa dan Sekar berlalu tanpa pamit dan mencium tangan ayah ibunya sebelum pergi.

***

Srikanti bertambah kesal karena suaminya tak mau makan pagi gara-gara sudah makan bubur ayam di pinggir jalan.

“Apa? Mas diajak makan bubur ayam di pinggir jalan? Keterlaluan sekali anak itu. Apa dikira orang tuanya itu orang kebanyakan? Kalau sampai ketahuan anak buah atau teman bisnis, apa tidak malu Mas?”

“Mengapa kamu ini Sri, apakah orang kaya tidak boleh makan di pinggir jalan?”

“Bukan tidak boleh, tapi tidak pantas dan memalukan.”

“Kata siapa tidak pantas. Yang tidak pantas itu kalau kita melakukan suatu hal yang buruk atau tercela. Kalau hanya makan di pinggir jalan saja, aku kira wajar. Tadinya agak aneh, tapi ternyata nikmat. Kita bisa ngobrol sama penjualnya. Menanyakan asal usulnya, seberapa banyak untungnya kalau berjualan bubur, berapa anaknya, dan masih banyak lagi. Itu asyik lho Sri.”

“Huh, hanya berbincang dengan penjual di pinggir jalan saja, Mas merasa senang.”

“Oh iya Sri, aku belum memberi tahu kamu, Nilam sudah aku pindahkan di bagian lain mulai kemarin.”

“Dipidahkan ke mana?” tanya Srikanti agak terkejut, karena Priyadi belum sempat mengabari Srikanti tentang dipindahkannya Nilam ke bagian lain.

“Aku pindahkan di bagian ekspedisi, sudah aku titipkan sama pak Sugeng agar mengajarinya mengerjakan sesuatu yang belum pernah dikerjakannya.”

Kekesalan Srikanti bertambah lagi. Nilam yang digadang bisa mengetahui seluk belum perusahaan agar berguna nanti ketika tuan Sanjoyo tak mampu lagi, malah dipindahkan ke bagian ekspedisi.

“Mengapa Mas melakukannya? Kenapa tidak Mas biarkan saja menjadi sekretaris Mas atau pembantu sekretaris dululah, begitu. Malah dipindah kebagian lain. Kasihan Nilam kan? Lagi pula nggak enak sama Priyadi, kita dititipin anaknya, malah aku sudah berjanji akan menganggapnya sebagai anak sendiri, Mas malah begitu,” wajah Srikanti sungguh tak enak dipandang.

“Kita kan sudah menolongnya, memberikan pekerjaan, apa itu masih kurang?”

“Memberi pekerjaan, tapi ya jangan sembarangan begitu.”

“Kok sembarangan bagaimana sih kamu itu? Itu bukan pekerjaan sembarangan. Kalau Nilam aku jadikan OB, atau tukang bersih-bersihan, itu baru kamu bisa bilang kalau aku keterlaluan,” lama-lama tuan Sanjoyo kesal juga pada istrinya. Sepagi ini sudah marah berkali-kali, bahkan menyalahkan kebijakannya.

Begitu Priyadi datang, tuan Sanjaya langsung berdiri, meraih walker dan berjalan keluar.

“Mas mau jalan?” akhirnya Srikanti bertanya.

“Ya. Coba-coba berjalan tidak memakai kursi roda.”

“Nanti kecapekan.”

Tuan Sanjoyo tidak menjawab. Srikanti tahu suaminya marah. Lalu dia meredakan emosinya, bersikap lebih manis.

“Hati-hati kalau berjalan.”

Priyadi yang belum sempat turun dari mobil, segera turun dan membantu tuan Sanjoyo  masuk ke dalam mobil. Walker juga dilipat dan dimasukkan bagasi, tanpa bertanya-tanya, karena Srikanti sudah memberi isyarat dengan matanya agar dia tak berkomentar.

“Tuan ingin jalan sendiri dengan walker Pri, nggak apa-apa, untuk latihan jalan,” kata Srikanti sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Oh, baiklah Nyonya, akan saya suruh orang-orang menjaganya nanti.”

“Mas, hati-hati ya. Trus … nanti kalau boleh, pinjam Priyadi sebentar ya, akan aku suruh mengantar belanja, aku sedang malas mengendarai mobil sendiri.

“Biar dia pulang setelah mengantar aku,” katanya sambil menutup mobil dan memberi isyarat kepada Priyadi agar segera menjalankan mobilnya.

***

“Apa kamu sudah mendengar dari tuan Sanjoyo kalau Nilam dipindahkan?” Tanya Priyadi ketika mereka sudah berada di rumah perselingkuhan mereka.

