NAMAKU TETAP SENJA 04
(Tien Kumalasari)
Senja mengayuh sepedanya sambil tersenyum-senyum. Malaikat penolong yang sangat ganteng itu sangat baik hati. Tahu udara panas, dia membelikan es buah untuk dibawa pulang. Ia bahkan ingat siapa nama dirinya, tapi dirinya lupa menanyakan siapa nama penolong itu.
Begitu memasuki halaman rumah yang tidak seberapa, ia melihat simbok duduk diatas bangku. Tampaknya simbok menunggunya.
“Mbok, kenapa tidak istirahat?”
“Kamu itu dari mana saja?”
“Lho, simbok gimana sih, kan Senja mengantarkan beras pesanan? Simbok juga tahu etika Senja berangkat?”
“Kok lama sekali?”
“Yang punya rumah sedang pergi, Senja menunggu beberapa saat lamanya. Habis kalau ditinggal, uangnya bagaimana?” kata Senja sambil mengulurkan uang pembayaran beras kepada simboknya.
“Mbak Senja bawa apa?” Rimba yang keluar dari rumah melihat sesuatu tergantung di sepeda kakaknya.
“Baunya harum,” katanya sambil mendekat.
“Ambillah, dan tempatkan di wadah. Itu es buah.”
“Kamu beli es buah segala?”
“Tidak, itu diberi orang.”
“Cuci kaki tangan dulu, ganti bajumu, itu kan berdebu, setelah itu kemari, kamu belum cerita apa-apa. Banyak yang simbok bingung, tidak mengerti."
“Baiklah, Senja membersihkan diri dulu,” kata Senja sambil beranjak ke belakang.
Di dapur ia melihat Rimba sedang menuang tiga bungkus es buah ke dalam sebuah mangkuk yang agak besar.
“Bawa ke depan, dan juga bawakan simbok gelas dan sendok, biar simbok mencicipinya,” pesannya kepada sang adik.
***
Ketika Senja sudah selesai membersihkan diri dan berganti baju, ia segera menemui simboknya.
“Seger, dan sehat, banyak buah-buahnya,” kata simbok sambil menyendok es buahnya dengan lahap. Demikian juga Rimba.
Senja tak mau kalah. Udara panas yang baru saja diterjangnya membuatnya sangat dahaga. Ia mengambil gelas yang masih kosong dan mengambil es buahnya.
Setelah beberapa sendok dilahapnya, barulah dia bercerita. Tentang hampir diserempet kendaraan, tentang berasnya yang ambyar, tentang malaikat penolong ganteng yang baik hati, yang membayar lebih harga beras yang tumpah. Padahal dia bisa pulang dan membersihkan berasnya dan mengirimnya, dengan menambahinya lagi yang tak seberapa banyak, lalu mengirimkan kepada pemesan, dan tentu saja juga mendapat bayaran.
“Ya ampun Nduk, tadi itu uangnya masih sisa banyak. Kamu harus mengembalikannya kepada tuan ganteng yang memberi uangnya.”
“Tadi saya sudah bilang kelebihan, tapi dia bilang ambil saja sisanya. Habis itu dia langsung naik mobilnya dan pergi.”
“Dia orang kaya.”
“Dan baik hati. Ketika mau pulang setelah mengirimkan beras, Senja ketemu lagi lho Mbok.”
“Waduh, padahal uangnya tidak kamu bawa.”
“Percuma Mbok, dia tidak akan mau. Malah es buah ini tadi juga dia yang memberi.”
“Dia membawa es buah, lalu diberikannya ke kamu?”
“Tidak, dia berhenti untuk beli, lalu mengejar Senja dan memberikannya.”
“Syukurlah, ketemu orang baik. Kamu sudah mengucapkan terima kasih?”
“Ya sudah Mbok, berkali-kali, malah.”
“Ya sudah, sekarang istirahatlah. Sebentar lagi waktunya kalian belajar, simbok mau menghitung-hitung, besok harus pesan beras lagi karena persediaan sudah menipis."
“Kalau simbok pesan, berasnya dikirim kan?”
“Ya dikirim Nduk, masa simbok membawa sekwintal beras.”
***
Arka sampai di rumah sudah sore, dan tanpa diduga sang ayah sudah menunggu. Ia menyambutnya dengan wajah yang sangat masam.
“Kamu ke mana saja? Bapak menelpon kantor, katanya kamu sudah pulang sejak lama, mengapa baru sampai saat sore begini?”
“Hanya beli sesuatu, kebutuhan Arka sendiri,” katanya sambil berlalu, tapi sang ayah menghentikannya.
“Arka, bapak masih mau bicara.”
Arka berhenti melangkah, menatap sang ayah.
“Duduklah, masa bicara sama orang tua sambil berdiri begitu?”
Arkapun duduk, wajahnya muram.
“Kamu sudah membatalkan rapat sore ini kan?”
“Sudah.”
“Bagus. Undangan dari keluarga Daryono tidak bisa disepelekan. Dia itu penopang terbesar bagi perusahaan kita. Kalau tidak ada pak Daryono, kita sudah bangkrut karena ada yang berusaha menghancurkannya.”
“Bukankah Bapak sudah membayar semuanya?”
“Utang bapak sudah bapak kembalikan, tapi itu kan hutang berbentuk uang, sedangkan hutang budi itu tak akan terbayar selamanya.”
Arka terdiam, ia berpikir tentang perjodohan, dan itu karena hutang budi? Wajah Arka bertambah muram.
