SAKITKU ADALAH CINTAKU 40
(Tien Kumalasari)
Dokter Tyas kelimpungan. Sama sekali dia tak menyangka kalau yang membawa mobil adalah dokter Indras, istri sang dokter pujaan. Sekarang dokter Indras sedang berdiri sambil membukakan pintu belakang mobil, mempersilakannya masuk.
“Silakan, Dokter,” katanya ramah.
Zein yang ikut kelimpungan justru kesal kepada dokter Tyas yang sembarangan bersikap.
“Tidak, maaf dokter Tyas, kami akan mampir-mampir, nanti Dokter terlambat sampai di rumah,” katanya sambil menutupkan pintunya, lalu membuka pintu depan agar Indras masuk dan duduk di sebelah kemudi.
“Tapi kasihan kan dia.”
“Tidak apa-apa, baiklah, saya naik taksi saja,” kata dokter Tyas yang kemudian menjauh, lalu mengambil ponselnya untuk memanggil taksi.
“Masuklah,” perintah Zein kepada istrinya, yang kemudian masuk ke dalam mobil, lalu Zein berputar memasuki pintu di samping kemudi.
Dokter Tyas memandangi mobil itu sampai menghilang dibalik gerbang, dengan hati seperti terbakar api.
“Hiih, bodoh … bodoh … bodoh …,” omelnya sambil membanting-banting kakinya.
“Lhoh, dokter Tyas nggak jadi pulang bareng dokter Zein?” yang bicara adalah rekan dokter yang melihat adegan itu sambil tersenyum.
“Nggak … nggak … mereka mau mampir-mampir, nanti aku yang repot.”
“Mau bareng saya Dok?”
“Tidak, saya sudah memanggil taksi,” katanya sambil menjauh dengan kesal, ia tahu dokter itu hanya ingin mentertawakannya.
***
Di perjalanan, mereka tak banyak bicara. Sedikit banyak, nimbrungnya dokter Tyas agak mengganggu perasaan Zein. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa sangat kesal pada dokter Tyas. Sebagai laki-laki normal, penampilannya sangat mengganggu, tapi sebagai seorang suami yang baik, ia merasa dokter Tyas berbuat sangat berlebihan. Tiba-tiba juga Zein merasa bahwa Indras jauh lebih baik dari dokter Tyas. Istrinya begitu santun dan tidak menampakkan kebencian ketika melihat dokter Tyas, yang sikapnya sangat manja kepada dirinya. Zein yakin Indras melihat ketika dokter Tyas mendekat, dan berkata ingin menumpang sambil mendekat ke arah tubuhnya, sangat dekat. Ia yakin Indras melihatnya, tapi tak tampak kemarahan pada dirinya. Ia bahkan mempersilakan dokter Tyas masuk ke dalam mobil. Untunglah Zein cepat-cepat mencegahnya, dengan alasan akan mampir-mampir.
“Zein, sebenarnya kamu akan mampir ke mana?”
“Apa?”
“Tadi kamu bilang akan mampir-mampir kan?”
“Ough, tidak, hanya alasan aku saja.”
“Sebenarnya tidak apa-apa kalau dia mau menumpang. Hari masih siang, kita tidak akan kemalaman di jalan.”
“Kamu tidak marah?”
Indras tertawa, atau tepatnya mencoba tertawa.
“Mengapa aku harus marah? Dia hanya ingin menumpang.”
“Tapi ….”
“Zein, aku selalu bersikap baik kepada teman-teman kamu, rekan-rekan kerja kamu yang sebagian besar aku sudah mengenalnya. Memang dokter Tyas termasuk baru dan aku kurang mengenalnya karena jarang bertemu. Tapi aku akan memperlakukannya sama seperti rekan-rekan kamu yang lain.”