“Sudah, baru tadi. Kesal aku. Padahal sebelumnya aku juga kesal, ketika tiba-tiba dia diajak jalan-jalan sama Puspa dengan walker.”

“O, itu sebabnya tuan tidak mau membawa kursi roda dan malah membawa walker?”

“Itulah. Harusnya biarkan saja dia selamanya di kursi roda, aku sudah capek begini terus, ingin bebas dan leluasa.”

“Terus kamu nggak protes pada tuan Sanjoyo tentang dipindahkannya Nilam itu?”

“Aku protes, malah kelihatannya dia tidak suka. Aku khawatir kalau dia keterusan marahnya sama aku. Bagaimanapun kan aku harus menjaga agar dia selalu baik kepadaku dan menuruti permintaanku. Lhah kalau marah, aku yang rugi dong.”

“Iya benar, kalau begitu kita harus merencanakan sesuatu yang lain.”

“Apa kamu sudah memikirkannya?”

“Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, entah bagaimana caramu. Nanti kita akan membuka usaha sendiri. Nilam akan mencari pasarnya. Dia kan di bagian pengiriman? Pasti ini lebih bagus. Tidak usah menunggu tuan Sanjoyo tak mampu melakukannya."

***

Besok lagi ya.

Monday, December 29, 2025

HANYA BAYANG-BAYANG 22

 HANYA BAYANG-BAYANG  22

(Tien Kumalasari)

 

Sepeninggal Sekar, tuan Sanjoyo termenung. Memang benar, orang baru tidak bisa terlalu masuk ke dalam. Ia hanya terpengaruh permintaan Srikanti yang setengah memaksa agar Nilam anak Priyadi mendapat kedudukan di kantornya. Memang sih, Priyadi sudah lama mengabdi, tapi tuan Sanjoyo belum tahu bagaimana sebenarnya Nilam. Hanya dia rajin dan cekatan, serta bisa melayaninya dengan baik. Tapi tidak berarti dia harus mempercayai sepenuhnya, apalagi tentang perusahaan yang seharusnya hanya orang-orang terpercaya yang boleh mengetahuinya.

“Tuan,” tiba-tiba Nilam masuk begitu saja. Biarpun semua karyawan memanggilnya dengan sebutan ‘pak’, tapi Nilam tetap memanggilnya tuan, agar tetap dianggap mengerti tata krama, seperti juga ayahnya.

“Mengapa tidak mengetuk pintu?” kali ini tiba-tiba tuan Sanjoyo menjadi lebih kritis menanggapi sikap Nilam.

“Oh iya, maaf Tuan, saya tergesa-gesa.”

“Mengapa tergesa-gesa?”

“Harusnya sudah tadi diserahkan kepada Tuan, tapi Tuan pergi tadi bersama ….”

“Itu anak saya, kakaknya Puspa. Namanya Sekar.”

“Oh iya, bersama ibu Sekar.”

“Biarpun tergesa-gesa, tetap kesopanan harus dijaga. Sebelum masuk ruangan mengetuk pintu terlebih dulu. Bukan hanya di ruangan saya, tapi juga kalau kamu mau masuk ke ruangan yang lain.”

“Maaf, baiklah, akan saya perhatikan.”

“Ya sudah, tinggalkan berkasnya di sini.”

“Saya permisi,” katanya sambil mengundurkan diri.

“Hm.” hanya itu jawaban tuan Sanjoyo, sambil meraih map berisi laporan yang pastinya dibuat oleh sekretarisnya.

Setelah dipikir-pikir, memang tak seharusnya Nilam berada di posisi asisten sekretaris. Biasanya semuanya dikerjakan oleh sang sekretaris, dan semuanya begitu sempurna, tak ada yang mengecewakan. Sekarang ini, Nilam hanya disuruh membawa berkas ke hadapannya, atau mengetik sesuatu yang sebenarnya tanpa Nilam juga tetap bisa berjalan.

Tuan Sanjoyo sedang berpikir, apakah seharusnya mengatakan dulu kepada sang istri bahwa Nilam akan dipindahkan ke divisi lain, tapi mengapa harus mengatakan kepada Srikanti? Srikanti hanyalah istri, tak ada hubungannya dengan perusahaan bukan? Kalau masalah membantu, memberinya pekerjaan itu bukankah sudah membantu? Itupun hanya karena Nilam adalah anak Priyadi, sopir setianya.

Tuan Sanjoyo memencet interkom di ruang sekretarisnya.

“Ya, Pak.”

“Kalau tidak ada pekerjaan, suruh Nilam menghadap.”

