Wednesday, June 10, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 20

 NAMAKU TETAP SENJA 20

(Tien Kumalasari)

 

Senja menatap Arka tak mengerti. Tapi Arka hanya tersenyum saja.

“Cepat turun, Simbok pasti sudah menunggu kamu.”

Senja turun, masih belum mengerti. Sebelum menutup pintunya, ia masih bertanya-tanya lagi.

"Nanti ada yang mengirimkan sepeda aku kemari? Kalau tidak aku ambil sendiri saja sekarang."

"Bawel, aku sudah bilang kalau ada yang akan mengantarkannya kemari. Kamu mau mengambil ke sana, nanti malah bukan nemu sepeda kamu, yang ada kamu hanya capek."

“Bener ya?”

"Ya ampun, Senja. Sudah, tutup pintunya dan tunggu saja sepeda kamu. Awas, jangan pergi ke mana-mana.”

Senja menutup pintunya, lalu mobil Arka meluncur pergi.

“Orang aneh. Sepeda ditinggal di bengkel, mau diambil nggak boleh, katanya mau diantar orang. Apa maksudnya?”

“Senja, kamu tuh ngapain berdiri di jalan?"

Senja menoleh, lalu berjalan ke rumah.

"Sepeda kamu ke mana? Kok kamu nggak bawa sepeda?"

"Tadi Senja tuh diantar mas Arka. Ini uang Simbok, ambil semua, kembalinya diberikan untuk kita. Banyak orang baik untuk kita ya Mbok."

“O, alhamdulillah. Nanti dulu, simbok tanya belum kamu jawab, gimana sih. Sepeda kamu mana?”

“Gini lho Mbok, waktu berangkat tadi sepeda Senja gembos, rupanya bocor, trus Senja cari bengkel biar ditambal, ee.…ketemu mas Arka. Lalu Senja diantar.”

“Dia ikut mengantarkan beras pesanan itu?”

"Iya. Pulangnya langsung pulang, sepedanya masih ditinggal di tukang tambal. Kata mas Arka nanti sepedanya diantar kemari. Nggak tahu aku maksudnya apa. Tinggal ngambil, kenapa harus diantar orang, kan bikin repot. Dan lagi siapa yang mengantar, sungkan sama dia kan?"

“Ya sudah, pastinya mas Arka sudah mengatur semuanya. Kamu sekarang mandi di sana, trus istirahat. Dari tadi belum istirahat."

***

“Aku tadi seperti melihat mobil Arka keluar dari halaman,” kata pak Daryono ketika duduk istirahat sepulang dari kantor.

“Iya, itu mobil Arka.”

"Main kemari dia? Tumben, apa tidak  ke kantor?"

“Dia bukan main kemari Pa, dia tadi tuh mengantar seorang gadis penjual beras.”

"Seorang gadis penjual beras? Siapa, dan mengapa Arka mengantarkannya?"

"Nggak tahu kenapa. Rosa pesan beras sepuluh kilo, tempatnya jauh pula. Tapi  penjual beras itu, atau anak penjual beras itu teman Arka. Jadi Arka membantu mengantarkan berasnya kemari."

“Sekarang Rosa sudah mau membantu bibik belanja? Kok dia yang beli beras?"

"Ya tidak, dia pesan beras begitu saja. Katanya kasihan sama teman Arka itu. Biar berasnya laku, begitu kira-kira."

“Tumben dia peduli sama penjual beras, anak itu kan semaunya.”

“Gara-gara penjual itu katanya teman Arka.”

"O, begitu. Semoga saja dia tulus melakukannya. Menurut aku, Rosa itu harus banyak belajar tentang kehidupan. Dia suka semaunya. Kita masih harus selalu mengawasi dan menuntunnya."

“Sudah banyak yang Mama lakukan Pa, Mama juga tahu kalau kelakuannya terkadang tidak pantas."

