Friday, May 15, 2026

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 74

 SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  74

(Tien Kumalasari)

 

Agung meletakkan apapun yang tadi dipegangnya. Rapat ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Bagai terbang Ia melaju ke rumah sakit. Dadanya berdetak kencang. Separuh hatinya menyesali kejadian ini, separuhnya lagi menyesali mengapa Ristya tak pernah mau berhenti melakukan sesuatu yang membuatnya kecapekan.

Begitu masuk rumah sakit ia dihadang oleh pak Giman.

“Bagaimana keadaan Ristya?”

“Sedang ditangani, kita tidak boleh masuk,” kata pak Giman.

Agung bertambah panik. Ia ingin segera melihat keadaan istrinya.

“Bagaimana keadaannya? Bagaimana bayinya?” ucapnya gelisah.

“Tenanglah Nak, dokter sedang menanganinya, semoga semuanya baik-baik saja.

“Apa dia pingsan? Di mana dia waktu terjadi perdarahan?”

“Sedang mau masuk ke mal, mau belanja, tiba-tiba ketika turun dari mobil dia melihat darah mengalir di kakinya. Saya juga panik, lalu saya larikan dia ke rumah sakit.”

Agung mondar mandir ke sana kemari. Ia panik, dan tentu saja khawatir.

Ketika pintu ruang IGD terbuka, ia menghambur mendekati perawat yang keluar.

“Bagaimana istri saya? Bagaimana bayinya?”

“Bapak suaminya ibu Ristya?”

“Ya, saya suaminya.”

“Untunglah segera dibawa kemari. Bapak boleh masuk untuk menemuinya.”

Agung bergegas masuk, tapi ketika pak Giman mengikutinya, petugas melarangnya. “Hanya satu orang yang bisa masuk Pak, silakan menunggu diluar dulu.”

Agung menubruk istrinya, yang terbaring pucat.

“Bagaimana keadaan kamu? Bagaimana bayi kita?”

“Kata dokter bayinya bisa diselamatkan, tapi aku harus istirahat total.”

“Alhamdulilah,” Agung mencium kening istrinya.

“Kamu memang harus istirahat total. Di sini lebih baik, nanti aku suruh bibik menemani kamu. Kalau di rumah kamu pasti mengerjakan banyak pekerjaan, jadi lebih baik kamu istirahat total di sini.”

“Aku capek dong Mas kalau harus tiduran terus.”

“Ristya, kamu sayang anak kamu ini apa tidak? Bukankah kamu berjanji akan menjaganya dengan baik?”

“Iya Mas.”

“Kalau begitu menurutlah apa kata dokter. Kapan kamu dipindah ke ruang rawat? Kasihan bapak juga ingin menemui kamu.”

“Kata dokternya menunggu stabil dulu. Kalau keadaan baik-baik saja baru boleh dipindah.”

“Ristya, aku tadi takut sekali.”

“Maaf ya Mas.”

“Lain kali kamu harus menurut apa kataku. Jangan banyak bekerja, atau jangan mengerjakan apapun.”

“Baiklah, aku jangan dimarahi dong Mas.”

“Tentu aku marah kalau kamu tidak menurut.”

Ristya tersenyum. Agung memarahinya seperti sedang memarahi anak kecil.Jari telunjuknya menuding ke arah hidungnya juga, tapi hal itu kemudian membuatnya tertawa.

***

Entah mengapa siang hari itu Lukman teringat pada Ristya. Bukan apa-apa, ingatan itu terbit begitu saja. Ia menatap ke arah pigura di depannya, tapi yang terpampang adalah wajah Istiana. Wajah cantik dan kocak itu sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman itu mengingatkannya ketika Istiana memarahinya karena ia selalu mengingat sesuatu yang hilang.

Lukman menghela napas panjang. Yang hilang biarlah hilang, ada yang akan memberinya semangat untuk melanjutkan hidupnya. Lukman membalas senyuman murai cantik yang terpampang di depannya.

“Aku melangkah karena kamu,” bisiknya sambil berusaha mengibaskan bayangan Ristya dari benaknya.

***

Mungkinkah diantara Lukman dan Ristya sebenarnya masih ada ikatan yang entah bagaimana, tersambung seperti seuntai benang yang dipegang masing-masing, yang enggan terputus walau badai menghantamnya?” Mereka tidak menyadarinya, tapi ketika salah satu diantara mereka terkena musibah maka satunya lagi seperti merasakannya. Tidak mudah sepotong cinta tak punya sisa. Cinta, apalagi cinta pertama adalah cinta yang tanpa diminta mengendap di relung sanubari. Katakan seribu kali tentang tak lagi ada cinta, tapi sebenarnya masih ada. Mungkin mereka tak menyadarinya, karena keberadaannya tersembunyi diantara puing-puing luka yang pernah ada.

Ristya terbaring di ruang rumah sakit, sang ayah mertua membezuknya.

“Ristya, kamu harus menjaga baik-baik kandungan kamu. Kalau kamu dan bayimu sudah kuat, besok ikut bapak memenuhi undangan pak Pras yang akan menikahkan anaknya.”

“Pak Pras?”

“Dia datang ketika kamu menikah. Kamu ingat Istiana kan? Anak gadisnya yang cantik? Dia yang akan menikah.”

“Dengan Lukman?” Ristya terkejut karena nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kamu sudah tahu?”

“Iya Pak, beberapa hari yang lalu kami bertemu, ketika mengunjungi Bapak. Mereka tampak … serasi,” agak ragu ketika Ristya mengatakannya.

“Benar, pasangan yang serasi. Pak Pras itu kan sahabat bapak ini, jadi kita harus datang saat acara pernikahan itu.”

Ristya tersenyum, ia tentu saja bahagia. Sedikit luka yang pernah ada, tak harus selalu menyakiti, karena cinta yang lain sudah membalutnya.

***

Besok lagi ya.

 

1 comment:

SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA 74

  SEPOTONG CINTAKU TAK BERSISA  74 (Tien Kumalasari)   Agung meletakkan apapun yang tadi dipegangnya. Rapat ditunda sampai waktu yang belum ...