NAMAKU TETAP SENJA 05
(Tien Kumalasari)
Pak Daryono menenangkan Arka yang tampak gelisah karena ucapan sang ayah.
“Sudah, tenangkan hati kamu Arka, kami tidak tergesa-gesa. Rosa juga pasti akan sabar menunggu, jadi selesaikan dulu masalah perusahaan, sambil kamu menenangkan diri. Kamu masih muda, barangkali mendengar masalah perjodohan sangat membuat kamu terkejut.”
Walau tampaknya menghibur, tapi nada menyetujui keinginan sang ayah masih tampak nyata. Menunggu, bukan menolak.
Arka tersenyum dan mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.
“Lalu kenapa ini kamu juga sudah berdiri di sini, ayo kita lanjutkan bincang-bincang kita,” kata pak Daryono kepada pak Wiguna, ayah Arka.
“Ibunya sudah lelah. Dia itu tensinya selalu tinggi, tidak bisa duduk lama, jadi aku akan pamit dulu.”
“Iya, maaf ya pak,” sambung bu Wiguna yang sudah menyusul keluar.
“Baiklah, kalau ada hubungannya dengan kesehatan, aku tak bisa menghalanginya. Apa Arka mau tinggal dulu di sini?
”Tidak Om, hari sudah malam, lain kali saja main lagi,” kata Arka sambil berdiri.
“Bener ya Ka, kamu sering-sering main kemari?” kata Rosa.
“Tentu Rosa, nanti om yang akan mengingatkan dia,” yang menjawab adalah pak Wiguna.
***
Pulang dari rumah pak Daryono tidak membuat Arka langsung merasa lega. Di perjalanan pulang, sang ayah masih selalu mengomelinya karena sikap Arka yang dingin dan tidak tampak ramah.
“Kamu harus tahu, perjodohan itu hal yang mutlak. Bagaimanapun kamu tidak bisa menolaknya.”
Arka tak menjawab, yang menjawab adalah sang ibu.
“Pak, beri waktu Arka untuk berpikir. Tampaknya dia belum siap, jadi setiap kali Bapak mengingatkan tentang perjodohan itu, perasaan Arka jadi tertekan.”
“Aku hanya mengingatkan dia, bahwa dia punya kewajiban untuk memenuhi permintaan pak Daryono yang ingin bermenantukan Arka.”
“Arka bukan anak kecil, pasti dia tak akan lupa.”
“Ibu selalu begitu. Kalau kita bersikap lunak, Arka akan semaunya. Dia itu banyak yang suka, sejak masih kuliah dulu. Kalau dia tergoda pada salah satunya, rencana perjodohan ini bisa berantakan. Aku yang malu pada pak Daryono dan keluarganya.”
“Tidak usah terlalu begitu. Perjodohan bukan masalah sepele, sudah benar kalau Arka minta waktu.”
“Ya sudah, terserah Ibu ya, nanti kalau sampai terjadi apa-apa, itu tanggung jawab Ibu.”
***
Ketika para tamu sudah pulang, pak Daryono mengingatkan Rosa agar tidak terlalu kelihatan mengejar-ngejar Arka.
“Kamu itu perempuan, malu kalau kelihatan suka banget sama dia.”
“Papa bagaimana sih, kan Papa sendiri yang menjodohkan Rosa sama Arka, jadi wajar kalau Rosa bersikap terbuka pada Arka. Apa salahnya sama calon suami bersikap akrab dan mesra.”
“Tidak usah terlalu diperlihatkan. Seorang gadis harus bisa menjaga kewanitaannya. Lagi pula Arka tampaknya belum siap. Mungkin hal ini terlalu tiba-tiba bagi dia.”
“Bagaimanapun dia harus sadar bahwa dia sudah punya tunangan.”
“Belum tunangan. Dijodohkan bukan berarti sudah resmi menjadi calon. Bersabarlah dan bersikap lebih baik dan santun, agar siapapun calon suami kamu, tak akan kecewa.”
“Rosa akan sering pergi ke sana agar kami bisa semakin dekat.”
