Monday, May 25, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 06

 NAMAKU TETAP SENJA  06

(Tien Kumalasari)

 

Senja mengerem sepedanya dengan mata terbelalak marah.

“Apa-apaan sih mas, berhenti tiba-tiba di depan aku? Kalau aku jatuh bagaimana?”

Arka tertawa pelan.

“Kalau kamu jatuh aku tolongin bangun dong.”

“Apa? Jangan cengengesan.”

“Senja, jangan marah dong.”

Barulah Senja terkejut, lalu mengamati pria di depannya dengan seksama.”

“Tuan? Apa maksud Tuan ini? Jangan mentang-mentang pernah menolong saya dan memberi beberapa bungkus es buah lalu Tuan bisa bersikap seenaknya.”

“Senja, aku sedang sepedaan, lalu melihat kamu. Ya aku samperin, soalnya aku mengenal kamu.”

“Apa maksudnya ini?”

“Tuan, saya harus buru-buru, waktunya sudah mepet.”

“Baiklah, ayo jalan, aku di samping kamu,” kata Arka sambil naik ke atas sepedanya, lalu keduanya naik sepeda beriringan.

Senja merasa heran, bagaimana mungkin si tuan ganteng ini selalu bisa bertemu dengannya?

“Tuan sepedaan sampai jauhkah? Rumah Tuan di mana?”

“Kamu tidak ingin tahu namaku? Tuan … tuan …  nggak enak dengarnya, tahu?”

“Memangnya nama Tuan siapa?”

Nah, gitu dong jadinya kan aku seneng.”

“Seneng kenapa?”

“Ditanya namaku, kan seneng.”

“Cuma gitu aja.”

“Berarti kamu memperhatikan aku, pengin tahu siapa namaku.”

“Kan Tuan yang minta?”

“Ya ampun Senja!”

Arka terkekeh lucu. Senja sangat polos, tapi menggemaskan. Ia gadis sederhana., sangat bersemangat membantu orang tua, masih sekolah pula.

“Kok Tuan nggak jawab.”

“Kamu bertanya tidak sepenuh hati sih.”

“Orang kaya itu aneh, minta ditanya, setelah ditanya malah aku diomelin”

“Baiklah, pengin tahu nggak?”

“Pengin. Kalau aku jawab yang lainnya nanti Tuan marah.”

Arka tertawa lucu.

“Namaku Arka, jadi jangan lagi memanggilku tuan.”

“Kelihatannya nggak sopan, masa aku memanggil hanya nama Tuan saja.”

“Panggil mas Arka. Jangan tuan.”

“Tuan, hanya panggilan saja, repot amat. Ya sudah, aku sudah sampai.”

“Itu sekolah kamu?”

“Iya.”

Senja membelokkan sepedanya masuk ke halaman sekolah setelah melambaikan tangannya. Arka membalasnya, kemudian mengayuh sepedanya menuju pulang. Bagaimanapun pertemuan dengan Senja membuatnya terhibur. Ini dunia yang lain, yang belum pernah dijamah sebelumnya. Di mana ia tidak disembah-sembah, bahkan diomelin hanya oleh seorang gadis sederhana yang kalau keluarganya bilang tidak punya derajat. Apa Arka marah? Tidak. Ini dunia yang membuatnya terbebas dari ikatan-ikatan yang membelenggunya.

***

“Dari mana kamu?” tanya sang ayah ketika Arka sudah sampai di rumah.

“Sepedaan. Muter-muter saja.”

“Tumben kamu pengin sepedaan. Bertahun-tahun sepedamu nangkring di gudang.”

“Tiba-tiba pengin. Katanya biar sehat, tidak hanya duduk di kursi saja.”

“Aku dengar Rosa juga suka bersepeda, sesekali ajak dia bersepeda berdua.”

Rosa lagi? Arka pura-pura tak mendengar, langsung menuju kamarnya.

“Arka!”

“Mau mandi dulu Pak,” jawabnya dari kejauhan.

“Aku mau ke kantor hari ini. Katanya ada pertemuan dengan langganan yang protes karena harga kemahalan,” katanya kemudian kepada sang istri.”

