Friday, April 3, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 06

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  06

(Tien Kumalasari)

 

Gemetar tangan Indras dengan masih memegang ponsel, dan menyadari bahwa Zein telah menutup pembicaraan.

“Zein?” bisiknya lirih, sedangkan air matanya bercucuran.

“Apa salahku Zein? Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga tiba-tiba kamu memutuskan hubungan kita? Zein,aku sangat mencintai kamu. Bukankah baru beberapa hari yang lalu kamu juga mengatakan itu?”

Indras meletakkan ponselnya, dan membiarkan air matanya membanjir membasahi pipinya. Lirih tangisnya, tapi terdengar begitu memilukan. Ketika ia datang ke pemakaman ayahnya, Zein masih bersikap begitu manis. Mengapa tiba-tiba memutuskan cinta?

Indras meraih kembali ponselnya, lalu menekan nomor kontak Zein. Diangkat, tapi yang terdengar adalah suara orang mengaji bertalu-talu.

Indras berbisik.

“Zein …” lalu ponsel dimatikan.

Zein hanya ingin mengatakan bahwa dia dan tamu-tamunya sedang mengaji.

Indras kembali meletakkan ponselnya. Ingin rasanya dia lari ke rumah Zein untuk menjelaskan semuanya. Mengapa tiba-tiba Zein memutuskan hubungan, mengapa Zein bersikap sangat dingin ketika menjawab telponnya. Mengapa, dan beribu pertanyaan memenuhi benaknya, tak terjawabkan.

“Ada apa Mbak?”

Indras buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan, tapi tangis itu tak bisa disembunyikan. Wajahnya basah, matanya sembab. Itu yang dilihat sang adik ketika memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.

“Mengapa tiba-tiba masuk?” tegurnya.

“Aku mendengar suara tangisan. Pintu kamar itu tidak benar-benar tertutup.”

“Apakah bapak atau ibu mendengarnya?”

“Mereka duduk di teras. Aku kebetulan lewat kamar ini dan mendengar Mbak menangis,” kata sang adik sambil duduk di sebelahnya.

“Zein memutuskan hubungan.”

“Putus?”

Indras hanya mengangguk dan kembali mengusap wajahnya, kali ini dengan tissue yang ada di atas nakas.

“Kalian bertengkar?”

“Aku bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mengatakan putus.”

“Tanpa bertengkar?”

“Tanpa berbicara apapun. Aku sedang menelpon dan menanyakan tentang peringatan tujuh hari meninggalnya ayahnya. Ternyata malam ini. Aku mendengar suara orang-orang mengaji. Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba dia mengatakan putus.”

“Pasti ada sesuatu. Tapi tak mungkin hanya karena Mbak tidak datang di acara peringatan itu.”

“Aku bahkan tidak tahu dan sedang menanyakannya.”

“Untuk menemukan jawabnya, Mbak harus bertemu besok. Tak cukup dengan Mbak menangis sepanjang malam.”

Indras mengangguk.

“Lebih baik mbak tidur dan melepaskan semua beban,” kata sang adik sambil berdiri, dan beranjak keluar dari kamar, kemudian menutup pintunya rapat-rapat.

Indras merasa kamar menjadi senyap. Ia beranjak ke pintu lalu menguncinya. Ia tak ingin ibunya juga akan memasuki kamarnya lalu melihat ia menangis.

Indras berbaring, dan mencoba memejamkan matanya.

***

Tamu-tamu bu Iman sudah pada pulang. Zein, dibantu salah seorang tetangganya mengumpulkan gelas kosong dan dibawanya ke belakang.

Setelah itu Zein mendekkati ibunya yang termenung di atas tikar bekas tempat duduk para tamu.

“Zein, besok kita ke makam ya?”

“Iya. Ibu Zein boncengin saja. Kan tidak jauh.”

“Kamu sudah lama tidak kuliah, Zein.”

“Besok setelah dari makam, Zein akan ke kampus.”

