Tuesday, March 31, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 03

SAKITKU ADALAH CINTAKU  03

(Tien Kumalasari)

 

“Zein … “ Indras langsung menyapa.

“Maaf In, aku tidak mengangkat panggilan telpon kamu, dan juga tidak membalas pesan kamu.”

“Kamu marah?”

“Awalnya ingin marah. Tapi sudahlah, bukankah itu kenyataan?”

“Zein, aku minta maaf. Barangkali kamu mendengar sesuatu yang membuat kamu kesal dan marah.”

“Kamu tahu, kalau aku mendengar sesuatu?”

“Aku tahu, dan aku menyesali semua. Kamu tidak usah berkecil hati. Yang penting aku masih tetap Indras yang akan selalu ada di dekat kamu.”

“Terima kasih. Tapi untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa datang ke kampus.”

“Kamu sakit?”

“Ayahku yang sakit. Aku harus menungguinya, sementara ibuku harus tetap berjualan karena harus menghasilkan uang untuk biaya obat dan lain-lain.”

“Ayah kamu ada di rumah sakit?”

“Malam ini masih ada di rumah sakit, tapi besok ibu akan memintanya agar rawat jalan saja.”

“Kalau memang masih harus dirawat, mengapa meminta rawat jalan?”

“Kamu tahulah In, keluargaku tidak mampu membiayai perawatan di rumah sakit.”

“Katakan berapa, barangkali aku bisa membantu.”

“Tidak, aku mohon, jangan lakukan itu. Keluarga aku tidak akan mau. Nanti aku akan bertambah kelihatan rendah di mata orang tua kamu.”

“Zein, aku tidak akan_."

“Jangan, dan jangan! Kamu juga tidak usah datang ke rumah sakit untuk membezoeknya jugal,” tandas kata Zein.

Ini membuat Indras terdiam. Ia bisa mengerti apa yang dirasakan Zein, dan ia tak akan memaksanya, kalau tak ingin membuat Zein marah.

“Baiklah, aku mengerti. Tapi sebenarnya ayahmu sakit apa?”

“Radang paru-paru, sudah sangat parah.”

“Oh, apa sebelumnya tidak pernah periksa ke dokter?”

“Ayahku keras kepala. Ia perokok berat. Dalam keadaan terbatuk-batuk dia masih juga merokok.”

“Zein, kamu harus bisa membuatnya berhenti merokok.”

“Akan aku usahakan. Ini aku ada di rumah sakit. Ibuku pulang karena esok hari harus berjualan. Tapi selepas itu, ibu mau ke rumah sakit dan meminta ayah agar pulang paksa.”

“Aku prihatin untuk keluarga kamu.”

“Indras, ada buku catatan praktikum tertinggal di laci, tolong kamu ambil dan kamu bawa dulu. Kalau ayahku sudah bisa ditinggal aku akan ke kampus.”

“Baiklah, besok akan aku cari buku itu.”

***

Indras termenung. Ia ingin berbuat sesuatu, tapi bingung bagaimana melakukannya. Zein sudah terang-terangan menolak bantuannya. Zein akan marah kalau dia memaksanya. Atau ia akan memberikan uang saja kepada ibunya? Tapi tidak, Zein bukan orang yang suka mengalah. Kalau dia bilang tidak, maka seharusnya juga tidak. Indras merasa tak akan bisa berbuat banyak untuk menolongnya.

“Ada apa?” Indras terkejut, ternyata sang adik masih ada didekatnya, mengawasinya ketika dia bertelpon.

“Ayah Zein sakit.”

“Mbak akan ke sana? Dirawat di rumah sakit?”

“Ya, tapi besok keluarganya akan membawanya pulang paksa.”

“Karena ….”

“Karena tak mampu membayar biaya rawat inap. Jadi memilih rawat jalan saja.”

“Kasihan. Mbak akan membantu?”

“Tidak. Dia tidak akan mau. Zein orang yang keras kepala.”

“Dan sombong?”

“Bukan begitu. Dia hanya tak ingin merepotkan. Ada alasan yang bisa aku terima, jadi aku memang tak bisa apa-apa.”

“Semoga segera sembuh.”

“Radang paru-paru yang sangat parah.”

