SAKITKU ADALAH CINTAKU 05
(Tien Kumalasari)
Pemilik sepasang mata itu melanjutkan langkahnya, urung membeli makanan di warung di mana tadi Indras memasukinya bersama laki-laki ganteng yang tampak sangat melindunginya.
Ia adalah Zein yang ingin membeli makanan untuk hidangan sore nanti atas perintah ibundanya.
Zein melihat mobil yang diparkir di depan warung itu, ia tidak lupa pernah melihat mobil itu di halaman rumah Indras, ketika ia lewat di depan rumahnya.
Hati Zein merasa ciut, menyadari siapa dirinya. Ia merasa sakit karena pernah mendengar orang tua Indras sangat meremehkannya sebagai orang yang tidak sederajat dengan dirinya. Hal itu terus diingatnya seperti menyimpan dendam dan sakit, jauh di dasar lubuk hatinya.
Ia melangkah terus, mencari warung yang menjual makanan murah, tapi yang tidak memalukan untuk suguhan sore nanti, dengan mengabaikan sakit hatinya.
Harapan untuk memiliki Indras menjadi semakin tipis.
Sementara itu Bagas dan Indras sudah duduk berhadapan di sebuah bangku kosong. Memang warung itu agak sepi, karena belum saatnya orang makan siang. Mereka memesan makanan dan minuman masing-masing sambil berbicara ringan.
Indras menatap Bagas yang matanya berbinar saat memandangnya. Apa yang ingin ia katakan menjadi sulit diungkapkan karena sikap Bagas yang sangat manis.
“Indras, ayo kita makan, bukankah kamu tadi mengatakan bahwa kamu sangat lapar?”
“Iya benar, aku sangat lapar.”
Keduanya makan dalam diam, dan menyimpan segala rasa masing-masing yang siap diutarakan nanti setelah selesai makan.
“Enak, aku suka masakan Jawa yang sederhana ini, tapi enak di lidah.”
“Benar, aku sudah tahu kalau kamu pasti akan menyukainya.”
“Kamu sering kemari?”
“Lumayan sering, kalau sepulang kampus lalu merasa lapar. Warung ini masakannya enak, dan tidak terlalu mahal. Cukupan kalau yang makan disini sekelas mahasiswa atau yang sebagian besar anak kos-kosan.”
Bagas mengangguk-angguk setuju.
“Aku sudah bukan mahasiswa lagi, tapi aku suka,” katanya sambil meneguk minuman yang sudah setengah gelas diminumnya.
Mereka sudah selesai makan. Masing-masing ingin mengatakan sesuatu, yang kemungkinan besar tidak sejalan dengan apa yang akan mereka katakan. Tapi sepertinya mereka saling menunggu, kapan waktu terbaik untuk mengatakannya.
“Indras ….” sepertinya Bagas sudah siap untuk mengatakan isi hatinya.
Indras mengangkat wajahnya, menatap wajah tampan di depannya yang tersenyum penuh arti dan membuat Indras harus membuang mukanya ke arah lain. Ia tidak membenci Bagas, ia suka dia, tapi itu bukan cinta.
“Indras, ada yang ingin aku katakan sama kamu.”
Indras mengangguk.
“Katakan saja.”
“Apa bapak pernah mengatakan kepada kamu tentang sesuatu?”
“Tentang apa ya?” Indras berlagak tak tahu, padahal belum lama sang ayah mengatakannya.
“Bahwa sesungguhnya ….”
Bagas rupanya agak gugup. Ia kembali meneguk minumannya. Kegugupan itu membuat Indras merasa iba, karena ia sudah tahu apa yang ingin dikatakannya.
“Apa kamu tahu bahwa aku menyukai kamu? Maksudku … mencintai kamu?”
Indras tidak terkejut. Ia menundukkan wajahnya, sambil berpikir bagaimana nanti dia mengutarakan isi hatinya yang pasti berlawanan dengan isi hati Bagas.
“Indras, aku bahkan sudah pernah mengatakan pada pak Narya, bahwa aku ingin menikahi kamu.”
Indras menghela napas panjang.