“Baik, tidak ada yang dikerjakan, jadi akan saya perintahkan sekarang.”

Interkom ditutup.

Tuan Sanjoyo masih berpikir, di mana seharusnya Nilam ditempatkan. Mungkin benar kata Sekar, di bagian ekspedisi saja. Di sana banyak pekerjaan. Pak Sugeng sering mengeluh kalau pekerjaan sedang banyak, terkadang ada keterlambatan pengiriman.

Ketukan pintu terdengar, tuan Sanjoyo memerintahkannya masuk.

Rupanya Nilam sudah mengingat teguran sang majikan tadi, padahal sebelumnya dia sering mengabaikan aturan mengetuk pintu, tapi begitu melihat Nilam, tak ada teguran untuk itu.

Nilam memang begitu santun dan patuh pada perintahnya.

“Duduklah.”

Nilam duduk dengan sopan. Ia selalu menjaga kesopanan itu, agar tuan Sanjoyo mempercayainya dan yang penting menilainya sangat baik. Itu yang disarankan Priyadi untuknya berkali-kali.

“Nilam, begini ya, setelah aku pikir-pikir, kamu tidak sesuai ditempatkan di bagian ini.”

“Apa? Apa maksud Tuan?”

“Kamu akan aku pindahkan ke bagian lain.”

“Dipindahkan? Apakah saya membuat kesalahan?”

“Tidak, bukan karena kamu membuat kesalahan. Tapi memang di sini, sudah ada sekretaris yang bisa menangani semuanya. Dan sekarang ini, bagian ekspedisi sedang membutuhkan seseorang. Jadi kamu akan aku pindahkan ke sana.”

“Saya dijadikan kepala ekspedisi?”

“Bukan kepala, ada kepalanya sendiri, pak Sugeng. Kamu  bekerja di bawah pak Sugeng.”

Nilam tak menjawab. Ia seperti terjatuh dari sebuah ketinggian. Menurutnya, tuan Sanjoyo pasti akan mempercayainya, lalu setelah belajar beberapa saat dia akan jadi sekretaris pribadinya. Atau menjadi seseorang yang penting, karena nyonya Srikanti sangat berpengaruh bagi suaminya. Tapi sekarang dia dipindahkan ke bagian ekspedisi, dan menjadi bawahan pula?

Tuan Sanjoyo memencet interkom di ruangan ekspedisi.

“Ya Pak.”

“Pak Sugeng, ke ruanganku sekarang ya.”

“Baik.”

“Apakah saya melakukan kesalahan? Gara-gara lupa mengetuk pintu tadi?” tiba-tiba Nilam bertanya lagi.

“Tidak. Mengapa kamu berpikir begitu? Lupa mengetuk pintu bukan kesalahan fatal, dan aku sudah mengingatkannya. Kelak kalau masuk ke ruangan lainpun kamu juga harus mengetuk pintu. Tapi bukan itu yang membuat kamu dianggap bersalah. Bagian ekspedisi membutuhkan seseorang, dan kamu adalah orang yang tepat.”

Ketukan pintu terdengar, dan pak Sugeng masuk setelah mendapat perintah ‘masuk’ dari sang majikan.

Tuan Sanjoyo mempersilakannya duduk dengan isyarat tangan, dan pak Sugeng duduk di depan majikannya, di samping Nilam.

“Pak Sugeng, saya dengar pak Sugeng sering repot ketika pengiriman meluap dan barang belum disiapkan.”

“Ya, seringnya begitu Pak, saya minta maaf kalau terkadang ada keterlambatan.”

“Saya beri pak Sugeng seorang pembantu yang cekatan. Saya tahu dia cekatan karena saya sudah melihat kinerjanya. Dia, ini Nilam.”

“O, Nilam, yang katanya anak pak Priyadi?”

“Benar. Karena itu aku titipkan Nilam agar pak Sugeng mengajarinya tentang seluk beluk pekerjaan di bagian sana.”

“Baiklah, terima kasih banyak. Sedikit banyak saya juga sudah mengenal Nilam, karena seringkali terlihat makan bareng pak Priyadi.”

“Ya, tentu saja, kan dia anaknya.”

“Baiklah, siap pak.”

“Nilam, sekarang ikutlah pak Sugeng manager kamu sekarang.”

Nilam mengangguk dengan berat, tapi ia tak berani berkutik, karena itu adalah perintah majikan. Ia berdiri dan berjalan mengikuti pak Sugeng ke ruangannya.

