SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 01
(Tien Kumalasari)
PELUK AKU, BIBI.
Langit mendung, tapi tak sedikitpun menjanjikan hujan akan turun. Angin kencang menghalau awan-awan, yang membawa butiran-butiran penyejuk hawa.
Seorang perempuan muda dengan pakaian lusuh sedang membawa karung besar, berisi botol-botol plastik yang kosong. Ia mengaisnya di tempat sampah, dan dijalan-jalan yang dilaluinya. Karung itu baru berisi separonya, dipikul di punggungnya yang kecil. Ia harus menjalaninya. Setiap hari, yang dipungutnya adalah berarti uang, dan uang. Satu-satunya anak lelaki yang dilahirkannya, membutuhkan dana untuk sekolah dan juga makan. Terkadang ia mengalah, saat pendapatan hari itu tak mendukung, lalu hanya mendapat sekaleng kecil beras yang bisa dibelinya, dan sebutir telur yang akan digorengnya untuk dua kali makan. Itu hanya untuk anaknya. Tak penting walau perut bernyanyi karena cacing-cacing juga kelaparan.
“Mengapa ibu tidak makan?” kata sang anak setiap kali ibunya tidak makan.
“Kata siapa ibu tidak makan? Sebelum kamu datang ibu sudah makan. Jadi sekarang habiskan makanan itu,” katanya lembut, sambil memegangi perutnya yang melilit.
Ketika anaknya selesai makan, perempuan itu pergi ke dapur, mengais-ngais kerak nasi yang masih tersisa, dimasukkannya ke dalam mulutnya. Walau hanya sesendok dua sendok, cukuplah. Ibu muda itu hanya berharap anaknya bisa kenyang dan belajar.
Hari itu ia sedang memungut beberapa botol plastik yang terserak di pinggir sebuah taman. Lumayan bisa menambah banyaknya botol yang terkumpul.
Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikepang dua, berlari-lari mendekatinya. Ditangan kirinya sebuah botol plastik kosong dipegangnya, dan ditangan kanannya dia memagang botol yang masih penuh berisi air.
Karena berlari-lari, gadis kecil itu hampir terjatuh ketika berada di depan perempuan itu. Untunglah ia bisa menangkapnya, dan gadis itu selamat berada dalam pelukannya.
“Hati-hati,” kata perempuan itu lembut. Ia selalu lembut dalam berkata-kata. Kalau saja wajahnya tidak kusut berdebu, ia akan tampak sebagai perempuan muda yang cantik.
Anak kecil itu tersenyum. Ia tampak senang didekap seseorang. Kedua botol masih dipegangnya, lalu diberikannya kepada perempuan penolongnya.
“Ini untukmu, Bibi,” katanya dengan mulut lucu.
“Oh, untuk aku?”
“Bukankah Bibi suka mengambil botol-botol kosong di jalan?”
“Iya, benar. Terima kasih banyak, Nak.”
“Yang satu ini minumlah. Bibi pasti haus.”
“Oh, ya ampun, anak baik. Terima kasih. Bibi memang sangat haus.”
Perempuan itu meletakkan karung yang dipanggulnya, lalu ia duduk begitu saja di atas rerumputan, di bawah sebuah pohon rindang. Ia membuka botol minuman itu, tapi sebelum menenggaknya ia menawarkannya dulu kepada gadis kecil itu.
“Kamu minumlah dulu, Nak.”
Gadis kecil itu menggeleng sambil tersenyum. Lekuk manis di pipinya yang gembul, menampakkan wajah lucu yang sangat manis.
“Untuk bibi saja, aku sudah minum.”
Perempuan itu menenggak air yang kemudian membuatnya merasa segar.
“Terima kasih banyak.”
Air itu masih tersisa, ia memasukkannya kedalam kantung kecil yang dibawanya dan terikat di pinggangnya. Barangkali untuk menyimpan uang kalau botol-botolnya sudah terjual.
Perempuan itu berdiri, meletakkan kembali karung botol itu di punggungnya.
“Kamu mau pergi?”
“Iya Nak, masih harus mencari botol lagi.”
“Besok lewat di sini lagi ya, aku akan memberikan botol-botol untuk kamu,” katanya nyaring.
“Baik. Terima kasih Nak. Rumahmu di mana? Sekarang pulanglah, bibi mau melanjutkan perjalanan.”
“Itu rumahku.”
Gadis itu menunjuk ke arah gedung bertingkat yang sangat bagus. Sudah jelas itu milik orang kaya.
“Pulanglah, nanti ibumu mencarimu.”
“Ibuku selalu pergi. Jangan lupa besok kesini lagi ya.”
“Baik Nona.”
“Namaku Ana. Bibi punya nama?”
“Panggil aku bibi Menur.”
“Baiklah, sebelum pergi, peluklah aku.”
Perempuan bernama Menur itu terbelalak. Gadis kecil itu bajunya bagus, baunya wangi, wajahnya bersih dan cantik lagi manis. Minta dipeluk olehnya? Apa gadis itu tidak merasa jijik melihat bajunya yang kusut, dekil dan pasti bau.
“Peluk aku, aku ingin dipeluk.”
Perempuan itu mengembangkan tangannya dengan ragu, tapi Ana menghambur ke dalam pelukannya. Mau tak mau Perempuan itu juga memeluknya erat, sambil berjongkok.
“Mama tidak pernah memelukku, aku senang ketika hampir jatuh tadi, lalu kamu memeluk aku,” bisiknya di telinga Menur.