“Gas, kamu adalah sahabat terbaik aku. Sangat baik dan sangat dekat.”
Bagas menatap bibir tipis yang bergerak-gerak mengatakan sesuatu dengan sangat lirih.
“Tapi … aku mohon kamu memaafkan aku.”
Kening Bagas berkerut. Kata ‘tapi’ itu tidak akan menjanjikan akan terwujudnya sebuah harapan.
“Maaf Bagas, aku hanya menyukai kamu, tapi aku tidak mencintai kamu.”
Bagas menghembuskan napas dengan berat.
“Apakah kamu marah?”
Bagas menggelengkan kepalanya dengan lemas. Mengapa harus marah kalau memang cintanya tidak terbalas? Hanya sakit. Tapi ia percaya Indras punya alasan.
“Aku mencintai laki-laki lain,” kata Indras kemudian.
“Oh …” ucapnya sambil menghembuskan napas panjang.
“Maaf ya Gas?”
Bagas mencoba tersenyum.
“Tidak ada yang harus dimaafkan, aku mengerti.”
“Kamu akan tetap menjadi sahabat terbaik aku. Sahabat yang paling baik.”
“Terima kasih Indras.”
“Percayalah, bahwa kamu akan mendapatkan seorang gadis lain yang lebih cantik, lebih baik, dan juga yang mencintai kamu sepenuh hati.”
“Aamiin,” kata Bagas, masih dengan senyuman. Lalu ia meneguk minumannya sampai habis.
“Semoga kamu bahagia,” katanya bersungguh-sungguh sambil menatap Indras dengan pandangan yang sedikit sayu.
“Maafkan aku, Bagas.”
“Tidak perlu minta maaf. Ketika seorang laki-laki menyatakan cinta, ia juga harus bersiap untuk patah hati.”
“Jangan patah, kamu akan mendapatkan gantinya nanti.”
Bagas mengangguk.
Ketika mengantarkan pulang, mereka tak banyak bicara di mobil.
Bahkan saat sampai di rumah Indras, Bagas langsung pamit tanpa mau singgah barang sebentar saja.
“Tidak mampir dulu?”
“Ada yang harus aku kerjakan, tolong pamitkan pada bapak, sore nanti aku harus kembali ke tempat kerja.”
Indras hanya mengangguk, lalu mereka bersalaman, dan sekali lagi Indras mengucapkan kata maaf, dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Bagas.
Ketika mobil Bagas pergi, ia menatap mobil itu sampai hilang dibalik gerbang. Ada rasa kasihan mengingat betapa sakit hati Bagas, ada rasa lega karena ia sudah mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.
***
Indras ingin langsung memasuki kamarnya, tapi dari ruang tengah sang ayah memanggilnya.
“Indras.”
Indras menghentikan langkahnya, berbelok ke arah ruang tengah di mana sang ayah sedang duduk bersama ibunya.
“Kamu pulang sendiri?”
“Tidak, Bagas mengantarkan tadi, tapi rupanya dia tergesa karena ada urusan, jadi tidak mau singgah.”
“Ke mana saja kalian? Cepat sekali pulangnya.”
“Hanya makan. Sekarang Indras mau istirahat dulu,” kata Indras yang langsung membalikkan tubuh menuju ke kamarnya.
***
Dalam perjalanan ke hotel, Bagas menerima telpon dari pak Narya.
“Bagaimana Gas, kok cepat sekali kalian pulangnya?”
“Hanya makan saja, Pak.”
“Kamu juga tidak mampir dulu tadi.”
“Saya harus menyelesaikan urusan, lalu sore nanti akan kembali.”
“Kamu sudah mengatakannya pada Indras?”
“Sudah, Pak.”
“Apa jawabnya?”
“Dia mencintai laki-laki lain.”
Jawaban itu membuat wajah pak Narya muram seketika.
***
Zein sudah sampai di rumah, lalu menyerahkan berbagai macam kue yang dibelinya tadi kepada sang ibu.
“Banyak sekali macamnya.”
“Kan kita tidak menyediakan nasi. Jadi makanan ini ditaruh saja di kotak-kotak ini, terserah mau dimakan di sini atau dibawa pulang.”