***

Nilam mempelajari hal lain, tentang barang-barang yang sudah disiapkan, tentang barang yang kurang. Ada rasa kecewa, tapi dia harus bertahan. Pasti ada sesuatu yang akan membuatnya berhasil. Kata 'ayahnya', tuan Sanjoyo sudah tua dan sakit-sakitan, dan satu-satunya yang bisa diharapkan Srikanti adalah Puspa, tapi Puspa yang sebenarnya adalah anaknya sendiri, menolaknya. Karenanya harapannya adalah Nilam.

Ia bekerja sangat cermat, dan juga cekatan. Pak Sugeng membenarkan apa yang dikatakan pak Sanjoyo, Nilam memang cekatan. Karenanya ia merasa senang. Apalagi Nilam pintar bergaul dan dikenal baik oleh rekan sekerjanya.

Tapi ketika pulang dari rumah tuan Sanjoyo, begitu memasuki rumah mewah yang dibangun untuk rumah perselingkuhan, Nilam mengeluh tentang perpindahan tempatnya bekerja.

“Makanya, aku heran mengapa kamu keluar masuk di ruangan pak Sugeng. Jadi kamu sekarang kamu bekerja di bawah pak Sugeng?”

“Iya, sebenarnya aku kurang suka.”

“Mengapa tiba-tiba kamu dipindahkan? Apakah kamu membuat kesalahan?”

“Katanya sih tidak, hanya karena bagian ekspedisi butuh orang saja. Nggak tahu kenapa, sikap tuan Sanjoyo tadi kelihatan berubah. Aku lupa nggak ketuk pintu, ditegur dengan wajah nggak enak dipandang. Padahal sebelumnya aku tuh sering nggak pake ngetuk pintu kalau mau masuk. Apa karena tadi habis makan siang diluar sama anaknya ya, lalu ada gosokan-gosokan gitu dari anaknya?”

“Tadi pergi sama Sekar kan?”

“Na itu, kok setelah pulang semuanya jadi berubah.”

“Mungkinkah Sekar mempengaruhi ayahnya?”

“Ya nggak tahu aku hanya menduga-duga. Tiba-tiba saja aku kena teguran gara-gara nggak ketuk pintu, lalu tiba-tiba juga aku dipindahkan ke bagian lain.”

 “Apa kamu yakin itu karena Sekar?”

“Tidak yakin juga, tapi kejadian itu kan setelah tuan Sanjoyo bepergian bersama anaknya itu.”

“Bagaimanapun kamu harus menerimanya, dan jangan kelihatan kalau kamu membangkang, supaya tidak kelihatan bahwa kamu sedang mempelajari sesuatu.”

“Iya, tentu saja. Aku akan bersikap sangat baik, seperti seorang yang patuh.”

“Anak pintar.”

“Dan untunglah mereka menganggap bahwa aku ini anakmu, jadi mereka pastinya tidak akan mencurigai sesuatu.”

“Bagaimanapun kamu harus berhati-hati. Kalau sampai Sekar turut campur, berarti dia mencium sesuatu yang menurutnya tidak baik-baik saja dengan keberadaanmu.”

“Iya Mas, aku akan berhati-hati.”

“Sepertinya Srikanti juga belum mengetahui hal itu, karena kalau dia sudah tahu sebelumnya, pasti dia akan mengatakannya padaku.”

“Tapi kalau sekarang pasti dia sudah mengatakannya kepada istrinya yang kekasihmu itu Mas,” kata Nilam dengan mulut cemberut.

Priyadi tertawa. Ia bangga karena memiliki dua orang kekasih yang sama-sama menyenangkan, tak pernah kecewa dan menyesal atas semua yang dilaluinya. Ia hanya merasa sangat beruntung. Yang satu bisa diperas hartanya, yang satu masih muda dan menggiurkan walau juga doyan mencecap kenikmatan dari harta ‘saingannya’. Apa yang kurang dalam hidup ini?

”Tapi aku peringatkan kamu Nilam, sudah sekian lama, kamu masih saja terbiasa memanggilku ‘mas’. Biasakanlah dengan Pak, apakah itu sulit?”

“Aku ingin, tapi lidahku sering susah dikendalikan.”

“Kalau kamu nekat, nanti lama-lama akan dicurigai, karena aku selalu memberikan alasan yang agak aneh.”

“Iya, akan aku ingat, ayo sekarang mandi, aku ingin jalan-jalan malam ini.”

“Jalan-jalan? Apa tidak capek? Bukankah lebih baik kita tidur saja supaya badan lebih segar.”

“Tapi aku ingin makan enak, perutku lapar.”

“Baiklah, kalau begitu kita mandi, lalu pergi makan sebentar.”

***

Hari masih pagi, tuan Sanjoyo baru saja bangun, ketika tiba-tiba melihat Puspa datang.