“Ya, kamu harus mengedepankan kuliah kamu, agar bisa mewujudkan cita-cita bapak dan ibumu.”

Zein mengangguk.

“Nanti kalau Zein sudah lulus dan menjadi dokter, Ibu jangan berjualan lagi. Zein yang akan mencukupi semua kebutuhan  Ibu.”

“Tapi berdiam diri di rumah kan tidak enak Zein, ibu biasa bekerja, memasak dan menjadikannya dagangan yang menghasilkan.”

“Ibu pasti lelah. Saatnya Ibu berdiam di rumah. Kalau ingin kesibukan, Ibu belanja saja dan memasak untuk kita berdua.”

“Ibu sebenarnya tidak lelah.”

“Bu, saatnya orang tua beristirahat, dan anak yang menafkahi orang tuanya.”

Sang ibu memeluk Zein dengan linangan air mata.

“Kalau ayahmu masih ada, dia pasti bangga mendengar kata-kata kamu ini.”

“Bapak sudah tenteram di sana. Kita doakan saja agar mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.”

Sang ibu melepaskan pelukannya, lalu mengusap air matanya.

“Ibu istirahatlah, biar Zein membereskan tikar-tikar ini dan membersihkan semuanya.”

“Baiklah, kamu juga harus segera beristirahat, besok kita ke makam pagi. Bukankah setelahnya kamu akan pergi ke kampus?”

***

Pak Narya sedang berbincang dengan istrinya, tentang penolakan Indras ketika Bagas menyatakan cintanya.

“Bagaimana Indras bisa berpikir sebodoh itu? Harusnya dia berpikir tentang masa depan, bukan masa sekarang yang hatinya sedang diselimuti oleh rasa cinta yang akan membuatnya tersesat,” omel pak Narya.

“Aku juga heran, bagaimana jalan pikiran Indras itu. Jaman dulu orang-orang menikah tidak harus jatuh cinta lebih dulu. Bahkan ketika akad nikah ada yang belum pernah melihat seperti apa calon pasangannya. Dan seperti ibu ini ya Pak, tadinya ibu tidak punya perasaan apa-apa kepada Bapak.”

"Orang tua pasti memilihkan jodoh terbaik untuk anaknya, ya kan? Kamu sudah merasakannya, harusnya kamu memberi contoh itu kepada Indras.”

“Tidak berhenti ibu mengomelinya, memberinya contoh, memberinya gambaran bahwa hidup itu adalah pilihan. Kalau salah memilih, pasti akan tersesat.”

“Anak itu memang keras kepala. Susah sekali bisa menerima perkataan orang tua.”

“Dulu dia tidak begitu. Indras anak penurut. Entah mengapa, giliran bicara tentang pasangan dia bisa semaunya sendiri begitu.”

“Pasti laki-laki itu yang mempengaruhinya, Siapa orangnya yang tak ingin menemukan keluarga kaya. Siapa yang tak ingin mendapatkan hidup enak, berkecukupan? Hanya Indras yang tidak bisa memilih. Kalah pintar dengan anak muda yang digandrunginya itu.”

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Apa? Aku juga bingung. Adiknya bisa menemukan pasangan yang baik, mengapa dia tidak?”

Bu Narya menghela napas panjang, sedih. Tapi tak mampu berbuat apa-apa.

“Semoga Indras segera menyadari kesalahannya."

***

Pagi hari itu Indras bersiap ke kampus. Tapi ia tidak bertemu Zein. Rupanya Zein belum juga masuk kuliah. Padahal bulan depan sudah memasuki masa co-ass, atau program profesi sebelum mendapatkan gelar dokter.

Indras ingin menelponnya, tapi ragu. Kalau tidak diangkat lagi, hatinya pasti sakit. Tapi dia butuh kejelasan, sehingga dalam menjalani masa-masa tugas dia bisa melakukannya dengan lebih tenang.

“Hei, mengapa melamun?”

Indras terkejut, Kris, teman kuliahnya menepuk bahunya keras.