“Tapi jaga sikapmu, jangan membuat malu keluarga. Ingat, perjodohan itu hanya antara orang tua, semuanya tergantung yang menjalani.”
Walaupun mendengarkan sambil mengangguk-angguk, tapi Rosa tetap berpendapat bahwa Arka harus selalu didekati, agar perasaan cintanya segera tumbuh. Rupanya Rosa tidak tahu bahwa terkadang seorang laki-laki merasa risih terhadap sikap yang terlalu berlebihan. Jinak-jinak merpati lebih menyenangkan bukan?
***
Pagi hari itu Arka masih tampak muram. Ia bangun pagi-pagi ketika sang ayah belum keluar dari kamarnya. Tapi Arka mendapati ibunya sedang membuat kopi di dapur. Setiap pagi selalu begitu. Menyiapkan minuman hangat untuk keluarga selalu ditanganinya sendiri, bukan oleh pembantu.
“Arka, pagi-pagi kamu sudah rapi? Seperti mau olah raga begitu?”
“Iya, sedang pengin jalan-jalan pagi dengan sepeda."
“Oh, bagus sekali. Minum dulu kopinya, sudah ibu buatkan.”
Arka duduk, di meja makan, di mana sang ibu meletakkan dua gelas kopi, untuk dirinya sendiri dan untuk sang ibu.
“Wajahmu muram sejak kemarin.”
“Bu, Ibu kan tahu, Arka tidak suka gadis itu.”
“Ayahmu sudah bicara dengan pak Daryono. Memangnya kenapa dengan Rosa? Bukankah dia cantik, pintar, menawan.”
“Tapi Arka tidak suka.”
“Kenapa? Apanya yang membuat kamu tidak suka? Kalau ada sikapnya yang membuat kamu tidak suka, mintalah agar dia merubahnya.”
“Mana bisa bu, kalau itu memang sudah pembawaannya, sampai kapanpun akan selalu begitu.”
“Apanya sih, yang kamu tidak suka?”
“Arka tidak bisa mengatakannya.”
Arka menyeruput kopinya.
“Tuan muda, sepeda sudah di siapkan di depan,” kata salah seorang pembantunya.
“Ya. Terima kasih.”
Arka masih menghirup kopinya.
“Kamu kan tahu Ka, orang tua selalu memilihkan yang terbaik bagi anaknya.”
“Terbaik bagi bapak, belum tentu terbaik bagi Arka.”
“Ka, lebih baik kamu tidak menentang ayahmu. Kamu adalah putra tunggal kami. Pewaris kerajaan bisnis ayahmu, jadi kamu harus mendapat pasangan yang tepat. Bukan untuk kehidupan pribadimu, tapi juga untuk kelangsungan bisnis yang sedang kamu tangani.”
“Jadi Arka dijadikan tumbal agar bisnis kita berjalan pesat?”
“Jangan bicara kasar begitu. Mana ada anak dijadikan tumbal?”
Arka tak menjawab, ia menghabiskan kopinya lalu beranjak ke depan.
“Tidak sarapan roti dulu, tuh baru dipanggang bibik,” cegah sang ibu.
“Nanti saja Bu,” katanya sambil berlalu.
Dan tak lama kemudian dia sudah mengayuh sepedanya, keluar dari halaman.
Hari masih pagi, udara dingin segar menerpa tubuh Arka, ia mengayuh sepedanya, bukan sekedar agar badan menjadi sehat, tapi sesungguhnya ada yang dicarinya.
***
“Mengapa Arka tidak kelihatan sarapan bersama kita?” tanya pak Wiguna kepada istrinya, sambil menghadapi segelas kopi dan beberapa potong roti bakar.
“Dia keluar sejak tadi.”
“Ke mana?”
“Katanya hanya mau jalan-jalan dengan sepedanya.”
“Tumben.”
“Tidak apa-apa, bersepeda di udara pagi itu bagus. Udara masih bersih dan sehat. Kalau aku tidak cepat lelah, mau juga bersepeda setiap pagi.”
