Wednesday, June 24, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 32

 NAMAKU TETAP SENJA  32

(Tien Kumalasari)

 

Senja terkulai lemas. Dia tidak pingsan, hanya tidak berdaya. Ia duduk di samping kemudi. Entah siapa yang membawanya. Ia melirik ke samping dan terkejut, karena mengenal siapa yang duduk menyetir mobil.

“Non … Rosa?” katanya lemah.

“Eh, kamu sudah sadar? Apa yang terjadi?”

“Ya ampun, terima … kasih banyak, saya hampir celaka …” katanya terbata.

“Apa sebenarnya yang terjadi, mengapa kamu sampai di tempat sepi seperti tadi?”

“Entahlah … saya … diculik …”

“Diculik? Memangnya kenapa kamu diculik? Kamu membawa harta benda berharga? Tidak kan?”

“Bukan … bukan karena mau … dirampok … saya … mau … diper …kosa, laki- laki … jelek, tinggi … besar.”

“Lalu kamu bisa kabur? Dia berhasil memperkosa kamu?”

“Ti … tidak … saya … kabur.”

“Hebat kamu, laki-laki tinggi besar ingin memperkosa kamu, kamu bisa kabur?”

“Saya semprot matanya dengan cairan sabun … atau entah … di kamar mandi, lalu saya lari.”

“Dia tidak mengejar kamu?”

“Dia … kesakitan … ada … penjaga … di depan rumah … saya pukul … dengan … tongkat, entah bagaimana … saya membawanya keluar … untuk berjaga …jag …ga.”

“Kamu hebat Senja, kamu bisa lolos, selamat. Tapi kamu terluka? Tanganmu berdarah …”

“Saya … takut ketika … ada mobil, lalu melompati parit … bersembunyi di rumpun tanaman … tebu. Entah luka apa… kaki saya juga sakit .. sekali.”

Senja terengah-engah, tak melihat betapa gadis disampingnya tersenyum senang.

“Non, maukah … mengantarkan saya … pulang? Saya juga tidak … tahu … ini di mana, simbok pasti cemas.”

“Tidak Senja, kamu harus aku antarkan ke rumah sakit.”

“Ti … tidak, mana bisa … saya … tidak punya … uang.”

Rosa tertawa …

"Aku sudah menolongmu, jadi aku yang akan membantu kamu … maksudku, membayar biaya perawatannya nanti.”

“Ya ampun … ternyata … non Rosa baik … sekali.”

“Aku ini memang orang baik … penuh kasih sayang. Mana tega aku melihat kamu menderita seperti ini? Tadi juga kebetulan aku lewat dan melihat kamu.”

“Terima … kasih, saya merasa lemas … rumah sakit … di mana ya?”

“Di kota, ini luar kota. Kamu tenang saja. Rumah sakit itu tentunya tak jauh dari tempat tinggalmu.”

“Kalau … Non membayar biayanya, nanti … saya bilang Simbok, biar ditukar uangnya.”

“Gampang. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, kamu akan mendapat perawatan yang baik.”

“Non sangat baik. Banyak orang berbaik hati kepada saya, seperti mas Arka juga. Pasti dia bingung ketika kehilangan saya.”

Wajah Rosa gelap mendengar perkataan Senja. Tentu saja Arka kehilangan. Bukankah tadi bersamanya?

"Tadinya bersama kamu kan?" kata batin Rosa.

“Tadinya … saya dan Simbok … juga Rimba, adik saya, diajak jalan-jalan … sama mas Arka … lal … lalu ….”

“Sudah, ceritanya nanti saja. Kita sudah sampai. Nanti aku kabari Arka.”

“Oh, terima kasih Non, semoga … saya bisa …  langsung pulang nanti, agar Simbok tidak cemas menanti sa …saya …”

Rosa berhenti di sebuah rumah sakit, lalu memapah Senja masuk ke dalam. Sikapnya seperti seorang penolong yang sangat mengkhawatirkan orang yang ditolongnya.

***

Arka belum pulang ke rumah. Ia masih di rumah Simbok, agar Simbok merasa lebih tenang. Ia terus menghubungi polisi dan menanyakan sampai sejauh mana pencarian terhadap Senja.

“Bagaimana kalau Senja sampai disiksa, disakiti … atau … diapakan oleh penculik itu?” kata mbok Mangun yang dari siang tak berhenti menangis.

