Tuesday, May 26, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 07

 NAMAKU TETAP SENJA  07

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Mangun sudah duduk di kursi makan, menunggu Rimba segera menyusul. Tapi Rimba tak kunjung datang.

“Rimba,” panggilnya.

Rimba mendekat sambil membawa kertas temuannya.

“Mbok ….”

“Mbakyumu mungkin terlambat, akhir-akhir ini katanya ada pelajaran tambahan.”

“Iya, Rimba tahu. Ini lho Mbok, ini apa?” katanya sambil menunjukkan tulisan yang ditemukannya.

“Apa ini? Simbok nggak bisa baca tulis, apa kamu lupa?”

“Ini catatan hutang.”

“Apa?” mbok Mangun terkejut.

“Ini catatan hutang. Di sini tertulis sisa hutang tujuh juta empat ratus rupiah.”

“Apa?”

“Simbok punya hutang?”

“Ada-ada saja, barangkali punya pengirim beras tadi,” kata simbok dengan hati berdebar. 

Ia tak ingin anak-anaknya tahu bahwa dia punya hutang. Tapi dia khawatir, ada tulisan namanya di situ. Memang tadi pak RT memberikan catatan, tapi simbok tak memperhatikannya, kertas diletakkan sembarangan. Toh dia tidak bisa membaca.

“Rimba menemukannya terjatuh di lantai situ, barangkali punya Simbok.”

“Apa ada tulisannya nama simbok?”

“Tidak ada, hanya catatan hutang, Mencicil, membayar bunga, sisa hutang … “

“Buang saja Le, simbok nggak ngerti, ayo makan saja. Apa kamu tidak lapar?”

“Ya lapar Mbok,” kata Rimba yang segera duduk. 

Sementara simbok meremas kertas itu lalu dibuangnya di tempat sampah.

Ada rasa miris ketika teringat hutangnya yang sudah hampir tiga tahun dicicil tiap seminggu sekali, tapi berkurangnya tidak seberapa.

“Kok Simbok tidak makan?”

“Simbok menemani kamu dulu, nanti simbok makan bersama mbakyumu,” kata simbok yang sesungguhnya kehilangan selera makan ketika teringat lagi hutangnya.

“Nanti Rimba bantuin Simbok menakar beras ya?”

“Apa kamu tidak capek, baru pulang sekolah?”

“Setelah makan capeknya hilang,” kata Rimba sambil menyendok makanannya.

Simbok terharu melihat sang anak makan dengan lahap. Hanya sayur dari tuntut pisang dan ikan asin, tapi Rimba makan dengan lahap.

***

Arka bersiap untuk pulang ketika ponselnya berdering, dari Rosa. Enggan Arka mengangkatnya tapi dering itu menyakitkan telinganya.

“Ya….?”

“Arka, kamu masih di kantor? Kata ayahmu sudah saatnya kamu pulang.”

“Ini mau pulang.”

“Ternyata kamu suka sepedaan juga? Tadi ayahmu bilang kalau mau aku dimintanya nyamperin kamu untuk sepedaan bersama.”

“Nggak. Belum tentu suka, hanya coba-coba karena lama tidak melakukannya.”

“Besok kan hari Minggu, aku ke rumah kamu ya, kita sepedaan bersama, pasti seru. Kalau pagi aku suka sepedaan sendiri. Nah ini aku dapat teman.”

“Aku terkadang malas.”

“Besok aku bangunin kamu untuk sepedaan bersama ya.”

Arka belum sempat menjawab ketika ponsel Rosa sudah dimatikan. Ia benar-benar mengeluh. Ayahnya sangat ingin agar dirinya bisa semakin dekat dengan Rosa, apapun caranya. Sedangkan bersepeda saja sang ayah menemukan jalan untuk mempersatukannya.

Arka pulang dengan wajah lesu. Esok hari dia akan pergi pagi-pagi sekali, sebelum si reseh itu datang.

***

Senja mengayuh sepedanya pelan. Ada tambahan pelajaran yang membuatnya harus pulang sore. Ia sudah mengatakannya kepada simbok, jadi simbok sudah tahu kalau anak gadisnya akan pulang terlambat.

Sedang enak-enak mengayuh sepeda, tiba-tiba sebuah mobil berjalan pelan di sampingnya.

