SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 005
(Tien Kumalasari)
Baroto menatap punggung Menur yang terbebani oleh karung berisi botol-botol kosong, dengan perasaan mengharu biru. Tak bisa disangkal, dulu dia pernah tertarik pada sang pengais sampah itu. Ia tak bisa melupakannya. Tapi ketika itu dia sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Seorang gadis cantik anak seorang pengusaha kaya. Sudah klop, pengusaha muda, berjodoh dengan putri seorang pengusaha. Apalah artinya seorang Menur yang hanya anak seorang lurah kampung. Tapi sesungguhnya ada kesan mendalam atas gadis itu, lalu hatinya trenyuh melihatnya kembali ketika Menur menjadi seorang pengais sampah.
“Papa, panggil dia, aku mau dia jadi pengasuh aku.”
Baroto menatap Ana dan merasa bahwa usulan Ana adalah sesuatu yang terbaik.
“Papa, kejar dia, lihat dia sudah pergi,” pekik Ana.
Menur sudah menghilang entah ke mana. Ana menarik tangan sang ayah, mengajaknya mengejar.
Tapi ketika di tikungan, mereka bingung mau mengejar ke arah mana, yang pada akhirnya mereka tak menemukannya.
Ana merengek, hampir menangis.
“Ini salah Papa, bukankah tadi Papa memarahinya?”
“Tidak … papa tidak memarahinya.”
“Mengapa Papa mengejarnya? Bukankah Papa melarang dia melewati jalan ini supaya Ana tidak melihatnya? Papa jahat! Aku akan mencarinya sendiri,” katanya sambil berlari ke sembarang arah.
“Ana! Kembali!”
Ana tidak mendengarnya. Ia terus berlari, sampai kemudian dia terjatuh karena kakinya tersandung batu.
“Ana!”
Baroto memburunya, lalu membangunkan Ana yang mulai menangis keras.
“Mana dia? Mana bibi Menur?”
“Ana, besok kan dia lewat di sini lagi, nanti kita cari, ya?”
Tak ada yang bisa Ana lakukan, kecuali mengikuti sang ayah, ketika tangannya dipegang keras, dibawa melangkah pulang.
Rumi yang mengikutinya dari tadi tak melakukan apapun. Dia hanya heran gadis kecil yang diasuhnya tiba-tiba tergila-gila menginginkan bertemu pengais sampah bau itu.
Tapi dia tak berkomentar, karena ada tuan besar berjalan di samping putri kecilnya. Ia lebih kesal lagi ketika melihat Ana sampai mengejar si pengais sampah tersebut.
“Memangnya kenapa kamu suka pada tukang sampah itu?”
“Dia baik, dia memeluk Ana, sekarang Ana kasihan, apa mencari botol dapat uangnya banyak?”
“Botol itu dijual kepada pengepul. Ya tidak banyak uangnya.”
“Papa, cari dia, aku mau dia tinggal di rumah kita.”
Baroto tak menjawab, walau dalam hati menyetujuinya. Tapi mudahkah membujuk Menur supaya mau mengikuti kemauan Ana? Baroto tahu, Menur sangat keras hati. Dulu dia menolak mentah-mentah saat dia menyentuhnya. Bujukan yang bagaimanapun, Menur tak mau. Baru setelah dia menikahinya, walau secara siri, Menur mau melakukannya.
Baroto mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba saat melihat kembali Menur yang hampir dilupakannya, hatinya merasa sangat gelisah.
“Ya Pa? Mau kan mencari bibi Menur untuk Ana?”
“Kita pulang dulu. Kalau mama datang nanti mencari kita, bagaimana?”
“Mama tidak pernah mencari Ana. Mama tidak sayang pada Ana.”
“Masa?”
“Papa juga tidak kan?”
“Tidak Ana, papa tentu sayang Ana.”
“Bohong,” itu kata batin Ana. Disayang itu, walau tak tampak, tapi bisa dirasakan. Beda rasanya disayang atau tidak. Tapi Ana tak mengatakannya. Ia harus menunggu hari esok dalam penantiannya bertemu bibi Menur.
***
Menur terengah-engah lari menjauhi Baroto yang mengejarnya. Entah mengapa, dia tak ingin bertemu dia lagi. Apa maksud Baroto mengejarnya? Bukankah semuanya sudah berlalu dan kehidupan yang berbeda telah menjadikannya terpisah dalam arti yang sebenarnya.
Tak ada cinta yang tersisa, kecuali hanya luka.
Tak terasa perjalanan Menur sampai di dekat sekolah Rahman. Saat itu anak-anak sekolah sedang istirahat. Ada yang jajan diluar, ada yang hanya duduk-duduk di halaman.
Menur tersenyum melihat Rahman yang sedang berdiri di dekat tukang bakso. Ia membawa kotak makanan yang tadi diberikan Ana. Ia bermaksud memberikan makanan itu agar Rahman bisa segera memakannya.
“Rahman!”