"Mengenai hubungannya dengan Arka itu, sepertinya yang sangat ingin itu justru pak Wiguna. Entah kenapa begitu. Kalau aku, hanya sekadar mengikuti keinginan Rosa, tapi kan kalau Arka mau? Kalau kelihatannya tidak suka, lebih baik jangan. Nanti saya bilang pada pak Wiguna."

“Terserah Papa saja, Aku juga kurang setuju. Nanti mama juga mau memberi tahu Rosa supaya jangan melanjutkan keinginannya itu.”

“Arka itu baik, kalau bisa, aku juga suka, tapi kalau dia tak suka, mana bisa dipaksa?”

"Tapi aku heran pada kelakuan Rosa. Kita semua mengajarkan yang baik-baik, kenapa ya, dia seperti itu?"

“Darah orang tuanya begitu kental mengalir pada dirinya.”

“Ssst, Papa jangan keras-keras, dia ada di rumah lhoh. Kalau dia mendengar dan tahu bahwa dia bukan darah daging kita, kasihan.”

“Ya, maaf aku keceplosan.”

***

Senja duduk di bangku depan rumah. Sudah sore ketika itu, dan Senja dengan cemas menunggu sepedanya diantarkan. Dia sedikit kesal pada Arka karena melarangnya mengambil sepeda itu.

"Kalau tidak diantar, aku besok sekolah pakai apa? Sekolahku kan jauh." 

Senja berdiri, berjalan sampai ke jalan depan rumah, melihat ke kiri dan kanan, tak ada tanda-tanda orang datang membawa sepedanya.

"Gimana sih mas Arka. Enak saja dia ngomong, dia sih punya mobil, ke mana-mana bisa naik mobil. Aku? Satu-satunya kendaraan kan hanya sepeda? Kalau sore ini tidak diantar, besok aku naik apa?" gerundel Senja tak henti-hentinya.

Ia kembali ke rumah, duduk diatas bangku dengan wajah lesu.

“Belum diantar Mbak?” tanya Rimba dari pintu rumah.

"Belum tuh. Mas Arka seenaknya saja, melarang aku mengambil sepeda, katanya mau diantar kemari sama orang. Mana orang itu?"

“Siapa yang mau mengantar?”

"Nggak tahu aku. Mas Arka hanya bilang akan ada yang mengantar. Aku sebenarnya pilih mengambil sendiri, daripada resah  seperti ini."

“Kalau tidak diantar sore ini, mbak Senja harus berangkat sekolah pagi-pagi sekali.”

“Lha iya, harus pagi sekali. Bisa terlambat aku kalau berangkat di jam seperti biasanya.”

“Besok aku antar Mbak.”

“Lha kok kamu mengantar, maksudmu apa?"

"Aku juga akan berangkat pagi sekali, menemani jalan.”

Senja tertawa.

“Kalau hanya jalan saja kenapa harus ditemani? Ada-ada saja kamu ini.”

“Kalau ada temannya kan tidak terasa capek.”

“Terus kamu ke sekolahnya, dari sekolah aku, balik lagi?”

“Yang penting mbak Senja ada temannya.”

“Kalau teman jalan saja banyak dijalan. Eh lihat, siapa tuh, ada mobil berhenti di sana.”

"Simbok pesan beras lagi? Itu kan mobil box yang biasanya nganterin pesanan beras simbok?"

“Enggak, simbok belum pesen lagi kok.”

Seorang laki-laki turun dari mobil dan masuk ke halaman rumah mbok Mangun.

"Permisi. Apa betul ini rumahnya Mbok Mangun?”

“Benar.”

“Tuh kan, mau ngantar beras ya Pak?” Rimba tiba-tiba nimbrung.

“Bukan dik, saya mau mengantarkan sepeda mbak Senja.”

“Ooh, alhamdulillah,” kata Senja dan Rimba hampir bersamaan.

“Lha mana sepedanya Pak?”

"Sebentar saya ambilkan. Tadi baru tanya, apa benar rumahnya di sini," kata laki-laki itu sambil berbalik ke mobil.