“Senjaaaa,” pengendara itu berteriak.

Sekarang Senja sudah hapal suaranya. Tuan ganteng itu ngapain saja, selalu tiba-tiba muncul tanpa diharapkan kehadirannya. Ia menoleh ke samping, pengendara mobil itu membuka jendela mobilnya, melambaikan tangannya sambil tersenyum. Senja merengut, adanya mobil di samping membuatnya risih. Ia menggenjot sepedanya lebih cepat, tapi mobil itu terus saja ada di sampingnya.

“Senja, mau jus buah?” teriaknya lagi sambil memperlihatkan keresek bening yang di dalamnya berisi beberapa gelas minuman.

Senja mendiamkannya, tapi kemudian mobil itu berhenti di depannya, membuat Senja tiba-tiba turun dari sepedanya.

“Tuan kenapa sih, setiap saat mengganggu saja?” sungutnya.

“Jangan marah Senja.”

Ia memang Arka, yang kemudian turun dan mengulurkan keresek kepada Senja.

“Nggak mau!”

“Senja, ini jus buah, segar dan sehat. Dalam udara yang panas begini, minum jus buah sangat menyegarkan,” kata Arka yang langsung menggantungkan keresek itu di stang sepeda Senja.

Sebelum Senja mengomel, Arka sudah masuk ke dalam mobilnya kemudian berlalu setelah melambaikan tangannya sambil tersenyum.

“Ya ampuun, tuan ganteng itu kenapa nekat sekali? Dan kenapa juga saat dia pulang, padahal sudah sore, masih juga bertemu dia?”

***

Belum masuk ke rumah, sang ayah yang duduk di teras sudah menyambutnya dengan ucapan yang membuatnya kesal.

“Arka, besok Rosa mau kemari pagi-pagi. Kamu tungguin dia untuk bersepeda bersama.”

Arka tak menjawab, terus berlalu masuk ke rumah, membuat sang ayah berteriak.

“Arka! Bapak bicara sama kamu.”

Arka terpaksa berhenti dan kembali mendekati sang ayah.

“Arka sudah mendengarnya. Tapi kelihatannya Arka sedang malas, tidak ingin ke mana-mana."

“Besok kan hari Minggu, saatnya ber rekreasi. Rosa ingin sekali bersepeda. Itu memang kesukaannya."

“Kita lihat saja nanti,” jawabnya sambil berlalu.

“Hm, susah sekali anak itu diatur. Gadis seperti Rosa, tidak bisa menarik hatinya? Itu kebangetan sekali,” gumamnya kesal.

“Kenapa Pak, anak baru datang sudah dimarah-marahi,” kata sang istri yang menyusul duduk di dekatnya.

“Anakmu itu susah diatur. Berjodoh sama Rosa itu sebuah keberuntungan bagi usahanya, tapi tampaknya dia tidak tertarik sama sekali.”

“Kita harus bersabar, cinta tidak bisa datang tiba-tiba. Harus melalui liku-liku yang panjang.”

“Ada orang mengatakan, bisa saja manusia jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Tidak semua bisa begitu. Banyak hal menarik yang membuat orang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Tapi Arka tidak begitu. Padahal apa kurangnya Rosa?”

“Arka orang yang tidak mudah jatuh cinta. Teman-temannya kuliah dulu juga cantik-cantik. Tidak satupun membuatnya tertarik. Aku juga heran.”

“Tapi untuk yang satu ini, bagaimanapun caranya, Rosa harus menjadi menantu kita. Ibu harus mendukung aku. Sering-sering Ibu bilang kepada Arka, bahwa Rosa gadis terbaik yang bisa menjadi istrinya.”

“Nanti ibu bicara sama dia, yang penting harus bersabar. Arka tidak bisa diatur-atur dalam hal cinta.”

“Pokoknya Ibu harus bantu aku. Tidak boleh tidak, Arka harus mau beristrikan Rosa. Jangan sampai kita mengecewakan pak Daryono.”

“Padahal kelihatannya pak Daryono bersikap sangat lunak lhoh.”

“Itu hanya kelihatannya, hanya untuk menenangkan hati Arka. Sudah, Ibu jangan lemah, terus beritahu Arka bahwa jodohnya adalah Rosa.”