“Hiih, sakit, tahu?”

Tapi Kris justru tertawa.

“Ngelamunin apa? Zein ya? Dia tadi bersama ibunya ziarah ke makam ayahnya. Apa dia tidak bilang sama kamu?”

Indras menggeleng. Iya juga, biasanya setelah tujuh hari keluarganya pasti mengunjungi makam, untuk sekedar menaburkan bunga, atau kembali mengirimkan doa. Hal itu akan berlanjut, saat seratus hari, sampai nanti seribu hari dan mereka tidak lagi harus mengadakan peringatan lagi. Pastinya mengirimkan doa bisa dilakukan setiap saat.

“Kamu tidak diajak? Jadi kamu tidak ingin mengunjungi makam calon mertua kamu?”

“Aku malah tidak tahu.”

“Gimana sih Zein, lihat, ia membuat kekasihnya sedih seperti ini.”

“Kris! Pergi sana, mengganggu orang saja.”

“Dengar In, orang melamun itu gampang didekati setan,” Kris masih saja menggodanya.

Indras cantik, tak heran ia memiliki banyak pengagum. Tapi tampaknya semua pengagum sudah mundur teratur sejak Indras dekat dengan Zein. Akan sia-sia mencintai orang yang sudah punya kekasih. Ya kan?

“Aku doakan agar saat co-ass nanti kamu tidak bisa satu team dengan Zein.”

“Apa?”

“Semoga nanti aku yang bisa selalu berdekatan sama kamu.”

Indras tersenyum. Kris amat kocak, dan suka bicara semaunya. Ia merasa sedikit terhibur dengan adanya Kris didekatnya.

“Ayuk kita ke kantin,” tiba-tiba Indras berdiri.

“Bener nih?”

“Ayuk,” kata Indras yang lebih dulu berjalan ke arah kantin.

Kris mengejarnya.

“Kamu traktir aku?”

“Iya, kan aku yang mengajak?”

“Nggak enak ah, cowok ditraktir cewek? Biar aku yang traktir kamu. Aku barusan mendapat kiriman nih.”

“Jangan, anak kost harus hemat. Supaya jangan kehabisan uang sebelum mendapat kiriman berikutnya.”

“Betul juga ya. Tapi aku pengin sekali traktir kamu.”

“Aku saja,” Indras tak mau kalah.

Mereka sudah memasuki kantin dan duduk berhadapan sambil saling bercerita dan bercanda.

Saat itu tiba-tiba seseoramg muncul, berdiri di pintu kantin, menatap keduanya, lalu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Tapi Indras melihatnya.

Ia berdiri meninggalkan Kris yang sedang menyeruput es dawetnya.

“Zein, tunggu!”

***

Besok lagi ya.

 

9 comments:

  1. 🪻🌷🪻🌷🪻🌷🪻🌷
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung eSAaCe_06
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🪻🌷🪻🌷🪻🌷🪻🌷

    ReplyDelete
  2. 🪻🌷🪻🌷🪻🌷🪻🌷
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung eSAaCe_06
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🪻🌷🪻🌷🪻🌷🪻🌷

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah eSAaCe_06, sdh ditayangakan. Terima kasih mBak Tien salam SEROJA, tetap semangat dan berkarya.
    Semoga mBak Tien diberkati panjang umur, murah rezeki, dimudahkan segala urusannya lancar menulisnya.
    Aamiin Yaa Robbal'alamiin 🤲

    ReplyDelete
  4. Matur suwun bu Tien SAC - 06 sdh tayang...Salam sehat selalu kagem keluarga di Solo.🙏🙏🙏

    ReplyDelete
  5. Terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll dan aduhai unl bunda 🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete
  6. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah sudah tayang
    Terimakasih Bunda.
    Sehat sehat slalu
    Salam seroja

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 06

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  06 (Tien Kumalasari)   Gemetar tangan Indras dengan masih memegang ponsel, dan menyadari bahwa Zein telah menutup ...