“Oleh karena itu Ka, jangan sampai kita mengecewakannya. Kamu mengerti?”
“Apakah hutang budi itu harus ditebus dengan kehidupan Arka?”
Sang bapak sangat marah. Ia tahu bahwa jawaban itu adalah ujud dari penolakan Arka atas perjodohan itu.
“Apa maksudmu? Apakah keinginan pak Daryono itu akan membuat hidup kita sengsara? Kamu menjadi menantu keluarga kaya raya dan terpandang. Istrimu cantik dan tidak mengecewakan. Apa lagi yang kamu cari?”
Lagi-lagi Arka tak menjawab. Sepatah kata jawaban akan menjadi lontaran kemarahan yang bertubi-tubi. Ia yakin jawaban apapun tak akan membuat sang ayah puas. Dari semua kalimat yang diutarakannya, adalah sesuatu yang harus dijawab ‘ya’. Tidak boleh tidak.
“Jangan diam saja. Apa kamu bisu?”
“Arka harus menjawab apa?”
"Kamu mengerti apa yang bapak utarakan itu tadi kan?”
“Mengerti.”
“Baiklah, pergilah istirahat. Jam tujuh kita sudah harus berangkat.”
Bulu kuduk Arka meremang. Harus bertemu dengan calon istri dan calon mertua yang tidak dikehendakinya?
Arka bangkit, tak boleh tidak, harus menurutinya, kalau tidak, rumah ini bisa roboh karena teriakan marahnya.
***
“Arkaaaa,” teriakan manja yang keluar dari mulut tipis Rosa.
Memang Rosa cantik, kulitnya putih bak pualam, bibirnya tipis, matanya jernih bagai sepasang bintang. Tapi tidak, mata itu tampak seperti … apa ya, menurut Arka, ada sedikit liar, atau galak, atau … pokoknya sesuatu yang tidak baik.
“Aku senang akhirnya kamu bisa datang,” kata Rosa sambil menggandeng tangan Arka untuk diajaknya masuk. Ia lupa memberi salam kepada kedua orang tua Arka yang datang bersamanya. Tapi tampaknya mereka tak peduli. Ditengah pintu, setelah Rosa mengajak Arka msuk, pak Daryono berdua sudah menyambut, saling bersalaman dengan hangat.
Arka tak banyak bicara kecuali kalau ditanya. Tapi ia berusaha bersikap baik agar tak membuat ayahnya marah.
Setelah makan, Rosa mengajak Arka duduk di teras. Arka bersyukur karena tak harus berbaur dengan orang-orang tua yang pasti akan menekan dirinya tentang perjodohan itu.
“Arka, kamu kelihatan tak suka sejak tadi. Kenapa sih?”
“Aku harus membatalkan rapat penting dengan klien gara-gara undangan makan malam ini, jadinya aku kepikiran terus."
“Arka, kalau memikirkan pekerjaan terus, tak akan pernah ada habisnya. Ada saatnya kamu harus memikirkan diri kamu sendiri.”
“Aku baru belajar terjun ke bisnis ayahku, banyak yang harus aku pelajari, karena aku diserahi tanggung jawab agar perusahaan terus berjalan dan semakin baik.”
“Masalah pekerjaan itu di kantor. Saat di rumah, semuanya harus kamu lepaskan. Apalagi saat ini, orang tua kita sedang membicarakan tentang perjodohan kita."
“Rosa, aku kira saat ini aku belum bisa memikirkan masalah perjodohan. Aku belum ingin menikah.”
“Apa kamu lupa bahwa kita sudah dijodohkan?”
“Aku tahu, tapi aku belum bisa menjalani.”
“Sampai kapan?”
“Kamu harus bersabar.”
“Apakah itu artinya kamu menolak?”
“Tidak sepenuhnya begitu. Aku hanya ingin ada ruang waktu untuk berpikir, karena aku sedang fokus pada perusahaan.”
“Apa maksudmu berkata begiu Arka? Kamu tidak bisa menolak," tiba-tiba sang ayah muncul didekatnya.
“Bukankah Arka juga sudah pernah bilang bahwa Arka minta waktu untuk berpikir?”
“Ya sudah, tidak usah ribut masalah ini dulu. Arka benar, biarkan dia berpikir, apalagi dia sedang belajar mengendalikan usaha orang tua, ya kan mas?” kata pak Daryono nimbrung. Rupanya orang tua Rosa bisa berpikir lebih jernih.
“Tidak bisa begitu, ini sudah diputuskan, mau tidak mau Arka harus menjalaninya.”
Dan Rosa tampak tersenyum senang.
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien๐
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, mugi2 ibu sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien salam sehat selalu..๐๐๐
ReplyDeleteAlhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,04 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Sehat slalu
Udah ada komplik nih... Semakin penasaran...
Matur nuwun Dhe, eNTeeS_04 sdh dihadirkan. Senja yang ceplas-ceplos, Risa yang sombong dan sok kaya...
ReplyDeleteSelamat malam dan selamat beristirahat.
AlHamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga Bunda Dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah namaku tetap senja sudah hadir menyapa maturnuwun bu Tien, semoga bu Tien sekeluarga selalu sehat dan bahagia ....salam hangat dan aduhai hai hai bun ❤️❤️❤️❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah mtrnwn Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 04 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐คฒ๐⚘๐ท
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️๐น๐น๐น๐น๐น
Matur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.
Terima kasih cerbung baru sudah muncul dan semoga Bu Tien diberi kesehatan agar terus berkarya
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta..๐
ReplyDelete