Saturday, June 6, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 17

 NAMAKU TETAP SENJA   17

(Tien Kumalasari)

 

Dan hal yang sudah diduga serta membuat hatinya kesal ialah ketika sang ayah menyuruh Arka mengantarkan Rosa pulang.

Tak ada alasan untuk menolak. Hari sudah malam dan Rosa tidak membawa kendaraan. Barangkali memang sengaja, barangkali memang Rosa ingin, agar dengan tidak membawa kendaraan maka pasti Arka akan mengantarkannya pulang.

“Hari sudah malam, jadi kamu harus mengantarkan Rosa pulang.”

“Datang-datang sendiri, pulang minta diantar,” gumam Arka, tapi hanya dalam hati. Apa ingin dirujak ayahnya kalau sampai dia mengeluarkan kata-kata itu.

Rosa dengan riang pamitan kepada kedua ‘calon mertuanya’, kemudian masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.

Arka mengemudikan mobilnya seperti dikejar setan, kencang bukan alang kepalang, sampai Rosa berteriak-teriak ketakutan.

“Arka, kamu sudah gila ya? Jalanan sedang ramai.”

“Kamu takut? Jalan kaki saja sana,” ucap Arka enteng.

“Ya ampun, tega amat sama calon istrinya.”

“Siapa calon istriku?”

“Bukannya aku?”

”Mimpi saja, sana.”

“Arka, kamu jangan begitu. Kita harus menuruti kata orang tua, bukan? Dosa lho menentang kehendak orang tua.”

“Tahu apa kamu tentang dosa? Memaksakan kehendak itu juga dosa.”

“Aku sudah banyak mengalah, aku tidak marah walau kamu menyakiti aku.”

“Bukankah lebih baik kamu marah saja sehingga kamu tak usah selalu berusaha mendekati aku?”

“Arka. Kebangetan deh kamu.”

Lalu keduanya diam beberapa saat lamanya, karena Arka tak menanggapi apa yang dikatakan Rosa.

“Ka, teman kamu itu rumahnya di mana?”

“Untuk apa nanya-nanya?”

“Aku ingin membantu. Kata ibu kamu, kamu kasihan pada teman kamu itu.”

“Teman yang mana, sok tahu.”

“Teman kamu yang jualan beras itu. Aku juga merasa kasihan lhoh. Nanti aku mau bilang pada mama kalau beli beras biar sama teman kamu itu.”

“Nggak usah.”

“Kok nggak usah? Aku juga merasa kasihan, dan ingin membantu.”

“Tempatnya jauh, bikin repot.”

“Tidak apa-apa. Jauh bagiku bukan masalah, aku kan hanya ingin membantu. Membantu orang kesusahan itu perbuatan mulia bukan?”

Arka tak menjawab, dan tak pernah menjawab sampai kemudian mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Daryono.

Di teras, pak Daryono sedang duduk di teras. Arka yang semula enggan turun terpaksa turun karena pak Daryono melihatnya.

“Arka? Kamu mengantarkan Rosa?”

“Iya Pa, Arka merasa kasihan pada Rosa yang pergi tidak membawa kendaraan sendiri, jadi dia memaksa mengantarkannya,” kata Rosa enteng, padahal bukan Arka ingin mengantarkan, tapi ayahnya yang memaksa. Tentu Arka sangat kesal, tapi sungkan membantahnya.

“Rosa, kamu sudah menyusahkan orang lain. Kamu sendiri yang main ke sana tanpa mau membawa kendaraan, sekarang Arka harus repot karena kamu,” tegur pak Daryono.

“Rosa juga ingin pulang sendiri sebenarnya.”

“Om, karena sudah malam, Arka permisi pulang,” kata Arka untuk memotong kebohongan Rosa.

“Baiklah, om tidak akan menahan kamu, karena hari memang sudah malam.”

Arka mencium tangan pak Daryono kemudian beranjak menuju ke mobilnya. Pak Daryono bukan anak kecil, ia tahu bahwa Arka mengantarkan Rosa dengan terpaksa. Wajahnya sudah kelihatan. Ia bukannya kasihan melihat Rosa pulang sendiri, tapi kesal karena harus mengantarkannya.