“Mengapa pagi-pagi sekali kamu sudah datang Puspa?”

“Puspa kan selalu bangun pagi Pak. Habis shalat lalu jalan kemari.”

“Kangen sama bapak rupanya?” kata tuan Sanjoyo sambil tersenyum.

“Iya dong Pak, mau mengajak jalan-jalan Bapak.”

“Bapak belum mandi.”

“Mandi nanti saja kalau sudah pulang dari jalan-jalan.”

Tuan Sanjoyo tertawa.

“Tumben, biasanya kalau belum rapi kamu tidak pernah keluar rumah.”

“Iya, ternyata setelah bersama mbak Sekar, Puspa selalu dibangunkan pagi-pagi sekali, beribadah subuh lalu jalan-jalan, udara segar sangat menyehatkan.”

“Bagus sekali. Ayo menghirup udara pagi. Mau naik mobil kamu atau mobilnya bapak?”

“Kita jalan Pak, namanya jalan pagi, masa pakai mobil?”

Tiba-tiba Puspa langsung pergi ke belakang, bertemu bibik. Tidak kelihatan Srikanti, yang rupanya belum bangun. Puspa senang tidak harus menyapa ibunya. Ia segera menghampiri bibik, dan meminta bibik mengambilkan walker yang selama ini disimpan di belakang.

Bergegas bibik mengambilnya.

“Tuan mau diajak jalan-jalan dengan ini?” kata bibik yang sudah membersihkan walkernya.

“Iya, ayo Bibik ikut?”

“Non ini bagaimana, kalau pagi pekerjaan bibik banyak, nanti bisa kena marah kalau ikut jalan-jalan. Sudah sana, memang melatih tuan agar bisa berjalan sendiri itu penting, tidak harus tergantung kursi roda.

“Iya Bik, ayo, aku pergi dulu.”

“Hati-hati Non. Jangan jauh-jauh dulu jalannya.”

“Siap, Bik,” kata Puspa sambil tertawa.

***

Tertatih dan sangat pelan, tuan Sanjoyo berjalan didampingi Puspa. Udara pagi memang sangat segar, semilir angin memandikan tubuh dan membuat badan terasa nyaman.

Puspa senang melihat sang ayah tampak gembira.

“Kalau capek, Bapak bilang saja, Puspa membawa kursi lipat yang bisa dibuat duduk kalau Bapak merasa capek.”

“Kamu hebat Puspa, bapak benar-benar merasa ini sangat berbeda. Masih berat, tapi kalau begini terus, bapak akan terbiasa.”

“Besok Puspa akan kemari lagi, berjalan-jalan bersama Bapak.”

“Kamu selalu tidur di rumah kakakmu?”

“Iya, Puspa merasa tenang mengerjakan tugas Puspa di sana. Tapi setiap pagi, mulai hari ini, Puspa akan selalu mengajak Bapak jalan-jalan.”

***

Besok lagi ya.

 

Wednesday, December 24, 2025

HANYA BAYANG-BAYANG 21

 HANYA BAYANG-BAYANG  21

(Tien Kumalasari)

 

Puspa menatap bik Supi yang seperti orang ketakutan. Sekilas Puspa menemukan jawabannya, tapi ia harus memastikannya. Siapa tahu pembantu setia itu justru pernah menemukan atau mencurigai sesuatu, atau bahkan sudah dengan jelas mengetahui dan sangat diyakininya. Tentang ibunya? Puspa tak harus melindungi sang ibu kalau ternyata sudah ada yang mengetahuinya. Untuk apa kalau sudah ada yang mengintip tabir perselingkuhan itu dan melihat semuanya.

Puspa menarik tangan bibik, dimintanya agar duduk di depannya.

“Non, saya siapkan makan ya.”

“Tidak, Bibik harus menjawab pertanyaanku. Percayalah, betapapun buruk apa yang akan  Bibik katakan, aku tidak akan marah. Sungguh.”

Mata bik Supi berkedip-kedip, menatap wajah cantik nona majikannya, yang penuh ketulusan.

“Benarkah Non Puspa tidak akan marah kalau bibik mengatakannya?”

Puspa menggelengkan kepalanya.

“Sebenarnya … sebenarnya … tapi … Non, saya sebelumnya minta maaf. Sungguh Non, saya minta maaf. Bukannya saya ingin merendahkan Nona, bukannya saya ini ingin berbuat jahat kepada seseorang. Saya, hanyalah manusia biasa … yang kalau melihat sesuatu yang tidak wajar, selalu nyeletuk mengeluarkan isi hati.”