“Apa tidak bisa disembuhkan?”

“Hanya Allah yang tahu. Apalagi dengan perawatan seadanya. Tapi mujizat itu ada kan? Semoga bisa disembuhkan.”

“Aamiin.”

***

“Kamu bilang hari ini tidak ke kampus?” tanya sang ayah ketika Indras sudah rapi berdandan.

“Ada sesuatu yang harus Indras kerjakan.”

“Ke kampus?”

“Ya.”

“Kencan lagi dengan laki-laki itu?”

“Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit.”

“Kamu mau membezoeknya di rumah sakit?”

“Tidak.”

“Tapi kamu harus membantu kan, biaya rumah sakit tidak murah,” kata sang ayah, bukan karena belas kasihan.

“Dia tidak akan mau dibantu.”

“Masa?”

“Indras pergi dulu, tadi sudah pamit sama ibu.”

Indras langsung kemuju ke arah mobil yang sudah disiapkannya, tanpa menoleh lagi ke belakang, apalagi untuk mendengar ucapan ayahnya yang pasti akan merendahkan Zein sebagai orang yang tidak punya.

“Sudah berangkat dia?” tanya sang ibu yang tiba-tiba sudah berada di ruang tengah, di mana suaminya sedang duduk sendirian.

“Bukankah tadi sudah pamit sama ibu? Dia bilang begitu tadi.”

“Ya, sudah. Hanya akan mengambil barang yang tertinggal.”

“Ayahnya sakit. Aku mengira dia akan menjenguknya di rumah sakit, atau mungkin akan membantunya. Bukankah biaya rumah sakit itu mahal?”

“Dirawat?”

“Sepertinya dirawat. Tadi Indras bilang begitu.”

“Anak itu sepertinya tak akan pernah berhenti.”

“Aku tidak mengira punya anak yang keras kepala seperti Indras.”

“Dia bukan anak kecil lagi.”

“Apa aku suruh Bagas segera melamar ya? Dia kan pernah bilang suka sama Indras.”

“Yang penting Indras dulu. Biarpun dilamar kalau dia tidak mau?”

“Nanti aku akan bilang setelah pulang. Masa dia akan menolak orang sebaik Bagas?”

***

Siang harinya, Zein harus membawa sang ayah pulang. Pulang paksa karena tak adanya biaya. Pesan dari dokter untuk kontrol setiap seminggu sekali disanggupi oleh Zein. Tak apa bagi mereka, asalkan tidak terbebani dengan biaya kamar inap di rumah sakit.

Begitu pulang Indras sudah menelpon, bahwa buku dan semua catatan yang tertinggal telah dibawanya.

“Terima kasih Indras, barangkali besok aku akan mengambilnya di rumah kamu.”

“Aku bawa saja ke kampus, Zein, jadi kamu datang saja ke kampus.”

“Baiklah, tidak apa-apa.”

“Jadi hari ini ayahmu pulang?”

“Ya, apa boleh buat.”

“Aku ingin membantu, tapi_."

“Tidak, kamu sudah pernah menawarkannya, tapi aku sudah menolaknya. Jangan lakukan itu.”

“Baiklah, katakan saja kalau kamu membutuhkan bantuan. Tapi apakah keadaannya sudah lebih baik?”

“Batuknya mereda, tapi tidak sepenuhnya baik. Hari ini badannya panas, dokter mencegahnya, tapi ibuku nekat. Asalkan diberikan obat sesuai anjuran dokter, katanya pasti sembuh.”

“Zein, kamu seorang calon dokter. Kamu pasti tahu sedikit banyak tentang kondisi ayah kamu.”

“Ya, tentu saja. Aku selalu memantau keadaannya.”

Indras mengangguk trenyuh. Apakah orang tak punya tidak berhak mendapat perawatan sampai dia sembuh karena terbebani oleh biaya?

“Zein, aku minta maaf, ada satu saran yang aku harap kamu mau mendengarkannya. Bagaimana kalau minta surat keterangan tidak mampu agar mendapat keringanan biaya?”

“Mungkin bisa, aku akan bicara dengan ibuku.”

“Semoga ada jalan terbaik untuk keluarga kamu.”

“Terima kasih Indras.”