Indras sadar, ketika mengatakannya dia sedang menekan seluruh kekesalan yang menumpuk dalam hatinya. Tapi Indras akan mencoba, apakah dengan sikapnya ini Zein masih akan tetap bersikap kasar kepadanya, atau tidak. Biasanya dia marah-marah kalau Indras menyinggung perempuan itu, karenanya ia bersikap sangat bersahabat. Bagaimana ya sikap sang suami kemudian?
“Terima kasih.”
“Kita langsung pulang? Benar, tidak jadi mampir-mampir?”
“Ya, sebaiknya begitu. Kamu tampak sangat lelah, jadi harus segera beristirahat.”
Indras benar-benar senang, sebuah perhatian kecil, apakah Zein akan benar-benar berubah?
“Nanti aku akan mencari tukang pijit. Di salon langganan ada, pelayanan masage yang bisa diundang ke rumah.”
“Jangan.”
“Jangan? Kenapa? Kamu sendiri bilang bahwa aku kelihatan lelah. Barangkali dengan relaksasi otot, rasa lelah bisa berkurang.”
“Aku bisa memijit.”
“Apa?” kali ini Indras terkejut.
“Kamu tidak percaya? Dulu, setiap kali libur kuliah, aku pasti memijit kaki ibuku, sampai ketiduran.”
“Benar?”
“Nanti kamu bisa mencobanya.”
Indras tertawa, kali ini tawa yang benar-benar tawa yang tidak dibuat-buat.
“Kamu mentertawakan aku?”
“Tidak, aku senang, nanti aku akan mencobanya. Lumayan, tukang pijit di salon bayarnya mahal.”
“Jangan salah, aku lebih mahal lagi,” kata Zein sambil tertawa, dan Indras mencubit lengannya keras sekali.
Suasana riang itu terbawa sampai mereka memasuki rumah dan bersantai bersama-sama dengan kopi panas buatan bibik serta sepiring pisang goreng yang masih hangat.
***
Tapi suasana hangat itu tiba-tiba pecah ketika sebuah panggilan pesan terdengar di ponsel Zein.
Zein menatap istrinya sebelum kemudian membuka ponselnya. Indras tak bereaksi. Pisang goreng hangat lebih bisa menghangatkan jiwanya.
Ia menatap suaminya, tidak berdiri menjauh seperti kalau biasanya ponselnya berdenting. Wajahnya juga datar ketika jarinya mengutak atik ponselnya.
“Dokter kesayanganku tadi ke mana saja?”
“Mengantar istri.”
“Ke mana Dok?”
“Beli sesuatu,” kata Zein dalam balasan berikutnya, berbohong.
“Senengnya, pulang kerja berdua-duaan.”
“Ya, lumayan.”
“Dokter, saya lagi pengin masak-masak. Besok dokter pengin dibuatkan apa?”
“Tidak usah, jangan repot-repot.”
“Tak biasanya Dokter menolak masakan saya, ada apa nih?”
“Tidak apa-apa, hanya tak ingin kamu selalu repot-repot untuk aku.”
“Tidak, tidak repot kok. Saat ini Dokter sedang apa?”
Kali ini Zein tidak membalasnya, langsung menutup ponselnya.
Zein menutup ponselnya lalu meletakkannya di meja. Ia mengambil pisang goreng dan menggigitnya perlahan.
“Enak, ini pisang apa?”
“Ini pisang raja.”
“Biasanya yang enak digoreng itu pisang kepok. Itu kata almarhumah ibuku.”
“Pisang raja digoreng juga enak, asalkan yang benar-benar tua. Kalau pisangnya belum tua dan matangnya dipaksa, rasanya akan sepat.”
“Berarti ini pisang tua, manis legit.”
“Bibik pintar memilih apa yang baik untuk dimasak.”
“Kamu jangan lupa ya, kemarin janji … eh, tadi … kamu janji akan masak gudeg seperti masakan almarhumah ibuku.”
“Iya, aku ingat. Dua hari lagi libur, aku pasti akan memasaknya untukmu.”
“Dua hari lagi mbak Santi akan pulang. Mama tidak usah masak-masak,” tiba-tiba Sinta nimbrung dan duduk di dekat sang mama.