Senja mengikuti, maksudnya agar laki-laki itu tidak capek bolak-balik. Tapi Senja terpana ketika yang diturunkan bukan sepedanya, tapi sepeda yang masih baru.

"Lho Pak, bapak salah. Ini bukan sepeda saya. Ya ampun, sepeda bagus seperti ini? Bukan Pak, ada kesalahan ini. Sepeda saya baru ditambal bannya, sepeda butut, catnya sudah pada mengelupas, lha ini masih mengkilap. Maaf Pak, ini bukan punya saya."

“Mbak.Saya dari toko sepeda, tadi seorang muda membeli sepeda ini, dan menyuruh mengirimkan kepada yang bernama Senja, di rumah mbok Mangun. Namanya Arka.Tidak salah kan?”

Senja melongo. Rimba yang menyusul kemudian berteriak.

“Berarti mas Arka beli sepeda baru untuk Mbak. Bagus sekali.”

“Mbak, mohon tanda tangan di sini.”

“Tanda tangan apa?”

“Tanda terima bahwa sepedanya sudah saya kirim.”

“Tapi…”

“Tolong tanda tangan saja Mbak, nanti pasti pak Arka menanyakannya.”

“Ya sudah Mbak, tanda tangan saja. Kasian, bapaknya ini kan hanya petugas?”

“Betul dik.”

Dengan tangan gemetar Senja menanda tangani surat yang disodorkan petugas.

“Sepedanya saya antar ke rumah Mbak?”

“Tidak, tidak usah, biar saya sendiri, terima kasih," kata Senja.

Petugas itu mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu.

Senja masih berdiri tegak di tepi jalan, ketika Rimba menaiki sepedanya menuju rumah.

“Enteng sekali. Sepeda bagus,” teriaknya gembira.

Waktu itu mbok Mangun baru pergi, katanya ke warung membeli bumbu. Senja masih agak bingung. Sepeda bututnya berubah menjadi sepeda kinclong. Luar biasa tuan muda ganteng itu.

Tiba-tiba Senja melihat simboknya berjalan dari arah depan. Senja menunggu, siap mengatakan tentang sepeda bututnya yang ditukar sepeda baru, tapi ia melihat air mata meleleh di pipi biyungnya. Ia menangis sepanjang langkahnya. Senja sangat terkejut.

"Mbok, ada apa? Simbok dari mana?"

“Dari rumah pak RT," jawabnya sambil menangis.

Senja merangkulnya, membawanya ke arah rumah. Apa yang dilakukan pak RT sehingga tangis mbok Mangun sampai seperti ini?

***

Besok lagi ya.

18 comments:

  1. Alhamdulillah tayang gasik, maturnuwun Bu Tien,sehat2 selalu nggih Bu, semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™πŸ™πŸ˜

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah cerbung kesahangan sdh tayang, maturnuwun bu Tien salam sehat dan aduhai aduhai bun πŸ’™πŸ’™πŸ’™

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Matur nuwun Bunda. Sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
  4. πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung eNTeeS_20 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,20 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  6. Utang ke pak RT di lunasi Arka
    Rosa anaknya siapa ya

    Pinisirin
    Alhamdulillah ,Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun Bu Tien, salam sayang....sehat, bahagia, dan aduhai dari Yk....

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah NTS sudah tayang, terima kasih bundaπŸ‘πŸ˜˜

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  10. Hatur nuhun bunda..lamseroja unk bunda sekel πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tienku πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸ’–
    Sehat wal'afiat semua ya

    Dah dilunasi Arka ya ,,,ayo digowes sepeda anyarnya...πŸ‘

    ReplyDelete
  13. Waah sdh dibuka sedikit rahasianya ya...Rosa bukan anak kandung kel. Daryono. Susah dididik...😬

    Terima kasih, ibu Tien. Sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 20

  NAMAKU TETAP SENJA 20 (Tien Kumalasari)   Senja menatap Arka tak mengerti. Tapi Arka hanya tersenyum saja. “Cepat turun, Simbok pasti suda...