Monday, February 2, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 51

 HANYA BAYANG BAYANG  51

(Tien Kumalasari)

 

Bik Supi menatap anaknya sampai selesai bertelpon, ada wajah tak senang ketika melihat wajah sang anak tampak berseri.

“Kamu kencan dengan siapa?” tanyanya.

“Bukan kencan, dia yang tadi Nugi antarkan, ada barang Nugi yang ketinggalan.”

“Dia perempuan.”

“Iya. Memangnya kenapa Bu?”

“Kamu seperti tidak biasa ketika menanggapinya,” curiga sang ibu.

“Ibu bagaimana sih, tidak biasa apa maksud Ibu?”

“Ibu curiga, kamu dan dia ada hubungan yang bukan sebagai teman biasa.”

Nugi tertawa sambil merangkul pundak sang ibu yang duduk di sebelahnya.

“Mengapa Ibu curiga?”

“Pokoknya ibu curiga saja. Dengar Nugi. Ketika kamu mengatakan cinta kepada seseorang, kamu tidak boleh begitu gampang melepaskannya.”

”Apa maksud Ibu? Bukankah Ibu sendiri yang mengatakan bahwa Nugi harus menghilangkan perasaan itu karena kami tidak sederajat?”

“Tapi sebuah keinginan itu tidak boleh kendur, jangan terpengaruh omongan orang lain,” kata bik Supi yang sudah punya senjata, yaitu perkenan dari tuan majikannya.

“Lhah Ibu itu bukan orang lain kan?”

“Maksudnya bukan  diri kamu sendiri. Orang lain kan namanya?”

“Aku tidak mengerti apa maksud Ibu.”

“Ibumu itu, ingin agar kamu tetap menyukai non Puspa. Gitu saja kok repot,” sela sang simbah yang kesal mendengar anaknya berbelit-belit.

“Aku? Nugi .. harus tetap mencintai non Puspa? Ini candaan bukan?”

“Ini benar! Jadi jangan mencoba mendekati gadis lain,” tandas bik Supi.

“Bu, apa itu mungkin? Ibu membuat hati Nugi jadi tidak karu-karuan.”

“Turutilah apa yang ibu katakan. Ibu hanya ingin kamu menemukan cinta sejati kamu.”

“Bagaimana mungkin Bu? Itu hanya mimpi bukan?”

“Mimpi juga bisa menjadi kenyataan.”

“Nugi takut Bu. Puspa bukan hanya nona majikan Ibu, tapi juga atasan Nugi di tempat kerja.”

“Bagaimana kamu bisa merasa takut kalau tuan majikan sudah memberi lampu hijau?” kata bik Supi bersemangat.

Nugi menatap ibunya tak percaya. Lampu hijau? Boleh jalan kan? Itu tata lalu lintas yang sering digunakan dalam pengertian yang berbeda. Yang jelas boleh jalan, alias diijinkan, alias diperbolehkan. Apa sang ibu bisa menyalakan lampu merah menjadi lampu hijau?

“Jangan menatap ibu seperti itu. Ibu tidak bercanda. Tuan Sanjoyo mengatakan bahwa beliau tidak keberatan berbesan dengan pembantunya.”

“Itu benar?” mata Nugi berbinar.

“Masa hal demikian ibu berani berbohong atau bercanda?”

Nugi meraih ponselnya dan menelpon Wuri.

“Ya, ini aku. Maaf Wuri, aku tidak bisa ke rumah kamu sekarang ini. Biarkan saja buku itu di tempat kamu, kalau senggang baru aku mengambilnya. Ya, nggak kenapa-kenapa, tiba-tiba ada urusan. Maaf ya.”

***

Siang hari itu Nugi menunggu di luar ruang kerja Puspa. Lama tak keluar, lalu Nugi nekat mengetuk pintu kemudian masuk ke dalamnya.

“Selamat siang,” ucapnya ketika dipersilakan masuk.

“Siang.”

Nugi melihat Puspa sedang berpangku tangan, didepannya sebuah berkas yang hanya ditatapnya.

“Boleh saya masuk, Ibu,” sapanya setengah bercanda.