“Yang kecanduan itu, Bibik anggap adalah sesuatu yang tidak wajar?” Puspa memancing ucapan bibik, yang tampaknya masih ragu berterus terang.

Bibik mengangguk, tapi kemudian menatap ke arah lain.

“Aku kan sudah mengatakan kalau tidak akan marah? Baiklah, biarkan aku menebaknya. Apakah yang Bibik maksud itu ibuku?”
Bik Supi menatap nona majikannya dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Mengapa non Puspa mengucapkan itu dengan ringan? Apakah sang anak sudah tahu perbuatan ibunya?

“Begitukah, Bik?”

“Non Puspa, saya sungguh minta maaf. Saya tidak bermaksud mengomeli nyonya, entah mengapa mulut saya ini jadi sangat lancang.”

“Bibik tidak usah merasa bersalah. Bibik tidak bersalah, yang bersalah adalah orang yang melakukan tindakan tidak terpuji dan sangat rendah. Apakah itu ibuku?”

“Non Puspa, maafkanlah saya,” lalu tiba-tiba bibik menangis terisak.

“Sudah lama Bibik mengetahuinya?”

Bik Supi mengangguk pelan.

“Jangan takut mengatakannya.”

“Apakah Nona sudah mengetahuinya?”

Bik Supi dan Puspa seperti sudah saling mengerti apa yang mereka bayangkan. Tapi Puspa ingin mengetahui lebih banyak.

“Bik, sudah lamakah hal itu terjadi?”

“Bertahun-tahun lalu, ketika bibik baru saja bekerja di sini.”

Puspa terperanjat. Bertahun-tahun lalu?

“Pada awalnya saya heran, apakah Priyadi saudara nyonya? Tapi kemudian saya sering melihat Priyadi keluar masuk kamar nyonya.”

“Apa?”

“Maaf Non.”

“Dan itu sudah bertahun-tahun lalu?”

“Mohon Non memaafkan saya. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya ingin menyimpannya saja, toh saya hanya pembantu. Tapi kemudian non Puspa mendesak saya, jadi saya terpaksa mengatakannya. Maaf Non.”

“Bibik tidak usah berkali-kali minta maaf. Bibik tidak bersalah, Bibik hanya mengatakan apa yang Bibik lihat dan saksikan.”

“Kalau sampai nyonya tahu bahwa saya mengatakan ini pada Non, entah apa yang akan terjadi pada bibik. Mungkin bibik langsung dipecat. Tapi bibik masih membutuhkan uang. Nugi belum selesai,” kata bibik sendu.

“Bibik jangan khawatir. Aku juga belum ingin membuka semua ini. Kata mbak Sekar, aku harus menyelesaikan dulu kuliah aku, kejadian itu jangan sampai mengganggu.”

“Terima kasih banyak non. Non sungguh baik kepada saya. Saya doakan agar Non bahagia dan yang penting selalulah berjalan dalam kebenaran.”

“Terima kasih Bik.”

“Sekarang non Puspa makan ya?”

“Ya, sedikit saja. Bagaimanapun hal ini sangat mengganggu aku. Itu pula sebabnya aku sering berada di rumah mbak Sekar. Aku tidak suka melihat Priyadi yang kebaikannya dan kesetiaannya kepada bapak adalah palsu. Dia bersama ibu bersekongkol menyakiti hati bapak.”

“Saya juga kasihan pada tuan. Tuan sangat baik, tapi dikhianati.”

“Ya sudah, ayo makan Bik, temani aku.”

“Tidak Non, bibik duduk di pojok seperti biasanya saja, melayani non Puspa makan.”

“Jangan Bik, aku yakin Bibik belum makan, ayo makan bersama-sama.”

Agak canggung bik Supi ketika Puspa mengajaknya makan semeja. Sebentar-sebentar ia melongok ke arah depan.

“Mengapa Bibik seperti tidak tenang begitu?”

“Kalau nyonya pulang dan melihat saya duduk di sini, bisa dibunuh saya Non.”

Tak urung Puspa tersenyum mendengar perkataan bik Supi.

“Kalau ibu pulang, pasti terdengar suara mobilnya. Ibu naik mobilnya sendiri ya? Aku tidak melihatnya di garasi.”

“Iya Non, tadinya mau pergi bersama Priyadi, tapi tiba-tiba tuan menelpon, menyuruh Priyadi kembali ke kantor. Pastinya pekerjaan di kantor sedang banyak.”

“Ya sudah, makan yang enak, setelah ini aku mau mengambil beberapa baju, nanti mau tidur di rumah mbak Sekar lagi.”

“Mengapa Non tidak tidur di rumah sini saja?”