“Baiklah kalau begitu. Tinggalkan saja, ada yang membantu ibu kok. Ini kotak makanannya?”
“Iya.”
“Wajahmu tampak pucat, kamu sakit?”
“Tidak. Udara sangat panas.”
“Aku ambilkan minum air putih.”
“Tidak usah Bu, biar Zein mengambilnya sendiri.”
“Zein, kamu tidak mengundang Indras?” pertanyaan ibunya membuatnya berhenti melangkah.
“Tidak Bu, malu.”
Kemudian Zein berlalu, untuk mengambil air putih di dapur. Dalam hati dia berkata, memanggil Indras? Pada pertemuan sederhana dan hidangan sederhana pula? Bukannya Zein malu menjadi orang tak punya, tapi Zein hanya tak ingin keadaan rumah tangganya dihinakan dan direndahkan oleh orang lain. Memang sih, orang tua Indras tidak mungkin ikut datang, tapi Indras yang melihat keadaannya akan berpikir bahwa apa yang dikatakan ayahnya adalah benar. Lalu laki-laki ganteng yang bersamanya tadi? Siapa dia? Itu yang oleh orang tua Indras dibandingkan dengan dirinya? Tidak, Zein lebih baik mundur.
***
“Zein, apa benar malam ini adalah peringatan tujuh hari meninggalnya ayah kamu?” Indras menelpon hanya karena ia menghitung-hitung saja.
Ia tidak keluar kamar, karena tidak ingin mendengar omelan sang ayah tentang pertemuannya tadi dengan Bagas.
“Ya, ini sudah mulai mengaji. Maaf, aku tutup telponnya.”
“Zein, kenapa kamu tidak memberi tahu aku? Aku pasti akan datang dan ikut mendoakan ayah kamu.”
“Allah ada di mana-mana, kalau ingin mendoakan, doakan saja dari rumah kamu, Allah pasti mendengar kok.”
“Zein, kok suara kamu ketus begitu. Sungguh aku ingin ke situ. Apa mulainya sudah lama? Aku kesitu ya?”
“Tidak. Kan aku tidak mengundang kamu?”
“Zein, mengapa suara kamu sama sekali tidak ramah?”
“Bukankah aku sedang berduka?””
“Tapi tidak seharusnya kamu bersikap begitu, aku sangat memperhatikan kamu.”
“Mulai sekarang jangan lagi melakukannya.”
“Zein, apa maksudmu?”
“Kita putus.”
“Zeiiin!” Indras berteriak, tapi suara Zein sudah hilang. Yang terdengar adalah denging suara yang membuat telinganya terasa sakit.
***
Besok lagi ya.
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 05* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih sudah tayang
Salam sehat slalu.
Matur suwun Bu Tien ..SAC - 05 telah tayang..πππ
ReplyDeleteπ»πΎπ»πΎπ»πΎπ»πΎ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππΉ
Cerbung eSAaCe_05 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π»πΎπ»πΎπ»πΎπ»πΎ
Alhamdulillah....
ReplyDeleteTayang gasik lagi.
Matur nuwun mbak Tien.
Sugeng dalu.
Salam hormat kagem mas Tom,
Wilujeng tanggap warsa kaping 81.
Mugi Gusti tansah amberkahi kesehatan, kaslametan, bahagia lahir batin.
Aamiinn Yaa Robbal'alamiin π€²π€²π
Mks bun SAC 04 sdh tayang....selama malam bun sehat² sll ya
ReplyDeleteAlhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 05" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng daluπ
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~05 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung "Sakitku adalah cintaku 05 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien,salam sehat selaluπ
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (05)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAh, Zein mah payaaah...mental kerupuk, baru juga curiga eh malah minder, susah jadi orang sukses kalau gitu sih...π°
ReplyDeleteTerima kasih, ibuu...sehat selalu ya...ππ»πΉ
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Sakitku adalah Cintaku 05 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.
Zein terlalu baper, Indras jadi sakit hati...di putus cintanya.
Semoga...putus nyambung....putus nyambung lagi...mirip sebuah lagu..ππ