Sang istri menghela napas panjang, ia tak pernah bisa membantah apa kata suaminya yang begitu keras dan boleh dikatakan sangat arogan.

***

"Mbak Senja membawa apa?” teriak Rimba dari dalam ketika melihat Senja datang  sambil membawa keresek yang belum juga dibuka isinya.

“Ini, buka sendiri,” kata Senja sambil memberikan keresek itu kepada adiknya.

“Wooouw, ada jus buah. Macam-macam ini, entah bagaimana rasanya.”

“Kamu beli jus buah, Nduk?” tanya simbok.

“Tidak Mbok, dikasih orang itu lagi.”

“Orang itu lagi yang mana?”

“Yang kemarin lusa menolong Senja, lalu memberikan es buah juga.”

“Ketemu lagi?”

“Iya. Tadi pagi malah ketemu ketika Senja mau berangkat sekolah.”

“Dia rumahnya di mana, kok sering ketemu?”

“Nggak tahu MBok.”

“Mbok, ini buat simbok sama mbak Senja, aku yang kuning saja, ini rasanya seperti mangga.”

“Ya ampun, ini enak sekali. Kamu yang mana  Nja? Simbok sisanya saja.”

“Simbok ambil yang mana saja, Senja sisanya. Sekarang mau bersih-bersih dan ganti baju.”

“Simbok tunggu di meja makan ya Nduk, sama jusnya simbok bawa ke sana sekalian,” kata simbok.

Senja berlalu, dan simbok masih berpikir tentang kebaikan orang yang sudah menolong Senja dan berkali-kali memberikan minuman sehat.

***

Arka sudah berganti pakaian rumahan, beranjak ke belakang menemui bibik pembantu.

“Bik, Bibik kalau beli beras di mana?”

“Apa Tuan muda? Tuan bicara tentang beras?” tanya bibik heran.

“Iya, beras yang dimasak jadi nasi itu.”

“Ya di pasar Tuan, sudah langganan.”

“Mulai besok, aku yang akan membeli beras.”

Bibik menatap dengan heran. Tuan mudanya akan membeli beras?

***

Besok lagi ya.

 

19 comments:

  1. Alhamdulillah eNTeeS_07 sdh hadir. Terima kasih mbak Tien, salam SEROJA, tetap SEMANGAT & tetap ADUHAI.

    Salam hormat untuk kangmas Tom Widayat.

    ReplyDelete
  2. πŸŽ‹πŸͺ΄πŸŽ‹πŸͺ΄πŸŽ‹πŸͺ΄πŸŽ‹πŸͺ΄
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eNTeeS_07
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŽ‹πŸͺ΄πŸŽ‹πŸͺ΄πŸŽ‹πŸͺ΄πŸŽ‹πŸͺ΄

    ReplyDelete
  3. Matur suwun bu Tien πŸ™πŸ‘

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat

    ReplyDelete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
    Semoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,07 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah maturnuwun bu Tien senja sudah tayang, semoga ibu selalu sehat penuh berkah dan sll dlm lindungan Allah SWT aamiin yra.... salam aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang. suwun Bu Tien. Semoga sll sehat sekeluarga. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah dah tayang, maturnuwun Bu Tien, selalu membuat para pembaca tertarik jatuh hati PD cerbungnya Bu Tien, kalau terlambat pasti kangen....semoga buTien tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 07 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah Arka Senja or Senja-nya Arka
    Syukron nggih Mbak Tien
    ❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  14. Mks bunda Arka dan Senja sdh hadir....selamat malam bun, smg bumda sekelrg selalu sehat

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah cerbung yg di tunggu sdh hadir mksh Bu Tien smg sll diberikan kesehatan umur yg barokah

    ReplyDelete
  16. Terimakasih bunda Tien, sehat, semangat dan bahagia selalu. Tak lupa, Selamat Hari Raya Idul Adha, mohon maaf lahir batinπŸ™πŸ™πŸ₯°πŸ₯°

    ReplyDelete
  17. Dengan cinta, apapun bisa dilakukan, termasuk melewati Selat Hormuz...

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 07

  NAMAKU TETAP SENJA  07 (Tien Kumalasari)   Mbok Mangun sudah duduk di kursi makan, menunggu Rimba segera menyusul. Tapi Rimba tak kunjung ...