Rosa masuk ke dalam rumah. Sikap Arka yang kaku masih membuatnya sabar. Ia yakin pada suatu ketika ia pasti akan bisa menaklukkan hatinya. Nasihat yang pernah didengarnya, bahwa laki-laki tidak suka dikejar tapi lebih suka mengejar, diabaikannya.

“Kamu tidak tahu kalau Arka sebenarnya kesal karena harus mengantarkan kamu?”

“Tidak kok, masa dia kesal?”

“Perempuan harus memiliki rasa yang lebih peka. Papa saja bisa melihat sikap kakunya, masa kamu tidak?”

Rosa tak menjawab. Ia langsung beranjak ke belakang dan masuk ke dalam kamarnya.

“Kalau aku gigih mengejarnya, masa tidak akan kesampaian?” gumamnya penuh percaya diri.

***

Arka menuju pulang dengan perasaan yang masih saja kesal. Setiap kali rasa kesal itu muncul, maka wajah Senja terbayang di benaknya. Gadis lucu, lugu dan seenaknya, mengapa bisa tiba-tiba mengikat perasaannya? Apa hebatnya Senja? Cantik? Tidak terlalu cantik. Manis? Iya. Senja sangat manis, apalagi kalau tersenyum. Mata polosnya tampak indah, seperti sepasang bintang yang mempesona.

Arka memukul pipinya sendiri. Bodoh aku ini. Senja masih anak kecil, dia mana memperhatikan diriku yang selalu memikirkan dia? Dia selalu bersikap lugas, seenaknya, tidak peduli sedang berhadapan dengan seorang berkedudukan tinggi di sebuah perusahaan. Kalau dia ingin marah, maka marahlah dia. Kalau kesal, maka selalu ditumpahkan kekesalannya. Tapi senyumnya itu …. Arka membatin di sepanjang perjalanannya, dan masuk ke rumah melewati sang ayah yang sedang duduk di teras, sehingga ia harus mendapat teguran.

“Hei, kamu tidak mengucapkan salam saat memasuki rumah, tidak tahu kalau ayahmu ada di sini?”

Arka berhenti melangkah dan berbalik.

”Maaf Pak, buru-buru, pengin ke kamar mandi,” katanya sambil menyalami sang ayah dan mencium tangannya.

“Kamu ketemu pak Daryono?”

”Ketemu.”

“Syukurlah, mengantarkan anak gadis orang harus memasrahkannya kembali kepada orang tuanya.”

"Repot amat," kata batin Arka.

“Pak Daryono menanyakan bapak?”

“Tidak. Arka langsung pulang sehingga tidak sempat berkata-kata.”

“Lain kali kalau mengantarkan Rosa pulang, harus berhenti dulu, berbincang sejenak, barangkali pak Daryono ingin mengatakan sesuatu.”

Arka hanya mengangguk kemudian berlalu, sambil mengatakan lagi kalau dia ingin ke kamar mandi.

Pak Wiguna menghela napas kesal. Arka tak pernah kelihatan suka kalau dirinya membicarakan keluarga Daryono.

***

Hari itu Senja pulang agak siang, dan yang ada di rumah hanyalah Rimba. Ia menunggu sambil membaca buku. Senang sekali ketika melihat kakaknya pulang.

“Simbok belum pulang?” tanya Senja.

 Kedua anak itu setiap pulang dari sekolah selalu menanyakan apakah simboknya sudah pulang, ataukah belum, walau sebenarnya tahu kalau simboknya pergi adalah untuk menjajakan berasnya.

“Belum, paling sebentar lagi. Kita makan sekarang atau menunggu simbok?” tanya Rimba.

“Makan sekarang saja seperti biasanya, kamu sudah lapar kan?”

“Iya, benar.”

“Ayo kita makan, nanti simbok ... aku yang menemani makan. Tapi aku mau ganti baju dulu ya,” kata Senja sambil tersenyum melihat adiknya segera berlari ke ruang makan.

Keduanya makan dengan nikmat, sambil bercerita tentang teman-temannya di sekolah.

“Besok kalau mbak Senja lulus, mau melanjutkan kuliah?”

“Tidak Rimba, kamu kan tahu, simbok pasti merasa berat membiayai kuliah aku. Jadi, mbak akan bekerja saja agar meringankan beban simbok.  Maksudku, kamu yang harus meneruskan sekolah, sampai ke sekolah yang tinggi.”

