SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 002
(Tien Kumalasari)
Siang hari saat Ana harus makan, Rumi kembali mengetuk pintu. Tapi Ana kecil rupanya sedang tertidur, bermimpi tentang pengais sampah yang memiliki pelukan hangat dan manis.
“Aku mau dia memeluk lagi, aku mau dia ….” bisiknya mengigau.
“Non, Non … buka pintunya dong Non,” Rumi mulai menggedor pintu.
Mata Ana terbuka. Ucapan yang pertama kali dilontarkannya adalah: “Mana dia?”
“Non, buka pintunya. Baiklah, Rumi tidak akan menyuruh Non mandi. Sekarang buka pintunya ya Non,” kata Rumi, lembut.
Ana meraba perutnya. Ia sebenarnya lapar. Ia enggan keluar, kalau saja tidak mendengar Rumi mengatakan bahwa dia tak akan memaksanya mandi. Ana seakan takut, bekas pelukan bibi Menur akan hilang kalau dia mandi.
“Ayolah Non, cantik, manis, ayu, buka pintunya ya, bibi menggoreng ayam kremes kesukaan Non lhoh.”
“Tapi aku tidak mau mandi,” Ana berteriak.
“Baiklah, terserah Non saja. Tidak mandi juga tidak apa-apa.”
Pintu kamar itu terbuka, tapi wajah Rumi tampak cemberut. Sebenarnya dia kesal, hari itu Ana agak bandel gara-gara pemulung itu.
“Aku tidak mau mandi.”
“Baik, saatnya makan, sudah Rumi siapkan.”
“Besok aku mau Rumi menyiapkan semangkuk makan,” kata Ana sambil duduk, sementara Rumi melayaninya.
“Bukankah setiap hari Rumi sudah selalu menyiapkan makan untuk Non?”
“Bukan aku, untuk bibi Menur.”
“Siapa dia?”
“Yang tadi itu.” Ana berteriak lagi.
“Mengapa Non melakukannya?”
“Pokoknya siapkan saja.”
“Nanti kalau nyonya marah bagaimana?”
“Mama tidak akan marah. Mama tidak peduli apapun.”
“Ya sudah, makanlah dulu sekarang, Rumi menunggu di situ,” katanya sambil menunjuk ke arah kursi, di mana Rumi selalu duduk menunggu Ana untuk dilayani saat makan.
***
Menur mengusap wajahnya dengan selendang yang tadi dibuatnya untuk mengikat karung sebelum diserahkan ke pengepul langganannya.
Ia memasuki rumah, wajahnya kotor berdebu. Ia sudah membeli sekilo beras dan dua butir telur. Ia mencuci kaki tangan dan wajahnya, lalu masuk ke dapur. Sebentar lagi Rahman, sang anak, pulang, dan makan harus sudah disiapkan.
Ia sudah menanak nasi, masih ada sisa sayur kemarin yang sudah dipanaskan, lalu menggoreng telur. Rahman sangat suka telur. Kalau bisa sang ibu selalu menyiapkan lauk telur, entah digoreng atau direbus, atau dimasak apa saja. Yang penting ada telur. Pernah suatu ketika Menur tak mampu membeli telur, sehingga hanya beli dua potong tahu dan tempe, Rahman ngambeg tak mau makan. Apa boleh buat, demi sang anak dia berhutang sebutir telur di warung tetangga. Menur sangat memanjakan sang anak. Ia berharap anaknya selalu senang, tapi harus rajin belajar demi masa depannya. Sepeninggal suaminya yang pengayuh becak, Menur menghidupi dirinya sendiri dan seorang anaknya. Ia mencari uang sekuat tenaga, biar didera hujan dan panas, kakinya tetap melangkah.
Ia selalu bermimpi, agar anaknya bisa sekolah, pintar, dan menjadi orang. Hidup seperti dirinya sangatlah menderita. Janganlah sang anak mengalaminya. Bekalnya hanya satu, Rahman harus menjadi orang. Mampukah ia melakukannya? Entahlah. Doa dan jerit setinggi langit selalu dipanjatkannya. Semoga semesta mengamininya, dan Yang Maha Kuasa mendengarnya.