“Kamu sedang tidak begitu sehat, jalan kaki saja pelan-pelan, tapi jangan terlalu jauh. Kalau mau akan bapak temani.”
“Besok saja, sekarang sedang ingin istirahat di rumah.”
“Jangan terlalu capek.”
“Iya, aku tahu. Tapi sebenarnya Bapak yang butuh olah raga, agar badannya tidak terlalu gemuk begitu.”
“Ya, kapan-kapan. Aku tuh malas olah raga.”
“Harusnya tidak malas, agar sehat, jangan sampai sakit-sakitan seperti aku.”
“Tidak, kamupun harus sehat, rajin kontrol, makan juga harus hati-hati.”
“Iya, aku tahu.”
“Aku sedang kesal sama Arka.”
“Kenapa? Masalah perjodoan itu? Aku kira Bapak tidak usah terlalu memaksa.”
“Tidak memaksa bagaimana? Aku dan pak Daryono sudah bicara dan itu serius.”
“Kemarin pak Daryono bicara lunak, membiarkan Arka berpikir dan menenangkan diri. Jadi Bapak juga harus bersikap begitu. Bukan seperti memaksa, dan sedikit-sedikit marah. Kasihan Arka.”
“Arka harus mengerti.”
“Kalau Bapak kelihatan memaksa, dia justru kesal. Perjodohan bukan hal sepele. Harus menunggu kalau hati mereka sudah menyatu dan setuju menjalani hidup bersama.”
“Anak sekarang harus dipaksa. Kalau tidak, dia keburu jatuh cinta kepada gadis lain. Aku tidak mau. Rosa sudah sangat pas untuk Arka.”
Sang istri hanya menghela napas menyaksikan kekerasan hati suaminya.
***
Hari memang masih pagi, tapi Arka yang mengayuh sepeda sudah berkeringat. Lama tak mengendarai sepeda, membuatnya agak lelah. Tapi ia terus mengayuhnya pelan, Ia mengangkat tangannya, melihat arloji yang dikenakannya.
“Baru jam setengah tujuh lebih."
Kakinya terus mengayuh. Ia tahu kemana tempat yang harus dituju. Rumah simbok. Eh, bukan, rumah Senja. Arka sudah tahu karena kemarin mengikuti dengan mobilnya. Ia tahu dari pembicaraan yang hanya sekilas kemarin, bahwa Senja masih bersekolah. Bukankah Senja mengatakan bahwa ibunya menjual beras yang hasilnya untuk biaya sekolah kedua anaknya?
Dan akhirnya ia melihatnya. Gadis berkerudung putih dengan bawahan abu-abu, mengayuh sepedanya perlahan. Senyum Arka merekah. Ia suka melihat Senja marah-marah. Matanya itu yang membuatnya tertarik. Karenanya ia memutar sepedanya tepat di sampingnya, lalu berhenti tepat di depannya.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tienπ
ReplyDeleteSamo2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Salam aduhai hai hai
Sami2 ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda
Semoga sehat slalu beserta keluarga
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,05 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu Tien π
ReplyDeleteSami2 pak Bambang. Masih suka baca di fb?
DeleteAlhamdulilah, maturnuwun bu Tien ... salam sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Sri.
DeleteAduhai aduhai
ππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eNTeeS_05 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππππππππ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....
ReplyDeleteSami2 ibu Reni..
DeleteMaturnuwun Bu Tien cerbung yg ditunggu sdh tayang smg Bu Tien sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 05 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 ibu Susi
DeleteTerima ksih bunda cerbung NTS 05..slm sehat dan aduhai unk bundaππ₯°πΉπ
ReplyDeleteSami2 ibu Farida. Salam aduhai
DeleteAlhamdulillah.... Terimakasih bunda Tien, cerbung Namaku tetap Senja eps 05 sudah tayang, sehat dan bahagia selalu, aduhaii
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien bersama keluarga selalu sehat, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteArka hebat, Senjalah yang menarik hatinya...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...