“Tidak, Simbok tenang saja. Teruslah berdoa agar Senja segera diketemukan. Tampaknya penculik itu sudah terlacak. Semoga menjadikan titik terang atas pencarian itu."

“Apa dia akan mengatakan di mana Senja berada?”

“Ya, tentu saja.”

Tiba-tiba ponsel Arka berdering. Dari Rosa. Arka tak hendak mengangkatnya. Ia justru merasa kesal karena malam-malam Rosa mengganggunya.

“Mas Arka, mengapa didiamkan saja, jangan-jangan polisi memberi tahu tentang Senja,” kata mbok Mangun.

“Bukan Mbok, dari teman saya. Dia hanya akan mengganggu.”

Lalu dering itu terdengar berulang-ulang. Arka ingin mematikan ponselnya, tapi khawatir kalau polisi memberinya kabar lalu dia sampai tidak mendengarnya karena ponselnya mati.

“Mengapa menelpon terus menerus Mas, jangan-jangan ada yang penting,” Simbok mengingatkan lagi.

Akhirnya karena kesal Arka mengangkatnya, tapi begitu dibuka Arka langsung menyemprotnya.

“Ada apa sih kamu? Malam-malam mengganggu orang?” sergahnya.

“Arka, jangan marah marah begitu, aku menelpon karena ada sesuatu yang penting.”

“Yang penting apa?” suara Arka sama sekali tak terdengar ramah.

“Ini tentang Senja.”

Arka terkejut, ia berteriak.

“Tentang Senja? Kamu bertemu Senja?” Simbok dan Rimba menangkat wajahnya dan merasa tegang.

“Dia di rumah sakit.”

“Di rumah sakit mana? Dia kenapa?”

“Tenang saja, dia baik-baik saja. Artinya tidak luka parah, hanya lemas dan luka kecil.”

“Bicara dengan jelas, ada apa sebenarnya? Di mana kamu menemukannya? Aku sudah melapor polisi dan penculik sudah terdeteksi, polisi sedang memburunya."

“Arka, aku menemukan Senja hampir pingsan di pinggir jalan, dia sedang melarikan diri dari orang yang akan memperkosanya.”

“Apa? Ceritanya nanti saja, sekarang dia ada di rumah sakit mana?”

Rosa mengatakan nama rumah sakitnya, dan Arka segera berkemas. Simbok dan Rimba kebingungan.

“Mas Arka, Senja kenapa? Luka parah? Disiksa penculik itu? Apa dosa anakku?” mbok Mangun kembali menangis.

“Katanya hanya luka ringan. Saya mau ke rumah sakit untuk melihatnya.”

“Bolehkah Simbok ikut?”

“Aku juga ikut ya Mas.”

“Baiklah, ayo kita ke sana sekarang.”

***

Ketika Arka dan Simbok datang, Rosa sedang menunggu di depan. Arka bergegas mendekat.

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak apa-apa, luka kaki tangannya, sedikit, tapi dia lemas, sedang diinfus.”

“Mana dia Non, mana dia?”

“Masih di ruang IGD Mbok, boleh masuk, satu persatu. Simbok dulu ya,” kata Rosa, yang membuat Simbok segera menghambur ke dalam. Rimba menungguinya di depan pintu, karena petugas melarangnya masuk.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku menemukan dia dalam keadaan lemas, berbaring di tanah.”

“Dia bisa cerita?”

“Ya, cerita walau dengan terbata-bata. Kasihan sekali aku melihatnya. Gadis tak berdosa, nyaris dilalap laki-laki biadab.”

“Bagaimana ceritanya?”

Rosa kan sudah tahu semuanya, karena dia adalah dalangnya. Tapi ia ingin terlihat baik di mata Arka. Ia berharap dengan perbuatannya, Arka akan bersikap lebih manis terhadapnya, sehingga dengan mudah ia bisa menundukkannya.

“Nanti kamu ketemu Senja sendiri, bertanyalah padanya, aku kalau menceritakan jadi pengin nangis, kasihan banget gadis muda teraniaya tanpa dosa,” kata Rosa sambil mengusap air mata buayanya.

