Saturday, June 13, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 23

 NAMAKU TETAP SENJA  23

(Tien Kumalasari)

 

Di sepanjang perjalanan, Arka tak banyak bicara. Dia hanya menjawab kalau Rosa bertanya.

“Ka, sebenarnya teman kamu yang mana yang kamu katakan sebagai pedagang beras?”

“Mengapa kamu tanyakan itu?”

“Ketika aku bertanya kepada gadis itu, dia bilang saudaranya hanya satu, itupun masih kecil. Mana yang sebenarnya teman kamu?”

“Aku tanya kamu sekarang, mengapa kamu ingin tahu tentang hal itu?”

“Apa tidak boleh aku ingin tahu? Ini kan pertanyaan ringan? Yang kamu anggap sebagai teman itu gadis bernama Senja itu?”

“Apakah teman harus seumuran?”

“Memang tidak.”

“Ya sudah.”

“Jadi yang kamu anggap teman itu dia? Gadis itu?”

“Kalau ya, kenapa?”

“Tidak apa-apa, kan hanya bertanya. Kalau dia temanmu, berarti juga temanku kan?”

Arka tak menjawab, ia tak tahu ke mana arah tujuan perkataan Rosa itu. Ia juga tak ingin tahu.

“Ka, apakah Senja itu istimewa buat kamu?”

“Apa?”

“Senja itu kamu anggap istimewa?”

“Pertanyaan apa itu?”

“Agak aneh juga buat aku, dia itu hanya seorang pedagang beras yang miskin, tapi kamu begitu perhatian padanya.”

“Jangan bilang dia miskin. Miskin harta bisa jadi dia mulia. Yang hina adalah kalau miskin nuraninya.”

”Apa maksudmu?” tanya Rosa.

“Masa kamu tidak tahu maksudku? Jangan lagi mengatai dia miskin. Sudah dua kali ini aku mendengarnya. Aku tidak suka. Dia gadis yang baik.”

Lama-lama Rosa kesal dan marah juga pada Arka, yang dianggapnya terlalu membela Senja.

"Sebenarnya apa arti gadis itu bagi kamu Ka? Kamu sama aku keliatan sekali tidak suka, bahkan terkesan menjauhi, sedangkan sama dia kamu begitu dekat?”

Arka menatap Rosa yang wajahnya menjadi gelap.

“Apa hebatnya dia Ka? Gadis itu bau, lugu, dan kamu tahu Ka, ketika bersalaman telapak tangannya kasar seperti parutan kelapa,” tandas Rosa.

Arka naik pitam.

“Diam Rosa. Kalau kamu tidak suka dia, tidak usah kenal dia, dan jangan pernah lagi menyebut namanya apalagi dengan  merendahkan dia. Bagiku dia gadis terbaik yang pernah aku temui.”

“Kamu diguna-guna Ka, itu pasti. Perasaan kamu ini tidak wajar. Tak seorangpun laki-laki suka pada gadis seperti itu, sama sekali tidak menarik. Lihat saja penampilannya yang kampungan … yang...”

“Diam!!”

Tiba-tiba Arka menghentikan mobilnya dengan mengerem tiba-tiba, sehingga Rosa hampir menubruk dashboard mobil.

“Arka!” Rosa memekik keras. Napasnya terengah-engah.

“Turun kamu!”

“Apa?”

“Turun..!”

“Kamu menyuruh aku turun di sini? Kamu tidak mau mengantar aku pulang?”

“Kurang jelas? Aku menyuruh kamu turun, jadi turunlah.”

“Arka, kamu tega?”

“Seperti rasa tega kamu dengan merendahkan sesama mahluk yang tidak punya dosa apa-apa terhadap kamu.”

Rosa mulai menangis.

“Kamu benar-benar tega Ka?”

“Apa aku harus berteriak supaya kamu mendengarnya? Aku bilang sekali lagi, turun kamu..!”

Rosa menangis semakin keras, tapi kemudian dia turun dari mobil.

Arka menjalankan mobilnya kembali, memacunya dengan cepat, meninggalkan Rosa yang menangis dengan dipenuhi kemarahan yang memuncak di kepalanya.

Lalu ia memanggil taksi.

***

Rosa turun dari taksi, bukan di rumahnya sendiri tapi di rumah keluarga Wiguna. Pak Wiguna yang semula begitu gembira melihat Rosa, tiba-tiba terkejut melihat Rosa berurai air mata, lalu begitu datang segera ambruk dipangkuannya.

“Hei, ada apa ini? Rosa? Apa yang terjadi? Arka belum lama masuk ke rumah, tapi sudah langsung pergi ke kamarnya. Apa aku panggil dulu dia?”

Rosa masih tetap menangis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pak Wiguna akan memanggil Arka.

“Kamu ada apa Rosa? Tadi juga kamu naik taksi, mobilmu ke mana? Lalu apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis sampai seperti ini?”

“Arka Om, Rosa diturunkannya dijalan,” katanya sambil menangis.

“Apa? Kamu tadinya bersama Arka? Lalu kamu diturunkan di jalan? Ada apa? Kalian bertengkar?”

Lalu dengan terisak-isak Rosa menceritakan ketika ban mobilnya bocor, lalu menumpang mobil Arka yang kebetulan lewat. Ia bercerita dengan bersimpuh di lantai, cerita itu membuat pak Wiguna marah. Ia berteriak memanggil Arka, tapi yang muncul adalah bu Wiguna. Ia terkejut melihat Rosa bersimpuh di lantai sambil menangis.

“Ada apa ini?” tanya bu Wiguna sambil menarik tangan Rosa, dimintanya agar berdiri, lalu mendudukkannya di kursi.

“Aku memanggil Arka, mana dia?” sentak pak Wiguna.

“Dia tidur, tadi mengatakan kalau lelah sekali dan tak ingin diganggu.”

“Tadi Rosa menumpang di mobilnya, tapi tiba-tiba diturunkannya di jalan, apa itu pantas? Apa itu perbuatan seorang laki-laki sejati?” kata pak Wiguna hampir berteriak.

“Nanti dulu, kalaupun Arka melakukannya, pasti ada sebabnya bukan? Tak mungkin kalau tidak ada apa-apa lalu dia menurunkan orang yang menumpang di mobilnya.”

“Arka membela seorang penjual beras. Hanya gadis miskin penjual beras, dibelanya, sampai Rosa diturunkannya di jalan.”

“Mengapa ada bela membela? Apa yang terjadi sebenarnya? Rosa pasti mengatakan sesuatu yang membuat Arka marah.”

“Ibu itu bagaimana, bukannya membela Rosa malah membela penjual beras itu. Aku sudah pernah melihat anak itu. Begitu lancang memang. Bertemu aku juga tidak menaruh hormat.”

“Bertemu Bapak di mana?”

“Dia mengirim beras ke kantor. Arka juga yang menyuruh.”

“Nanti dulu, masalah Rosa ini jangan ditelan begitu saja. Arka tidak mungkin melakukannya tanpa alasan.”

“Mengapa kamu membela Arka Bu, jelas dia itu selalu bersikap menjengkelkan.”

“Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya bilang, Arka melakukannya pasti dengan sebuah alasan. Tidak mungkin dia melakukannya begitu saja.”

“Sebenarnya saya hanya menegur dia, mengapa begitu dekat dengan gadis penjual beras itu. Mengantar pesanan beras ke rumah saya, dan itu karena saya ikut kasihan pada keluarga miskin itu, juga diantar Arka. Saya hanya bertanya seberapa kedekatan dia dengan keluarga miskin itu, tapi dia marah, saya disuruh turun di jalan.” 

Lalu Rosa menangis lagi, membuat pak Wiguna bertambah marah.

“Dengar itu Bu, apa kurang jelas apa yang dikatakan Rosa?”

“Masa hanya karena itu?” bu Wiguna tetap ragu-ragu.

“Arka!!” pak Wiguna berteriak semakin keras.

Bu Wiguna mengalah, ia masuk dan menuju ke kamar Arka. Ia mengetuknya perlahan. Sekarang ia tahu, mengapa begitu datang Arka berpesan agar jangan diganggu. Pasti ia tahu kalau Rosa bakal mengadu kepada orang tuanya, dan Arka tak ingin mendengarnya. Tapi sekarang sang ayah sedang berteriak. Bu Wiguna memaksanya keluar.

“Arka, ibu tahu kamu tidak tidur. Keluar sebentar Nak, agar permasalahan segera selesai. Ibu pusing mendengarnya.”

Mendengar perkataan sang ibu, Arka keluar.

“Ka, katakan yang sebenarnya apa yang ada di dalam hatimu agar semuanya selesai. Kasihanilah ibumu ini. Rasanya tak tahan mendengar ayahmu berteriak.”

Arka mengangguk. Ia keluar setelah menutup pintu kamarnya.

“Ini dia anaknya. Kamu tahu apa yang membuat Rosa menangis?” hardik pak Wiguna.

Arka menatap Rosa yang menundukkan wajahnya sambil mengusap air matanya. Rasa kesal memuncak.

“Katakan mengapa kamu menurunkan Rosa di tengah jalan. Bukannya mengantarkannya sampai ke rumah. Itu bukan perbuatan seorang laki-laki. Kamu tahu tidak?”

“Arka tidak suka dia menghina orang dengan sebutan miskin dan buruk di segala hal yang sebenarnya tidak pantas.”

"Dan yang kamu bela itu adalah gadis miskin penjual beras itu?” sentak sang ayah.

“Arka tidak suka dia dikatai miskin karena keluarga mereka itu kaya raya. Kaya dalam budi pekerti dan tata krama.”

“O, begitu? Menurut bapak, perkataan kamu membuat Rosa dikalahkan, dan kamu tahu bahwa Rosa adalah calon istri kamu?”

“Arka tidak akan menjadikannya istri.”

“Apa maksudmu? Kamu berani menentang orang tuamu?” teriak pak Wiguna.

Sementara Rosa tiba-tiba berlari keluar sambil menangis lagi.

“Lihat itu, dia pasti mengadu kepada orang tuanya,” teriak pak Wiguna sambil mengambil mobilnya dan berusaha mengejar.

Arka terpaku di tempatnya. Barangkali menurutnya adalah sekalian masalahnya diselesaikan.

***

Besok lagi ya.

 

20 comments:

  1. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda udah tayang. Semoga Bunda sehat slalu dan keluarga

    ReplyDelete
  2. πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_23
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 23 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  5. Terima ksih bunda cerbungnya..slmr weekand dan slm seroja unk bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah,yg ditunggu2 telah datang, dan Arka secara tegas mengatakan yg sebenarnya,..... maturnuwun Bu Tien cerbung yg menarik, semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta ❤️πŸ™

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah... Namaku Tetap Senja 23 sdh tayang. Semoga bu Tien sekluarga slalu sehat wa'afiat. Salam Seroja.... Aduhai...Aduhai πŸ™

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,23 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekekuarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  10. Terima kasih Bunda, telah hadir menghibur kami , semoga Bunda dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan kedamaian, salam Aduhai selalu dari Pasuruan

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi sisa umur yg barokah aamiin

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah eNTeeS_23 malam minggu sdh ditayangkan. Matur nuwun mbak Tien, sehat selalu ya, tetap semangat dan ADUHAI

    ReplyDelete
  13. Alhamdulilah cerbung kesayangan sampun tayang ...
    Marurnuwun bu Tien, semoga ibu selalu sehat, bahagia .. ceria aduhai hai hai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  14. Selamat malam bunda tersayang...mks

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien.
    In Syaa Alloh tetep sehat wal afiat Aamiin❤️❤️❤️❤️❤️🌹

    ReplyDelete
  16. Matur nuwun Bu Tien....
    Rosa dan Pak Wiguna bener-bener aduhai njelehi.....
    Selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....

    ReplyDelete

  17. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *NAMAKU TETAP
    SENJA 23*
    * sudah hadir...
    Semoga selalu sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah terima kasih bunda , NTS sudah tayang , semoga bunda dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah terima kasih bunda , NTS sudah tayang,
    Semoga bunda dan keluarga sehat 🀲

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 23

  NAMAKU TETAP SENJA  23 (Tien Kumalasari)   Di sepanjang perjalanan, Arka tak banyak bicara. Dia hanya menjawab kalau Rosa bertanya. “Ka, s...