“Mengapa harus Bapak sendiri yang menangani?”

“Kemarin aku menelpon ke bagian pemasaran. Mereka akan menanganinya, aku hanya ingin berada di sana, melihat hasilnya.”

“Bapak mau bareng Arka? Dia belum sarapan.”

“Aku berangkat sendiri  saja, Arka kalau mandi lama, makan juga lama.”

“Terserah Bapak saja. Tapi nanti pulang makan siang di rumah kan?”

“Iya, aku tidak pernah lama di kantor akhir-akhir ini. Aku bisa memantaunya dari rumah.”

***

Mbok Mangun pulang agak pagi hari itu, karena menunggu pesanan beras yang akan dikirim. Hanya sedikit-sedikit dia membeli beras, karena modalnya sangat terbatas, lagi pula sebagian besar keuntungan dipergunakan untuk beaya sekolah kedua anaknya.

Tiba-tiba seseorang datang, mengejutkan mbok Mangun.

“Syukurlah sampeyan ada di rumah, berkali-kali aku kemari, rumah dalam keadaan kosong.”

“Iya pak RT, kan kedua anak saya sekolah, saya juga harus menjajakan dagangan saya.”

“Bagus, berarti sampeyan sudah punya uang karena dagangan laris.”

“Saya mita maaf, bisanya baru mencicil Pak.”

“Kalau kamu mencicil sedikit-sedikit, masuknya hanya ke bunganya saja, utangnya tidak berkurang.”

“Ya jangan begitu Pak, mohon keringanan. Masa cicilan dimasukkan ke bunga semua, bagaimana kalau separo untuk mencicil, separo buat bayar bunganya.”

“Lha sampeyan nicilnya sedikit, bagaimana bisa mengurangi hutang pokoknya.”

“Maksud saya, karena saya hutangnya sudah lama, dan uang yang saya kembalikan  sudah lebih dari hutang pokoknya, mohon diberi keringanlah Pak, kalau bisa jangan dipotong bunga, ya Pak. Kasihan, saya kan orang miskin.”

“Sampeyan itu bukannya miskin. Dagangan laku, bilang miskin. Mana sekarang, tetep kalau cicilan  hanya sedikit aku masukkan ke bunga."

“Ya ampun Pak, tolong, saya hanya punya ini,  bulan depan lagi ya Pak.”

“Cuma segini, ini hanya bisa mencicil seratus ribu, sisanya adalah bunga.”

“Masa sih Pak, bunga sama cicilannya bisa lebih besar.”

“Mbok Mangun, sampeyan kan tahu, uang aku itu bukan untuk sampeyan saja, banyak yang membutuhkan. Lha kalau modal berhenti di sampeyan, yang lain mau aku kasih apa? Mereka juga butuh uang.”

Mbok Mangun diam. Ia menahan tetesan air mata yang nyaris keluar. Bukan karena takut, tapi merasa sedih. Hutang yang sudah dua tahun lampau sebanyak sepuluh juta, yang ketika itu untuk membayar beaya masuk sekolah Senja dan adiknya, sampai sekarang baru berkurang seperempatnya, karena setiap mencicil diperhitungkan dengan bunganya.

“Ya sudah ini aku terima. Hutang sampeyan masih tujuh juta empatratus rupiah. Ini catatannya,” katanya sambil memberikan sebuat catatan, tapi mbok Mangun mengacuhkannya. Ia kan tak bisa membaca dan menulis?

Karena membantahpun tak akan ada gunanya, mbok Mangun diam. Ia membiarkan pak RT pergi dengan membawa uangnya yang tidak seberapa, memotong dulu bunganya baru sisanya untuk cicilan hutangnya.

Begitu pak RT pergi, pecahlah tangis mbok Mangun.

“Aku hanya ingin anak-anakku jadi orang pintar, tidak seperti aku yang buta hurup ini. Ya Tuhan, tolonglah hamba,” isaknya.

