Friday, May 1, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 30

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  30

(Tien Kumalasari)

 

Baru sekali ini Zein kelihatan bingung. Sejak kapan Indras pergi? Semalam hujan sangat deras. Zein juga hampir semalaman tak tidur. Sudah biasa begitu, tidur saat menjelang pagi. Tapi ia sama sekali tak tahu, kapan istrinya keluar dari kamar, bahkan pergi, dengan mobil pula.

Zein masuk ke kamar, mengambil ponselnya. Ia menelpon sang istri, tapi suara panggilan itu muncul dari atas meja di dekat pembaringan..

“Dia tidak membawa ponselnya,” keluh Zein.

Ia mondar mandir di dalam rumah, dari belakang ke arah depan, lalu dari depan ke belakang. Begitu terus sampai kemudian badannya terhuyung-huyung, lalu duduk di kursi teras. Kepalanya berdenyut. Ternyata Zein benar-benar peduli pada istrinya. Tumpahan kemarahannya yang setiap saat, bukan berarti tak takut kehilangan. Apakah ancaman akan bunuh diri berkali-kali itu juga adalah sebuah ungkapan terselubung bahwa dia tak mau kehilangan sang istri? Hanya saja Zein malu mengakui?

Dari timur sana cahaya kemerahan tampak memancar, menyambut datangnya sang surya yang akan tampil menerangi bumi.

Bibik keluar membawa nampan berisi dua gelas kopi panas.

“Bik, kamu tahu, nyonya pergi ke mana?”

Bibik tampak bingung.

“Nyonya pergi? Saya bahkan tidak tahu kalau nyonya pergi. Mungkin jalan-jalan, Tuan. Udara pagi sangat segar.”

“Kamu tahu, sejak kapan dia pergi?”

“Tidak Tuan, saya bangun langsung membuat kopi untuk Tuan dan nyonya.”

“Ya sudah, taruh saja kopinya di situ.”

Bibik meletakkan dua gelas kopi panas di meja. Pikirnya dia membuatkan kopi itu untuk tuan dan nyonya majikannya. Tapi dia heran dan merasa aneh atas pertanyaan sang tuan. Dia bertanya kemana istrinya? Dan tidak tahu kapan istrinya pergi? Walau begitu bibik merasa bahwa tugasnya adalah membuat sarapan dan membereskan rumah. Jadi lebih baik dia tidak mengatakan apapun.

Matahari sudah menampakkan wajahnya, seakan mengobati dinginnya udara semalam. Kehangatan terasa meraba, dan Zein masih terpaku di tempat duduknya. Kopi yang disajikan bibik baru dicecapnya beberapa teguk, seperti hanya sekedar membasahi kerongkongan. Sebentar-sebentar ia melongok ke pintu gerbang, berharap  mobil istrinya muncul.

Sinta pergi ke dapur, melongok apa yang dilakukan bibik. Ia tak melihat mamanya, tapi tak mengira mamanya pergi. Bibik yang mengatakannya.

“Non, apa Non tahu, nyonya pergi ke mana?”

“Maksud Bibik … mama?”

“Iya. Sejak tadi tuan menunggui di depan. Tuan bertanya kepada bibik, tapi bibik tidak tahu. Tampaknya nyonya pergi tanpa sepengetahuan tuan.”

Sinta bergegas ke arah depan. Dilihatnya sang ayah duduk sendirian, masih mengenakan pakaian tidur.

“Papa belum mandi?”

Zein menoleh ke arah Sinta.

“Kamu tahu mamamu pergi ke mana?”

“Mama pergi? Tidak bilang pada Papa mau pergi ke mana?”

“Begitu papa bangun, ibumu sudah tak ada, mobilnya juga tak ada. Entah kapan ibumu pergi.”

"Ditelpon dong Pa.”

“Ponselnya ada di kamar.”

“Yaaaah ….”

“Papa mandi dulu saja, nanti juga mama pasti juga pulang," lanjutnya.

“Jangan-jangan ke rumah kakekmu.”

“Kalau Sinta menelpon, pasti kakek akan kaget. Pagi-pagi menanyakan mama, pasti sudah dapat diduga terjadi sesuatu di sini. Mama tidak pernah suka mengabarkan hal buruk kepada kakek.”