“Aku saja? Mbak Tidak?”

“Kamu kan laki-laki Mba, laki-laki harus berpendidikan tinggi agar bisa menjunjung derajat orang tua. Agar simbok bangga, anak laki-lakinya menjadi orang.”

“Bagaimana kalau nanti setelah lulus SMA aku juga bekerja saja?”

“Jangan Mba, kamu harus melanjutkan kuliah kamu, sampai selesai. Mbak akan membantu simbok membiayainya. Karenanya rajin belajar ya cah bagus, supaya simbok senang.”

“Ya, tentu. Aku harus bisa membahagiakan simbok.”

“Bagus, mbak akan mendoakan agar kamu berhasil.”

“Aamiin.”

“Makan yang banyak, biar sehat.”

“Mbak kenapa makan sedikit?”

“Nanti mbak menemani simbok juga, biar simbok senang.”

“Menyenangkan orang tua itu harus kan Mbak.”

“Tentu Rimba, walau hanya soal makan, atau sedikit memuji, itu akan membuat orang tua senang.”

“Permisi,”

“Ada tamu Mbak, biar aku keluar untuk melihatnya.” kata Rimba sambil berlari keluar. Tak lama kemudian Rimba kembali mengatakan bahwa tamunya perempuan.

“Ada perempuan cantik banget mbak.”

“Siapa?”

“Nggak tahu, aku hanya melihatnya terus masuk lagi. Orangnya cantik, baunya wangiiii, masih jauh sudah kecium baunya, kelihatannya orang kaya Mbak.”

“Gimana sih kamu, harusnya ditanya mau mencari siapa, kok malah ditinggal masuk. Paling-paling akan menanyakan alamat seseorang, mana mungkin kita mendapat tamu orang kaya.”

Senja bergegas keluar dan melihat seorang wanita cantik berdiri di depan rumah.

***

Besok lagi ya.

21 comments:

  1. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
  2. πŸ‰πŸ₯πŸ‰πŸ₯πŸ‰πŸ₯πŸ‰πŸ₯
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_17
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ‰πŸ₯πŸ‰πŸ₯πŸ‰πŸ₯πŸ‰πŸ₯

    ReplyDelete
  3. Maturnuwun bu Tien.. alhamdulilah senja kesayangan sdh tayang ...salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda Tien. Semoga sehat slalu.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah
    Syujron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah...
    Trima kasih bu Tien K, Semoga sehst2 slalu dan berbahagia bersama kluarga tercinta.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah..mksih bunda cerbungnya..slmt mlm minggu fan sehat sll unk bunda bersm pak TomπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah..mksih bunda cerbungnya..slmt mlm minggu fan sehat sll unk bunda bersm pak TomπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  9. Assalamu'alaikum
    Alhamdulillah yg kutunggu sdh tayang dan sabar menanti tayang malam selasa nanti. Sehat sll bunda Tien πŸ₯°πŸ€—

    ReplyDelete
  10. Mks bun cerbung NTS 17 sdh tayang....selamat mlm ....

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang smg Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah Senja sudah hadir. Siapakah tamu perempuan cantik? Coba tebak, pasti Rosa mau beli beras, betul kan bunda Tien?

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,17 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah senja dah hadir,besuk menunggu bobo Menur dan putri cantik Ana..... maturnuwun Bu Tien cerbungnya yg setiap hari hadir, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™πŸ™.

    ReplyDelete
  16. Bibi menur/ maaf salah ketik BuπŸ™

    ReplyDelete
  17. "Dirujak" beda dengan "dikolak". Dikolak itu diatur-atur sesukanya. Kalau dirujak, bisa mampus karena penyet.
    Mata Senja itu seperti bintang kejora di pagi hari Mbak. Ada kedap-kedipnya.
    Rosa itu nagapain nyosor ke rumah Mbok Mangun?
    Nadia ada di rumah Mbak? Saya ke sana dulu, apakah Nisa masih pucat?

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 17 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 17

  NAMAKU TETAP SENJA   17 (Tien Kumalasari)   Dan hal yang sudah diduga serta membuat hatinya kesal ialah ketika sang ayah menyuruh Arka men...