Tuesday, May 19, 2026

NAMAKU TETAP SENJA 01

 NAMAKU TETAP SENJA  01

(Tien Kumalasari)

 

Rumah itu kecil, sederhana, tapi kelihatan bersih dan rapi. Lantainya dari semen biasa, tapi kelihatan mengkilap karena setiap hari di pel dengan ampas kelapa. Itu kebiasaan mbok Mangun, penjual beras kecil-kecilan yang melayani beberapa pelanggan demi menyekolahkan kedua anaknya. Senja seorang gadis hitam manis yang menginjak dewasa, sudah hampir lulus SMA, sedangkan Rimba, laki-laki kecil masih duduk di SD kelas lima.

Mbok Mangun seorang janda. Suaminya yang kuli bangunan meninggal dalam sebuah musibah ketika bekerja.

Tiga tahun berlalu, dan mbok Mangun memeras keringat demi melanjutkan hidup, seorang diri, karena ia ingin anak-anaknya tak buta hurup seperti dirinya.

Terkadang ia menggendong bakul, untuk mengantarkan pesanan seorang diri, berjalan beberapa kilometer, karena pelanggannya memang terkadang jauh dari rumahnya. Mbok Mangun memilih mengantarnya sambil berjalan, karena agar  keuntungannya utuh tidak terkurangi untuk membayar angkutan.

Terkadang kalau libur sekolah, Senja membantu mengantarkan pesanan dengan naik sepeda, yang biasanya dipergunakan untuk sekolah.

Hari itu Senja pulang sekolah, dan merasa senang karena simbok ada di rumah, sedang menunggunya di meja makan kecil sederhana di ruangan sempit. Rimba sudah duduk sambil mengunyah sepotong tempe goreng. Senja mendekati simboknya dan mencium tangannya. Mbok Mangun biarpun orang kebanyakan, tapi mengajarkan sopan santun yang sangat baik, dan menuntun kedua anaknya untuk tidak melakukan hal yang menyimpang dari kebenaran.

“Baru pulang Nja?”

“Iya Mbok, ada tambahan pelajaran, karena sebentar lagi ujian.”

“Cepat cuci kaki tanganmu dan ganti baju, adikmu sudah kelaparan nih,” kata mbok Mangun sambil tersenyum melihat Rimba menghabiskan sepotong tempe goreng.

Senja bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian rumah, lalu ikut duduk bersama mereka.

“Simbok tidak ke mana-mana hari ini? Kok sempat masak juga?”

“Sudah pagi tadi, mengantar beras pesanan bu Mantri sama bu Citro, pulangnya mampir pasar lalu masak sayur asem dan tempe serta tahu goreng. Ayo makanlah  Nak.”

Senja mengambilkan nasi untuk sang simbok, lalu adiknya, baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.

“Masakan simbok selalu enak,” kata Rimba.

“Tentu saja, simbok memasak dengan bumbu yang lebih,” sahut Senja.

“Bumbu yang lebih itu apa?”

“Kasih sayang,” jawab Senja setelah menelan makanannya.

Simbok tersenyum. Senang sekali melihat kedua anaknya makan dengan lahap, walau hanya dengan lauk sederhana.

“Besok setelah lulus, aku tidak akan melanjutkan kuliah.”

“Tidak ingin? Lihat anaknya pak lurah, dia kuliah dan katanya kalau lulus akan menjadi ingsinyur …”

“Kuliah itu mahal mbok, sedangkan pak lurah kan uangnya banyak. Tidak apa-apa Senja membantu simbok saja. Kalau pelanggannya banyak, simbok bisa menabung untuk biaya sekolah Rimba. Rimba kan laki-laki, sekolah tinggi lebih pantas, tapi ya … kalau biayanya ada. Kuliah itu mahal. Hanya kebanyakan orang-orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya.”

“Ya sudah, jangan dipikirkan sekarang. Makan yang banyak, habiskan nasinya, nanti simbok masak nasi lagi untuk makan malam.”

Rimba mengangguk senang. Sudah biasa kalau anak laki-laki harus punya porsi berlebih. Simbok tidak melarangnya. Anaknya harus sehat dan kuat. Itu sebabnya ia rela berpanas-panas setiap hari dengan menggendong bakul berisi beras.