“Kan aku sudah bilang, aku tidak ingin melihat Priyadi, bahkan ibu.”

“Ya ampun Non, saya juga kasihan pada Non.”

“Tidak apa-apa Bik, aku sudah mengatakan semuanya pada mbak Sekar, dan ternyata Bibik juga sudah tahu, entah mengapa perasaanku terasa lebih ringan."

“Bibik akan berdoa, semoga semuanya segera berlalu.”

“Aku masih harus bersabar Bik, demi kuliah aku.”

“Semoga cepat selesai ya Non. Tapi nanti setelah Nugi bekerja, bibik dilarang bekerja lagi oleh Nugi.”

“Iya, aku mengerti Bik.”

***

Suwondo, suami Sekar sangat prihatin mendengar semuanya. Dugaan-dugaannya selama ini, yang sebenarnya masih samar, sekarang sudah benar-benar adalah kenyataan.

“Kata bik Supi, ia melihatnya sejak pertama kali dia bekerja di rumah bapak.”

“Berarti sudah bertahun-tahun. Bibik bekerja di sana sudah sekitar tujuh atau delapan tahunan kan?”

“Malah sudah ada sepuluh tahunan Mas.”

“Bukan main. Sebegitu jahatnya ibu Srikanti. Sudah berapa banyak dia menghisap harta bapak untuk bersenang-senang dengan Priyadi. Lalu rumah yang kamu melihat ibu masuk ke sana itu rumah siapa?”

Pastinya rumah mereka berdua, ibu yang membelinya, atau mengontrak, entahlah, kalau senggang aku ingin mencari tahu. Aku juga ingin bicara dengan bapak. Tapi di kantor.”

“Kamu ingin mengatakan tentang perselingkuhan itu? Katanya Puspa tidak berani mengatakannya pada bapak, demi kesehatan bapak.”

“Bukan masalah itu. Aku ingin mengingatkan bapak tentang Nilam.”

“Oh iya. Nilam anaknya Priyadi?”

“Iya, aku khawatir dia berbuat yang tidak baik, atau punya maksud yang tidak baik. Aku hanya ingin mengingatkan bapak agar bapak berhati-hati.”

“Bukankah katamu dia menjadi pembantu sekretaris bapak? Berarti dia sering berada di dekat bapak. Bagaimana kamu bisa berbicara tanpa dia mendengarnya?”

“Gampang, nanti aku ajak bapak makan siang di luar. Aku juga kangen jalan-jalan sama bapak.”

“Lakukan dengan hati-hati, agar bapak tidak curiga.”

“Baiklah. Aku akan melakukannya hati-hati.”

“Kasihan Puspa, dia harus mengungsi di sini gara-gara enggan bertemu mereka.”

“Dia merasa bisa bekerja lebih tenang di sini, biarkan saja.”

***

Malam itu, tuan Sanjoyo menelpon Puspa, karena berhari-hari tidak ketemu.

“Ada apa Pak, kangen ya sama Puspa?” canda Puspa.

“Apa kamu merasa bisa bekerja lebih baik ketika di rumah kakakmu?”

“Iya Pak, soalnya rumah mbak Sekar kalau siang sepi, jadi Puspa bisa lebih fokus bekerja.”

“Di rumah sendiri berisik ya?”

“Bukan begitu, hanya merasa lebih nyaman saja. Terus kalau mbak Sekar sudah pulang, bisa ngobrol sambil istirahat.”

“Baiklah, terserah kamu saja, yang penting kamu nyaman dan aman.”

“Bapak sehat-sehat saja kan?”

“Tentu saja, bapak merasa sehat, hanya kaki bapak masih sedikit lemas. Sesekali bapak ingin belajar berjalan dengan walker. Kalau duduk terus justru tidak dilatih gerak.”

“Mengapa tidak dari dulu bapak mempergunakan walker itu, kan mas Roto yang membelikannya.”

“Ibumu sangat khawatir kalau aku latihan berjalan, lebih baik kursi roda saja, begitu katanya.”

“Kenapa khawatir?”

“Ibumu itu karena saking sayangnya pada bapak, jadi melarang bapak menggunakan alat jalan itu.”

Dari seberang, Puspa mencibir. Saking sayangnya? Atau jangan-jangan malah ibunya tak ingin suaminya sembuh dan bisa berjalan dengan normal.

“Bapak harus mencobanya.”

“Baiklah, mulai besok bapak akan mencobanya.”

