NAMAKU TETAP SENJA 28
(Tien Kumalasari)
Pak Wiguna menghentikan Arka yang terus melangkah keluar, menghampiri mobilnya.
“Arka, mau kemana? Ada tamu kok ditinggal pergi.”
“Sudah janjian jam delapan Pa. Maaf, Rosa,” katanya kepada Rosa yang terpaku diam, tak tahu harus bicara apa.
“Teman siapa? Temuin dulu Rosa, jauh-jauh datang untuk menemui kamu, kamu malah pergi. Gimana sih?”
“Saya tidak janjian sama Rosa, saya janjian sama teman saya.”
“Apa tidak bisa ditunda?”
”Maaf, tidak bisa. Mereka pasti sudah menunggu.”
“Sebegitu pentingkah teman kamu itu sehingga mengalahkan waktu kamu untuk Rosa?”
“Sudah terlanjur janjian Pa, saya tidak bisa menundanya. Maaf, sekali lagi,” kata Arka yang nekat masuk ke dalam mobilnya, dan keluar dari halaman.
Rosa tampak sudah duduk di teras, asyik mengutak atik ponselnya, seakan tidak mempedulikan Arka yang pergi menjauhinya.
“Dasar anak itu, susah sekali dikasih tahu,” omel pak Wiguna yang kemudian duduk di depan Rosa.
“Maaf Rosa, aku kira Arka tidak akan pergi. Sepagi tadi santai di rumah.”
Rosa menyimpan ponselnya dan tersenyum.
“Tidak apa-apa Om, bukankah saya harus bersabar?”
"Sangat besar keinginanku agar Rosa menjadi menantuku. Kamu pilihan terbaik Rosa. Aku tetap berharap hal itu bisa benar-benar terjadi,” kata pak Wiguna.
“Saya tahu Om, baiklah, saya akan bersabar. Semoga keinginan kita bisa terlaksana.”
“Anak baik. Itu sebabnya aku senang sekali bermenantukan kamu. Sabar dan baik hati, serta ikhlas menerima kekalahan. Tapi percayalah bahwa kamu tidak akan kalah.”
“Kok sepi, tante di mana?”
“Di belakang, biasanya ada di dapur, membantu bibik. Bukan apa-apa, tantemu itu tak mau diam, saat sedang merasa sehat. Apa kamu ingin menemuinya, atau aku panggil saja dia kemari?”
“Tidak usah Om, saya mau langsung pulang saja.”
“Belum disuguhin apa-apa, pulang? Biar bibik membuatkan minum dan _."
“Tidak usah, saya masih punya pekerjaan. Lain kali saja saya main kemari lagi,” katanya sambil berdiri, kemudian turun dari teras untuk menghampiri mobilnya.
Lalu ia memacunya keluar dari halaman. Pak Wiguna menatapnya dengan perasaan kesal kepada anaknya.
“Pasti Rosa sakit hati lagi. Datang jauh-jauh, Arka malah pergi. Kencan sama siapa sebenarnya dia? Dasar bodoh. Tidak mau memikirkan masa depan yang lebih baik,” omel pak Wiguna.
“Ada apa Pak?” bu Wiguna tiba-tiba muncul membawakan jus jeruk untuk suaminya, lalu meletakkannya di meja.
“Kamu tidak tahu tadi ada tamu?”
“Tamu, siapa ?”
“Rosa datang. Sedianya ingin bertemu Arka, lagi-lagi Arka menghindar.”
“Sudah sejak pagi Arka bilang, bahwa dia akan pergi bersama teman-temannya jam delapan ini. Jadi menurutku ia bukan menghindar.”
“Ibu selalu begitu. Membela anak bandel dan bodoh itu.”
“Bapak jangan selalu mengatai dia bodoh. Arka itu pintar. Dia juga anak baik dan penurut.”
“Penurut apanya, sekarang saja dia berani membantah.”
“Itu karena pilihan papa tidak sesuai dengan keinginan dalam hidupnya. Entah apa yang Bapak pikirkan,” katanya sambil menjauh.