***

Indras pulang ke rumah dan melihat sang ayah sepertinya sudah menunggu.

“Syukurlah kamu cepat pulang.”

“Indras hanya ke kampus, tidak ke mana-mana.”

“Duduklah, bapak ingin bicara.”

Indras melihat sang ibu juga duduk di samping ayahnya. Indras merasa mereka akan mengomelinya tentang hubungannya dengan Zein. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk menunggu.

“Apa kamu tahu, bahwa Bagas pernah bicara dengan bapak tentang kamu?”

“Bicara tentang Indras? Memangnya kenapa?”

“Bagas menyukai kamu.”

“Oh, iya. Indras sudah tahu.”

“Dia mengatakannya sama kamu?”

“Tidak, Indras merasakan dari sikapnya.”

“Dia laki-laki yang baik. Bapak berharap kamu bisa menerimanya.”

Indras menghela napas berat, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.

“Dengarkan bapakmu, In. Bapak hanya ingin kamu bahagia,” sambung sang ibu.

“Tapi Indras tidak mencintai Bagas.”

“Cinta itu tidak bisa datang tiba-tiba. Asalkan kamu sudah menjadi istrinya dan merasakan bagaimana baiknya dia, cinta pasti akan tumbuh di hati kamu.”

“Maafkan Indras,” kata Indras lirih.

“Kamu tetap akan berpegang teguh pada pendirian kamu tentang laki-laki miskin itu?”

“Dia laki-laki yang baik.”

“Berpegang pada cinta yang akan sia-sia.”

“Mengapa sia-sia Pak?”

“Kamu tidak akan bahagia.”

“Indras mohon, Bapak merestuinya dan mendoakan untuk kebahagiaan Indras,” kata Indras lirih, sedikit gemetar. 

Ingatan tentang Zein membuatnya trenyuh. Saat ini dia pasti sedang sedih karena ayahnya sakit dan tidak punya biaya untuk membayar perawatan di rumah sakit. Sekarang dia harus melukainya dengan menerima cinta Bagas?

Tiba-tiba ponsel Indras berdering. Indras segera mengangkatnya, lalu ia berteriak terkejut.

“Inalillahi wa inaillaihi rojiun.” ucapnya kaget.

***

Besok lagi ya.

41 comments:

  1. Alhamdulilah
    Terimakasih udah tayang
    Sehat slalu ;Bunda. dan keluargs

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  2. 🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂
    Alhamdulillah 🙏🌹
    Cerbung eSAaCe_03 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja 😍
    🍁🍂🍁🍂🍁🍂🍁🍂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete

  3. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 03* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 03" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
    Sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis.
      Sugeng dalu

      Delete
  5. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku adalah cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah....
    eSAaCe_03 sudah ditayangkan.
    Terima kasih mBak Tien semua ga panjenengan sehat wal'afiat bahagia sejahtera lahir batin bersama keluarga tercinta. Tetap semangat berkarya.
    Aamiin Yaa Robbal'alamiin 🤲🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek

      Delete
  7. Bu Tien, judulnya memang ganti jadi "*TANGISKU* ADALAH CINTAKU" ?

    ReplyDelete

  8. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *TANGISKU ADALAH CINTAKU 03* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  9. Mks bun ....selamat malam smg sehat² sll

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Supriyati

      Delete
  10. Ganti judul ya Bu Tien, apa typo...😊🙏

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah cerbung. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 03 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  12. Matur nuwun Bu Tien,semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik

      Delete
  13. Alhamdulilah Cerbung "Tangisku adalah cintaku 03 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
      Aduhaiaduhai

      Delete
  14. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....

    ReplyDelete
  15. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Sakitku adalah Cintaku 03 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.

    Ortu nya Indras aneh..suka memaksakan kehendak.
    Anak nya tdk cinta, di suruh mencintai Bagas..😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  16. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~03 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien 🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  17. Terima ksih bunda cerbungnya..slmt pgi slmt beraktivitas🙏🥰🌹❤️

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 03

SAKIT KU ADALAH CINTAKU  03 (Tien Kumalasari)   “Zein … “ Indras langsung menyapa. “Maaf In, aku tidak mengangkat panggilan telpon kamu, dan...