Rahman menoleh, kelihatan kesal ketika melihat ibunya, apalagi sedang menggendong karung berisi botol-botol kosong. Seorang temannya mengingatkan, kalau ada orang yang memanggilnya, tapi Rahman justru berlari masuk ke halaman sekolah sambil mengucapkan kata-kata yang menyakitkannya.
“Kamu dipanggil tuh.”
“Memalukan, dia itu pengemis yang tinggal di dekat rumah.
Menur melanjutkan langkahnya yang tiba-tiba terasa lemas. Alangkah sakit ketika seorang anak semata wayang yang dikasihinya dengan sepenuh jiwa, berkali-kali menyakitinya. Pertama, ketika mengambil rapor, dia harus mengaku sebagai pembantu, kedua, ketika dia menyapa di depan sekolah, sang anak mengaku kepada temannya bahwa dia adalah pengemis.
Adakah sakit sesakit apa yang dirasakannya?
Menur mengusap air matanya. Sekilas ia teringat putri kecil cantik yang sangat menyukainya. Dia bukan siapa-siapa. Tak ada darah dirinya yang mengaliri raga si kecil itu. Setetespun tidak. Tapi gadis kecil itu sangat menyukainya. Teringat olehnya ketika ia memekik … ‘bibi, peluk aku’.
Pernahkan Rahman meminta dipeluk olehnya? Bahkan ia selalu menolak ketika sang ibu ingin melakukannya.
“Menjauhlah Bu, Ibu sangat bau.”
Menur ingin menjerit mengingat semua perlakuannya. Tapi ia tak bisa melepaskan Rahman. Apakah salah kalau dia selalu memanjakannya dalam keterbatasan yang dimilikinya? Peluh yang menetes, tubuh berbau barang-barang rongsok, penampilan yang jauh dari cantik, bukan masalah baginya. Demi kecintaannya, dia rela melakukan semuanya. Mengapa Rahman tak sedikitpun menghargainya?
***
Menur sedang menyiapkan makan untuk anaknya, karena sudah saatnya sang anak pulang dari sekolah. Minuman harus ada, makanan dengan lauk yang ada telurnya, sudah siap. Bahkan ia belum makan sedikitpun, menunggu makanan tersisa setelah sang anak selesai makan.
Tiba-tiba Menur teringat kotak makan pemberian Ana yang belum dibukanya. Ia mengambilnya, lalu membukanya. Ada nasi dan ikan di dalamnya, baunya sangat menusuk selera. Tapi Menur tak mau mengambilnya. Ia justru menata makanan itu di meja, agar Rahman senang dengan lauk yang kebetulan begitu lengkap.
Ketika ia meletakkan kotak kotor itu di dapur, terdengar langkah sang anak memasuki rumah.
“Sudah pulang Nak?” sapanya lembut.
Rahman langsung memasuki ruang makan, setelah melemparkan tas sekolahnya ke kursi panjang depan kamarnya.
“Bau apa ini?”
Matanya bersinar melihat ikan kakap goreng siap di meja makan. Tapi kemudian ia menatap ibunya dengan marah.
“Ibu, jangan sekali-sekali melewati sekolah Rahman.”
“Ibu hanya lewat, untuk mencari jalan terdekat dengan rumah.”
“Tapi ibu memanggil namaku. Rahman malu dong bu,” katanya sambil duduk di depan meja, sebelah tangannya meraih ikan yang sejak tadi membuat ingin segera menyantapnya.
“Nak, sudah benar kamu menjawab kepada temanmu. Tidak apa-apa kamu anggap ibumu ini pengemis,” katanya sambil menahan hati seperih luka karena teriris sembilu.
Rahman asyik menikmati makan siangnya.
“Mengapa tidak ganti pakaian dulu dan cuci kaki tangan serta ganti pakaianmu?”
“Kelamaan Bu, aku sudah lapar.”
Menur beranjak ke belakang, dan mendengar ‘perintah’ dari sang anak.
“Besok bawain ikan lagi ya Bu.”
Menur berhenti melangkah.
“Itu tadi karena diberi orang, Nak. Besok ibu tidak bisa lagi membeli ikan seperti itu. Bukankah kamu suka telur? Itu sudah cukup bukan?”
“Aku mau ikan seperti ini!” sentaknya.
Menur menghela napas panjang, menahan sesak yang memenuhi dadanya, tapi tak sepatah katapun ia menjawabnya. Bayangan harga ikan yang pastinya lebih mahal membuatnya semakin sesak.
***
Siang hari itu Menur tak lagi melewati daerah elit di mana dia bertemu Ana. Apalagi ada Baroto yang sepertinya ingin berbincang atau entah apa, dengannya.
Sudah saatnya dia menyetorkan botol-botol kosong itu ke pengepul, lalu ia harus segera pulang. Bayangan ikan goreng yang diminta anaknya sangat mengganggunya.
Ia merasa lega hari itu ia mendapat lebih banyak uang, karena bisa menyetor botol kosong sepenuh karung.
Ketika ia sedang memasukkan uang ke dalam saku bajunya, matanya terbelalak melihat seseorang mencegatnya.
Wajah Menur pucat pasi.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah bunda cerbung yg ditunggu sudah tayang,
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga sehat selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🙏🤲