***

Pagi sebelum berangkat sekolah, Senja membantu membersihkan rumah, dan menyirami tanaman di pot kecil, agar rumah sederhana itu tampak segar dengan warna hijau dari tumbuh-tumbuhan.

“Mbok, sekarung beras ini Simbok siapkan untuk siapa?”

“O, itu untuk pelanggan simbok dekat pasar sana. Itu langganan lama. Bu Said, kamu tahu kan?  Nanti akan simbok antar sebentar lagi. Kalau bisa simbok mau masak dulu. Kemarin sudah sekalian beli sayur untuk hari ini.”

“Apa harus diantar pagi?”

“Tidak juga, kalau siang kan panas, jadi lebih baik diantar pagi, soalnya pesannya sekarung itu.”

“Kalau simbok mau, nanti Senja antarkan sepulang sekolah.”

“Nanti sepulang sekolah? Apa kamu tidak capek?”

“Ya tidak Mbok, cuma begitu saja capek. Boleh ya Mbok?”

“Soalnya sekarung beras, kan berat.”

“Senja kan naik sepeda, nanti diikat di boncengan.”

“Ya sudah, terserah kamu saja. Simbok antarkan yang dekat-dekat sini, belinya kan sedikit-sedikit.”

“Senja mandi dulu ya Mbok, sudah selesai bersih-bersihnya."

“Ya, sana. Kelihatannya Rimba juga sudah selesai mandi. Setelah siap, sarapan dulu, simbok membuat nasi urap dan ikan asin goreng.”

“Wah, enak sekali,” pekik Senja sambil setengah berlari ke belakang, menuju kamar mandi.

Mbok Mangun tersenyum. Bahagia adalah ketika melihat kedua anaknya sehat dan bersemangat.

***

Ketika kedua anak sarapan, mereka mendengar suara agak keras di depan. Tampaknya ada orang berbincang dengan simboknya. Senja meminta adiknya melanjutkan sarapan, dia sendiri bangkit dan berjalan keluar. Tapi simboknya sudah masuk ke dalam kamarnya, dan ‘tamu’ itu sudah tak ada.

Senja kembali ke ruang makan, menghabiskan sarapannya. Ketika selesai, Senja mengemasi piring-piring kotor dan membawanya ke tempat cucian piring.

“Tinggalkan saja di situ, biar simbok yang mencuci, nanti kamu terlambat ke sekolah. Lagipula nanti baju seragam kamu basah.”

“Nanti Senja cuci sepulang sekolah ya Mbok.”

“Nanti gampang. Sudah, berangkat sana, Rimba sudah menunggu tuh.”

“Tadi Simbok bicara dengan siapa?”

“O, itu pak Diran,” jawab mbok Mangun singkat.

“Bicaranya keras sekali.”

“Sudah biasa begitu, nggak bisa bicara pelan.”

“Apa dia marah-marah?”

“Tidak, hanya mengatakan bahwa ada iuran sampah yang belum simbok bayar.”

“Sekarang sudah? Banyakkah?”

“Tidak banyak, sudah simbok bayar. Sudah sana, tuh, adikmu sudah nangkring di boncengan."

Senja mencium tangan simboknya, kemudian mengambil sepedanya, dan berangkat sambil memboncengkan adiknya.

Mbok Mangun menatapnya dengan mata penuh haru.

“Mereka masih anak-anak. Tidak harus merasakan susahnya kehidupan ini. Mereka harus selalu ceria dan bersemangat, barulah aku bahagia,” gumamnya pelan, lalu melangkah ke belakang. 

la sudah berjanji akan memasak dulu sebelum menjajakan berasnya.

Sambil memetik sayur, ia memikirkan kedatangan pak Diran. Ia bukan mengingatkan iuran sampah. Ia menagih utang. Ia butuh uang ketika kenaikan kelas anak-anaknya, dan uang yang ada belum cukup. Pak Diran adalah RT di kampungnya, kaya raya, tapi dia seorang rentenir. Mbok Mangun terpaksa, karena tak ingin anak-anaknya berhenti sekolah.