“Jangan langsung menanyakan mamamu. Bicara apa saja, kalau memang mama ada di sana pasti kakek mengatakannya tanpa ditanya.”

“Ngomong apa ya?”

Sinta mengambil ponselnya, ditelponnya sang kakek.

“Ini Sinta?”

“Iya Kek, kakek sedang apa?”

“Sedang ngopi bersama nenek kamu. Lama sekali kamu tidak kemari, sibuk kuliah ya?”

“Iya Kek, maaf ya. Sinta, papa juga mama sudah kangen sebenarnya.”

“Kalau senggang datanglah kemari. Kakek dan nenek repot kalau datang ke rumahmu. Kalian orang-orang sibuk.”

“Sinta menelpon karena kangen sama Kakek dan nenek.”

“Kakek dan nenek juga kangen pada kalian. Cari waktu yang baik agar kita bisa ketemuan. Memikirkan pekerjaan tak akan ada habisnya.”

Sinta tertawa, tapi kemudian pamit untuk mengakhiri pembicaraan.

“Mama tidak ke sana.”

Zein menghela napas panjang.

“Sudah lama terjadi sesuatu antara Papa dan mama. Mengapa tidak ada jalan keluar? Maaf, Sinta hanya sekedar bicara, Papa jangan marah,” kata Sinta hati-hati, karena ia pernah menanyakan hal sama kepada sang papa, tapi dia malah kena marah.

“Terkadang orang tua juga butuh ketenangan.”

“Apa selama ini Papa merasa tidak bisa tenang?”

Zein menggeleng pelan.

“Bicara pada mama, apa yang Papa inginkan.”

“Mamamu selalu memata-matai papa. Papa sangat buruk di mata mama kamu. Tapi sudahlah, jangan bicara lagi, papa sedang tak ingin bicara apapun.”

“Bibik sudah menyiapkan sarapan. Papa belum mandi, nanti terlambat ke kantor.”

Zein bangkit dari duduknya, melangkah ke kamar. Tiba-tiba ia merasa bahwa kamar itu begitu lengang. Seperti sesuatu tanpa nyawa. Zein bukannya mandi, malah duduk di tepi pembaringan.

“Pa, sarapan dulu,” itu teriak Sinta dari luar kamar.

“Kamu sarapan dulu saja,” kata Zein yang merasa sangat lemas.

“Papa tidak ke kantor?”

“Nanti gampang. Kamu mau belanja sama bibik?” Zein ingat pembicaraan saat makan malam.

“Saya pikir ini hari Minggu. Papa dan mama juga tidak mengingatkan kalau Sinta salah menghitung hari.”

Sinta melangkah ke ruang makan, sarapan sendirian. Kepergian sang mama menjadikannya pikiran, tapi ia harus ke kampus pagi.

“Nanti aku akan mencari mama. Tapi ke mana?”

***

Zein masih duduk termangu di tepi pembaringan. Ia mendengar Sinta pamit, tapi hanya dijawabnya dengan ‘ya’ yang sangat pelan.

Ia tetap belum mandi, dan dia tak berniat untuk datang ke kantor. Ia hanya mengirimkan pesan ke stafnya bahwa dia tidak ke kantor hari ini.

Yang ribut malah dokter Tyas. Ia segera menelpon dokter pujaannya.

“Dokter, sayang, ada apa hari ini tidak datang?”

“Aku sedang ada urusan.”

“Padahal saya sudah memakai baju yang semalam dikirim Dokter ke rumah, Dokter mau melihatnya?” tampaknya dokter Tyas bersiap akan mengubah telponnya menjadi video call. Tapi Zein menolaknya.

“Tidak … tidak, lain hari aku pasti bisa melihatnya. Sekarang aku sedang ada urusan.”

“Apakah dokter Indras marah?” dokter Tyas masih mengira begitu.

“Tidak. Ya sudah, selamat bertugas ya, cantik.”

“Tunggu Dokter, apakah besok Dokter akan masuk? Kalau tak ada Dokter saya tidak bersemangat.”

“Saya usahakan semuanya selesai.”

