NAMAKU TETAP SENJA 21
(Tien Kumalasari)
Senja kebingungan. Ia menuntun simboknya ke arah rumah, mendudukkannya di bangku. Senja mengelus punggungnya lembut, sementara Rimba duduk di sampingnya sambil memegangi lengannya. Keduanya menatap simbok dengan rasa khawatir.
“Ada apa Mbok? Apa yang dilakukan pak RT pada simbok?”
Air mata mbok Mangun semakin mengalir deras. Ia merangkul kedua anaknya dan membiarkan air matanya meleleh membasahi pipi, lalu menetes ke pangkuannya.
“Mbok, katakan. Kalau pak RT melakukan hal yang tidak pantas, Senja akan melaporkannya kepada polisi."
“Apa kamu tahu, sebenarnya simbok punya hutang pada pak RT?” Rimba menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia memang tidak tahu. Tapi Senja mengangguk.
“Maaf Mbok, sesungguhnya Senja sudah tahu.”
“Kamu sudah tahu?”
“Beberapa kali Simbok keceplosan bicara tentang akan mencicil ke rumah pak RT, Senja jadi curiga. Lalu ada lagi, ketika pak RT mencari Simbok ke rumah, pak RT mengatakan berapa banyak hutangnya Simbok.”
“Mengapa kamu tidak mengatakannya pada simbok?”
“Senja takut Simbok jadi sedih karena hal yang dirahasiakan Simbok Senja ketahui. Karena itu Senja pura-pura tidak tahu.”
"Benar Nduk, simbok punya hutang pada pak RT, beberapa tahun yang lalu.”
“Untuk bayar sekolah Senja dan Rimba?”
“Benar, kecuali itu simbok butuh modal untuk berjualan. Maksud simbok, kalau dagangan laku, simbok bisa mencicil hutang simbok. Tapi bertahun-tahun berjalan, hutang simbok berjalan lambat, karena pak RT mengadakan bunga yang sangat tinggi.”
Simbok mengusap air matanya.
“Dia memang rentenir kejam Mbok, sudah terkenal di kampung ini. Lalu mengapa Simbok menangis setelah pulang dari rumah rentenir itu?”
“Simbok diancam? Rumah kita diminta untuk bayar hutang?” sela Rimba.
“Ketika simbok ke sana mau mencicil …. “ simbok menelan ludah, menahan tangis yang semula sudah mereda.
“Dia melakukan apa? Benar, minta rumah kita?”
“Tidak Nduk, hutang simbok sudah lunas.”
Senja dan Rimba terkejut.
“Sudah lunas?” katanya hampir bersamaan.
“Bagaimana bisa begitu? Benar, Simbok menukarnya dengan rumah ini?” Senja masih merasa khawatir.
“Tidak. Seseorang telah melunasi hutang simbok,” katanya bergetar.
“Apa?” Senja dan Rimba berteriak bersama-sama.
“Aku tidak mengerti, apa maksud Simbok?”
“Ketika aku ke rumah pak RT untuk mencicil, pak RT mengatakan bahwa tadi pagi ada yang telah melunasi semua hutang simbok.”
“Siapa?”
“Katanya orangnya setengah tua. Tiba-tiba menanyakan hutang mbok Mangun berapa, lalu dia membayar semuanya. Simbok gembira, bersyukur sekaligus terharu atas kebaikan orang itu,” Simbok kembali menangis.
“Aneh. Laki-laki setengah tua … kita tidak boleh merasa senang dulu. Siapa tahu dia itu rentenir lain yang lebih kejam yang akan memeras uang Simbok sampai Simbok habis-habisan.”
Mbok Mangun mendadak berhenti menangis. Ia mengusap air matanya dengan ujung bajunya.
“Benarkah begitu?”
“Simbok tidak menanyakan, dia itu siapa, rumahnya mana?”
“Kata pak RT, dia mengaku kerabatnya simbok yang rumahnya jauh.”
“Simbok punya kerabat jauh?”
“Kalau benar dia kerabat simbok, mengapa tidak singgah dulu kemari, dan dari mana dia tahu kalau simbok punya hutang pada rentenir itu?”
Semuanya serba membingungkan.
“Ya sudah, Simbok istirahat saja dulu, masalah itu jangan dipikirkan lagi. Nanti kalau ada orang lain menagih hutang ke Simbok, baru kita menemukan jawabannya, bahwa dia itu rentenir yang lain.”
“Iya Mbok, Simbok harus senang hutangnya lunas,” kata Rimba enteng.
“Senang sementara waktu Le, entah nanti apa yang terjadi. Mudah-mudahan tidak ada lagi orang yang mau mencelakakan simbok.”
“Aamiin.”
“Simbok dapat kejutan hutangnya lunas. Mbak Senja dapat kejutan sepeda baru lho Mbok,” tiba-tiba celetuk Rimba sambil mendekatkan sepeda baru itu ke hadapan Simbok.
“Apa? Sepeda dari mana ini?” pekik simbok.
“Kalau ini jelas Mbok, mas Arka yang memberi,” kata Rimba dengan wajah berseri.
“Mas Arka? Bukankah kamu menunggu sepeda yang bannya bocor yang katanya mau dintar kemari?”
“Iya, ternyata mas Arka membeli sepeda baru dan dikirimkannya kemari.”
“Ya ampun, tuan muda itu mengapa selalu baik kepada kita ya?” gumam Simbok sambil mengamati sepeda baru Senja.
“Allah yang baik kepada kita. Ada yang mengganti sepeda Senja yang bocor dengan sepeda baru, ada yang membayar lunas hutang-hutang simbok.”
“Jangan-jangan ….”
“Jangan-jangan apa?”
“Jangan-jangan yang membayar hutang Simbok juga dia.”
“Mas Arka? Pak RT bilang yang datang laki-laki setengah tua, bukan anak muda ganteng seperti mas Arka.”
“Mas Arka punya banyak anak buah yang bisa disuruh-suruh.”
“Iya juga ya.”
“Besok kalau dia kemari akan Senja tanyakan.”
“Iya Nduk, diberi seseorang itu berat. Ada beban terkandung di dalamnya. Paling tidak kita punya hutang kebaikan.”
“Besok saja sepulang sekolah saya akan ke kantor mas Arka. Penasaran aku. Aku kan sudah tahu tempatnya.”
“Hati-hati ngomongnya, dia itu orang yang punya kuasa di sana, kamu kalau ngomong sama dia suka seenaknya.”
“Iya Mbok, Senja pasti akan berhati-hati.
***
Walaupun pak Daryono dan istrinya memberi petuah bermacam-macam kepada Rosa, tapi petuah itu seperti masuk ke telinga kiri, keluar dari telinga kanan.
Ia masih saja ingin mengejar Arka, dengan segala upaya yang diharapkan akan berhasil.
Sore hari itu mobil Rosa sudah berhenti di dekat kantor Arka. Ia bermaksud menunggu kepulangan Arka, dan akan mengikuti kemanapun Arka pergi. Bisa pulang, atau entah akan mampir ke mana. Ia berharap Arka tak akan bisa menghindar.
Tapi saat dia menunggu itu, ia melihat seorang gadis bersepeda, masih memakai seragam sekolah. Ia berhenti di depan gerbang, tampak ragu akan memasukinya.
Dari kaca mobil yang terbuka, Rosa berteriak.
“Senja!!”
Senja terkejut. Ia menoleh ke arah mobil, lalu ingat bahwa dia adalah orang kaya bernama Rosa yang pernah membeli sepuluh kilo beras.
“Sini sebentar.”
Senja menuntun sepedanya mendekat.
“Wah, sepeda baru ya?”
“Iya, ada apa Non? Mengapa Non berhenti di sini?”
“Aku menunggu Arka pulang. Kamu mau menemuinya? Dia pesan beras lagi?”
Supaya tidak kepanjangan perbincangan itu, Senja hanya mengangguk.
“Saya akan masuk dulu sebentar,”
“Tunggu dulu, ada yang ingin aku tanyakan. Kamu punya saudara?”
“Punya Non, hanya satu.”
“Laki-laki?”
“Ya, namanya Rimba.”
“O, jadi teman sekolah Arka itu Rimba?”
“Apa?”
Senja menutup mulutnya karena geli.
“Rimba itu masih kelas lima SD, masa teman mas Arka.”
“Oh, masih kelas lima? Arka bilang yang jual beras itu temannya.”
“Yang jual beras itu simbok saya, sedangkan saya hanya membantu simbok.”
“Kalau begitu yang dianggap teman oleh Arka itu kamu?”
“Saya juga bukan temannya Non, hanya kebetulan kenal, lalu dia bersikap sangat baik kepada keluarga saya,” kata Senja terus terang.
Rosa menatap Senja tak berkedip.
“Gadis ini cantik manis, tapi masih polos. Dia lugu, tapi wajahnya kampungan. Arka menganggapnya teman, apakah dia suka kepada gadis ini? Tak mungkin. Kalau iya, alangkah rendah selera Arka. Tapi Arka sangat perhatian pada dia. Bahkan mengirim beras ke rumahku saja Arka mengantarnya. Gila benar Arka, menolak aku dan memilih gadis bodoh dan kampungan ini?” kata batin Rosa.
“Ya sudah Non, saya masuk dulu, saya hanya sebentar,” kata Senja yang nekat memutar sepedanya, lalu memasuki halaman kantor.
Rosa menatapnya tak berkedip. Rasa cemburu membakarnya.
“Awas saja kamu Senja, kamu telah merebut orang yang aku cintai. Gadis bau, bodoh, udik, masih kecil pula, bisa merebut hati Arka? Apa hati Arka sudah buta? Secantik-cantiknya Senja, dia hanya gadis miskin, yang tak pantas dibawa ke mana-mana.”
***
Besok lagi ya.
Duwun mb Tienπ
ReplyDeleteπ»πΌπ»πΌπ»πΌπ»πΌ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_21
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π»πΌπ»πΌπ»πΌπ»πΌ
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda
Semoga sehat slalu beserta keluarga
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,21 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Mks bun NTS 21 sdh tayang....selamat malam smg bunda seklrg sehat
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteMksih bunda cerbungnya sdh tayang .slm seroja dan aduhaii unk bundaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien cerbung yg di tunggu sdh tayang smg Bu Tien sekeluarga sll diberikan kesehatan sisa umur yg barokah
ReplyDeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tienku sayang yang aduhai aduhai ... sehat sehat nggih bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah.... Terimakasih cerbung kesayangan sudah tayang. Sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga
ReplyDeleteAlhamdulillah.... Terimakasih cerbung kesayangan sudah tayang. Sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *NAMAKU
SENJA 21*
* sudah hadir...
Semoga selalu sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdulillah senja telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta π
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteAlhamdulillah, Senja gadis yg polos sdh hadir lagi.
Sehat sll bunda, kita sll menikmati karyanya bunda Tien
Rosa kalah oleh Senja...
ReplyDeleteYa pastilah, senja kan masih hari ini. Kalau rosa, habis besok, besoknya lagi. hahahaha.
Untung ngomongnya pelan, gak kedengaran sama Mbak Tien. Kalau kedengaran, habis saya diomelin Mbak Tien...
Alhamdulillah..Jangan sombong lah Rosa..siapa tau Rosa juga orang miskin..upsss..
ReplyDeleteSehat selalu bunda Tien