Friday, August 29, 2025

MAWAR HITAM 53

 MAWAR HITAM   53

(Tien Kumalasari)

 

Andra heran. Seorang Andira, putri konglomerat, makan sesuatu di pinggir jalan dengan kursi plastik pemilik tukang rujak? Tampak nikmat ketika dia menyendok dan memasukkan rujak ke mulutnya. Memang benar sih, dia sudah bersedia hidup sederhana bersamanya. Tapi tiba-tiba makan rujak ditepi jalan?

Andra bergegas mendekat. Andira seperti tidak melihat kedatangan sang suami. Ia asyik mengunyah buah-buahan yang sudah diuleg halus dibumbuhi sambal dengan gula Jawa yang pedas.

Ketika Andra berdiri di belakangya, Andira sedang mengulurkan piringnya kepada si tukang rujak.

“Pak, tambahin sambalnya dong. Kurang pedas nih. Dan tukang rujak dengan senang hati menyendok sambal yang sudah jadi, dibubuhkan ke piring yang diulurkan Andira. Kemudian dilahapnya dengan nikmat.

Lalu si tukang yang menatap Andra, mengira Andra sedang menunggu giliran dilayani.

“Mas juga mau rujak?” tanyanya.

Andira langsung menoleh, ia tak tahu ada orang lain selain dirinya. Lalu dia terkejut melihat suaminya yang ternyata berdiri di belakangnya.

“Mas, ternyata Mas? Kebetulan. Mas bawa uang tidak? Aku jajan rujak, ternyata nggak bawa uang nih,” katanya enteng.

Apa? Tiba-tiba jajan rujak dan ternyata tidak bawa uang? Andra merasa aneh akan sikap istrinya hari ini. Tiba-tiba marah, tiba-tiba pergi begitu saja, tiba-tiba ditemukan sedang makan rujak dipinggir jalan, dan tiba-tiba sudah makan ternyata tidak bawa uang. Bagaimana kalau dia tidak datang untuk ‘menyelamatkannya’ dari kemarahan tukang rujak karena pembeli tidak bisa membayar?

“Mas, nggak bawa ya?”

Tukang rujak menatap keduanya dengan heran. Tampaknya mereka suami istri. Andra merogoh saku bajunya, lalu mengulurkan selembar uang kepada tukang rujak.

“Wah, kembaliannya belum ada Pak, pakai uang kecil saja.”

“Aku dibungkusin satu, buat di rumah ya?” kata Andira sambil mengembalikan piringnya yang sudah kosong.

“Baik Bu, tapi tetap saja kembaliannya belum ada.”

“Ambil saja kembaliannya,” kata Andra sambil menunggu tukang rujak membungkus pesanan istrinya, lalu menggandeng tangannya untuk pulang.

“Seger rujaknya, enak banget.” lalu Andira menoleh kepada tukang rujak.

“Pak … pak, besok lewat sini lagi ya?”

“Baik bu!” jawab tukang rujak berteriak, karena mereka telah berjalan agak jauh.

***

Andira duduk di kursi teras sambil tersenyum-senyum. Sinar mata kesal tak lagi tampak. Bungkusan rujak diletakkan di meja, lalu ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, seperti tak berdosa setelah membuat suaminya kebingungan.

“Ada apa denganmu?” tanya Andra yang duduk di depannya sambil mengerutkan kening.

“Apa maksudmu Mas? Makan rujak, apakah aneh?”

“Yang aneh adalah tiba-tiba kamu seperti marah padaku, lalu pergi keluar tanpa pamit, lalu aku temukan di depan tukang rujak, tidak membawa uang pula.”

Andira terkekeh lucu.

“Iya, aku bodoh sekali, tiba-tiba ketemu tukang rujak dorongan, lalu aku hentikan, trus aku pinjam kursinya untuk duduk, trus aku pesan sepiring. Segerrrr… lalu tiba-tiba Mas datang menyusul. Aku baru sadar kalau nggak bawa uang. Untunglah Mas datang, selamatlah aku dari omelan tukang rujak karena tidak bisa membayar,” kata Andira dengan celoteh seenaknya, sambil masih terus menyandarkan tubuhnya.

“Kamu tidak malu makan dipinggir jalan begitu?”

“Nggak malu, rasanya hanya kepengin, lalu puas setelah makan. Aku masukkan dulu ini di kulkas ya Mas, nanti dimakan lagi,” katanya sambil berdiri, dan meninggalkan suaminya begitu saja.

Andra geleng-geleng kepala, tapi dia tidak menyusulnya. Ia hanya merasa aneh atas sikap sang istri siang hari itu.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Andra mengira, mertuanya yang datang, ternyata bukan. Seorang laki-laki turun dari mobil, lalu mengangguk sopan ketika melihat Andra berdiri di teras.

“Selamat siang, saya Ryan, teman Andira,” katanya memperkenalkan diri. Andra tersenyum, lalu keduanya berjabat tangan.

“Silakan masuk, atau duduk di teras saja?”

“Di teras saja, udaranya sejuk.”

Andra tersenyum, kalau masuk memang agak panas, karena rumah itu tidak ada AC nya seperti rumah sebelumnya.

“Andira sedang ke belakang, kami menunggu Anda sejak pagi.”

“Maaf, mobil saya rewel, tadi harus ke bengkel.”

“Oh, pantesan.”

“Ponsel saya juga mati, baru di cas.”

“Andira … temanmu datang,” kata Andra berteriak memanggil istrinya.

“Saya senang Andira menawarkan kerja sama. Dia sudah cerita banyak, sepertinya saya setuju kalau pengadaan barang akan saya serahkan kemari.”

“Terima kasih banyak. Kemarin saya sedang mencari-cari juga usaha lain, seandainya Anda tidak setuju. Tapi syukurlah, nanti kita bicarakan lebih lanjut setelah ada Andira. Eh, kok lama sekali, saya lihat ke belakang dulu ya, maaf.”

Andra bergegas masuk, Andira tidak kelihatan sedang di dapur atau di ruang makan, barangkali ia sudah tahu kalau temannya datang, lalu membuatkan minuman. Tapi tak ada di sana. Andra masuk ke kamar, juga tidak kelihatan. Tapi ia mendengar sesuatu yang aneh dari kamar mandi.

Andra mendekati kamar mandi.

“Andira, kamu ngapain?”

“Hooeeekkk ….”

Itu suara orang muntah-muntah. Andira sakit? Andra segera mendorong pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci.

“Andira, kamu mengapa?”

“Rujaknya keluar semua,” katanya sambil membersihkan mulut.

Andra merangkulnya dan membawanya keluar.

“Kamu makan sembarangan. Orang jualan begitu belum tentu bersih, nyatanya kamu sakit. Pasti keracunan. Yang dikulkas akan aku buang.”

“Jangaaaan,” katanya sambil menjatuhkan dirinya di kasur.

“Siapa tahu rujak itu yang membuatmu sakit.”

“Aku tidak sakit, aku merasa lega, sebentar lagi aku makan lagi rujaknya."¹

“Andira!! Ternyata kamu ngeyel ya?”

“Tadi aku mendengar kamu berteriak. Ryan sudah datang? Aku ingin menyambutnya, tapi tiba-tiba aku merasa mual, lalu aku lari ke kamar mandi dan muntah-muntah.”

“Jangan makan rujaknya lagi.”

“Mas, tolong jangan dibuang, aku masih ingin makan lagi.”

“Tidak boleh!”

”Maaas, aku nangis nih.”

“Andira!”

“Tolong minyak kayu putih Mas, aku gosok sebentar perutku, lalu aku keluar. Kita bicara tentang usaha kan?”

Andra sedikit kesal, tapi ia juga khawatir. Diambilnya minyak kayu putih, lalu digosokkan ke perut istrinya.

“Aku baik-baik saja. Sudah seger, tapi memang agak pusing.”

“Nanti sore kita ke dokter.”

“Nggak usah Mas, cuma begitu saja.”

“Kamu keracunan, tahu,” katanya sambil beranjak keluar kamar.

“Aku buatkan minum, lalu aku keluar Mas,” kata Andira yang kemudian bangkit.

***

Andra dan Ryan sudah bicara tentang garis besar kerja samanya, sambil menunggu Andira keluar. Andra mengira Andira sedang membuatkan minum, seperti janjinya. Tapi karena agak lama, Andra kemudian menyusulnya. Tapi apa yang dilihatnya? Andira sedang melahap rujak yang tadi dimasukkannya ke dalam kulkas.

“Andira!”

“Sebentar Mas, sudah aku tuang minumnya, tinggal membawanya ke depan,” katanya enteng.

“Kenapa makan rujaknya dulu Andira, ditungguin tuh.”

“Sebentar Mas, takutnya nanti benar-benar dibuang oleh Mas,” enak sekali Andira mengucapkannya, membuat Andra kemudian menjewer kupingnya.

“Ya ampun Maaas, sakit, tahu!”

“Cepat bawa minumnya keluar, kasihan teman kamu tuh.”

“Iya, ini sudah selesai.”

“Awas saja kalau kamu nanti muntah-muntah lagi,” omel Andra sambil  mendahului keluar.

Andira berdiri, meraih baki berisi minuman yang sudah disiapkan, lalu keluar untuk menemui tamunya.

***

“Kakek ….”

Pak Hasbi terkejut ketika tiba-tiba Dewi muncul di depannya, sementara simbok baru menyiapkan makan di belakang.

“Kamu menepati janjimu?”

“Tentu saja Kek, kan aku cucunya Kakek?”

“Tapi ini belum saatnya kamu pulang kan?”

“Siang ini nggak ada kelas, jadi bisa pulang awal. Kakek sudah makan?”

“Simbok baru menyiapkan.”

“Bagus, nanti Dewi suapin ya?”

“Nggak mau, aku kan sudah tidak sakit, mau makan sendiri saja. Kalau kamu mau, temani saja kakek makan.”

“Baiklah, kebetulan aku lapar Kek. Memangnya simbok masak apa? Baunya sedap.”

“Tadi aku minta perkedel dimasak semur.”

“Itu seperti kesukaan ibuku ….”

“Benarkah?”

“Iya, karenanya aku juga suka. Kakek sudah benar-benar sehat? Tidak pusing-pusing lagi?”

“Tidak, aku merasa sehat. Jangan khawatir.”

”Minggu depan, ayahku akan datang kemari, untuk meminta maaf.”

“Mengapa meminta maaf, semuanya sudah berlalu. Tapi bagus sekali kalau bisa berkenalan dengan ayahmu dan keluargamu.”

“Nanti Kakek akan mengenalnya.”

“Ceritakan tentang keluarga kamu, supaya aku bisa lebih mengenalnya nanti kalau bertemu. Saudaramu ada berapa?”

“Aku anak tunggal.”

“Oh ya? Aneh, kamu anak tunggal, tapi tidak manja.”

“Masa? Padahal aku manja sama Kakek,” kata Dewi sambil bersandar di bahu pak Hasbi. Rupanya Dewi ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar menganggap pak Hasbi sebagai kakeknya, sehingga rasa kesepian yang melanda sang ‘kakek’ terobati.

“Aku senang kalau kamu bermanja-manja pada kakek. Katakan kalau kamu ingin sesuatu.”

“Keinginan Dewi hanya satu, yaitu kakek selalu bahagia dan tidak merasa kesepian.”

“Kalau ada kamu, kakek akan selalu bahagia. Apakah kamu mau tidur di sini?”

“Aku mau Kek, tapi tidak sekarang. Ibu masih ada di rumahku, nanti kalau ibunda sudah kembali ke Solo, aku mau sering-sering tidur di sini.”

“Benarkah?”

“Tentu saja benar.”

“Ayo sekarang ceritakan semua tentang kamu, karena selama ini aku menganggap kamu adalah Bening.”

“Baiklah, Kakek.”

Dewi menyandarkan kepalanya di bahu pak Hasbi, dan mulai bercerita tentang keluarganya.

***

Siang hari itu, Mbok Manis bersama mbok Randu kembali mengunjungi Sinah di rumah sakit. Mbok Manis merasa belum sehat benar, badannya lemas, karena susah makan. Walau begitu ia ingin melihat keadaan Sinah. Walau kesal dan marah atas sikap Sinah beberapa waktu lalu, tapi bagi seorang ibu, anak adalah sebagian dari jiwanya. Mendengarnya sakit parah saja hatinya sudah seperti diremas-remas.

Tapi seperti dikatakannya semula, ia ingin agar yang lebih dulu masuk adalah mbok Randu. Barangkali rasa tak tahan melihat anaknya menderita, membuatnya sedikit takut. Atau juga khawatir sang anak akan kembali mengusirnya.

Karena mengatakan bahwa mereka adalah orang tua dan keluarga Sinah, maka kemudian dokter itu justru mengajaknya bicara.