“Justru karena kakakmu pulang, mama mau masak yang enak buat kalian, dengan tangan mama sendiri,” kata Indras.
“Tapi mbak Santi ingin mengajak kita rekreasi ke luar kota.”
“Benarkah?”
“Iya benar. Papa mau kan?”
“Tanya mama kamu, papa ngikut.”
“Asyiiik, Mama mau kan? Aku sudah tahu kalau Mama mau.”
“Berarti kalian sudah merencanakannya?” tanya Zein.
“Rekreasi itu kan penting, untuk berganti suasana.”
“Berarti mama gagal masak gudeg buat papamu,” kata Indras.
“Tidak usah buru-buru masaknya. Anak-anak ingin bersantai, masaknya tidak harus besok minggu.”
“Baiklah, terserah kalian saja. Kemana kalian akan mengajak mama dan papamu?”
“Nanti kita bicarakan bersama mbak Santi. Kemanapun asalkan bersama-sama, suka kan?”
“Ajak juga bibik, biar dia juga senang.”
“Sinta sudah bilang sama bibik.”
“Syukurlah.”
***
Di kantor, seperti biasa dokter Tyas selalu mengganggu Zein. Pagi itu ia membawa banyak makanan yang diletakkan di meja kerja dokter Zein saat istirahat.
“Ini banyak makanannya, beli ya, bukan masak?”
“Tidak jadi masak, saya beli di jalan," kata Dokter saya tidak boleh repot.”
“Beli di jalan ini juga namanya repot. “
“Dokter tidak suka? Atau … dokter Indras akan datang kemari lagi membawa makanan?”
“Entahlah, aku tidak tahu.”
“Kalau begitu saya taruh di sini saja makanannya, terserah Dokter suka yang mana, saya mau keluar saja, takutnya mengganggu Dokter.”
“Bawa saja makanannya, taruh di pos satpam, pasti mereka suka.”
“Apa? Saya bawakan untuk Dokter, dan Dokter menyuruh saya menaruhnya di pos satpam?”
"Makanan ini sangat banyak, tak akan habis dimakan sendirian. Biar nanti saya panggil saja kemari satpamnya, aku hanya menyisakan dua saja, yang ini, sama yang ini,” kata Zein sambil menyisihkan sebungkus nagasari dan kue lumpur.
“Baiklah, terserah dokter saja, saya keluar dulu. Oh ya, lupa bilang, besok minggu maukah dokter menemani saya ke undangan teman SMA saya? Dia menikah di luar kota.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSuwun mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulillah eSAaCe-40 sdh ditayangkan.
ReplyDeleteMatur nuwun mBak Tien.
Salam SEROJA.
π€π€π
Alhamdulilah, maturnuwun bu Tien salam sehat dan aduhai hai hai bun❤️❤️❤️❤️
ReplyDeleteπ·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eSAaCe_40
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»π·πͺ»
Zain jangan mau disuruh mengantar ke kondangan. Mending liburan dengan anak dan istri.
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteAlhamdulillah, DSC hadir kembali
Apa ya jawaban Dr Zein dg permintaan Dr genit... Penasaran
Trimakasih Bunda Tien sehat selalu , tetap menunggu cerbung besok malam. π€π₯°
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~40 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm dan slmt istrhat..slm seroja unk bundaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteTerima kasih Ibu... semoga Bu Tien sekeluarga sehat selalu.
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda . Semoga sehat selalu beserta keluarga.
KLO ga salah hari Minggu itu ada undangan Rapat . Terus ada acara liburan keluarga Zein . Dr Tiyas ngajak ke ondangan... Mau yg mana Zein ? Yang akan dilaksanakan.
Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 40 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ..❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
...dah bikin anyel sama Tyasπ
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (40)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat semua ya π π€π₯°πΏπ
ReplyDeleteParah ya dr Tyas , senang nya ganggu org yg SDH beristri ,, .
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk.....
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 40* yang di tunggu2 sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDelete