Saturday, August 30, 2025

MAWAR HITAM 54

 MAWAR HITAM  54

(Tien Kumalasari)

 

Mbok Manis meremas tangan anaknya.

“Sinah, jangan berkata begitu. Kamu akan sembuh, kalau kamu meninggal, simbok tak punya siapa-siapa lagi.”

“Aku hanya anak yang tak berguna.”

“Sinah … sadarlah, simbok menyayangi kamu.”

“Aku bukan Sinah. Namaku Mawar, kamu belum mengerti ya?” walau terdengar lirih dan lemah, tapi perkataannya masih terasa menyentak.

“Sinah … ,” Mbok manis meletakkan tangan Sinah dipipinya yang basah, tapi Sinah melepaskannya.

“Sudah aku katakan kalau aku bukan Sinah. Aku Mawar, pemilik rumah makan yang cantik dan mempesona. Jangan membuatku malu, lebih baik pergilah kalian,” suara masih lemah, tapi ucapannya sangat menyakitkan. Hati mbok Manis serasa dirajang dengan ribuan pisau.

“Kamu boleh menganggap dirimu pemilik perusahaan apa saja, tapi kamu tetap Sinah. Sinah anaknya mbok Manis,” sekarang mbok Manis menangis lebih keras.

“Bikin malu saja, seorang yang digandrungi banyak lelaki, punya seorang ibu yang harus aku panggil simbok, dan dia adalah seorang abdi, pembantu, pesuruh, gedibal. Lebih baik kalian pergi saja,” katanya sambil melambaikan tangannya dengan lemah, sebagai isyarat agar simboknya dan mbok Randu segera pergi.

“Kamu tidak boleh berkata begitu Sinah, memohonlah ampun kepada Allah, kamu berdosa besar karena telah menyakiti simbokmu,” kata mbok Randu dengan suara bergetar. Walau tidak bisa menangis, tapi mbok Randu merasa sakit juga mendengar perkataan Sinah.

“Ini lagi … Sinah … Sinah … Sinah, Aku bukan Sinah, aku adalah Mawar.”

“Tidak peduli kamu Mawar atau melati, tapi kamu terlahir dari rahim simbokmu ini dengan nama Sinah,” kata mbok Randu tandas.

“Lebih baik kalian pergi, Sinah sudah tidak ada, yang ada Mawar … Mawar … hanya Mawar,” bisiknya lemah lalu ia memejamkan matanya.

Mbok Manis menahan tangis yang masih ingin berlanjut, sehingga napasnya terengah-engah.

“Bawa aku keluar … bawa aku keluar ….”

Mbok Randu memapah sahabatnya dengan air mata berlinang. Sebelum membalikkan badannya dia menoleh ke arah Sinah, berkata lebih keras.

“Anak durhaka!”

Keduanya keluar kamar, meninggalkan tubuh terbujur lemah dengan perasaan entah bagaimana, tapi seperti tak peduli, karena tak ada reaksi apapun ketika ia mendengar umpatan mbok Randu.

“Aku bilang apa … aku bilang apa …”

Suara mbok Manis tersendat. Mbok Randu hanya diam, sambil merangkul sahabatnya yang berjalan sempoyongan. Ia tahu sang sahabat sakit, bukan hanya raganya, tapi juga jiwanya. Teramat sakit ketika seorang anak, apalagi anak satu-satunya, bersikap tak manusiawi kepada biyungnya. Pernah sekali disakiti, masih mau mencoba mendekati untuk kedua kali, lalu kembali disakiti seperti dulu. Dalam tubuh lemah dan sakit, dalam suara yang tak lagi mampu berteriak, ucapannya masih setajam pisau, yang mampu mencabik-cabik perasaan sang ibu.

Mbok Randu yang tak memiliki anak, tetap saja menangis mendengar umpatan sekejam itu.

***

Adisoma yang datang hari itu, merasa kesal mendengar cerita mbok Randu tentang Sinah yang berkali-kali menyakiti simboknya.

“Sikapku dulu, ketika memecat Sinah, ternyata memang sudah semestinya. Sinah bukan perempuan baik-baik, dan sekarang terbukti kan?”

“Iya Kangmas, aku juga heran ada anak tidak memiliki kasih sayang kepada orang tuanya.”

“Katakan kepada mbok Manis, tidak usah memikirkan anaknya. Kita ini keluarganya, ya kan Diajeng, dia tidak boleh merasa kehilangan. Barang busuk sudah semestinya dibuang. Barang rusak, apa masih ada gunanya? Kalau bisa diperbaiki, baguslah, tapi kalau tidak?” kata Adisoma berapi-api.

“Benar, Kangmas, nanti aku sendiri yang akan bilang pada mbok Manis, bahwa kita adalah keluarga. Dia tak pantas merasa kehilangan.”

“sekarang bagaimana dengan Dewi?”

“Baik baik saja, sekarang belum pulang. Biasanya dia mampir dulu ke rumah pak Hasbi. Kangmas jangan marah tentang hal itu. Dewi punya perasaan yang halus. Dia merasa kasihan pada pak Hasbi, dan ingin mengobati kesepiannya dengan selalu memperhatikan. Dia merasa menemukan seorang kakek.”

“Iya, aku tahu. Besok aku berencana akan menemuinya, bagaimanapun aku pernah merasa bersalah, membuatnya harus masuk rumah sakit.”

“Bagus sekali, Kangmas, besok kita kesana agak siang, kalau bisa setelah Dewi pulang kuliah.”

“Nanti Diajeng beri tahu dia tentang rencana kita ini, agar dia tidak langsung ke sana, sehingga kita bisa berangkat bersama-sama. Lalu kalau keadaan membaik, aku akan mengajak Diajeng pulang ke Solo.”

“Baiklah, nanti kalau semuanya sudah membaik. Aku masih prihatin tentang sakitnya mbok Manis.”

“Dia tidak cukup minum obat. Lebih baik bawa saja ke rumah sakit, barangkali ia juga butuh psikiater. Bicarakan dengan dokternya.”

“Nanti biar Dewi mengurusnya, aku tidak begitu memahami tentang penyakit sehingga sulit kalau harus berbicara dengan dokternya.”

“Terserah Diajeng saja, yang penting dia segera mendapat penanganan.”

***

Hari itu di rumah pak Hasbi kedatangan beberapa tamu. Mereka adalah ayah dan ibunda dari Dewi yang memerlukan datang untuk meminta maaf. Pak Hasbi tampak sungkan mendengar permintaan maaf itu.

“Mengapa harus meminta maaf. Semuanya sudah berlalu.”

“Saya merasa bersalah telah membuat Bapak harus masuk rumah sakit.”

“Semuanya terjadi karena salah paham. Jangan lagi dipikirkan. Lagipula, dengan dirawat waktu itu, dokter juga mengobati penyakit ‘lupa’ saya. Saya yang tadinya merasa bahwa Dewi adalah Bening cucu saya, dan menganggap dia belum meninggal, kemudian saya jadi teringat dan sadar, bahwa Bening memang sudah tak ada lagi.”

“Tapi Kakek kemudian melupakan aku,” kata Dewi dengan nada merajuk, sambil bergayut dilengan pak Hasbi. Adisoma dan istrinya terharu melihat keakraban mereka. Adisoma tak lagi merasa cemburu, atau merasa kehilangan Dewi. Dewi masih miliknya.

Pak Hasbi tertawa.

“Jangan marah, aku kan sekarang sudah ingat, kamu gadis yang aku tolong saat terluka di pinggir jalan, lalu aku menganggap kamu Bening. Aku sudah pikun.”

“Pikun sebentar, tidak apa-apa, sekarang Kakek sudah ingat siapa aku. Lagipula kalau aku tidak ditolong Kakek, entah bagaimana nasibku. Kakek adalah penyelamatku. Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu harus ingat itu.”

“Aku sekarang mengerti. Itu sebabnya aku datang kemari,” kata Adisoma yang diamini istrinya.

“Dan tentunya dengan rasa terima kasih yang sangat besar,” sambung Saraswati.

“Sudah … sudah, lupakan saja, aku malah berterima kasih karena menemukan cucu yang manja seperti dia ini, nanti kalau dia menikah, aku yang akan membiayai pernikahannya.” katanya sambil mengelus kepala Dewi.

“Jangan terlalu merepotkan, pak Hasbi sudah sepuh, masa harus memikirkan hal sekecil itu.”

“Saya tahu keluarga Adisoma yang terhormat memiliki segalanya, tapi saya punya harta yang banyak. Kelak semuanya adalah milik Dewi.”

“Kakek, kalau Kakek kelebihan harta, lebih baik disumbangkan ke yayasan yatim piatu, atau ke panti jompo, atau untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Itu lebih mulia bukan?” sambung Dewi.

“Ah ya, bagus sekali usul kamu. Kalau senggang kita akan bicarakan semua ini ya.”

Dewi mengangguk. Adisoma dan istrinya saling pandang dengan penuh haru. Mereka mendapat banyak pelajaran dari pertemuan Dewi dan pak Hasbi, juga semua pengalaman yang dialami Dewi sejak kepergiannya dari rumah. Beramal itu adalah mulia, dan menenteramkan jiwa. Dewi pernah melakukannya dengan menjual semua perhiasannya, demi mendirikan sekolah di sebuah perkampungan.

***

Berhari hari berlalu, Andira selalu saja membeli rujak dari tukang rujak yang dibelinya beberapa hari yang lalu. Terkadang dia membelinya dengan diam-diam, karena Andra selalu menegurnya, dan mengkhawatirkan tentang Andira yang kemungkinan keracunan.

Hingga pada suatu hari, Andira benar-benar muntah-muntah lagi. Andra semakin yakin kalau istrinya keracunan rujak.

“Nanti sore kita ke dokter.”

“Nggak mau, aku ini hanya masuk angin.”

“Sebelumnya kamu baik-baik saja, setelah kamu makan rujak itu lalu kamu seperti orang ketagihan, dan sering muntah.”

“Tapi aku hanya pengin muntah.”

“Jangan bandel. Kalau aku minta kamu ke dokter, ya harus ke dokter. Seorang istri harus patuh kepada suami.”

“Andira merengut. Tapi ia kemudian menggelendot di tubuh suaminya. Siang hari itu Andra melanjutkan pembicaraannya dengan Ryan, dan langsung mencari celah yang bagus untuk penyediaan barang bagi keperluan Ryan. Ia baru saja datang dan duduk sebelum mandi karena udara terasa gerah.

“Biar aku mandi dulu, tubuhku berkeringat. Nggak risih kamu?”

“Nggak usah mandi Mas, aku suka bau keringatmu.”

“Apa? Akhir-akhir ini kamu aneh sekali. Sudah, aku mau mandi dulu, setelah ini siap-siap ke dokter.”

“Sebentar Mas, keringat kamu tiba-tiba baunya enak sih Mas?”

“Jangan ngaco, mana ada keringat baunya enak. Sudahlah, kamu ini ada-ada saja.”

“Ya sudah, Mas mandi sana, tapi bajunya dilepas di sini.”

“Apa?”

“Aku masih suka mencium bau keringatmu.”

Andra menuruti kemauan istrinya dengan perasaan heran, tapi sedikit kesal. Ia melepas bajunya, lalu masuk ke kamar untuk mandi.

Andira merebahkan tubuhnya di sofa, sambil mendekap baju bekas dipakai suaminya. Entah mengapa, menikmati bau keringat tiba-tiba terasa nikmat.

“Andira, apa yang kamu lakukan?”

Andira terkejut. Tiba-tiba ibunya muncul  bersama simbok, dan langsung menghampirinya. Andira duduk sambil masih mendekap baju suaminya.

“Kenapa kamu tidur di sofa? Kamu sakit?”

“Tidak, sedang menunggu mas Andra mandi.”

“Kenapa baju itu? Baju kotor kan? Bau ihh!” kata sang ibu.

Andira tertawa, malah meletakkan baju itu diwajahnya, dan menghisapnya.

“Andira suka bau keringat mas Andra,” katanya enteng, tanpa mau meletakkan bajunya.

“Ya ampun, sebegitu cintanya sama suami, sampai keringatnya saja kamu suka.”

“Namanya juga suami. Itu simbok bawa apa?”

“Makanan, untuk makan malam kamu, simbok sesiang ini masak buat kamu.”

“Iya Nyonya, ini masakan untuk diet Nyonya, sayur rebus, dan buah-buahan. Yang ini rendang, untuk Tuan Andra.”

“Aku tuh nggak usah diet sudah kurus Mbok. Aku kan sedang belajar hidup sederhana.Tapi nggak apa-apa, terima kasih sudah dikirimi.”

“Andira, besok kalau bapak sama ibu sudah pulang ke Jakarta, biar simbok melayani kamu di sini.”

“Nggak usah lah Bu, biar simbok di rumah sana saja. Kalau di sini, Andira tidak akan kuat membayar gajinya.”

“Andira.”

“Benar Bu, uang Andira dan mas Andra sedang dipergunakan untuk menyiapkan barang-barang yang akan dijual.”

“Kalian mau berdagang?”

“Semacam itulah, pokoknya bisa dapat uang.”

“Dengar Andira, kalau simbok di sini, biar nanti ibu yang membayar.”

“Begitukah? Kalau begitu aku mau,” kata Andira sambil tersenyum.

“Kecuali itu, ibu datang kemari itu mau mengatakan kepada kalian, bahwa ibu akan melanjutkan pembicaraan dengan dokter yang akan memeriksa kamu dan Andra. Jangan bilang tidak mampu membayar, semua itu nanti urusan ibu.”

“Ada Ibu, rupanya, dan Simbok.” tiba-tiba Andra yang sudah selesai mandi duduk diantara mereka.

“Ini lho Ndra, ibu ingin mengatakan tentang dokter yang akan memeriksa kalian dulu itu. Ibu akan menghubunginya lagi, supaya kalian segera diperiksa. Masalah biaya jangan dipikirkan, itu urusan bapak sama ibu.”

“Mas, jangan membantah, ini agar kita segera punya anak. Usaha itu tidak salah kan, alhamdulillah ada yang membantu,” sergah Andira yang melihat suaminya seperti ingin menolaknya, sehingga akhirnya Andra diam saja.

“Nanti sore kami mau ke dokter Bu.”

“Kamu sakit?”

“Bukan, Andira keracunan.”

“Keracunan? Ya ampun, kalau begitu ibu antar sekalian saja ke dokter. Keracunan apa sih?”

“Keracunan rujak, Bu. Hampir setiap hari makan rujak, habis itu muntah-muntah.”

“Kalau sudah tahu beracun, mengapa nekat dimakan? Jangan makan sembarangan Andira, penyakit ada dimana-mana.”

Andira tak menjawab, percuma saja menjawab, suaminya tetap akan menuduh rujak kesukaannya itu beracun.

“Nyonya, kalau saya boleh bicara, jangan-jangan Nyonya Andira hamil.”

“Apa?” teriakan serentak segera terdengar.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

 

27 comments:

  1. Alhamdulillah....
    eMHa_54, sdh hadir.
    Selamat malam dan terimakasih Bu Tien....
    Semoga sehat selalu dan selalu sehat.
    Aamiin...πŸ€²πŸ€²πŸ™

    ReplyDelete
  2. πŸ’œπŸͺ»πŸ’œπŸͺ»πŸ’œπŸͺ»πŸ’œπŸͺ»
    Alhamdulillah πŸ™πŸ’πŸ¦‹
    Cerbung eMHa_54
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien & kelg
    sehat terus, banyak berkah
    & dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲. Salam seroja😍
    πŸ’œπŸͺ»πŸ’œπŸͺ»πŸ’œπŸͺ»πŸ’œπŸͺ»

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah MAWAR HITAM~54 telah hadir. Maturnuwun Bu Tien, semoga panjenengan beserta keluarga tetap sehat dan bahagia serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  4. Maturnuwun bu Tien " Mawar Hitam ep 54" sampun tayang . Semoga bu Tien selalu sehat demikian pula pak Tom dan amancu... salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸ©·

    ReplyDelete
  5. Hatur nuhun bunda cerbung MH nya.slm sht sll dan tetap aduhaaiiπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete

  6. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *MAWAR HITAM 54* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  7. Terimakasih bunda Tien
    Semoga bunda Tien dan pak Tom selalu sehat

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah semoga benar andira hamil
    Terima kasih bunda tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah.... Matur nuwun mbak Tien Mawar Hitamnya sdh hadir...
    Semoga senantiasa sehat bahagia mbak...
    Salam aduhai dari Surabaya πŸ™πŸ˜˜πŸ˜♥️

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah akhirnya ...
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  11. Terima kasih Mbu Tien... part paling full... diawal kesel sama sinah, sedih sama Mbok Manis, ditengah bangga kekeluargaan pk hasbi dan adisoma krn dewi, di akhir lucu sg tingkah Andira dan Andra yg tak sadar²...he

    Sehay tra bersma keluarha trcnta

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillaah mawar hitam nya dah di baca makasih bunda, moga Andira hamil, berbahagialah keluarga p sunu

    ReplyDelete
  13. Trima kasih ibu Tien, yg sdh meng upload kisah Mawar yg rumit, tapi sangat menarik. Semoga Ibu Tien dan sekeluarga sehat2 selalu.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah, MAWAR HITAM(MH) 54 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " MAWAR HITAM 54 " sudah tayang
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  16. Matur nuwun mbak Tien-ku Mawar Hitam telah tayang

    ReplyDelete
  17. Terima kasih Bunda, cerbung Mawar Hitam 54..sdh tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedialakala. Aamiin

    Asyik...Dewi...sdh resmi mempunyai kakek angkat dan akan mewarisi sebagian harta nya kakek Hasbi tsb.
    Dewi akan mendapat julukan Remaja yang tercantik dan terkaya di Indonesia...πŸ’πŸ’πŸ˜πŸ˜

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien salam sehat wal'afiat πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸ’–πŸŒΏπŸŒΈ

    Senang nya mereka, Andira hamil

    Sinah adalah mawar hitam karena durhaka kepada simboknya

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah... terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  20. Matur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta...

    ReplyDelete
  21. Oo dasar Sinah anak durhaka, bukannya bertobat malah bikin dosa lagi nggak ngakui simboknya.

    Koq ibunya Andira ga peka terhadap kondisi anaknya sih, sudah jelas ada tanda2 kehamilan...πŸ˜…

    Terima kasih, ibu Tien. Semoga bahagia selalu.πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah. Matursuwun Cerbung " MAWAR HITAM 54 " sudah tayang
    Semoga Bu Tien dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin πŸ™

    ReplyDelete

MAWAR HITAM 54

  MAWAR HITAM  54 (Tien Kumalasari)   Mbok Manis meremas tangan anaknya. “Sinah, jangan berkata begitu. Kamu akan sembuh, kalau kamu meningg...