Bowo tertegun. Mengapa ibunya mengajak gadis itu kekantor. Dia ingat
ibunya pernah ingin mengenalkannya dengan Dewi... yang anak bu Harlan
teman arisan ibunya.
Bowo tak begitu suka cara itu .. yang dia yakin
pasti ia akan dijodohkannya dengan Dewi. Ia masih ingat beberapa hari
yang lalu ibunya menunjukkan sebuah foto.
"Lihat Bowo.. bukankah ini cantik?"
"Ya.. cantik.." jawab Bowo sambil menyerahkan kembali foto itu.
"Ini Dewi.. anaknya bu Harlan." Bu Prasojo masih terus mengikuti Bowo yang ketika itu siap2 mau berangkat kerja.
"Bisakah kau menerimanya bekerja dikantormu?"
"Tidak ada lowongan bu."
"Dia itu sarjana.. cantik.. dan pasti pintar."
"Pak, saya permisi dulu," tiba2 suara Asri membuyarkan lamunannya.
"Oh.. eh.. apa?"
"Saya permisi pulang."
"Eeit.. no..no..no.. kau duduk disini dan bantu aku mengemasi berkas2 ini."
Asri berhenti melangkah. Ia tau itu cara Bowo menghalangi niatnya. Ia harus menurut karena kalau tidak...
"Ini perintah... !"
Tuh kan... Asri sudah menduganya. Perintah atasan harus dita'atinya.
Asri duduk dikursi tepat dihadapan Bowo. Dilihatnya Bowo tersenyum.
Senyum itu sebenarnya sangat menawan. Ketika kuliah dulu banyak gadis
berebut mendapatkan cintanya karena senyum itu.
Tapi Asri
menundukkan kepalanya sambil meraih berkas2 dihadapan Bowo dan
merapikannya. Ia justru teringat pada senyum Damar yang menurutnya lebih
memikat. Setidaknya bagi dirinya sendiri. Dan itu membuat batinnya
kembali
teriris. Bowo tak tau bahwa senyumannya mengganggu Asri. Menurutnya Asri sungkan karena dipaksanya pergi dan pulang bersamanya.
"Asri, ma'af kalau aku melarangmu pergi dan pulang sendiri. Kau baru
saja sembuh dan aku yakin itu belum pulih benar. Kalau kau memaksa
berangkat dan pulang sendiri, aku kawatir.. "
Tapi Asri merasa
bahwa Bowo sangat berlebihan. Ia hanya mencari cari alasan agar bisa
bersamanya. Eitt.. Asri kemudian menyesali pemikirannya. Masa iya Bowo
punya niat seperti itu.. apalah diriku ini.. sedangkan bu Prasojo tadi
bilang bahwa dia tak pantas duduk di kursi sekretaris itu. Hati Asri
menjadi sedih. Nasibnya ternyata belum pasti.
"Sudah selesai? Oke sekarang kita pulang,"
"Ini perintah ?" Asri mendahului sebelum Bowo mengatakannya. Dan Bowo
tertawa terbahak bahak. Asri ikut tersenyum. Belum pernah Bowo tertawa
selepas itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
HANYA BAYANG BAYANG 52
HANYA BAYANG BAYANG 52 (Tien Kumalasari) Puspa masih terbaring di ranjang rumah sakit ketika sang ibu dimakamkan. Wajahnya pucat, matan...
-
HANYA BAYANG BAYANG 44 ( Tien Kumalasari ) Tuan Sanjoyo masih duduk sambil merangkul pundak Puspa yang ada di sampingnya. Wajahnya t...
-
HANYA BAYANG-BAYANG 21 (Tien Kumalasari) Puspa menatap bik Supi yang seperti orang ketakutan. Sekilas Puspa menemukan jawabannya, tapi ...
-
MAWAR HITAM 55 (Tien Kumalasari) Bu Sunu, Andira dan Andra saling pandang satu sama lain. Ada binar-binar di mata mereka, dengan tatapa...
No comments:
Post a Comment