Wednesday, May 27, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 08

 NAMAKU TETAP SENJA  08

(Tien Kumalasari)

 

Bibik masih menatap Arka dengan bingung. Membuat Arka tertawa.

“Hei, kamu kenapa melotot begitu Bik? Kamu melihat hantu? Ini aku, Arka. Gimana sih?”

“Tuan muda, tapi bibik heran, Tuan bicara tentang beras?”

“Kurang jelas?”

“Bibik bingung … Tuan.”

Arka tertawa. 

 "Begini ceritanya. Temanku jualan beras, aku ingin membantunya, jadi aku minta kalau Bibik butuh beras bilang sama aku saja. Biasanya sekali beli berapa kilo?”

Melihat sang tuan muda bicara serius, bibik baru percaya kalau sang tuan muda memang bicara tentang beras.

“O, jadi Tuan muda ingin membantu teman tuan muda yang jualan beras?”

“Iya. Kapan Bibik berasnya habis? Bilang sama aku saja. Nanti aku yang pesan.”

“Ini juga sebenarnya bibik mau bilang sama Nyonya bahwa berasnya sudah menipis. Tapi Nyonya selalu berpesan, berasnya harus yang enak, yang wangi. Pokoknya yang kwalitasnya bagus.”

“Jangan khawatir, temanku jual bermacam beras, bisa pesan yang seperti apa keinginan kita.”

“Baiklah, besok saja Tuan muda pesan, jadi bibik tidak usah memesan ya.”

“Berapa banyak?”

“Karena di sini pembantunya banyak, biasanya kalau beli satu kwintal sekalian.”

“Satu kwintal? Satu kwintal itu seratus kilo. Habis berapa bulan itu nanti Bik?”

“Di sini pembantunya banyak Tuan, sehari tidak cukup tiga kilo, biasanya sebulan juga sudah habis.”

“Baiklah, aku segera pesan besok ya.”

“Terima kasih, Tuan muda.”

Arka kembali ke kamarnya sambil tersenyum. Ia akan membantu simboknya Senja agar berasnya laku lebih banyak. Pasti ia akan senang.

Bibik pembantu tersenyum-senyum sendiri. Ia heran sang tuan muda yang biasanya tak pernah peduli urusan dapur tiba-tiba bertanya tentang beras dan berjanji mau memesankan kepada temannya.

“Rupanya Tuan muda juga punya sisi baik di hatinya, dengan kepeduliannya kepada teman. Aku kira dia hanya mengurusi pekerjaan dan pekerjaan, tanpa henti seperti ayahnya,” kata batin bibik.

“Ada apa Bik? Kok senyum-senyum sendiri?” tiba-tiba nyonya majikan muncul di dapur.

“Oh, itu Nyonya, tuan muda tumben-tumbenan bertanya tentang beras.”

“Bertanya tentang beras? Maksudnya apa?”

“Tadi bertanya, kalau beli beras di mana, kebutuhan setiap pesan berapa, katanya mulai besok, tuan muda yang akan memesankan beras.”

“Kok bisa? Aneh.”

“Tadinya saya juga merasa aneh Nyonya, tapi ternyata tuan muda hanya ingin membantu temannya.”

“Membantu temannya bagaimana?”

“Temannya itu jualan beras, jadi tuan muda ingin agar kalau kita butuh beras pesan saja sama teman tuan muda itu.”

“O, begitu?”

“Jadi mulai besok, tuan muda yang akan memesankan beras, kebetulan berasnya sudah menipis, saatnya bibik beli beras.”

“Anak itu terkadang aneh. Ya sudah, biarkan saja. Cuma tentang beli beras saja,” kata sang nyonya sambil berlalu.

***

Hari itu adalah hari Minggu. Arka bangun sebelum subuh, melakukan ibadah di pagi buta, lalu mandi dan bersiap pergi. Ia mengambil sepeda kayuh di gudang. Harus cepat karena Rosa mengatakan akan datang pagi-pagi. Arka tidak suka, karena kalau dia mau maka berarti akan memberi harapan padanya.