Bu Wiguna tak mau berdebat. Kalau suasana menjadi panas, lebih baik dia menjauh.
Pak Wiguna mengomel panjang pendek sambil duduk sendirian, tak ada yang mendengarnya. Omelan itu berhenti ketika ia merasa haus dan meneguk jus jeruknya sampai habis.
***
Mbok Mangun senang sekali, pergi naik mobil bersama kedua anaknya. Ia pernah naik mobil, tapi mobil angkot yang membawanya saat ia harus berjalan jauh demi jualannya laku. Sekarang ini mobil yang ditumpanginya adalah mobil bagus, udara dingin membuatnya sejuk dan segar.
Arka membawanya berkeliling kota, melihat keramaian kota dengan gedung-gedungnya yang menjulang, dan lalu lalang padat memenuhi seluruh kota.
“Ya ampun, mas Arka … Simbok belum pernah melihat semua ini. Ternyata dunia sangat luas, ini membuat Simbok sangat takjub. Terima kasih mas Arka, telah ditunjukkan kepada Simbok sebuah dunia yang luas dan berwarna warni.”
Arka hanya tersenyum, tapi kegembiraan yang melonjak-lonjak dari mbok Mangun dan anak-anaknya, sangat membuatnya bahagia.
Hanya Simbok yang berteriak-teriak senang, sementara Senja diam menikmati, dengan binar yang mempesona.
“Simbok jangan berteriak-teriak. Malu,” kata Rimba.
“Mengapa harus malu, Simbok memang sangat senang.”
“Kita semua senang, tapi Simbok jangan berteriak-teriak.”
“Tidak apa-apa Rimba. Biar saja Simbok melampiaskan kegembiraannya. Sebentar lagi kita ke depan situ, ada taman yang indah dan sejuk sekali udaranya.”
Lalu Arka menghentikan mobilnya di sebuah taman, yang dipenuhi tanaman bunga dan pepohonan rindang.
Arka mengajak mereka turun.
“Ya ampun, indah sekali. Bunga-bunga cantik, yang ditempat kita tidak ada kan? Mana bisa bunga-bunga ini ditanam di rumah kita?”
“Ya bisa Mbok, tapi beli bibitnya mahal.”
“Simbok pengin menanam bunga-bunga di rumah?” tanya Arka.
“Yang namanya pengin ya pengin, tapi kan Simbok tidak punya halaman, rumah saja sempit. Tapi melihat ini semua Simbok sangat senang. Terima kasih mas Arka.”
Mereka berputar-putar di sekitar taman, lalu Arka membelikan mereka es krim, yang dinikmati sambil beristirahat di sebuah bangku.
"Senja, bunga-bunga seperti ini bisa ditanam di dalam pot. Kamu bisa menanamnya."
Senja hanya tersenyum. Pot bunga dan bunganya kan tidak bisa didapat dengan cuma-cuma?
Suasana gembira meliputi hati mereka. Sungguh tak sia-sia Arka melakukan semua itu.
***
Rosa menelpon di sepanjang perjalanan pulang. Entah dengan siapa, tapi ia tampak berbicara dengan serius.
“Aku tidak mau gagal. Hari ini juga kamu harus melakukannya. Memang benar, dia cantik, terserah apa yang akan kamu lakukan. Yang penting jangan lolos. Kalaupun dia hidup, buatlah hidup yang ternoda. Yaa … itu bagus, terserah kamu saja, kan aku sudah bilang berkali-kali, terserah kamu. Uangnya akan aku tambah setelah selesai tugas kamu. Sudah, jangan bicara lagi, aku sudah sampai rumah.”
Rosa berhenti menelpon ketika ia sudah sampai di halaman rumahnya.
***
“Kamu dari mana saja?”
“Dari rumah om Wiguna."
"Mengapa ke sana lagi?"
"Tadi om Wiguna menelpon Rosa.”
“Menelpon untuk apa?”