“Baiklah, daaaag, Dokter kebanggaanku.”

Zein tak menjawab, hanya tersenyum senang lalu menutup ponselnya. Entah mengapa, dokter Tyas selalu bisa membuatnya senang. Senang menjadi  dokter kebanggaan dokter cantik itu, dan ketika mengingatnya, Zein kembali tersenyum.

Tapi kemudian ditatapnya sekeliling kamar. Kembali senyap menyergapnya. Mengapa sudah siang Indras belum juga pulang?

“Jangan-jangan dia langsung ke rumah sakit.”

Zein meraih ponselnya, pura-pura menjadi pasien dan menanyakan apakah bisa bertemu dokter Indras. Aneh kalau mengaku suami, masa tidak tahu istrinya masuk atau tidak.

“Maaf Bapak, hari ini rupanya dokter Indras tidak datang, apakah bisa dilayani dokter Arum?”

“Saya hanya mau dengan dokter Indras. Terima kasih.”

Zein putus asa. Indras juga tidak ke rumah sakit.

Ia memijit-mijit kepalanya yang terasa berdenyut. Baru kali ini Zein merasa sangat membutuhkan istrinya. Ia bingung harus menelpon siapa. Adik iparnya? Tidak, ia tak ingin keretakan dalam rumah tangganya tercium oleh orang lain, walau orang itu keluarganya sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ini nomor telpon tetangganya.

“Zein, apa kamu tahu, istrimu sedang tidak baik-baik saja.”

“Apa? Istri saya ada di situ Bu?”

“Tidak. Dia di rumah kamu sendiri. Tadi pagi tetangga belakang rumah menemukannya di pemakaman.”

“Apa?”

“Istrimu ditemukan pingsan di dekat makam ibumu, padahal semalam hujan sangat deras.”

Zein tidak bertanya lebih lanjut. Ia keluar dari kamar langsung mengeluarkan mobilnya.

***

Besok lagi ya.

23 comments:

  1. Alhamdulillah.....
    eSAaCe_30 sudah tayang.
    Matur nuwun Dhe, sehat selalu dan selalu sehat.
    Aamiin

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  3. πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eSAaCe_30
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒ

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~30 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (30)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  6. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat selalu, πŸ€—πŸ₯°πŸŒΏπŸ’–

    Kasihan Kel dr Zein ya , dr juga manusia , persoalan rumah tangga nya semoga segera teratasi dg pingsannya indras

    ReplyDelete
  11. Alhamdullilah terima ksih bunda..slm seroja uno bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  12. Alhamdullilah. Matur nuwun Bunda. Semoga sehat beserta keluarga tercinta.
    Semoga Zein menyadari atas kesalahannya setelah ditinggal pergi sana dr Indras.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulilah " sakitku adalah cintaku 30 " sdh tayang ... kasihan indras , semoga zein segera menyadari kekeliruannya dan menjadi sadar .... sediiih bacanya ... salam seroja dan aduhai aduhai bun ❤️❤️

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 30 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  15. Assalamu'alaikum
    Alhamdulillah, trimakasih Bunda Tien cerbung SAC nya. Sehat sll Bunda. Tetap ku tunggu kelanjutan nya.
    Apa yg terjadi dg dr Indras ikut sedih,
    Sembuh ya dr

    ReplyDelete
  16. Nah kan...sebenarnya tinggal keterbukaan Zein dengan Indras kan...bahwa dia teringat pada ibunya ketika berinteraksi dengan dr.Tyas...

    Btw, terima kasih, ibu Tien...semoga bahagia selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete
  17. Ternyata Indras nyekar ke makam mertuanya sekalian curhat... Terimakasih bunda Tien, sehat, bahagia dan salam aduhaii

    ReplyDelete
  18. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 30 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Indras ziarah dan mengadu di pusara ibunya Zein. Zein yang waktu itu merengek rengek trus di pusara ibunya, apakah ingin mengadu juga kah 😁

    ReplyDelete
  19. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 30

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  30 (Tien Kumalasari)   Baru sekali ini Zein kelihatan bingung. Sejak kapan Indras pergi? Semalam hujan sangat dera...