“Untunglah aku tadi lewat daerah itu. Temanku yang punya kantin kan rumahnya di sana, ketika aku sedang jalan mau pulang, melihat seseorang terbaring di tepi jalan, dan berusaha bangkit tapi kelihatan susah. Aku berhenti dan terkejut setengah mati ketika tahu bahwa dia Senja. Langsung aku papah dia ke mobil, aku larikan ke rumah sakit. Lalu aku mengabari kamu.”

“Dia diculik setelah belanja bersama aku.”

“Bagaimana kamu tidak tahu ada orang menculik Senja? Kamu sembrono sekali sih Ka.”

“Aku sedang memasukkan belanjaan ke bagasi. Seseorang memanggil Senja, katanya ada barang yang ketinggalan. Senja bergegas kembali masuk, dan tidak kembali lagi ke mobil.”

“Ya ampun, trenyuh aku mendengarnya Ka, katanya dia hampir diperkosa.”

“Hampir?” Arka berteriak.

“Ya, Senja bilang dia bisa meloloskan diri lalu berlari dari sana.”

“Bagaimana dia bisa lari?”.

“Kata Senja dia menyemprotkan cairan sabun ke mata orang yang mau memperkosanya, sehingga dia bisa lari. Nanti kamu tanyakan sendiri cerita lengkapnya.”

Agak lama Simbok ada di dalam, lalu ketika keluar, sambil mengusap air matanya, dia merangkul Rosa erat sekali.

Rosa ingin menghindar. Ia tak suka bau mbok Mangun yang tidak wangi seperti dirinya, tapi Simbok terlanjur erat merangkulnya.

“Non … terima kasih banyak ya Non, kalau tidak ada Non, entah bagaimana nasib anak saya. Terima kasih banyak, semoga Allah membalas semua kebaikan Non ya,” kata  Simbok sambil menangis. Rosa mengernyitkan hidungnya, lalu mendorong mbok Mangun pelan. Tentu ia sungkan menampakkan rasa jijiknya karena dia sedang ingin kelihatan baik di mata Arka.

“Jangan dipikirkan Mbok, menolong seseorang itu sudah menjadi kewajiban saya.”

“Tapi Non sangat berarti .. Saya tak akan bisa melupakannya.”

“Ya sudah, itu hanya hal biasa. Sekarang saya ingin pulang dulu ya Ka, saya pergi sejak sore tadi, nanti dimarahin mama.”

“Baiklah, kamu pulang saja, biar Senja aku yang mengurusnya.”

Rosa melangkah keluar sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Rasanya bau penjual beras itu masih menempel saja. Ia ingin segera pulang dan mandi sebersih-bersihnya.

***

Besok lagi ya.

27 comments:

  1. Alhamdulillah eNTeeS_32 sudah tayang.

    Terima kasih mBak Tien, salam SEROJA dan tetap ADUHAI, tetap semangat.

    Sehat terus dan terus sehat.
    Aamiin Yaa Robbal'alamiin...
    πŸ€²πŸ™πŸ’—πŸŒΉ❤️‍🩹πŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek

      Delete
  2. πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€
    Alhamdulillah πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung eNTeeS_32 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja ❤️
    πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€πŸŽŠπŸŽ€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah, maturnueun bu Tien..
    Cerbung kesayangan sampun tayang . Salam swroja dan aduhai aduhai bun❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  5. Mks bunda, cerbung NTS nya sdh hadir ....selamat malam sehat² sll

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah.yerimakasih Bunda.
    Senja pasti cerita...

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  10. Hatur nuhun bunda cerbungnya..slm sht sll dan aduhai unk bunda πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,32 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah NTS telah hadir, dng alur cerita yg canteeek, maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  13. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 32 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  14. Oalah Rosa....Rosa.
    Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Teni

      Delete
  15. Heleh si Rosa caper...ntar diinterogasi polisi ketahuan deh boongnya.πŸ˜€

    Terima kasih, ibu Tien...salam sehat.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillaah, bisa membaca lg
    Matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat semua ya πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸ’–

    Gemes dg Rosa,, kl dah cinta buta membuat gelap mata apapun jd halal yg dikerjakan.

    ReplyDelete
  17. Rosa sedang cuci muka eh cuci tangan

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 32

  NAMAKU TETAP SENJA  32 (Tien Kumalasari)   Senja terkulai lemas. Dia tidak pingsan, hanya tidak berdaya. Ia duduk di samping kemudi. Entah...