“Hanya mengajaknya berbincang.”
“Ketemu Arka?”
“Tidak, dia waktu itu mau pergi bersama teman-temannya. Entahlah, saya hanya berbincang sebentar, kemudian pamit pulang.”
“Rosa, duduklah sebentar.”
Rosa duduk di depan kedua orang tuanya.
“Tadi Papa sama Mamamu sepakat mengirimkan kamu kembali ke luar negri.”
“Apa? Mengapa?”
“Ada perusahaan Papa di sana, kamu bisa mengawasinya, bukan? Seperti waktu kamu kuliah, dan sekarang saatnya kamu bekerja untuk Papa.”
“Tidak mau. Rosa lebih suka tinggal di sini saja, dekat sama Papa dan Mama.”
“Karena itu? Bukan karena kamu masih ingin mengejar Arka?”
“Tidak. Rosa tidak lagi suka dia. Cinta itu sudah hilang dari hati Rosa.”
“Bagus sekali kalau kamu sudah menyadarinya. Memang lebih baik melupakan orang yang kita cintai tapi tidak mencintai kita. Hal itu akan membuat kamu lebih tenang,” sambung sang Mama.
“Tapi jangan minta dulu Rosa kembali ke sana Pa, Rosa masih ingin di sini.”
“Kamu tidak mau membantu Papa?”
“Mau, tapi tidak sekarang. Tunggu beberapa saat lagi, sampai Rosa siap untuk bekerja.”
“Baiklah kalau memang kamu masih harus bersiap-siap, tapi jangan lakukan hal yang memalukan. Apalagi masalah Arka.”
“Tidak Pa, kan Rosa sudah bilang tidak akan memikirkan Arka. Cinta Rosa sudah hilang setelah mengalami sakit berkali-kali. Rosa juga tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Belajar masak sama Mama, biar kelak menjadi istri yang baik.”
“Lebih baik begitu. Ya sudah, istirahatlah.”
Rosa beranjak ke kamarnya. Memang benar, cinta kepada Arka sudah hilang. Yang tertinggal adalah cara ingin membalas sakit hatinya. Kepada Arka, dan kepada gadis yang disukainya, yang saat ini menurut laporan orang suruhannya, mereka sedang bersenang-senang di taman.
“Dasar udik, kampungan. Jangan kira kamu akan bisa melanjutkan kesenangan kamu di dunia ini, karena neraka sedang menunggumu.” gumamnya sambil masuk ke dalam kamar, dan menutupnya keras, sambil membayangkan sedang menghantam kepala orang yang dibencinya.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien 🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah.....
ReplyDeleteNuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien sehat aelalu dan tetap semangat aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri
Delete🪻🪺🪻🪺🪻🪺🪻🪺
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung eNTeeS_28 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🪻🪺🪻🪺🪻🪺🪻🪺
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari
DeleteAlhamdulillah senja telah hadir, semoga senja selalu dlm lindungan Allah SWT, ikut deg2 an Bu, Krn ulah Rosa..... maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ❤️🙏🙏
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Latief
DeleteTerima ksih bunda..cerbungnya sfh hadir..slm seroja dan tetap semangat unk bunda🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteTerima ksih bunda..cerbungnya sfh hadir..slm seroja dan tetap semangat unk bunda🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salam serojs dan aduhai juga
DeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 28 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,28 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Uchu
DeleteAlhamdulilah. Terimakasih BundA.
ReplyDeleteSemoga sehat slalu beserta keluarga tercinta.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Endang
DeleteAlhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang yg barokah aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Ida
DeleteAlhamdulillah terima kasih bunda , NTS sudah tayang,semoga bunda dan keluarga sehat dan selalu dalam keberkahan dan lindungan Allah SWT 🤲🤲
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sifa
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Allahumma Aamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteRosa suruh saja jadi pasukan Sirah*ll, biar dia bunuh orang semuanya....
ReplyDeleteTenang prof.. nggak boleh esmosi..
Delete