“Tuan … Tuan, pagi-pagi mau ke mana?” tiba-tiba bibik berteriak.

Arka menaruh ujung jarinya ke bibir, maksudnya adalah bibik jangan berteriak dan bertanya lagi. Ia lalu menunjuk ke arah sepeda yang akan dibawanya. Dengan demikian bibik akan mengerti. O, tuan muda akan olah raga bersepeda.

“Tidak minum coklat susu dulu?” bibik berteriak lagi, membuat Arka melotot. Ia menggoyang-goyangkan tangannya kemudian berlalu.

“Ya ampun, pagi buta begini sudah berangkat bersepeda. Dari kemarin tuan muda kelihatan aneh,” gumam bibik.

Tapi ternyata nyonya Wiguna mendengar suara berisik teriakan bibik. Ia langsung pergi ke dapur.

“Ada apa Bik?”

“Oh, maaf  Nyonya, saya membangunkan Nyonya.”

“Aku sudah bangun, sedang shalat. Tapi aku mendengar kamu berteriak.”

“Itu Nyonya, saya melihat tuan muda pagi-pagi sudah pergi.”

“Pergi ke mana?”

“Sepedaan pastinya, tadi mengambil sepeda di gudang, saya tawarkan untuk minum dulu tidak mau.”

“O, Arka olah raga bersepeda?”

“Iya Nyonya.”

Sang nyonya membalikkan tubuh, kembali ke kamar. Sang suami belum bangun, tapi sebelum ia kemudian keluar lagi dari kamar, terdengar suaranya mengingatkan.

“Bu, bilang sama bibik agar menyiapkan juga minum untuk Rosa, dia bilang mau kemari pagi-pagi.”

“Nanti kalau dia datang bibik sudah pasti membuatkannya.”

“Maksudnya sudah disiapkan di meja, agar kalau dia datang bisa langsung meminumnya, soalnya dia mau bersepedaan dengan Arka pagi ini.”

“Arka sudah berangkat bersepeda.”

“Apa?”

Pak Wiguna langsung bangkit, matanya melotot marah.

“Arka sudah berangkat? Bukankah Rosa akan datang pagi ini?”

“Dia kan ingin bersepeda pagi-pagi. Biar saja nanti Rosa menyusul.”

“Ibu bagaimana, mengapa tidak mengingatkan? Harusnya Ibu bilang kalau Rosa akan datang.”

“Ibu tidak tahu berangkatnya dia. Ketika ibu keluar, Arka sudah berangkat.”

“Anak itu benar-benar kurangajar. Dia memang sengaja menghindar. Jadi nggak enak kita nanti kan Bu?”

“Ya sudah, nanti diajak bicara baik-baik, pasti dia mengerti.”

“Ini menjengkelkan.”

Ketika Pak Wiguna masuk ke kamar mandi, sang istri segera keluar, agar tidak mendengar lagi omelan-omelannya. Mau bagaimana lagi, Arka sudah berangkat di pagi buta.

***

“Selamat pagiiiii,” suara nyaring terdengar dari luar rumah. 

Pak Wiguna yang sudah menduga bahwa itu pasti Rosa, segera keluar menyambut. Tampaknya ia khawatir kehilangan Rosa. Sikapnya tampak berlebihan.  Sambil keluar ia berteriak agar bibik segera menyiapkan minuman.

“Selamat pagi, calon menantu yang cantik,” sambutnya sambil senyumnya melebar.

“Arka sudah bangun?” pertanyaan ini agak membuat pak Wiguna sungkan.

“Duduklah dulu, tuh … bibik sudah menyiapkan coklat susu yang hangat.”

Rosa masuk ke dalam setelah menstandartkan sepedanya di bawah pohon mangga.

“Minumlah, sudah disiapkan untuk Rosa.”

Rosa tersenyum senang. Ia menghirup minumannya.

“Arka sudah bangun?” tanyanya lagi sambil meletakkan gelasnya.

“Bapak tuh lupa mengingatkan Arka. Tadi … pagi-pagi sekali dia sudah keluar,” kata pak Wiguna penuh sesal.

“Pagi-pagi sekali? Bukankah ini masih pagi?”