“Non Anaaaaa!” sebuah teriakan membuat Ana mengendurkan pelukannya. Wajahnya muram seketika.
***
Ana masih memegangi bahu bibi Menur, sementara kepalanya menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
“Non Ana, apa yang kamu lakukan? Sini, nanti nyonya melihatnya, lalu marah-marah,” teriak Rumi, pengasuh Ana.
“Aku ingin main di sini.”
“Aduh, perempuan ini bau, mengapa Non memeluknya?” kata Rumi sambil menarik tangan Ana.
“Pergilah Nak, bibi juga mau melanjutkan perjalanan,” bisik bibi Menur sambil mengelus tangan Ana.
“Berjanjilah besok akan lewat di sini lagi,” katanya dengan mulut tersenyum. Lagi-lagi lesung pipit pada pipi gembul itu terlihat, membuat Menur semakin gemas. Ingin ia menowelnya, tapi pembantu Ana memelototinya.
“Ayo cepat,” Rumi menarik tangan Ana keras, sehingga mau tak mau Ana mengikutinya.
Ia berjalan sambil terus menerus menoleh ke arah Menur.
Menur menatapnya, sampai gadis kecil menggemaskan itu memasuki gerbang setelah melambaikan tangannya.
Menur tersenyum, harum aroma gadis kecil itu masih menempel di bajunya, dan terus menggelitik hidungnya. Seperti mimpi rasanya, ketika seorang gadis kecil wangi, dan tentunya anak orang kaya, suka dipeluknya. Ibunya tak pernah memeluknya? Kasihan sekali, padahal pelukan seorang ibu adalah kehangatan yang tak ada duanya di dunia ini.
Menur melanjutkan langkahnya. Wajah mungil itu terus mengikutinya. Ia tak mengerti, bagaimana tiba-tiba gadis itu melihatnya lalu seperti menyukainya, padahal sekalipun ia belum pernah mengenalnya. Ia juga baru sekali itu lewat daerah yang dihuni orang-orang kaya, menilik rumah-rumah megah yang berjajar indah dengan bangunan yang kokoh kuat.
***
Ana ngambeg. Rumi sang pengasuh sedang memaksanya mandi.
“Aku tidak mau mandi!” Ana berteriak.
“Non harus mandi, bau.”
“Aku kan sudah mandi?”
“Tapi Non dipeluk-peluk oleh perempuan tukang sampah itu. Dia itu bau!” Rumi tak kalah berteriak.
“Dia tidak bau!”
“Non, awas saja ya, kalau nanti Nyonya tahu bahwa Non keluar rumah sendirian, pasti Non akan dijewer, atau dicubit sampai pahanya merah. Apa lagi Non dipeluk-peluk oleh perempuan bau itu.”
“Dia tidak bau! Aku yang memeluk dia.”
“Non, apa yang Non lakukan? Bagaimana kalau Non diculik lalu dibawa dia, lalu dijual kepada orang jahat, lalu Non dijadikan pengemis, lalu_”
“Tidaaaaak.” Ana berlari masuk ke kamar, lalu mengunci pintunya dari dalam.
“Non Anaaa.” Rumi berteriak-teriak, tapi Ana bergeming di kamarnya.
***
Ana adalah putri tunggal seorang konglomerat. Ayahnya memiliki usaha di luar negri, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu menghamburkan uang pemberian sang suami. Anak semata wayangnya yang baru berumur sekitar tujuh tahun hanya diberikan kesenangan dengan mainan mahal dan pakaian bagus yang harganya tak terjangkau oleh orang biasa.
Hari-harinya dipenuhi dengan bersenang-senang bersama kawan-kawannya sesama orang kaya, dan hampir tak pernah ada kebersamaan di rumahnya sendiri.
Ana seperti boneka mainan yang dimanjakan seperti seorang putri. Makanan enak, mainan yang memenuhi kamar dan pakaian yang indah, tapi semua itu tak membuat Ana berenang dalam kebahagiaan. Sekolahpun gurunya yang datang. Sehingga Ana merasa seperti burung di dalam sebuah sangkar emas.
Hari itu ia bermain di halaman, ketika Rumi pengasuhnya sedang sibuk menata baju-bajunya. Lalu ia melihat pengais botol kosong, seorang perempuan, yang entah mengapa membuatnya tertarik. Ia menerobos keluar dari pintu yang sedikit terbuka, lalu menghampiri perempuan itu, dengan memberikan sebuah botol kosong dan sebuah lagi masih utuh. Pertemuan itu membuatnya terkesan. Pelukan pemungut sampah itu terasa hangat. Ana belum pernah merasakannya. Ia ingat ketika ibunya mau pergi, dia merengek ingin ikut, lalu merangkul kakinya dari belakang, sang ibu malah mendorongnya sampai hampir terjengkang.
“Ana, apa yang kamu lakukan?”
“Mama, aku mau ikut Mama.”
Tapi sang mama terus berlalu, keluar dari rumah, menghampiri mobil yang sudah siap di halaman.
“Mamaaaa,” Ana hanya bisa menangis. Sejak saat itu Ana merasa bahwa ada tembok pemisah yang membuatnya merasa tak punya ibu.
Sekarang, pelukan pengais sampah itu masih terasa menghangati hatinya. Ia sedang menunggu hari esok, agar bisa bertemu lagi.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah hari Minggu biasanya libur, ini ada Cerbung baru SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL~01.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏🙏🙏