Ketika meletakkan ponsel, Puspa baru berpikir tentang alat pembantu jalan itu, yang tidak pernah dipakai oleh sang ayah, dengan alasan dilarang oleh ibunya. Mengapa bukan sejak kemarin-kemarin Puspa meminta ayahnya agar latihan berjalan dengan walker? Iya sih, kan ketemunya kalau sore saja. Jadi Puspa tidak begitu perhatian. Sekarang dia harus lebih perhatian dan sering mengingatkan.

***

“Anak itu keras kepala, memang keras kepala,” omel Srikanti setelah sang suami selesai menelpon Puspa.

“Tidak apa-apa, dia merasa nyaman dengan kakaknya, apa tidak boleh?” jawab tuan Sanjoyo.

“Di rumah apa tidak bisa, dia juga punya kamar sendiri.”

“Dia sedang mengerjakan tugas akhir, barangkali dia membutuhkan tempat yang nyaman. Biarkan saja. Kamu seperti kehilangan anak kecil saja.”

“Akhir-akhir ini Puspa memang jarang ngomong sama aku.”

“Dia juga jarang di rumah kan?”

“Ya sudah, terserah dia saja. Semakin besar jadi semakin membuat jengkel.”

“Anak kalau sudah besar, apalagi dewasa, pasti sudah punya kemauan sendiri. Tidak usah kamu pikirkan, yang penting tidak melakukan hal buruk.”

Tapi sebenarnya Srikanti kurang suka Puspa dekat-dekat  dengan kakak tirinya. Jangan-jangan Sekar yang mengajari Puspa untuk berani menentang dirinya.

***

Siang hari itu di kantor tuan Sanjoyo bersiap untuk beristirahat. Biasanya dia suruhan OB untuk membeli makan siang. Tapi ketika ia akan memanggil OB, Sekar muncul.

“Sekar? Ayo sini, duduk. Kebetulan saat istirahat.”

“Bapak akan Sekar ajak makan siang di luar.”

“Benarkah?”

“Benar, tentu saja.”

“Aku panggil dulu Priyadi, sebelum dia pergi, biasanya kalau jam makan begini dia keluar.”

“Tidak usah Pak, aku kan membawa mobil sendiri.”

“Kamu bisa, mengawal bapak dengan kursi roda?”

“Bisa dong Pak, masuk ke mobil Sekar bisa membantu. Melipat kursi roda dan memasukkannya ke bagasi, Sekar bisa.”

“Baiklah, ayo kita berangkat,” kata pak Sanjoyo dengan gembira.

***

“Sekar baru tahu, ternyata Nilam itu anaknya Priyadi?” tanya Sekar saat makan bersama sang ayah.

“Iya, kasihan, ibunya baru meninggal, dia butuh pekerjaan.”

“Bagaimana pekerjaan dia? Baguskah?”

“Dia kan baru sebulan lebih, masih harus banyak  belajar.”

“Mengapa ditempatkan di kantor Bapak?”

“Dia kan pembantu sekretaris. Dia masih harus banyak belajar.”

“Seharusnya ditempatkan di gudang, atau di bagian ekspedisi saja. Kan dia baru belajar.”

“Ibumu yang minta.”

“Mengapa harus tergantung ibu?”

“Kata ibumu, kasihan pada Nilam.”

“Kasihan itu kan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Nilam sudah diberi pekerjaan, harusnya bersyukur.”

“Mengapa kamu mengingatkan bapak tentang Nilam?”

“Hanya minta agar Bapak ber hati-hati, di ruangan Bapak terdapat banyak rahasia perusahaan di mana hanya orang tertentu yang boleh mengetahuinya. Sedangkan Nilam itu orang baru. Kita tidak tahu bagaimana dia kan?”

“Masa aku harus tidak percaya pada anaknya Priyadi?”

“Pak, Sekar kan juga seorang pengusaha, walau kecil-kecilan. Tapi terhadap pegawai baru yang kita tidak tahu seperti apa, Sekar harus berhati-hati. Bapak kan tidak tahu Nilam itu bagaimana? Hanya karena anak Priyadi, lalu Bapak percaya begitu saja. Harusnya tidak langsung berdekatan dengan Bapak, sebelum Bapak benar-benar tahu dia itu bagaimana. Apalagi dia masih harus belajar.”

“Jadi sebaiknya bagaimana?”

“Misalnya di gudang, mencatat keluar masuknya barang, atau di bagian ekspedisi, atau apa. Kan banyak ruang untuk belajar. Bukan apa-apa, Bapak sudah sepuh, anak-anak belum ada yang siap mengganti, kabarnya Puspa juga ingin berusaha sendiri, jadi Sekar kira Bapak harus ber hati-hati. Maaf kalau Sekar terkesan mengajari.”

***

Besok lagi ya.

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...