Menur sedang mengentas nasi ke dalam sebuah mangkuk, diletakkannya didekat sayur dan telur ceplok yang sudah disiapkannya, ketika mendengar langkah kaki anaknya.
“Bu ….”
“Syukurlah kamu sudah pulang. Cepat ganti bajumu, cuci kaki dan tanganmu, lalu makan. Ibu sudah siapkan semuanya.
“Bu, bajuku sobek,” kata Rahman sambil menunjukkan bajunya yang robek.”
“Ya ampuun, ini robek jahitannya, nanti biar ibu jahit sebentar. Cepat ganti bajumu dulu.”
“Aku tidak mau baju ini dijahit.”
“Kan robek? Masa mau pakai baju robek?”
“Aku mau ibu beli yang baru.”
“Apa?”
“Yang baru Bu, aku malu,” rengek Rahman.
Menur mengelus dadanya yang tiba-tiba merasa nyeri.
Ia menatap anaknya yang dengan santai melepas baju dan celananya, kemudian lari ke kamar mandi dan memakai baju rumahan yang sudah disediakan sang ibu.
Menur masih memegangi baju yang robek di bagian lengan, lalu menatapnya sendu. Hanya robek jahitannya, bisa dijahit ulang sehingga tersambung kembali.
“Bu, mengapa baju itu dipegangi terus? Itu sudah tak layak dipakai,” katanya sambil duduk di kursi makan, lalu dengan lahap makan apa yang sudah ada di depannya.
“Nak, baju ini masih bagus. Ini hanya lepas jahitannya. Ibu jahit sebentar juga pasti sudah kembali pantas dipakai.”
“Nggak mau. Malu aku Bu, warnanya sudah memudar. Teman-temanku bajunya bersih semua.”
“Rahman, kalau harus beli kelamaan. Bukankah besok pagi masih akan dipakai lagi? Biar ini ibu jahit dulu, lalu dicuci dan disetrika. Yakinlah, masih bagus kok.”
“Nggak mau.”
Menur menarik napas panjang. Selama ini apa yang diinginkan Rahman harus dipenuhi. Sayangnya Menur yang merasa hanya memiliki Rahman dalam hidup ini, tak tega membuatnya kecewa.
Tapi Rahman yang sudah terbiasa dimanja, terbiasa semua keinginannya terpenuhi, tak pernah mau mengerti bagaimana beratnya sang ibu memikul bebannya. Ia harus makan, harus berpakaian pantas, harus tampil disekolah dengan penampilan yang tidak memalukan.
“Nak, ibu tidak punya uang lagi. Ibu punya sedikit tabungan, tapi hanya untuk biaya sekolah kamu, apalagi kamu sebentar lagi lulus dan mau masuk SMP.”
“Pokoknya beli baju. Rahman malu. Tadi sudah ditertawakan teman-teman Rahman gara-gara baju Rahman sobek.”
“Bukankah besok tidak kelihatan sobek lagi?”
“Pokoknya seragam baru!!” pekiknya sambil menghabiskan makanannya, lalu berlari ke kamar.
Menur meletakkan baju itu di sandaran kursi, lalu mengusap air mata yang tak lagi bisa ditahannya.
Setelah membersihkan meja bekas makan anaknya, ia masuk ke kamar lalu membuka kotak simpanannya, yang sebenarnya sudah menjadii janjinya untuk tidak akan mengurangi jumlah uangnya, justru selalu menambahnya sedikit demi sedikit. Uang itu hanya untuk biaya sekolah Rahman, sesuai keinginan Menur agar menjadikan Rahman anak yang bisa menemukan kehidupan lebih baik.
Gemetar tangannya ketika menarik beberapa lembar uang itu, lalu memasukkannya ke dalam saku.