***

Tapi mbok Mangun adalah wanita tegar. Bertahun-tahun ia berjuang sendirian demi anak-anaknya, ia tak pernah mengeluh. Hanya saja sekarang ia menyesal. Dalam keadaan terjepit sementara ia harus memasukkan anaknya ke bangku SMA, dan tunggakan beberapa bulan uang SPP Rimba, ia terpaksa berhutang. Saat itu penghasilannya masih sangat sedikit. Yang bisa dilakukan hanyalah berhutang, dan kebetulan ia tahu pak RT yang kaya raya memang bisa meminjamkan uang. Tak peduli apapun ia lari ke pak RT, dan sepuluh juta berhasil didapatnya, itupun masih dipotong bunga di depan dan biaya administrasi katanya, sehingga uang yang dipinjamnya tidak genap seperti catatannya. Memang tidak seluruhnya uang itu dipergunakan untuk biaya sekolah, tapi ia butuh modal agar bisa membeli beras lebih banyak. Harapannya dengan modal itu ia bisa mencicil hutangnya. Tak tahunya pak RT benar-enar seorang rentenir yang kejam.

Mbok Mangun mengusap air matanya. Ia merasa tak pantas menangisi kehidupannya yang susah. Ia bertekat menjalaninya, dan akan menjalaninya dengan segala ketegaran yang dimilikinya.

Ia kembali mengusap air matanya ketika mendengar suara orang yang pastinya pengirim beras yang dipesannya.

Ia bersyukur masih punya beras untuk modal berdagang. Ia meminta pengirim itu membawanya ke belakang sekalian, agar ia tak keberatan mengangkatnya.

***

Ketika langkah-langkah kecil terdengar, Mbok Mangun menyunggingkan senyumnya. Ia tak ingin anak-anaknya tahu tentang apa yang dideritanya.

“Simbok ada di rumah, horeee,” sorak Rimba kegirangan. Ia selalu senang setiap kali pulang simboknya ada di rumah. Memang tidak setiap hari begitu, tapi dengan adanya simbok maka makan siang terasa sangat meriah, walau dengan lauk seadanya.

“Mengapa simbok sudah pulang?”

”Menunggu pesanan beras simbok. Kalau dikirim saat rumah kosong kan kasihan. Nanti berasnya dibawa pergi lagi, repot kan?”

“Iya Mbok, simbok benar, tapi aku senang ada simbok saat makan siang.”

“Cuci kaki tangan dulu dan ganti baju, baru makan.”

 “Simbok masak apa?”

“Gudeg tuntut pisang, sama ikan asin.”

“Waah, enak, Rimba suka.”

“Cepat ganti baju, sambil menunggu mbakyumu, simbok siapkan dulu makan siangnya.”

Rimba melangkah ke kamar mandi, dan melihat beras sekarung besar sudah ada di dapur. Tapi Rimba terkejut, ada selembar kertas terjatuh. Rimba memungutnya, barangkali catatan penting simboknya.

Tapi Rimba terkejut melihat tulisan yang tertera. Catatan hutang? Mata Rimba terbelalak.

***

Besok lagi ya.

17 comments:

  1. 🌷πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung eNTeeS_06 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    🌷πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah matur nuwun Ibu Tien. Sehat selalu Ibu

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah, maturnueun bu Tien ..salam sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat walafiat sekeluarga

    ReplyDelete
  5. Mks bunda NTS 06 sdh hadir ....selamat mal@m bun....salam sehat tetap semangat

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,06 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu

      Delete
  8. Alhamdulillah cerbung sdh hadir mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  9. Maturnuwun Bu Tien mulai ada nada ceritanya,..... semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta πŸ˜πŸ™

    ReplyDelete
  10. Maturnuwun Bu Tien mulai ada nada ceritanya,..... semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta πŸ˜πŸ™

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah.... NTS eps~06 sudah tayang, terimakasih bunda Tien .Sehat, semangat dan bahagia selalu.... Aduhai

    ReplyDelete
  12. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
  13. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang
    Semoga mbak Tien bersama keluarga selalu sehat
    , aamiin.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 06 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 06

  NAMAKU TETAP SENJA  06 (Tien Kumalasari)   Senja mengerem sepedanya dengan mata terbelalak marah. “Apa-apaan sih mas, berhenti tiba-tiba d...