“Ibu, saya perlu mengatakan bahwa keadaan bu Sinah tidak baik-baik saja.”

“Apakah sakitnya parah?”

“Kami sedang mempertahankan bayi dalam kandungannya, tapi bu Sinah tidak mau membantu usaha kami. Tampaknya dia memang tak ingin kandungannya diselamatkan. Dia melawan setiap larangan yang dimaksudkan agar bayinya selamat, misalnya jangan banyak bergerak dan sebagainya. Sehingga akhirnya dia kembali perdarahan, dan mohon maaf, akhirnya bu Sinah keguguran.”

“Keterlaluan anak itu,” geram mbok Manis.

“Sekarang ini keadaannya lemah. Kalau ibu ingin menemuinya, silakan.”

Akhirnya mbok Randu memaksa mbok Manis agar ikut bersamanya.

Begitu masuk, mereka melihat wajah pucat Sinah. Tak urung hati mbok Manis merasa seperti diremas-remas. Sinah, darah dagingnya, tampak sangat menderita.

“Sinah … “ sapa mbok Manis, gemetar seperti dulu ketika pertama kali menjenguknya.

Sinah yang membuka matanya, tak tampak segarang biasanya. Kali ini ia tak mampu berteriak. Ia menatap kedua wanita setengah tua yang berdiri di sampingnya, yang salah satunya adalah ibu kandungnya.

“Sinah … “ mbok Manis memegang tangannya, panas seperti bara.

“Aku sudah mau mati, berbahagialah kalian,” katanya lemah.

***

Besok lagi ya.

 

 

25 comments:

  1. Yessss.....
    Alhamdulillah....
    eMHa_53 sudah ditayangkan.

    Terima kasih bu Tien, sehat selalu dan selalu sehat ya.

    Selamat malam selamat beristirahat.

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku Mawar Hitam telah tayang

    ReplyDelete
  3. πŸŒ΅πŸŽ‹πŸŒ΅πŸŽ‹πŸŒ΅πŸŽ‹πŸŒ΅πŸŽ‹
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eMHa_53
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT. Aamiin YRA.
    Salam aduhai πŸ’πŸ¦‹
    πŸŒ΅πŸŽ‹πŸŒ΅πŸŽ‹πŸŒ΅πŸŽ‹πŸŒ΅πŸŽ‹

    ReplyDelete

  4. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *MAWAR HITAM 53* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    semiga bunda dan Keluarga Sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah MAWAR HITAM~53 telah hadir. Maturnuwun Bu Tien, semoga panjenengan beserta keluarga tetap sehat dan bahagia serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " MAWAR HITAM 53 " sudah tayang
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  8. Maturnuwun bu Tien " Mawar Hitam ep 53" sampun tayang . Semoga bu Tien selalu sehat demikian pula pak Tom dan amancu... salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸ©·

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillaah dah tayang makasih bunda

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, MAWAR HITAM(MH) 53 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  12. Slmt mlm dan terima ksih bunda cerbung MH nya..slm seroja dan aduhaai dri skbmi unk bunda sekeluarga πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ

    ReplyDelete
  13. Terima kasih Bunda, cerbung Mawar Hitam 53..sdh tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedialakala. Aamiin

    Agar yakin klu Andira halim..maka Andra hrs membawanya ke dokter.

    Siapa yang dapat menyadarkan Sinah ya, agar penderitaan nya segera berakhir.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah ... terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah... cerbung MH 53 sudah tayang terimakasih ibu Tien, semoga sehat selalu beserta keluarga... Aamiin

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillaah " Mawar Hitam - 53" sdh hadir
    Terima kasih Bunda Tien, semoga sehst dan bshagia selalu.
    Aamiin Yaa Robbal' Aalaamiin🀲

    ReplyDelete
  17. Terimakasih bunda Tien
    Semoga bunda Tien dan pak Tom selalu sehat

    ReplyDelete
  18. Terimakasih bunda Tien, sehat selalu sekeluarga

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat ya πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸ’–πŸŒΏπŸŒΈ
    Sinah ... tetep keras hatinya

    ReplyDelete

MAWAR HITAM 53

  MAWAR HITAM   53 (Tien Kumalasari)   Andra heran. Seorang Andira, putri konglomerat, makan sesuatu di pinggir jalan dengan kursi plastik p...