“Kata bibik dia pergi setelah subuh.”

“Ya ampun, mengapa Arka tidak menunggu aku ya,” keluh Rosa kesal.

“Maaf Rosa, bapak sungguh lupa mengingatkan, kalau dia tahu Rosa akan datang pagi, dia pasti menunggu.”

“Arka sudah tahu kalau saya mau datang.”

“Benarkah?”

“Saya sudah menelpon sore hari sebelum dia pulang dari kantor.”

“Waduh, berarti dia juga lupa. Anak itu sering kali lupa sesuatu. Bagaimana kalau bersepeda bersama bapak saja?”

“Apa? Masa saya bersepeda dengan orang setua Bapak? Nanti kalau Bapak kecapekan lalu pingsan di jalan bagaimana?”

Jawaban itu kalau untuk orang yang tahu tata krama, tampak sangat tidak menghormat. Seakan dia segan bersepeda dengan orang yang sudah tua. Tapi pak Wiguna justru tertawa-tawa.

“Iya Rosa, kamu benar. Bisa jadi bapak akan pingsan di jalan karena sudah bertahun-tahun tidak pernah bersepeda.”

“Kalau begitu saya pergi dulu saja,” katanya dingin, sambil berdiri. 

Minuman yang dihidangkan baru diminum seperempatnya.

“Lho, kok pergi, lebih baik ditunggu sebentar, barangkali Arka hanya muter-muter di sekitar tempat ini.”

“Nggak usah. Saya akan bersepeda sendiri saja,” katanya sambil turun dari teras, langsung menghampiri sepedanya dan berlalu.

Pak Wiguna sangat marah. Bukan kepada Rosa yang tiba-tiba pergi, tapi kepada Arka yang terkesan menghindari.

***

Simbok sedang meletakkan bakul berisi bungkusan-bungkusan beras yang sudah ditimbangnya perkilo, di depan rumah, ketika Arka tiba-tiba berdiri di depannya.

“Selamat pagi, Mbok.”

Simbok mengangkat wajahnya. Melihat laki-laki muda tampan berdiri di depannya sambil tersenyum. Hari masih sangat pagi. Senja masih berkutat di dapur, menyiapkan minuman untuk simboknya, sedangkan Rimba menyapu dan membersihkan rumah.

“Si … siapa ya?”

“Nama saya Arka.”

“Apa … sampeyan pernah mengenal saya?”

“Mengenal nama Simbok … sudah … bukankah Simbok ini mbok Mangun?”

“Lhoh, kok sampeyan tahu?”

“Lha Simbok ini kan sudah terkenal di mana-mana. Tukang menjajakan beras ke kampung-kampung. Ya terkenal dong.”

“Nanti dulu, lha sampeyan itu datang kemari hanya mau menyapa saya, atau apa?”

“Saya mau memesan beras Mbok. Satu kwintal, yang bangus, yang wangi, yang pulen.”

Simbok melongo.

***

Besok lagi ya.

9 comments:

  1. Alhamdulillah eNTeeS_08 sudah tayang.
    Matur nuwun mBak Tien....
    Pa Wiguna oh pa Wiguna, mengapa dikau arogan ???

    Semoga mBak Tien sehat selalu dan selalu sehat.
    Aamiin....

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah
    Matur sembah nuwun Mbak Tien
    Salam sehat selalu..πŸ™πŸ₯°

    ReplyDelete
  3. 🌷πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung eNTeeS_08 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    🌷πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»πŸŒ·πŸͺ»

    ReplyDelete
  4. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien dan keluarga selalu sehat, aamiin.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda Tien sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah senjaku sampun tayang.... maturnuwun bu Tien, semoga bu Tien sll sehat dan selamat idul adha 1447, semoga kita lebih bertaqwa pada Allah dengan meneladani nabi Ibrahim aamiin yra 🀲🀲❤️❤️

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 08

  NAMAKU TETAP SENJA  08 (Tien Kumalasari)   Bibik masih menatap Arka dengan bingung. Membuat Arka tertawa. “Hei, kamu kenapa melotot begitu...