Puspa masih kesal. Kemarin ia melihat Nugi berduaan dengan Wuri, membuatnya gelisah semalaman. Lalu siang ini memasuki ruangannya, ada urusan apa, batin Puspa.

“Ada apa?” tanya Puspa sekilas, sambil meletakkan tangannya di atas meja.

“Ayuk kita makan, biasanya kamu lapar duluan.”

“Tumben mengajak aku makan, biasanya aku ajak saja menolak.”

“Kali ini aku pengin sekali makan siang bersama kamu. Aku boncengkan, kemana kamu ingin makan siang, aku yang traktir," kata Nugi sambil menatap Puspa, dan tatapan itu mengapa sangat berbeda? Tatapan itu membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Sejak kapan Nugi berani menatapnya seperti itu? Puspa menundukkan wajahnya, takut terhanyut oleh tatapan yang seperti mengandung magnet itu.

“Tidak mau ya? Atau karena aku naik sepeda motor? Kalau begitu pesan taksi saja? Atau jalan kaki? Di dekat sini ada warung makan enak lhoh,” Puspa menatapnya heran. Tidak mau membonceng sepeda motor? Tidak, dia pernah berboncengan dengan Nugi. Dan karena alasan tidak mau dianggap tidak suka karena sepeda motor itu, Puspa menjawab pelan.

“Baiklah, aku bonceng kamu saja,”  katanya sambil berdiri. Nugi mengikuti berdiri, lalu memasang lengannya, dengan maksud agar Puspa menggandengnya, tapi sambil tersenyum Puspa menggoyangkan tangannya pertanda menolak. Masalah bergandengan di kantor bisa menjadi pergunjingan seru. Lagipula kenapa sikap Nugi menjadi seaneh ini?

Puspa menelpon sang ayah dan mengatakan kalau dia keluar makan bersama Nugi.

“Panggil sopir untuk mengantar kalian,” kata sang ayah.

“Tidak Pak, kami mau naik motornya Nugi saja.”

“Owh,” jawab sang ayah yang kemudian meletakkan gagang telpon sambil tersenyum.

***

Mereka duduk di bangku yang jauh dari kerumunan, lalu memesan makanan. Puspa masih bingung dengan sikap Nugi siang hari itu. Rasa kesal kalau mengingat ketika melihat Nugi berboncengan dengan Wuri masih membayang, tapi sikap Nugi benar-benar membuatnya heran. Dilihatnya Nugi tersenyum-senyum sambil menatapnya aneh, tapi mendebarkan.

Tiba-tiba Nugi meraih beberapa lembar tissue, lalu dipilin-pilin dan entah dari mana dia belajar, tiba-tiba tissue itu berubah menjadi setangkai mawar kecil yang lucu. Puspa tersenyum melihatnya. Ia tidak tahu kalau Nugi pintar membuat bunga dari selembar tissue. Tiba-tiba bunga kecil berwarna putih bersih itu diulurkannya ke depan Puspa.

“Puspa, terimalah bunga ini, sebagai tanda cinta dariku,” kata Nugi lembut.

“Apa?” Puspa justru berteriak.

“Kok teriak sih?” bisik Nugi ketika melihat beberapa orang menatap ke arah mereka karena teriakan Puspa.

“Kamu bercanda tentang cinta. Cinta bukan bahan candaan." bisik Puspa, merengut.

“Aku serius, terimalah bunganya kalau kamu menerima cintaku, buang saja kalau kamu menolaknya. Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya,” bisik Nugi juga.

Gemetar tangan Puspa. Matanya menatap bunga kecil itu, yang diberikan Nugi, seperti dalam mimpi. Nugi menyatakan cinta? Nugi hampir menarik tangannya yang memegang bunga, dan bermaksud membuangnya, tapi Puspa menahannya, lalu diambilnya bunga kecil itu dan diciumnya lembut.

Rona bahagia tampak pada wajah Nugi.

***

Mereka makan siang dengan rona-rona bahagia, tapi ada yang mengganjal di hati Puspa, tentang Nugi yang berboncengan kemarin siang.  Dengan sikap Nugi, rasa cemburu itu sudah menipis, tapi Puspa harus tahu kejelasan hubungan mereka. Nugi tertawa mendengar pertanyaannya. Ia senang Puspa curiga, bukankah cemburu itu pertanda cinta?

“Beberapa hari yang lalu kami ketemu di jalan, karena sudah saling kenal, aku berhenti. Dia menanyakan rumah dosen pembimbing skripsinya, karena belum tahu. Lalu aku janji mengantarkannya di hari Minggu. Hanya itu. Jadi yang kemarin kamu melihat aku berboncengan itu, saat aku mengantarkannya ke rumah pak Abadi, kalau tidak salah dia dulu juga dosen pembimbing kamu kan?”

“Dulu dia hanya setingkat di bawah kita. Lama sekali dia baru skripsi?”

“Karena keadaan orang tuanya, dia pernah berhenti selama dua tahunan, baru kemudian ia bisa kembali melanjutkan kuliahnya ketika biaya sudah ada.”

Puspa mengangguk-angguk, sebenarnya ia merasa iba.

"Syukurlah," katanya pelan.

“Puspa, karena kita sudah sama-sama dewasa bolehkah aku menemui tuan Sanjoyo untuk membicarakan hubungan ini? Aku ingin mengambilmu sebagai istri, dengan melupakan siapa diri aku ini. Aku punya sedikit tabungan, tapi barangkali untuk sementara kita harus mengontrak rumah, seandainya kita benar-benar berjodoh. Aku tidak mau bergantung kepada kekayaan keluarga kamu. Apakah kamu bersedia hidup sederhana bersama laki-laki anak bik Supi ini?”

“Nugi, karena aku sudah bersedia menerima kamu, maka aku akan selalu berada di samping kamu, dalam susah atau suka. Aku belajar banyak hal dari kamu, dan aku siap menjalani hidup sederhana bersama kamu.”

“Terima kasih Puspa. Walau begitu masih ada ganjalan di hatiku, karena ibu kamu tidak menyukai aku,” kata Nugi yang wajahnya berubah muram tiba-tiba.

“Kita akan menghadapi kendala itu bersama-sama. Besok kita temui ibu lagi ya.”

***

Puspa sudah beberapa kali menjenguk ibunya, sendirian. Tidak terlalu sering karena sang ibu selalu mengatakan kalau tak suka pada Nugi. Kali itu Puspa akan mengatakan bahwa ia sudah mantap menjalin hubungan dengan anak bik Supi itu.

Tapi ketika Puspa dan Nugi menjenguk sang ibu di penjara, mereka mendapat kabar bahwa Srikanti dirawat di rumah sakit karena menderita kanker rahim sudah stadium empat.

Puspa segera mengajak Nugi ke rumah sakit untuk menemui sang ibu.

Puspa terkejut. Ia hampir tidak mengenali sang ibu. Srikanti yang dulu badannya segar, sehat, sekarang tinggal tulang dan kulit. Matanya cekung, tak ada sinar kehidupan. Ketika Puspa mendekat dengan mata berkaca-kaca, air mata meleleh membasahi pipi cekung Srikanti.

“Puspa … “ bisik Srikanti lirih.

“Maafkan … ibumu … dan sampaikan maafku pada ayahmu … “ lirih sekali suara itu, hampir menyerupai bisik yang nyaris tak terdengar.

“Mohon ampun kepada Allah, Bu,” bergetar suara Puspa. Betapapun bencinya Puspa, tapi melihat keadaan ibunya yang seperti itu, tak urung hatinya terasa bagai diiris-iris.

“Mana … anak bik Supi … “

Puspa melambaikan tangan pada Nugi yang berdiri agak jauh, walau rasanya tak mungkin Srikanti menyemprotnya lagi sekeras dulu.

Nugi mendekat, lalu meraih tangan Srikanti.

“Maafkan aku … titip Puspa ….”

Hanya itu, lalu mata kuyu itu terpejam, dan  patient monitor berdenging menjeritkan tanda kematian.

Puspa terkulai dalam pelukan Nugi, sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

***

Besok lagi ya.

HANYA BAYANG BAYANG 51

  HANYA BAYANG BAYANG  51 (Tien Kumalasari)   Bik Supi menatap anaknya sampai selesai bertelpon, ada wajah tak senang ketika melihat wajah s...