Ia membersihkan dapur sebentar, kemudian keluar rumah, semi selembar seragam sang anak yang tak mau lagi memakai yang lama. Sambil menutup pintu depan, kembali Menur mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
***
Rumi merasa kesal karena Ana berkali-kali mengingatkan dirinya agar menyiapkan semangkuk nasi esok hari, untuk perempuan pemulung yang baru sekali dikenalnya.
“Bibik jangan lupa ya.”
“Memangnya siapa dia itu? Non Ana keterlaluan. Dia itu kotor, Non jangan dekat-dekat. Badan yang kotor banyak penyakit. Tahu nggak sih?” omel Rumi.
“Nggak kotor kok.”
“Bagaimana nggak kotor? Dia mengais botol-botol kosong di tempat sampah. Dia itu bukan hanya kotor, tapi juga bau. Kalau Nyonya tahu, pasti Non akan dimarahinya.”
Tapi sungguh Rumi tidak pernah berani mengadukan kelakuan Ana tersebut, karena kalau sampai dia mengadu, dia juga yang akan disalahkan karena dianggap tak bisa menjaga Ana.
“Non tidak usah menemui dia lagi ya. Oh iya, besok tuan pulang, apa Non lupa?”
“Aku tidak lupa, memangnya kenapa?”
“Non tidak boleh ke mana-mana.”
“Diamlah Rumi, aku sedang belajar,” kata Ana yang memang sedang belajar. Ia punya tugas menggarap tugas yang diberikan gurunya, yang besok siang adalah jadwalnya mengajar.
Rumi tak menjawab, tapi ia merasa kesal kepada pengais sampah itu. Ia berharap akan mengusirnya besok, kalau dia lewat. Semoga ia lebih dulu melihatnya sebelum Ana.
***
Hari itu Menur seperti biasa menyusuri jalan sambil setiap kali mengorek tempat sampah, barangkali menemukan botol kosong yang bisa dijadikannya uang.
Masih terbayang olehnya, ketika beberapa puluh ribu uangnya berkurang gara-gara sang anak merengek harus memakai seragam baru.
“Semoga aku segera bisa enggantikan uang yang berkurang itu.”
Lalu Menur teringat pada gadis kecil bernama Ana yang berpesan padanya agar hari itu lewat di sana lagi.
Lalu teringat apa yang dikatakannya ketika bertemu.
“Bibi, peluk aku lagi.”
Menur tersenyum. Sesungguhnya anak itu sungguh menggemaskan. Sekarang ia sudah memasuki area rumah-rumah elit. Rumah orang tua Ana sudah kelihatan. Ia ingin menyeberang, ketika sebuah mobil melintas.
Tiba-tiba kaca jendela mobil itu terbuka. Seorang laki-laki melongok, menatapnya tak berkedip.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien 🙏
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteEpisode yang ke 2 tayang.
Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwunbapak Endang.
DeleteAlhamdulillah cerbung dah tayang
DeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteHaduh bingung aku....
ReplyDeleteBiasanya namaku tetap Senja
Kok ini ada cerbung langsung epidode 2
Setiap Minggu bapak Wedeye. Minggu kemarin seri 1
DeleteAlhamdulillah,cerbung mingguan telah hadir, maturnuwun Bu Tien, tak pernah ada hr kosong tanpa cerbung, semoga Bu Tien tetap sehat semangat bahagia untuk sll mnulis cerbung setiap HR , bahagia bersama Kel tercinta.
ReplyDeleteAamiin Allahumma Aamiin. Matur nuwun ibu Tstik
DeleteMaaf Bunda kok cerbung Seorang Pengais Sampah dan Putri kecil tayang lagi ,Maturnuwun
ReplyDeleteTayang di fb. Tapi setiap minggu saya tayangkan di sini. Yg tidak ber fb biar baca juga.
DeleteSaya setia menunggu Namaku Tetap Senja episode 12.Nuwun salam Seroja
ReplyDeleteNuwun pak Herry
Delete