***

Ketika pulang sekolah, Senja melihat Rimba sudah lebih dulu di rumah. Ia sedang menunggunya.

“Simbok belum pulang?”

“Belum, tapi makan siang kita sudah siap, sebelum berangkat tadi simbok berpesan, kalau sepulang sekolah harus langsung makan, semua akan disiapkan.”

“Baiklah, mbak ganti baju dulu, kamu makan dulu sana.”

Rimba mengangguk, dan berlari kecil pergi ke ruang makan.

Ada sup sayur tanpa daging dan tahu bacem, tapi aromanya menggugah selera.

Siang itu mereka makan siang berdua. Sering seperti itu, kalau simboknya belum pulang dari menjajakan beras.

“Nanti setelah makan, aku mau mengantarkan pesanan beras.”

“Iya, apa aku boleh ikut?”

“Mau ikut gimana, boncengannya akan mbak buat naruh berasnya. Nanti kamu bantu mengangkatnya ya, harus di tali supaya kuat.”

“Baiklah, nanti aku bantu.”

“Mbak cuci piring dulu, lalu bersiap mengirim beras.”

“Baiklah.”

Rimba membantu membersihkan meja makan, sementara Senja mencuci piring bekas makan.

***

Panas begitu terik, tapi Senja bersemangat mengayuh sepedanya. Agak berat karena beras sekarung ada di boncengannya.

Tapi Senja tidak mengeluh. Tempatnya agak jauh, tak bisa Senja bayangkan kalau sang simbok menggendong beras sekarung itu dipunggungnya lalu berjalan sejauh itu. Dan itu tidak hanya sekali. Diam-diam air mata Senja menetes.

“Setelah lulus aku akan membantu simbok,” bisiknya sambil sebelah tangannya mengelap peluh di dahinya.

Di sebuah tikungan, sebuah sepeda motor hampir menabraknya. Memang tidak sampai menabrak, tapi keseimbangan Senja terganggu dan sepedanya jatuh.

Karung beras itu terkoyak dan berasnya jatuh terburai.

***

Besok lagi ya.

20 comments:

  1. Matur suwun bu Tien πŸ‘πŸ™

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu

    ReplyDelete
  3. Alhamdullilah bundaaa cerbungnya sdh tayang..smg bunda sll sehat walafiat y..slm seroja dan aduhai unk bunda bersm bpk πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA~01 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah cerbung baru sdh tayang, mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu diberi sisa umur yg barokah, aamiin

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah cerbung baru sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah cerbung baru sdh mulai tayang maturnuwun bu Tien, salam.sehat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, terima kasih Bunda Tien Kumalasari, sudah menghadirkan cerbung baru , buat kita semua, semoga selalu sehat ya bunda , salam Aduhai dari Pasuruan Aamiin,

    ReplyDelete

  9. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *NAMAKU TETAP SENJA 01* sudah hadir...
    Semoga selalu sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  10. Mks bunda, cerbung namaku senja episode 1 sdh tayang.....selamat malam bun, sehat² sll

    ReplyDelete
  11. Mks bunda, cerbung namaku senja episode 1 sdh tayang.....selamat malam bun, sehat² sll

    ReplyDelete
  12. Assalamu'alaikum
    Trimaksih Bunda Tien NTS nya , saya tunggu cerita selanjut nya besok malam , tetap Sehat dan bahagia πŸ€—πŸ˜

    ReplyDelete
  13. " Namaku Tetap Senja 01 " Alhamdulillah cerbung sudah tayang . Maturnuwun Bunda semoga sehat wal afiat selalu bersama keluarga . Aamiin

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,01 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah eNTeeS_01 sudah tayang.
    Terimakasih Mbak Tien sehat selalu dan selalu sehat ya, agar tetap bisa berkarya menyalurkan hobby menulis cerbung

    ReplyDelete

NAMAKU TETAP SENJA 01

  NAMAKU TETAP SENJA  01 (Tien Kumalasari)   Rumah itu kecil, sederhana, tapi kelihatan bersih dan rapi. Lantainya dari semen biasa, tapi ke...